Pohon yang menjulang di foto ini, masyarakat sekitar menyebutnya dengan pohon jati liar. Kurang lebih tingginya antara 20-30 meter. Untuk supaya batang pohonnya lurus, tunas-tunas baru yang akan membentuk cabang harus dipotong, sehingga nantinya menghasilkan kualitas kayu yang mumpuni.
Saya kira manusia juga harus seperti itu, ketika jalan lurus yang akan kita lalui terdapat atau muncul jalan-jalan cabang yang bengkok apalagi sesat, kita harus konsisten untuk melaluinya. Kalau perlu jalan-jalan bengkok bin sesat itu kita pangkas saja sehingga tidak muncul dalam kamus keimanan kita!
Selamat untuk menempuh jalan yang lurus!!!
Sabtu, 19 April 2014
Selasa, 15 April 2014
Menunggu Keajaiban.
Pohon lengkeng pingpong di depan rumah sudah berumur kalau tidak salah 4-5 tahun. Dibandingkan yang ditanam di kebun yang didepan rumah ini lambat sekali berbuah, bahkan saya merasa pohon lengkeng yang ini tidak akan berbuah. Pertumbuhannya lumayan bagus dibandingkan yang dikebun karena yang ditanam di depan rumah selalu saya perhatikan dan kadang saya beri pupuk. Kelemahannya juga adalah periode kena sinar matahari per harinya tidak selama pohon lengkeng yang ditanam di kebun. Lengkeng pingpong yang di tanam di kebun sudah pernah berbuah walaupun hanya satu dua.
Tapi musim kemarau yang lalu pohon lengkeng yang ditanam di rumah mulai berbunga di beberapa tempat. Alhamdulillah. Saya berfikir karena semakin tinggi pohonnya sehingga periode kena sinar matahari menjadi lebih lama dalam satu harinya. Bunga itupun akhirnya menjadi buah, bahkan ada rumpun bunga yang seluruhnya menjadi buah sehingga membentuk rumpun buah yang sangat bagus seperti rumpun buah lengkeng yang dijual di toko-toko buah. ah...sayang saya tidak sempat mendokumentasikannya. Saya dan keluarga berharap menikmati buah lengkeng pingpong itu ketika sudah masak nantinya.
Hari demi hari, buah itu semakin besar. Bahkan karena berupa rumpun dahan yang menopang buah-buah itu mengayun ke bawah karena semakin beratnya. Kondisi itu menarik perhatian anak-anak tetangga yang selalu datang ke rumah untuk bermain dan mengaji, hingga ada anak yang penasaran dan berani untuk mengambil dan mencobanya. waduh!!! Istri saya sampai marah-marah karenanya, yang punya pohon saja belum sempat merasakan eehhhh...ini anak-anak berani mengambil tanpa izin. he-he.... namanya juga anak-anak.
oh iya, sebelumnya saya sampaikan dulu bawa pohon lengkeng ini adalah jenis lengkeng pingpong. kenapa di sebut pingpong karena buahnya besar sebesar bola pingpong tidak seperti lengkeng biasanya. Asal pohon ini konon katanya dari vietnam. Ada orang yang bawa buah itu ke Indonesia (jawa). Kemudian bijinya di tanam dan tumbuh baik. Akhirnya pohonnya diperbanyak dengan sistem okulasi. Saya membeli bibitnya yang dibawa teman dari jawa. Cukup mahal, kalau tidak salah Rp. 175.000 per pohon. Hanya yang saya tanam baik yang di rumah maupun yang dikebun ternyata buahnya tidak sebesar yang saya lihat dalam promosinya. tapi tidak apa-apa, yang penting pohonnya sudah berbuah dan buahnya manis sekali!!
