Rabu, 08 Januari 2014

kemarau, sampah dan rokkok!

kemarau, sampah dan rokok September 17, 2011 at 8:30pm Seharusnya saya iri mendengar dan melihat di daerah lain terjadi hujan bahkan hingga banjir, sehingga rasa panas ini terobati dengan -setidaknya- sejuknya udara dingin. tapi untuk sekarang kondisi cuaca tidaklah bisa dikatakan seperti sewaktu saya masih sekolah dasar. musim hujan...ya musim hujan dimana-mana, musim kemarau...ya musim kemarau dimana-mana. perkiraan cuaca dari pihak yang berwenang pun kadang tidak bisa menjadi acuan. dengan kondisi seperti ini lebih baik saya mengembalikan kepada Allah swt, yang memang menjadikan semua itu terjadi. Dia lebih mengetahui kapan akan diturunkan hujan dan dijadikan kemarau di suatu tempat. panas dan hujan ada nilai positifnya masing-masing. memang, musim kemarau kali ini mengakibatkan permukaan bukit dan ladang didominasi warna coklat, yaitu warna tanah dan rumput-rumput yang kering. tetapi di tempat-tempat tertentu dimana air tanah masih memungkinan di dapat, hamparan tanaman semangka tersebar dimana-mana, begitu pula dengan buah semangkanya berjejer rapi dan tertib di pinggir jalan merayu sang pembeli. dan ternyata tidak hanya semangka, lahan kosong di sekitar rumah pun di musim kemarau itu berubah menjadi hamparan kebun kangkung darat dan sayur sawi. menampakkan senyum manis bagi sang petani ketika panen tlah tiba (kadang beberapa ikat mampir dirumah tanpa diminta alias anu-gra..tis he-he...) pagi ini, di lokasi kerja, saya lihat di halaman banyak sekali sampah berserakan yang tentunya di dominasi oleh daun-daun kering dan bunga yang layu. Daun-daun tua dari pohon jawa yang tumbuh subur merelakan dirinya untuk jatuh ke permukaan tanah, begitu pula bunga-bunga layu dari tanaman bunga kertas warna merah muda dengan sukacita melepaskan diri dari inangnya karena telah habis masa mekarnya. ternyata disamping daun dan bunga, sebagian ranting yang rapuh pun ikut meramaikan suasana kemarau ini. masya Allah...itulah kehidupan alami. tetapi ah sayang...di sana juga terlihat sampah puntung rokok dan bungkus rokok berserakan di sela-sela daun, ranting dan bunga yang telah mati. (aih...kodong) akhirnya, dengan kerja sama yang baik bersama seikat sapu lidi terkumpullah semua sampah itu pada dua lokasi tumpukan yang berbeda. tanpa basa basi yang berkepanjangan sang korek api mengambil peran berikutnya, sehingga tanpa tersisa semua terlumat api yang semakin membesar. uh...udara panas semakin panas terasa, peluh pun seolah tidak mau ketinggalan partisipasinya dengan membasahi kaos putih berlengan panjang yang menempel membalut seluruh badan yang 'masih' proposional (he-he...) sebenarnya babak terakhir berada di ujung bale-bale, dengan menggenggam gelas kaca berisi air teh tawar hangat, yang siap mengantarkannya ke lubang mulut yang kekeringan dan membilaskannya akan dahaga di kerongkongan, ah...ni'matnya kian terasa ketika sang peluh semakin deras keluar dari pori-pori kulit yang sudah tidak muda lagi. seharusnya kata berikutnya adalah di en alias wis dah sampai sini. ternyata tdak, setiap langkah pikiran selalu berputar tentang semuanya yang terjadi, dan yang luar biasanyo adalah begitu banyak puntung rokok yang bertebaran yang berada di antara sampah yang berserakan. dan hal itu sudah berulang-ulang. dan ini pasti terjadi karena orang yang merokok tidak mau bertanggung jawab akan perilaku merokoknya, sehingga salah satunya membuang sembarangan puntung dan bungkus rokoknya. fenomena orang yang merokok adalah fenomena yang luar biasa. orang yang merokok tidak tergantung kepada status sosial dari orang tersebut. tidak tergantung kepada tingkat pendidikan orang tersebut, dan juga tidak tergantung kepada karakter orang tersebut. kita tahu kalau ada sesauatu yang dicap jelek di masyarakat seperti misalnya korupsi, dan ada koruptor yang mempunyai jabatan tinggi, kaya berpendidikan tinggi maka orang akan menyebutnya bahwa dia adalah oknum. dan biasanya perbandingan orang melakukan itu dengan yang tidak melakukan perbandingannya bisa jadi 1 : 1000 atau bahkan lebih. tapi merokok biar sudah dikatakan secara medis tidak baik (apalagi secara hukum agama) bikin rusak paru-parulah, bikin tidak bisa lurus burung kesayangannya, atau membahayakan janin dan bayi bagi ibu-ibu, eh....tetap saja mereka teh merokok, dan orang itu tidak dikatakan sebagai oknum karena jumlahnya juga buaanyak, mungkin hampir setara dengan yang tidak merokok. yah...ternyata ketika saya belajar tentang keberkahan dari kejadian yang ada, kemarau, hujan dan lain sebagainya, akhirnya saya pun dapat pelajaran bahwa rokok tidak memberikan keberkahan untuk sang.......hapunten anu kasuhun, adios parantos waktosna

makalah pilkades tasiwalie

I. PENDAHULUAN

Berbicara masalah Potensi Desa dan permasalahannya adalah berbicara mengenai kondisi alam dan masyarakat desa tersebut serta aspek-aspek yang berhubungan serta berpengaruh terhadap dinamika kehidupan di desa tersebut. Desa Tasiwalie, merupakan salah satu desa dari delapan desa dan dua kelurahan yang berada di kecamatan Suppa . Kecamatan Suppa sendiri merupakan kecamatan dari kabupaten Pinrang yang berada di bagian paling selatan yang berbatasan langsung dengan kotamadya Pare pare.

Jarak dari desa Tasiwalie dengan ibu kota kecamatan berjarak kurang lebih 4 km dan jarak dari desa Tasiwalie ke ibukota kabupaten berjarak kurang lebih 28 km. Sedangkan jarak dari desa Tasiwalie ke kotamadya Pare pare kurang lebih 7 km.