Berbeda dengan pohon rambutan, yang saya juga ada tanam baik di pekarangan rumah maupun di kebun, Pohon lengkeng ini menurut teman lebih suka daerah yang panas dan tidak terlalu memerlukan air yang banyak. Ah...sayangnya, musim hujan kemarin yang intensitas hujannya sangat tinggi disamping juga karena adanya peninggian jalan di depan rumah yang berakibat ditinggikan juga pekarangan rumah sehingga menutup jalan air dari kebun ke selokan, mengakibatkan kadang kebun tergenang air yang cukup lama. Dan itu berlangsung beberapa kali selama musim hujan kemarin. saya pun tidak bisa berbuat apa-apa karena kesibukan dan kondisi ketinggian selokan dan dasar kebun. sehingga saya hanya berharap air yang tergenang terserap ke dalam tanah. Saya tahu bahwa ini akan berakibat tidak baik ke pohon lengkeng maupun pohon rambutan yang saya tanam.
Ternyata benar, lama-lama daun pohon lengkeng menjadi kering hingga semua daun yang tersisa. Pohon rambutan masih bisa bertahan mungkin karena sifatnya, tapi yang saya tahu kalau lama-lama tergenang pohon rambutan pun akan mati. Sudah hampir dua bulan lebih daun-daun di pohon lengkeng kering. Tetapi yang saya heran daun itu tidak gugur berjatuhan. Hingga saat ini saya berharap masuk musim kemaraun, pohon lengkeng itu tumbuh kembali dan muncul tunas-tunas baru. Kalau ada kesempatan kadang saya mencoba mencungkil batangnya, apakah kering atau tidak, walau kering saya tetap berharap. Allah swt yang Maha Besar dan Maha Menghidupkan. Jika Allah swt berkehendak, keajaiban itu akan datang!
Tapi musim kemarau yang lalu pohon lengkeng yang ditanam di rumah mulai berbunga di beberapa tempat. Alhamdulillah. Saya berfikir karena semakin tinggi pohonnya sehingga periode kena sinar matahari menjadi lebih lama dalam satu harinya. Bunga itupun akhirnya menjadi buah, bahkan ada rumpun bunga yang seluruhnya menjadi buah sehingga membentuk rumpun buah yang sangat bagus seperti rumpun buah lengkeng yang dijual di toko-toko buah. ah...sayang saya tidak sempat mendokumentasikannya. Saya dan keluarga berharap menikmati buah lengkeng pingpong itu ketika sudah masak nantinya.
Hari demi hari, buah itu semakin besar. Bahkan karena berupa rumpun dahan yang menopang buah-buah itu mengayun ke bawah karena semakin beratnya. Kondisi itu menarik perhatian anak-anak tetangga yang selalu datang ke rumah untuk bermain dan mengaji, hingga ada anak yang penasaran dan berani untuk mengambil dan mencobanya. waduh!!! Istri saya sampai marah-marah karenanya, yang punya pohon saja belum sempat merasakan eehhhh...ini anak-anak berani mengambil tanpa izin. he-he.... namanya juga anak-anak.
oh iya, sebelumnya saya sampaikan dulu bawa pohon lengkeng ini adalah jenis lengkeng pingpong. kenapa di sebut pingpong karena buahnya besar sebesar bola pingpong tidak seperti lengkeng biasanya. Asal pohon ini konon katanya dari vietnam. Ada orang yang bawa buah itu ke Indonesia (jawa). Kemudian bijinya di tanam dan tumbuh baik. Akhirnya pohonnya diperbanyak dengan sistem okulasi. Saya membeli bibitnya yang dibawa teman dari jawa. Cukup mahal, kalau tidak salah Rp. 175.000 per pohon. Hanya yang saya tanam baik yang di rumah maupun yang dikebun ternyata buahnya tidak sebesar yang saya lihat dalam promosinya. tapi tidak apa-apa, yang penting pohonnya sudah berbuah dan buahnya manis sekali!!