Secara Geografi, desa Tasiwalie mempunyai luas wilayah sekitar 11.536 km2 yang berbatasan langsung dengan (4) empat wilayah, yaitu :

- Sebelah Utara : Desa Lotang Salo - Sebelah Timur : Desa Maritengngae - Sebelas Selatan : Desa Wiring Tasi - Sebelah Barat : Selat Makassar

Terbagi atas 3 (tiga) dusun, yaitu : 1. Dusun KaE 2. Dusun Parengki 3. Dusun Sabamparu

Secara Topografi, desa Tasiwalie yang merupakan daerah pesisir pantai, mempunyai dataran yang rata atau datar dengan ketinggian rata-rata berkisar 2 (dua) meter di atas permukaan laut. Hal ini menjadikan desa Tasiwalie, 60 (enam puluh) persen adalah kawasan pertambakan dan 40 (empat puluh) persen kawasan perkebunan dan Peternakan.

Jumlah penduduk desa Tasiwalie berdasarkan data tahun 2011 sebanyak 4.196 orang, yang termasuk ke dalam 754 Kepala Keluarga dengan perincian berdasarkan jenis kelamin, 2.814 orang laki-laki dan 1.382 orang perempuan.

Sumber mata pencaharian penduduk desa Tasiwalie pada umumnya adalah petani, nelayan dan peternak. Namun ada juga yang bekerja sebagai pedagang, pegawai negeri, pegawai swasta dan buruh bangunan. Secara umum kondisi ekonomi masyarakat desa Tasiwalie sudah berada dalam kategori sejahtera, meskipun masih ada yang berada dalam kondisi miskin.

Fasilitas umum yang terdapat di desa Tasiwalie selain dari kantor desa terbatas pada fasilitas untuk sektor kesehatan dan sektor pendidikan serta tempat ibadah. Untuk sektor kesehatan fasilitas yang ada adalah : - PUSTU (Puskesmas Pembantu) sebanyak 1 (satu) unit - POSYANDU (Pos Pelayanan Terpadu) sebanyak 3 (tiga) unit Sedangkan Fasilitas di sektor pendidikan terdiri dairi : - Taman kanak-kanak (TK) sebanyak 2 (dua) unit - Sekolah Dasar (SD) sebanyak 3 (tiga) unit - Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebanyak 1 (satu) unit Sementara fasilitas tempat ibadah berupa Masjid terdapat 5 (empat) masjid dam 1 (satu) musholla, dengan perincian berdasarkan lokasi, yaitu sebagai berikut : - Di dusun KaE terdapat 1 (satu) Masjid dan 1 (satu) musholla - Di dusun Parengki terdapat 2 (dua) Masjid - Di dusun Sabamparu terdapat 2 (dua) Masjid

II. POTENSI DESA DAN PERMASALAHANNYA

Seperti yang sudah disampaikan terdahulu bahwa berbicara masalah potensi desa dan permasalahannya harus mengacu pada kondisi alam desa dan masyarakatnya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Untuk mempermudah pembahasan maka saya akan membaginya ke dalam bagian-bagian yang sesuai.

2.1. Sumber Daya Manusia Sumber Daya Manusia adalah subjek dan objek dari proses pembangunan. Baik pembangunan fisik maupun mental. Dengan mudahnya akses informasi baik itu media elektronik maupun alat telekomunikasi serta sarana dan prasarana transportasi, sumber daya manusia desa Tasiwalie cukup terbuka terhadap perubahan baik itu yang sifatnya sosial maupun teknologi. Hal ini merupakan potensi yang utama dan mendasar untuk proses pembangunan desa menuju kesejahteraan masyarakatnya.

Masyarakat dengan berbagai latar belakang dan profesi menerima dengan tangan terbuka siapa pun yang mengembangkan kehidupan perekonomian di desa Tasiwalie. Begitu pula dengan pola pemikiran dalam berusaha dan berkeluarga, seperti pemakaian teknologi dalam bertani dan nelayan, menyekolahkan anak-anaknya ke jenjang yang lebih tinggi.

Meskipun begitu, masih ada permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan sumber daya manusia ini. Kemudahan informasi yang didapat juga merupakan salah satu aspek rawan terutama bagi para remaja dan pemuda dalam pergaulan sehari-hari. Di mana jika pertahanan mentalnya kurang kuat akan mengakibatkan mereka terjerumus ke perilaku yang kurang baik dan bersinggungan dengan masalah hukum, atau lebih jauh lagi merusak tatanan kehidupan bermasyarakat. Juga masih ditemukan kekurang mengertian terutama dalam pemikiran berkeluarga, seperti : pernikahan di usia dini, kesehatan ibu dan anak dan lain sebagainya.

2.2. Sumber Daya Alam. Sumber Daya Alam desa Tasiwalie yang terdiri dari lahan perkebunan, pertambakan dan pesisir pantai, menjadikannya sebagai mata pencaharian pada umumnya masyarakat desa Tasiwalie.

2.2.1. Lahan perkebunan. Dari beberapa tahun yang lalu potensi lahan perkebunan desa Tasiwalie sudah di kenal orang sebagai salah satu penghasil buah mangga, yang hasilnya dikirim antar pulau. Walaupun belakangan ini produksi buah mangga menurun seiring adanya penyakit, sebagian masyarakat mengalihkan lahan perkebunannya dengan menamam tanaman semusim seperti palawija dan jagung manis. Hanya permasalahan yang utama dari tanaman semusim adalah harga yang tidak stabil. Kemudian dengan pertimbangan bahwa desa Tasiwalie dekat dengan pusat-pusat bisnis seperti kotamadya Parepare dan juga karena kondisinya yang sesuai, mengundang para pengusaha lokal maupun dari luar desa untuk berusaha di lahan ini dengan mendirikan peternakan ayam, baik ayam petelur maupun ayam pedaging. Perkembangan usaha ini menunjukan hal yang positif. Hanya ke depan perlu difikirkan mengenai aspek lingkungannya, bagaimana pun kehidupan dan pertumbuhan pendudukan juga akan berkembang, artinya tempat pemukiman akan semakin meluas semestara usaha peternakan ayam yang ada member efek tercemarnya udara dari kotoran ayamnya.