Berbeda dengan pohon rambutan, yang saya juga ada tanam baik di pekarangan rumah maupun di kebun, Pohon lengkeng ini menurut teman lebih suka daerah yang panas dan tidak terlalu memerlukan air yang banyak. Ah...sayangnya, musim hujan kemarin yang intensitas hujannya sangat tinggi disamping juga karena adanya peninggian jalan di depan rumah yang berakibat ditinggikan juga pekarangan rumah sehingga menutup jalan air dari kebun ke selokan, mengakibatkan kadang kebun tergenang air yang cukup lama. Dan itu berlangsung beberapa kali selama musim hujan kemarin. saya pun tidak bisa berbuat apa-apa karena kesibukan dan kondisi ketinggian selokan dan dasar kebun. sehingga saya hanya berharap air yang tergenang terserap ke dalam tanah. Saya tahu bahwa ini akan berakibat tidak baik ke pohon lengkeng maupun pohon rambutan yang saya tanam.
Ternyata benar, lama-lama daun pohon lengkeng menjadi kering hingga semua daun yang tersisa. Pohon rambutan masih bisa bertahan mungkin karena sifatnya, tapi yang saya tahu kalau lama-lama tergenang pohon rambutan pun akan mati. Sudah hampir dua bulan lebih daun-daun di pohon lengkeng kering. Tetapi yang saya heran daun itu tidak gugur berjatuhan. Hingga saat ini saya berharap masuk musim kemaraun, pohon lengkeng itu tumbuh kembali dan muncul tunas-tunas baru. Kalau ada kesempatan kadang saya mencoba mencungkil batangnya, apakah kering atau tidak, walau kering saya tetap berharap. Allah swt yang Maha Besar dan Maha Menghidupkan. Jika Allah swt berkehendak, keajaiban itu akan datang!
Senin, 14 April 2014
Petambak di dusun Batu Ampara Pulau Tanakeke, Takalar
Sebenarnya sudah beberapa kali ke Pulau Tanakeke, di kabupaten Takalar. Hal ini berhubungan dengan permintaan dari sebuah LSM yang berpusat di luar negeri yang sedang mempunyai program pengembangan masyarakat (community develovment) di sana khususnya di dusun Batu Ampara untuk membantu dalam mengembangkan budidaya udang di sana, khususnya udang vanname. Dusun Batu Ampara yang berjumlah kepala keluarganya tidak terlalu banyak memang rata-rata mempunyai tambak. Tetapi produktifitasnya tidaklah terlalu bagus, mereka lebih banyak memelihara ikan bandeng (daerah: ikan bolu) dicampur dengan udang windu dengan penebaran yang sangat sedikit. Bahkan karena selama ini hasil dari tambak tidak terlalu bagus sehingga para petambak tidak terlalu memperhatikan kondisi fisik tambak sehingga tidak terlalu ideal lagi disebut sebagai sebuah tambak. Banyak pematang tambak yang dibiarkan tidak diperbaiki bahkan pintu airnya pun kondisinya tidak terlalu bagus.
Dari perbincangan dengan tokoh masyarakat di dusun itu, sebenarnya hasil tambak dengan udang windunya pernah jaya di Tana Keke pada umumnya dan khususnya di dusun Batu Ampara. Dikatakan juga bahwa ketika tambak sedang berjaya dari hasilnya, banyak petambak yang mempunyai rumah tambak (baca: empang) yang besar-besar berada di tambaknya dimana mereka sehari-harinya hidup dan beraktivitas di sana. Tetapi ketika udang windu tidak bisa bertahan karena selalu ada penyakit, mereka pun tidak memperhatikan lagi tambaknya bahkan rumah-rumah empang pun sudah tidak ada lagi berganti dengan gubuk-gubuk kecil terbuat dari kayu biasa dan beratap serta berdindingkan anyaman daun kelapa. budidaya pun tersisa hanya kepada ikan bandeng ditambah sedikit udang windu! Sebagian besar mata pencaharian mereka beralih ke rumput laut Euchema cottoni yang memang sangat marak di Tana Keke ini. dengan perairan yang tidak terlalu dalam di antara pulau-pulau memungkinkan ribuan hektar lahan rumput laut membentang sejauh memandang.
Yang sungguh mengagetkan adalah bahwa teknik budidaya mereka tidak berkembang sama sekali, dari dulu hingga sekarang ya seperti itu. Dengan mengusung budidaya udang vanname dengan kepadatan yang agak tinggi dibandingkan budidaya yang selalu mereka lakukan pada udang windu, memang memerlukan suatu kesabaran yang tinggi. Secara sosiologi para petani atau petambak memang tidak akan langsung berubah perilaku bertambaknya sebelum mereka melihat sendiri atau bahkan mereka merasakan sendiri hasilnya. Walau sebelum pelaksanaan budidaya vanname mereka dilatih dulu dalam forum pelatihan selama beberapa kali pertemuan.
Sampai saat ini sudah ada yang panen, namun hasilnya menurut standar teknis belum begitu memuaskan. Tetapi berdasarkan hasil yang mereka dapat dari nilai uang hasil panennya ada rasa puas pada diri mereka yang tidak pernah mereka dapatkan ketika berbudidaya udang windu, sehingga mereka langsung mencoba lagi budidaya udang vanname dari hasil panen udang vanname nya yang pertama.
Dari perbincangan dengan tokoh masyarakat di dusun itu, sebenarnya hasil tambak dengan udang windunya pernah jaya di Tana Keke pada umumnya dan khususnya di dusun Batu Ampara. Dikatakan juga bahwa ketika tambak sedang berjaya dari hasilnya, banyak petambak yang mempunyai rumah tambak (baca: empang) yang besar-besar berada di tambaknya dimana mereka sehari-harinya hidup dan beraktivitas di sana. Tetapi ketika udang windu tidak bisa bertahan karena selalu ada penyakit, mereka pun tidak memperhatikan lagi tambaknya bahkan rumah-rumah empang pun sudah tidak ada lagi berganti dengan gubuk-gubuk kecil terbuat dari kayu biasa dan beratap serta berdindingkan anyaman daun kelapa. budidaya pun tersisa hanya kepada ikan bandeng ditambah sedikit udang windu! Sebagian besar mata pencaharian mereka beralih ke rumput laut Euchema cottoni yang memang sangat marak di Tana Keke ini. dengan perairan yang tidak terlalu dalam di antara pulau-pulau memungkinkan ribuan hektar lahan rumput laut membentang sejauh memandang.
Yang sungguh mengagetkan adalah bahwa teknik budidaya mereka tidak berkembang sama sekali, dari dulu hingga sekarang ya seperti itu. Dengan mengusung budidaya udang vanname dengan kepadatan yang agak tinggi dibandingkan budidaya yang selalu mereka lakukan pada udang windu, memang memerlukan suatu kesabaran yang tinggi. Secara sosiologi para petani atau petambak memang tidak akan langsung berubah perilaku bertambaknya sebelum mereka melihat sendiri atau bahkan mereka merasakan sendiri hasilnya. Walau sebelum pelaksanaan budidaya vanname mereka dilatih dulu dalam forum pelatihan selama beberapa kali pertemuan.
Sampai saat ini sudah ada yang panen, namun hasilnya menurut standar teknis belum begitu memuaskan. Tetapi berdasarkan hasil yang mereka dapat dari nilai uang hasil panennya ada rasa puas pada diri mereka yang tidak pernah mereka dapatkan ketika berbudidaya udang windu, sehingga mereka langsung mencoba lagi budidaya udang vanname dari hasil panen udang vanname nya yang pertama.
Sabtu, 12 April 2014
Derita sang guru muda (honorer), sistem hingga sampai kapan!