Lahan perkebunan ini juga biasa dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk dipergunakan memelihara hewan peliharaan yang mempunyai nilai ekonomi seperti sapi dan ayam dalam kapasitas terbatas (skala rumah tangga), bukan sistem intensif, seperti peternakan ayam di atas. Hanya permasalahan yang timbul khususnya untuk sapi, perlunya diberi pengertian yang lebih intensif kepada para pemilik sehingga tidak terjadi gesekan antar masyarakat dikarenakan sapi memakan tanaman milik orang lain atau merusak properti orang lain. Juga untuk menjaga keamanan dari pencurian sapi diharapkan para pemilik mempunyai kandang sapi masing-masing, di samping itu saat ini kotoran sapi sudah bisa dimanfaatkan untuk biogas. Permasalahan bagi peternak ayam skala rumah tangga, yaitu pengetahuan mengenai kesehatan ayam masih dikurang diketahui sehingga jika ada wabah penyakit ikut juga terserang hingga menyebabkan kematian ayam.

2.2.2. Lahan Pertambakan. Ketika udang windu (dikenal juga dengan nama udang sitto) masih menjadi primadona hasil ekspor dari Indonesia, kecamatan Suppa adalah salah satu daerah di kabupaten Pinrang yang disebut sebagai daerah penghasil Dollar. Produksi udang dari kecamatan Suppa termasuk yang terbesar. Tetapi ketika udang sudah mulai banyak penyakit sehingga petani dan pengusaha tambak kesulitan untuk budaya udang windu, sinar kecamatan Suppa seolah meredup. Begitu pula dengan desa Tasiwalie yang meupakan bagian dari kecamatan Suppa.

Lahan Pertambakan merupakan lahan yang mendominasi desa Tasiwalie yaitu sebanyak 60 (enam puluh) persen dar keseluruhan wilayan desa Tasiwalie. Saat ini lahan pertambakan dikelola secara tradisional yang kebanyakan dengan pola polikultur, yaitu menggabungkan budidaya udang wndu dengan ikan bandeng (disebut juga dengan ikan bolu). Permasalahan yang ada adalah tingkat kematian udang masih selalu terjadi pada udang windu, hal ini juga bisa disebabkan pengetahuan petani tambak kurang memahami tentang teknik budadaya udang yang baik, yang sekarang sedang gencar disuarakan oleh Dinas Perikanan. Penyuluhan yang rutin tentang hal ini juga masih kurang dari instansi terkait. Perlu juga diberikan alternatif jenis udang yang dibudidayakan kepada para petani tambak. Saat ini di beberapa daerah sudah memasyarakat budidaya udang vanname (biasa disebut udang putih), seperti di kabupaten Barru, para petani tambak sebagian besar sudah memelihara udang vanname dengan sistem tradisional dengan hasil yang cukup menggembirakan.

2.2.3. Lahan Pesisir Pantai. Sejak budidaya udang windu mulai dikenal masyarakat Sulawesi Selatan akhir tahun 1980, kecamatan Suppa terknal sebagai daerah penghasil benih udang, yang biasa disebut dengan Benur, yang dihasilkan dari Hatchery-hatchery udang baik yang berskala usaha besar maupun yang berskala rumah tangga (HSRT/back yard). Sebagian Hatchery tersebut berada di desa Tasiwalie, yang saat ini yang masih beroperasi ada 2 (dua) Hatchery besar dan 3 (tiga) Hatchery Skala Rumah Tangga (HSRT/back yard).

Dengan adanya Hatchery-hatchery tersebut desa Tasiwalie dikenal sebagai penyuplai kebutuhan benur, baik untuk kebutuhan lokal dalam arti kebutuhan di kabupaen Pinrang maupun untuk di luar Pinrang bahkan kadang sampai dikirim ke Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara. Keberadaan Hatchery ini juga menjadikan sebagian masyarakat mendapatkan penghasilan dari jalur tata niaga benur itu sendiri, ada yang berprofesi sebagai penyalur benur dan penggelondong benur. Untuk menjaga kesinambungan usaha pada setiap level tata niaga, pihak instansi terkait dalam hal ini dinas perikanan harus tetap memberikan dorongan dan bimbingan yang sifatnya teknis maupun kebijakan yang memudahkan kepada semua pelaku di bidang usaha ini, terutama pada masyarakat yang sifatnya usaha pribadi.

Lahan pesisir pantai desa Tasiwalie juga menjadi lahan untuk masyarakat mencari penghidupan dengan berprofesi sebagai nelayan. Namun nelayan yang ada masih terbatas kepada nelayan kecil dengan sarana dan peralatan yang sederhana. Perlu juga dorongan dan bimbingan dari instansi pemerintah yaitu dinas perikanan setempat (kabupaten maupun provinsi) untuk meningkatkan ketrampilan dan alat, serta pengetahuan dan tanggung jawab moral untuk kelestarian pesisir pantai dari kegiatan yang melanggar hukum seperti pengunaan bom ikan dan racun yang akan merusak ekosistem perairan laut, terutama hilangnya atau semakin jauhnya daerah hidup dari ikan itu sendiri.

Lahan pesisir pantai desa Tasiwalie yang mempunyai kecuraman yang tidak terlalu tajam dengan ombak yang tidak terlalu besar, menjadikannya sebagai daerah atau desa wisata. Hal ini mendorong beberapa pengusaha untuk membuat tempat-tempat untuk rekreasi pantai. Begitu pula Pemrintah pusat melalui salah satu departemennya memberikan bantuan untuk pengembangan kawasan wisata ini. Hal ini perlu disosialiisasikan kepada masyarakat dan pengusaha yang bergerak di bidang usaha itu untuk memberikan konstribusi bagi peningkatan penghasilan masyarakat setempat, misalnya dengan membuka tempat berjualan di tempat rekreasi pantai tersebut. Ke depan, perlu ditata ulang mengenai pengawasan sehingga pihak-pihak luar yang berekreasi pantai tidak membawa dampak negatif ke masyarakat sekitar.

Lahan pesisir Pantai desa Tasiwaie juga berpotensi mengundang penusaha-pengusaha di bidang sarang burung walet. Datangnya investor yang menginvestasikan dananya di desa Tasiwalie akan membuka perputaran uang di desa Tasiwalie akan semakin cepat dan tentunya juga akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitarnya.

2.3. Sosial dan Pendidikan Kehidupan sosial dan pendidikan masyarakat desa Tasiwalie termasuk yang baik. Tidak ada kasus-kasus yang menonjol yang berhubungan dengan masalah sosial, kalaupun ada bisa diselesaikan dengan baik. Tetapi kehidupan yang baik ini harus tetap dijaga, melalui pendidikan baik formal (sekolah) maupun informal (pengajian, musyawarah dll). Meskipun sarana pendidik di desa Tasiwalie hanya ada sampai tingkat lanjutan pertama tetapi dengan kesadaran yang tinggi orangtua dan kemaupun anak-anak untuk menggapai pendidikan yang lebih tinggi, banyak anak-anak yang sekolah keluar dari desa Tasiwalie untuk melanjutkan di tingkat lebih tinggi, baik SMA maupun SMK. Bahkan banyak orang tua yang menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Hal ini merupakan potensi yang sangat besar untuk proses pembangunan di desa Tasiwalie. Walaupun anak-anaknya nanti tidak tinggal di kampung halamannya, mereka hidup dan berusaha di luar desa Tasiwalie, tetapi sumbangsih kepada kampung halaman masih tetap ada, entah itu berupa materi atau pemikiran, dan hal itu sudah terjadi selama ini. Contoh sederhana adalah adanya sumbangan untuk pembangunan masjid-masjid sebagian berasal dari mereka.



III. KESIMPULAN DAN SARAN

Desa Tasiwalie, kecamatan Suppa kabupaten Pinrang dengan kondisi alam dan masyarakatnya serta akses yang ada didalamnya mempunyai potensi yang luar biasa untuk berkembang dan mensejajarkan diri dalam proses pembangunan untuk mensejahterakan masyarakat desa Tasiwalie sendiri maupun masyarakat Indonesia secara menyeluruh melalui proses dinamika usaha yang terus berkembang yang ada di desa Tasiwalie. Hambatan dan permasalahan akan selalu ada dan muncul seiring kemajuan yang ingin dicapai. Jadikan hambatan dan permasalahan yang ada pemicu tujuan keberhasilan untuk segera tercapai dengan kebijaksaan semua pihak dan elemen masyarakat.

Dibutuhkan figur yang mampu untuk menata atau memenej semua potensi dan permasalahannya yang ada sehingga proses berjalan dengan baik dan meminimalisir kegagalan yang ada. Tidak ada figur yang sempurna, tetapi figur yang mempunyai keinginan dan kemauan untuk bergerak ke arah positif untuk kesejaheraan masyarakat desa Tasiwalie. Sehingga figur tersebut menjadi panutan di masyarakat untuk bersama bergandeng tangan membangun desa Tasiwalie menjadi lebih baik lagi.



Dari uraian Makalah di atas, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim saya menetapkan VISI dan MISI dalam rangka pencalonan sebagai Kepala Desa Tasiwalie Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang periode 2013 – 2019. Semoga Allah merahmati. Amin

VISI Menjadi Kepala desa Tasiwalie yang bersih, transpasan dan amanah dalam rangka mewujudkan masyarakat desa Tasiwalie yang agamis, dinamis, kompak, kreatif, inovatif, santun dan berkepribadian.

MISI 1. Memperkokoh persatuan dan kesatuan antar warga desa Tasiwalie tanpa memandang agama, status sosial, golongn maupun jenis kelamin. 2. Meningkatkan sistem pelayanan kepada masyarakat. 3. Memberdayakan masyarakat dalam proses pembangunan melalui penguatan ekonomi kerakyatan dan optimalisasi potensi lokal. 4. Terwujudnya tranparansi dan profesionalisme dalam penyelenggaraan pemerintahan. 5. Pelestarian lingkungan hidup dalam setiap kebijakan pembangunan. 6. Mendorong partisipasi masyarakat dala proses pembangunan sebagai upaya wujudkan pembangunan yang berkeadilan sosial.

Senin, 06 Januari 2014

Hasan bin Ali bin Abi Thaib ra (Cucu pertama Rasulullah saw)

Merambah dunia dan akherat

(Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra.)

Kita semua tahu bahwa selain Husain bin Ali bin Abi Thalib ra ada juga Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra sebagai cucu kesayangan dari Rasulullah saw. Hasan bin Abi Thalib ra adalah anak pertama dari Ali bin Abi Thalib kw dan Fatimah Azzahro ra. Rasulullah saw sendiri yang langsung memberi nama Hasan untuk cucunya tersebut. Sebelumnya Ali bin Abi Thalib ra memberi nama Harban (peperangan) untuk anaknya yang pertama, yang kemudian diganti oleh Rasullullah saw. Hasan dan Husain ra bukan saja kesayangan Rasulullah saw, tetapi Rasulullah saw menyatakan bahwa “Sesungguhnya kalian (cucu-cucuku) sungguh termasuk kesayangan Allah swt. Dan kalian membuat kami bakhil dan penakut”

Secara fisik Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra adalah yang mirip dengan Rasulullah saw., sebagaimana pengakuan dari Abu Bakar ra setelah beliau mengimami kaum muslimin shalat beberapa malam setelah wafat Rasulullah saw, kemudian beliau keluar bersama Ali bin Abi Thalib kw dan melihat al- Hasan sedang bermain bersama anak-anak lainnya. Maka Abu Bakar menggendongnya di atas punggungnya seraya berkata, “(Demi Allah) ayahku sebagai tebusannya, anak ini sangat mirip dengan Nabi saw, tidak mirip dengan Ali” Perawi berkata, “Ali tertawa saja mendengarnya”. Bahkan ibunya sendiri mengatakan hal sama, ‘Fathimah ra membuat al-Hasan bin Ali meloncat sambil mengatakan, “(Demi Allah), ayahku sebagai tebusannya, (sungguh sangat) mirip dengan Nabi, tidak mirip dengan Ali”

Dalam perkembangan hidupnya, sebagaimana didikan dalam keluarga Nabi saw, Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra tumbuh menjadi sosok yang menjadi anutan. Ketika Ibnu Muljam menikam Ali bin Abi Thalib kw, mereka berkata kepada Ali, “Tunjuklah khalifah sepeninggalmu wahai Amiirul Mukminin!” Ali berkata, “Tidak! Aku akan membiarkan kalian sebagaimana Rasulullah saw meninggalkan kalian (yakni tanpa menunjuk khalifah). Apabila Allah menghendaki kebaikan atas kalian niscaya Allah menyatukan kalian di bawah kepemimpinan orang yang terbaik dari kalian sebagaimana Dia telah menyatukan di bawah kepemimpinan orang yang terbaik dari kalian sepeninggal Rasulullah saw” Majulah Qais bin Saad bin Ubaidah untuk membaiat al-Hasan untuk menjadi khalifah pengganti setelah meninggalnya Ali bin Abi Thalib kw, yang diikuti oleh orang banyak sesudahnya.