Rupanya sosok guru yang dikiaskan sebagai "Pahlawan tanpa Jasa" masih berlaku juga hingga saat ini, dan saya yakin pengkiasan untuk guru itu akan terus ada di kehidupan manusia -khususnya di Indonesia, karena istilah itu mungkin adanya di Indoensia- hingga kehidupan itu sirna di alam semesta ini. Kenapa begitu? ya, bagaimana pun kalau melihat tugas dan fungsi seorang guru yang luar biasa mulianya mentranfer pengetahuan dan mengarahkan pendidikan siswa menjadi manusia paripurna, yang tidak bisa dinilai dengan nilai uang walaupun itu sebagai profesi (apalagi kalau penghargaan sebagai profesi belum memenuhi rasa standar kehidupan yang selalu digembar-gemborkan dalam kehidupan bermsyarakat di negera tertentu). Apalagi dalam agama Islam menyampaikan ilmu yang bermamfaat merupakan amal jariah yang tidak berhenti mengalir walaupun sosoknya sudah meninggal.
Tetapi istilah Pahlawan tanda Jasa lebih menyorot kepada kondisi real guru dalam kehidupan sehari-hari, yang kadang jauh dari yang ideal. sehingga iwan fals menggambarkan sosok seorang guru dengan lagunya yang berjudul umar bakri. Bahkan karena status guru seperti itu dulu kadang ada rumor orangtua yang bicara sama anak perempuannya, kalau tidak pintar nanti dikawinkan dengan seorang guru. he-he.... itu dulu, sekarang faktanya guru-guru juga banyak yang kesejahteraannya sudah lumayan, banyak guru yang sudah mempunyai kendaraan, rumahnya bagus dan pemerintah juga memberikan apresiasi yang menunjukkan peningkatan walau belum maksimal! Hanya untuk guru-guru muda yang masih berstatus honorer yang belum menjadi pegawai negeri sipil, masih ada rasa kekhawatiran pada diri mereka, terutama dalam masalah rekrutmen guru menjadi Pegawai Negeri Sipil.
Ya... bagaimana tidak, sudah bukan rahasia umum lagi sekarang bahwa untuk menjadi pegawai negeri sipil memerlukan salah satu dari dua point yang sangat penting atau bahkan dua-duanya, yaitu (1) akses ke pengambil keputusan dan (2) uang. Akses bagi orang-orang tertentu yang biasanya berhubungan dengan status sosial tidak menjadi masalah, dan untuk orang-orang pada umumnya justru kadang menjadi masalah walaupun mereka mempunyai uang. Karena pernah ada kejadian seseorang berani bayar sejumlah uang untuk menjadi pegawai negeri sipil, ternyata aksesnya salah masalah akhirnya menjadi urusan tipu menipu.
Saya kadang bingung juga seorang guru yang nantinya sebagai seorang pendidik kepada siswanya tetapi memulai melangkah untuk statusnya dengan cara seperti itu. Inilah barangkali korban dari sistem, sehingga ketika itu sudah menjadi umum atau biasa menjadi sesuatu yang tidak ada salahnya. Tetapi bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai uang, atau yang kondisi ekonomi orangtua pas-pasan, sementara dengan profesi sebagai guru honorer yang dibayar hanya berdasarkan jam mengajar yang nilainya tidak seberapa, bagaimana mau sejahtera dan konsentrasi dalam mendidik siswanya?
Persoalan guru honorer ini bikin saya merinding, ketika buruh selalu demo kepada Pemerintah untuk menaikkan Upah Minimum Regionalnya dan kadang Pemerintah berdialog untuk itu, bagaimana dengan guru honorer ini. Untuk berjuang mengajar per jam nya saja sekarang harus bersaing dengan guru PNS yang sudah sertifikasi yang mencari kecukupan jam mengajarnya. Maksudnya ketika ada guru sertifikasi tidak cukup jam mengajar di sekolah induknya, maka untuk mencukupkan waktu mengajarnya yaitu 24 jam per minggu mereka harus mencarinya di sekolah lain. Di sekolah yang dituju pasti akan diterima karena sebagai seorang PNS dan akan mendepak jam mengajarnya seorang honorer. hiks! Untuk itu mereka pun bertebaran mencari jam tambahan sebagai guru honorer, tetapi itu tidak semudah ketika guru pns yang sertifikasi mencari jam tambahan. kalau pun mendapatkannya mereka harus bergerak dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Untung kalau mempunyai kendaraan, kalau tidak! Bagaimana dengan kualitas mengajarnya? Belum lagi kalau pengelolaan keuangan di sekolah tersebut tidak terlalu baik, sehingga akan menambah penderitaan sang guru muda!