Mengenai pengangkatan al-Hasan sebagai Khalifah ini, ada ahli sejarah yang memasukannya sebagai salah seorang yang termasuk Khulafa rasyidin, selain Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib ra. Hal ini berdasarkan kepada sabda Rasulullah saw sendiri setelah dikalkukasi lamanya al-Hasan menjadi khalifah, yaitu hanya kurang lebih satu tahun. Rasulullah saw bersabda, “Khilafah (nubuwwah) sesudahku tiga puluh tahun, setelah itu akan menjadi kerajaan”

Kiprah al-Hasan sebagai pemimpin umat ini sudah digambarkan sendiri Rasulullah saw, yang sejalan dengan sosok yang digambarkan oleh ibnu kastir bahwa al-Hasan adalah sayyid kaum muslimin, salah seorang ‘ulama, orang yang lembut dan cerdik pandai di kalangan sahabat. Suatu hari Rasulullah saw naik ke atas mimbar lalu al-Hasan bin Ali duduk di samping beliau, Beliau menghadap para hadirin dan pada kesempatan lain menoleh kepada al-Hasan, kemudian beliau bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid (pemimpin), Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum Muslimin melalui tangannya”

Seperti kita ketahui bersama, bahwa rentetan peristiwa besar pada zaman Khulafa Rasyidin berujung kepada terbelahnya kekuatan kaum Muslimin, dimana satu pihak berada di syam di bawah kendali Mu’awiyyah ra dan satu pihak berada di kufah yang akhirnya berada dalam kendali Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Namun dengan kearifan dan tanggungjawabnya al-Hasan bin Ali ra menyerahkan kekuasan kekhalifahan kepada Mu’awiyyah ra, bukan karena kelemahannya dan dukungan yang kurang. Shalih bin Ahmad berkata, “Aku mendengar ayahku berkata, sebanyak sembilan puluh ribu pasukan telah berbai’at kepada al-Hasan, namun beliau meninggalkan jabatan khalifah, beliau berdamai dengan Mu’awiyyah. Tidak setitik darahpun mengalir selama masa pemerintahannya.”

Kelembutan hati al-Hasan bin Ali menjadi dasar dari semua yang terjadi, ketika seseorang mempertanyakan kertas yang berada di tangan beliau, beliau menjawa bahwa itu adalah surat dari Mu’awiyah berisi janji dan ancaman. Lelaki itu berkata, “Dahulu engkau menuntut hal yang serupa darinya?” Beliau menjawab, “Benar, akan tetapi aku khawatir pada hari Kiamat nanti 70.000 atau 80.000 orang, bisa lebih dan bisa kurang, datang pada Hari Kiamat seluruhnya dengan urat leher mengalirkan darah. Mereka semua menuntut kepada Allah mengapa darah mereka ditumpahkan”

Di lain keterangan ketika beliau, al-Hasan bin Ali, ditanya, “orang-orang mengatakan bahwa engkau menginginkan khalifah?’ Al-Hasan berkata, “Dahulu orang-orang Arab berada dibawah kendaliku. Mereka berdamai dengan orang-orang yang berdamai denganku dan mereka memerangi orang-orang yang aku perangi. Namun aku lepaskan jabatanku itu demi mencari Wajah Allah. Apakah lantas kemudian aku mengutamakan khalifah daripada kambing hutan penduduk Hijaz?”

((Kalau kita analisa/lihat berdasarkan pada sabda Rasulullah saw di atas mengenai kiprah al-Hasan bin Ali ra yang bersikap lebih menyerahkan kekuasaan kepada Mu’awiyah ra demi perdamaian kaum Muslimin. Namun ada sabda Rasulullah saw yang berhubungan dengan jabatan kepemimpinan yaitu pada ke khalifahan Ustman bin Affan ra yang jelas-jelas Rasulullah saw menegaskan untuk tidak melepaskan jabatan kepemimpinan karena kelompok yang menginginkan lepasnya jabatan itu adalah kaum munafiq, “Wahai Utsman, mudah-mudahan Allah akan menyandangkan untukmu sebuah pakaian, dan jika orang-orang munafiq ingin engkau menanggalkan pakaian tersebut, maka jangan engkau lepaskan, hingga engkau menemuiku (meninggal).” (Beliau bersabda demikian) tiga kali”. ))

Pelimpahan kepemimpinan dari al-Hasan bin Ali ra kepada Muawiyah ra ini, tidak lah berjalan mulus terutama untuk pribadi al-Hasan bin Ali sendiri, yang mana banyak cacian dan ejekan yang khususnya datang dari pendukungnya sendiri. Diberitakan hal itu terjadi ketika al-Hasan bin Ali beserta rombongan kembali ke madinah dari kufah. Di setiap kabilah dimana ada pendukungnya, mereka merasa kecewa dengan sikapnya dan memunculkan ejekan dan cacian untuk beliau. Namun, karena ketinggian ilmu dan juga karena sabda Rasulullah saw, beliau tidak bergeming dengan hal itu, karena pasti beliau tahu bahwa syeitan sedang memainkan peranan di dalamnya yang menginginkan kaum Muslimin bercerai berai dengan pandangan yang salah!