Guru...oh....guru....semoga ke depan Pemerintah memperhatikan kondisi guru ini terutama masalah rekrutmen dan penghargaan bagi guru-guru muda yang memang mereka mempunyai komitmen untuk memajukan pendidikan di indonesia. Dibandingkan dengan teman-temannya yang terjun ke dunia pekerjaan sebagai seorang profesional dalam bisnis dan kewirausahaan. Mereka memantapkan diri dalam pendidikan generasi penerus bangsa bahkan kadang siap untuk terjun di pelosok-pelosok. Maju terus sang Guru!
============
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya orang yang berilmu (dan mengajarkan ilmunya kepada manusia) akan dimohonkan ampunan dosa oleh semua makhluk yang ada di langit (para malaikat) dan di bumi, sampai-sampai (termasuk) ikan-ikan di laut." (HR. At-Turmudzi dan Ibnu Majah)
============
Tetapi istilah Pahlawan tanda Jasa lebih menyorot kepada kondisi real guru dalam kehidupan sehari-hari, yang kadang jauh dari yang ideal. sehingga iwan fals menggambarkan sosok seorang guru dengan lagunya yang berjudul umar bakri. Bahkan karena status guru seperti itu dulu kadang ada rumor orangtua yang bicara sama anak perempuannya, kalau tidak pintar nanti dikawinkan dengan seorang guru. he-he.... itu dulu, sekarang faktanya guru-guru juga banyak yang kesejahteraannya sudah lumayan, banyak guru yang sudah mempunyai kendaraan, rumahnya bagus dan pemerintah juga memberikan apresiasi yang menunjukkan peningkatan walau belum maksimal! Hanya untuk guru-guru muda yang masih berstatus honorer yang belum menjadi pegawai negeri sipil, masih ada rasa kekhawatiran pada diri mereka, terutama dalam masalah rekrutmen guru menjadi Pegawai Negeri Sipil.
Ya... bagaimana tidak, sudah bukan rahasia umum lagi sekarang bahwa untuk menjadi pegawai negeri sipil memerlukan salah satu dari dua point yang sangat penting atau bahkan dua-duanya, yaitu (1) akses ke pengambil keputusan dan (2) uang. Akses bagi orang-orang tertentu yang biasanya berhubungan dengan status sosial tidak menjadi masalah, dan untuk orang-orang pada umumnya justru kadang menjadi masalah walaupun mereka mempunyai uang. Karena pernah ada kejadian seseorang berani bayar sejumlah uang untuk menjadi pegawai negeri sipil, ternyata aksesnya salah masalah akhirnya menjadi urusan tipu menipu.
Saya kadang bingung juga seorang guru yang nantinya sebagai seorang pendidik kepada siswanya tetapi memulai melangkah untuk statusnya dengan cara seperti itu. Inilah barangkali korban dari sistem, sehingga ketika itu sudah menjadi umum atau biasa menjadi sesuatu yang tidak ada salahnya. Tetapi bagaimana dengan orang yang tidak mempunyai uang, atau yang kondisi ekonomi orangtua pas-pasan, sementara dengan profesi sebagai guru honorer yang dibayar hanya berdasarkan jam mengajar yang nilainya tidak seberapa, bagaimana mau sejahtera dan konsentrasi dalam mendidik siswanya?