Kelembutan hati, sikap tidak mau berselisih dan ketinggian ilmu diperlihatnya oleh al-Hasan bin Ali ketika beliau menyampaikan uneg-unegnya kepada ayahnya Ali bin Abi Thalib kw ketika akan menghadapi perang Jamal., “Aku telah melarangmu namun kamu tidak menurutinya. Kamu akan terbunuh esok secara tersia-sia tanpa ada seorangpun yang membelamu!” Ali berkata kepada putranya itu, “Engkau masih saja merengek kepadaku seperti anak kecil. Apa laranganmu yang telah aku langgar?” Al-Hasan berkata, “Bukankah aku telah menyarankan kepadamu sebelum terbunuhnya Ustman agar keluar dari Madinah? Supaya Ustman tidak terbunuh sementara engkau berada di dalamnya sehingga orang-orang membicarakan atau mempersoalkannya? Bukankah aku telah menyarankan agar jangan membai’at orang-orang, setelah terbunuhnya Ustman sebelum wakil-wakil dari setiap daerah datang kepamu untuk berbai’at? Dan aku telah menyarankan kepadamu agar tatkala wanita ini (maksudnya adalah Aisyah) dan dua lelaki ini (maksudnya Thalhah dan az- Zubair) keluar sebaiknya engkau duduk saja di rumah hingga mereka berdamai? Namun engkau melanggar semua saranku itu?” Bisa terbayangkan pada kehidupan kita sehari-hari, anak-anak kadang merasa lebih pintar dari orangtuanya, seperti ini pula yang terjadi pada dialog al-Hasan bin Ali dengan ayahnya!

((Sebelum terbunuhnya Ustman bin Affan ra. Ali bin Abi Thalib ra, menyuruh al-Hasan bin Ali dengan beberapa pemuda untuk menjaga Ustman bin Affan di rumahnya tetapi Ustman bin Affan ra menolak untuk dijaga dan menyuruh mereka untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Boleh jadi Ustman bin Affan ra menyadari dan menjalani takdirnya seperti yang disabdakan Rasulullah saw, sebagaimana Hasan bin Ali ra ketika mendamaikan kaum Muslimin dan Husain bin Ali ra mati terbunuh di karbala!!))

Keluarbiasaan sikap al-Hasan bin Ali ra tidak berhenti hingga ajal menemuinya. Menurut sejarah beliau meninggal karena diracun dan ketika Husain bin Ali ra sebagai adiknya menanyakan siapa yang meracuninya, beliau tidak mau memberitahukannya hingga maut merenggutnya!

Wallahu ‘alam.

Rabu, 01 Januari 2014

SALAH PAHAM DAN PAHAM SALAH

Merambah dunia dan akherat

(SALAH PAHAM DAN PAHAM SALAH)

Dalam acara sosialisasi transplantasi terumbu karang di sebuah desa yang berada di pesisir pantai hari jum’at kemarin (29/11-’13), pak Profesor mengatakan bahwa sumber masalah di dunia ini hanya ada dua, yaitu yang pertama Salah Paham dan yang kedua Paham Salah. Beliau pun mengaitkanya dengan kondisi terumbu karang terutama di lokal, nasional maupun internasional.

Sebenarnya bukan hanya Salah Paham dan Paham Salah yang saya petik dari acara sederhana tetapi bernilai luar biasa tersebut, masih banyak memori yang tersimpan yang smoga bermanfaat dilain waktu, terutama berhubungan dengan proses perbaikan baik itu yang berhubungan dengan alam maupun kehidupan manusia itu sendiri yang secara langsung memanfaatkan alam dalam proses menjalani kehidupannya.

Walau sang Profesor mengaitkan Salah Paham dan Paham Salah dengan perilaku nelayan dalam menjalani kehidupannya dengan proses kerusakan lingkungan terutama terumbu karang yang tanpa disadari nelayan justru akan mengakibatkan kerugian bagi nelayan itu sendiri di masa yang akan datang, saya mencoba berfikir dan mengaitkan Salah Paham dan Paham Salah dalam kehidupan manusia secara keseluruhan sesuai dengan kapasitas pemikiran saya sendiri.

Akibat dari Salah Paham dan Paham Salah adalah sama yaitu akan timbul konfik, walaupun intensitas dan kualitasnya kemungkinan tidak sama. Penanganan konflik karena Salah Paham akan lebih mudah dibandingkan penanganan konflik karena Paham Salah. Karena orang-orang yang terlibat konflik karena Salah Paham biasanya karena perbedaan pengetahuan atau pemahaman saja, beda denga orang-orang yang terlibat konflik karena Paham Salah, disamping karena pengetahuan atau pemahaman yang beda tetapi juga disertai dengan keyakinan. Seperti kita ketahui bersama bahwa masalah keyakinan adalah masalah yang cukup sulit untuk berubah, tetapi bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk berubah, diperlukan pemikiran dan hati yang bersih untuk merubah keyakinan.

Kalau kita telusuri jejak Salah Paham dan Paham Salah ini bahkan hingga awal kehidupan manusia, rupanya Salah Paham dan Paham Salah ini sudah sangat akrab dengan manusia di awal kehidupannya, bahkan muncul hampir secara bersamaan. Kita ingat bagaimana Allah swt menyampaikan ide untuk menjadikan manusia Khalifah di bumi. Kemudian seolah-olah malaikat protes , “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang menumpahkan darah di sana, sedang kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Sampai disini, malaikat nampaknya mempunyai pemikiran yang berbeda dengan Allah swt. Kemudian Allah menjawab keluhan atau protes malaikat itu dengan mengatakan,”Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” dan tentunya Allah swt memberikan fakta atau bukti dari kelebihan manusia (Adam as) dibandingkan malaikat. Malaikat pun akhirnya mengakui dan menyadari akan ke-Salah Paham-an nya terhadap Allah swt dengan mengatakan, “Maha suci Engkau tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh Engkau lah Yang Maha Mengetahui , Maha Bijaksana” (AQ surat Al-Baqoroh)

Lain malaikat, lain pula oknum jin, ketika Allah swt menyuruh semua makhluk untuk sujud kepada Adam as, ternyata ada oknum jin yang tidak mau mentaati perintah Allah swt tersebut, yang akhirnya disebut dengan iblis. Iblis mempunyai pemikiran atau pemahaman yang berbeda dengan malaikat, dia merasa bahwa bahan atau material yang menjadikan iblis sebagai makhluk Allah swt lebih baik dari pada bahan atau material yang manusia sebagai makhluk Allah swt, “Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah.” (AQ surat Al-A’raf) Iblis tidak belajar dari malaikat, kalau hanya sekedar bahan atau material sebenarnya bisa saja malaikatpun mengatakan hal yang serupa tapi malaikat tidak melakukan hal itu. Dengan ke-Paham Salah-annya akhirnya iblis diusir oleh Allah swt. Akhirnya kita ketahui bersama bahwa Paham Salah nya iblis merusak tatanan yang ada waktu itu dan juga tatanan yang ada di dunia setelahnya. Melalui anasir-anasirnya iblis, penegakan kalimat toyyibah menemui tantangan dan hambatannya.

Tidak usah kita telusiri Salah Paham dan Paham Salah setelah setelah periode dialog Allah swt-malaikat-iblis, karena itu akan buanyak sekali kita temui. Jangankan setelah zaman itu, untuk saat ini pun kita akan menjumpai buaanyak sekali kasus Salah Paham dan Paham Salah, bahkan ada di sekeliling kita, dalam kehidupan sehari-hari kita, dalam pergaulan dan aktivitas kita dan boleh jadi dalam mimpi-mimpi kita.

Bagaimana supaya kita tidak berjebak dalam lingkaran Salah Paham dan Paham Salah? Belajar dari sikap malaikat adalah tentunya meningkatkan pemahaman kita dan diiringi dengan hati dan pemikiran yang jernih, apalagi jika berbenturan dengan Paham Salah, jangan-jangan justru kita terbelit dan terjaring dengan Paham Salah tersebut. Terlebih lagi Paham Salah yang ditebar pesonakan oleh iblis/syeitan merupakan sebuah profesi dengan kesadaran penuh dari iblis dan syeitan itu sendiri, sedangkan kadang orang yang sudah terjerat Paham Salah tidak menyadari bahwa dia berada dalam lingkaran Paham Salah, bahkan berani mati untuk Paham Salahnya tersebut.

“Dan (ingatlah) ketika syeitan menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (dosa) dan mengatakan, “Tidak ada (orang) yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini dan sungguh aku adalah penolongmu” Maka ketika kedua pasukan itu telah saling melihat (berhadapan), syeitan balik ke belakang seraya berkata, “Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, aku dapat melihat apa yang kamu tidak dapat melihat. Sesungguhnya aku takut kepada Allah swt.” Allah sangat keras siksa-Nya (AQ surat Al-Anfal ayat 48)

“Dan Syeitan berkata ketika perkata (Hisab) telah diselesaikan, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku menyalahinya. Tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan (sekedar) aku menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menolongmu, dan kamupun tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu. Sungguh orang zalim akan mendapat siksaan yang pedih.” (AQ surat Ibrahim ayat 22)

Wallahu a’lam

Jumat, 27 Desember 2013

Kebenaran dan Kesesatan

Merambah dunia dan akherat (Kebenaran VS Kesesatan) Sudah menjadi suratan Ilahi bahwa ada kebenaran, ada kesesatan. Ada pembawa kebenaran, ada pembawa kesesatan. Ada pendukung kebenaran dan ada pendukung kesesatan. Kedua-duanya selalu bertolak belakang. Dalam kasus awal, iblis yang sudah divonis sebagai Rajanya kesesatan karena tidak mau tunduk kepada perintah Yang Maha Pencipta swt sebagai Sumber kebenaran, sudah memproklamirkan diri untuk menghalangi manusia dari jalan kebenaran bahkan akan dijadikannya sebagai budak-budaknya, dalam surat Al-A’raf ayat 16-17 :”Karena Engkau sudah telah menyesatkan aku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau akan mendapati mereka bersyukur” Dengan demikian pembawa kesesatan akan selalu bersifat agresif untuk mengalihkan keimanan manusia menuju kesesatan dalam hidupnya. Dari satu sisi sekenario akan kehadiran Iblis/syetan adalah sebagai ujian bagi orang-orang yang berada dalam kebenaran, pembawa dan pendukung kebenaran akan keimanan yang mereka anut dalam perjalanan hidup mereka. Sehingga ketika secara komunitas kebenaran keimanannya sudah mulai luntur, Allah swt akan me-charger mereka dengan mengutus Rasul dan Nabi yang baru. Sehingga dalam sejarah selalu dikatakan bahwa setiap Rasul sebagai pembawa kebenaran akan selalu mempunyai musuh. Muhammad, sebagai Rasulullah saw merupakan Rasul yang terakhir yang diutus oleh Allah swt dalam kehidupan manusia. Dalam periode dakwah dan kehidupan yang relatif singkat dibandingkan dengan Rasul-Rasul sebelumnya, Muhammad Rasulullah saw telah berhasil meletakkan dasar-dasar keimanan dan miniatur kehidupan Islam sebagai kebenaran dalam kehidupan di dunia ini untuk menjadi anutan bagi manusia generasi berikutnya hingga akhir zaman. Keberhasilan ini bukanlah sesuatu yang didapat dengan mudah, karena peran iblis/syeitan pun bergerak sungguh luar biasa dalam membendung kebenaran tersebut. Mereka pun berupaya hingga berdarah-darah dalam membendung Islam ini, baik dari luar Islam maupun dari dalam Islam itu sendiri. Sehingga ada diistilahkan dengan kaum kafir dan kaum munafiq. Pencapaian adanya kaum munafiq merupakan prestasi tersendiri dari iblis/syeitan, karena proses menghalang-halangi keimanan manusia dimulai dari dalam kaum sendiri. Allah berfirman dalam Al-Quran, “Dan diantara manusia ada berkata, “ Kami beriman kepada Allah dan hari akhir, padahal sesungguhnya mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman.” Di ayat lain dikatakan, “Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada syeitan-syeitan (para pemimpin) mereka, mereka berkata , “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.” Tipu daya mereka untuk membelokkan ajaran Allah swt sungguh luar biasa . Namun Rasulullah saw sudah mewasiatkan kepada umatnya untuk memegang Al-Quran dan Sunnahnya , dan menjadikannya imam dalam kehidupan sehari-hari. Sepeninggal Rasulullah saw, perjuangannya menegakkan kebenaran dilanjutkan oleh Khulafaur Rasyidin. Seperti disabdakan oleh beliau saw, “ikutilah Sunnahku dan sunnah khulafaur Rasyidin”. Hanya boleh jadi iblis/syeitan, agak berbangga hati karena para khulafaur rasyidin adalah manusia biasa ditambah lagi dengan semakin banyak orang yang memeluk Islam dan semakin luas daerah kekuasan Islam. Tetapi janji Allah swt tetap berlaku bagi orang-orang yang beriman dan tetap dalam keimanannya akan memdapatkan kebahagian di akherat kelak. Zaman Abu Bakar dan Umar bin khaththab ra. dilewati dengan letupan-letupan kecil (dibandingkan dengan kejadian-kejadian berikutnya) yang mampu diatasi. Zaman Ustman bin Affan ra terjadilah apa yang dinamakan fitnah hingga kematian menjemputnya seperti yang sudah disampaikan oleh Rasulullah saw, “Sesungguhnya kalian akan menemui fitnah dan perselisihan –atau (kalau tidak salah) beliau bersabda, ‘perselisihan dan fitnah’- setelahku nanti. Seseorang bertanya, “Siapa yang harus kami ikuti ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ikutilah al-Amin (yang terpercaya) ini dan para sahabatnya (yang berada di pihaknya). Sambil beliau menunjuk kepada Ustman.” Di hadist lain dikatakan bahwa “Orang yang menutupi wajahnya ini, akan terbunuh secara zhalim waktu itu’ Lalu aku melihat orang tersebut, ternyata ia adalah Ustman bin Affan ra.” Dimulai dari Kejadian zaman Ustman bin affan ra inilah rentetan kejadian-kejadian besar berikutnya terjadi, termasuk pada zaman khalifah berikutnya yaitu Ali bin Abi Thalib ra. Mulai dari tuntutan akan kematian Ustman bin Affan ra, hingga munculnya golongan-golongan dalam Islam. Upaya iblis/syeitan dengan pasukannya sungguh luar biasa hebatnya. Dengan mengadu domba kaum muslimin dari dalam sehingga kaum muslimin dalam bentuk berkelompok-kelompok dan berselisih. Sampai Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra berkhutbah, “Sesungguhnya Allah telah memuliakan kita dengan Islam dan mengangkat derajat kita dengannya. Dan Allah telah menjadikan kita bersaudara setelah kita hina, minoritas, saling membenci dan saling menjauhi. Umat manusia mempertahankan hal itu sampai waktu yang dikehendaki Allah. Islam adalah agama mereka. Kebenaran tegak di antara mereka. Kitabullah adalah imam mereka. Hingga lelaki ini (yakni Ustman bin Affan ra) terbunuh di tangan orang-orang yang disesatkan oleh syeitan untuk menghembuskan api permusuhan di tengah umat ini. Kita berlindung dari keburukan yang terjadi. Dan hal itu pasti terjadi. Ketahui, umat ini akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Golongan yang paling buruk adalah golongan yang menisbatkan diri kepadaku, namun tidak mengikuti amal perbuatanku. Kalian telah menemukan dan melihat sendiri. Komitmenlah di atas agamamu dan ikutilah petunjuk Nabimu. Ikutilah sunnah beliau saw. Tinggalkanlah masalah-masalah sulit atas kalian, hingga kalian mendapatkan solusinya pada Kitabullah. Ambilah perkara-perkara yang diakui Al-Quran, sedangkan perkara-perkara yang ditolak maka tolaklah. Ridhoilah Allah sebagai Rab kalian, Islam sebagai agama kalian, Muhammad sebagai nabi kalian dan Al-Quran sebagai hakim dan imam kalian.” Namun apa daya, setelah melewati masa-masa yang sulit, Ali bin Abi Thalib ra pun terbunuh ditangan pengikut iblis/syeitan. Bisikan-bisikan syeitan akan selalu mengganggu hati kita, mengganggu keimanan kita, hingga kita keluar dari jalan kebenaran. Berbagai cara mereka tempuh untuk meruntuhkan Kebenaran Islam. Semoga kita tetap istiqomah dalam kebenaran dan diberi kekuatan oleh Allah swt menolak kesesatan yang akan meruntuh keimanan diri kita maupun Islam secara keseluruhan. “Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa” (Al-An’am ayat 153) Wallahu a’lam

Senin, 20 Februari 2012

yang baru yang kukejar kini

setelah sekian lama waktu dalam kebersamaan, sudah waktunya untuk mengevaluasi perjalanan itu, bagaimana pun idealisme selama ini nampaknya sudah menggerogoti kehidupan yang nyata. sebelum begitu parah terjerembab dalam kesulitan yang amat sangat, sudah seharusnya berancang-ancang mengubah arah perjalanan ini. walau semuanya berada dalam skenario-Nya, saya yakin bahwa skenario-Nya pula yang membuat saya membuat keputusan ini. dan saya tidak ragukan itu. entahlah ketika ada peluang-peluang lain sebelum ini, rasa untuk itu tidak begitu kuat mempengaruhiku. tapi yang satu ini,saya coba untuk melangkah mendalami dan mempelajarinya. walaupun tidak mudah karena daya yang sudah bukan zamannya lagi untuk itu, tapi usaha harus ditempuh baik dengan keberadaanku saat ini maupun tentunya permohonan intervensi dari yang Maha Berkehendak.

detik-detik ini adalah penantian awal dari misteri kehidupan yang saya usahakan ke depan, yang penuh asa akan sesuatu yang lebih baik bukan hanya untuk diri ini saja tapi semua yang terlibat di diri ini, tentunya!!!

Smoga....

Selasa, 14 Februari 2012

rindu

setelah sekian lama, ternyata ku ingat sesuatu, yang mengakibatkan aku rindu akan sesuatu tersebut. setelah ku ikuti alurnya, nampak sudah bahwa untuk mencapainya adalah sesuatu yang tidak mudah, ku harus lewati jalan yang telah terhapus jejaknya. namun walau begitu dengan keterbatasan yang ada ku coba urai keruwetan itu untuk membuka kembali alur yang benar dimana ku selalu jejaki hingga membuat alur yang sebelumnya. alhamdulillah....

kini, 2012 sudah lewat dalam beberapa pijakan. entahlah beberapa pijakan lagikah kan lalui di tahun ini!!!! smoga ku dapat lewati dengan benar dan membawa kebaikan yang bermanfaat bagi semuanya. amin....