Persoalan guru honorer ini bikin saya merinding, ketika buruh selalu demo kepada Pemerintah untuk menaikkan Upah Minimum Regionalnya dan kadang Pemerintah berdialog untuk itu, bagaimana dengan guru honorer ini. Untuk berjuang mengajar per jam nya saja sekarang harus bersaing dengan guru PNS yang sudah sertifikasi yang mencari kecukupan jam mengajarnya. Maksudnya ketika ada guru sertifikasi tidak cukup jam mengajar di sekolah induknya, maka untuk mencukupkan waktu mengajarnya yaitu 24 jam per minggu mereka harus mencarinya di sekolah lain. Di sekolah yang dituju pasti akan diterima karena sebagai seorang PNS dan akan mendepak jam mengajarnya seorang honorer. hiks! Untuk itu mereka pun bertebaran mencari jam tambahan sebagai guru honorer, tetapi itu tidak semudah ketika guru pns yang sertifikasi mencari jam tambahan. kalau pun mendapatkannya mereka harus bergerak dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Untung kalau mempunyai kendaraan, kalau tidak! Bagaimana dengan kualitas mengajarnya? Belum lagi kalau pengelolaan keuangan di sekolah tersebut tidak terlalu baik, sehingga akan menambah penderitaan sang guru muda!
Guru...oh....guru....semoga ke depan Pemerintah memperhatikan kondisi guru ini terutama masalah rekrutmen dan penghargaan bagi guru-guru muda yang memang mereka mempunyai komitmen untuk memajukan pendidikan di indonesia. Dibandingkan dengan teman-temannya yang terjun ke dunia pekerjaan sebagai seorang profesional dalam bisnis dan kewirausahaan. Mereka memantapkan diri dalam pendidikan generasi penerus bangsa bahkan kadang siap untuk terjun di pelosok-pelosok. Maju terus sang Guru!
============
Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya orang yang berilmu (dan mengajarkan ilmunya kepada manusia) akan dimohonkan ampunan dosa oleh semua makhluk yang ada di langit (para malaikat) dan di bumi, sampai-sampai (termasuk) ikan-ikan di laut." (HR. At-Turmudzi dan Ibnu Majah)
============
Maaf, ikut
nebeng, bagi yang mau memenuhi kebutuhan hidupnya klik http://onstore.co.id/s/00367940001
Baca juga : http://mang-emfur.blogspot.co.id/2016/05/apakah-kita-hanya-mau-berpangku-tangan.html
Jumat, 11 April 2014
Teman yang membawa kebaikan adalah rezeki
Seperti yang disampaikan Mario teguh, bahwa rezeki itu tidak hanya berbentuk rupiah saja, kondisi badan yang sehat itu juga rezeki. bayangkan ketika orang terkena sakit dan harus berobat yang menghabiskan biaya 10 juta misalnya, berarti rezeki kita yang sehat adalah kita tidak mengeluarkan uang sebanyak itu untuk sakit yang sama.
Kalau boleh menambahkan. bagi saya mempunyai teman yang membawa kebaikan kepada kita adalah rezeki. Selama perjalanan yang cukup melelahkan, banyak hal baru yang saya lihat. Trima kasih kepada ibu dosen Riri, yang telah menunjukkan sisi elok dari danau poso yang boleh jadi saya akan melewatkannya kalau saya tidak mengenal sang ibu dosen. Ternyata danau Poso disamping keindahannya juga telah memberikan manfaat yang luar biasa kepada masyarakat sekitar dengan ikan yang dihasilkan dari danau Poso. sebelumnya saya pernah mendengar bahwa sungai poso yang berasal dari danau poso dan bermuara di kota poso adalah sungai yang dilewati ribuan bahkan jutaan bibit ikan sidat. Ikan yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Seperti diketahui bahwa ikan sidat mempunyai keunikan tersendiri ketika berkembang biak. Dewasa berkembang di danau dan ketika akan kawin dia berangkat ke laut. Anak-anak ikan sidat yang lahir di laut akan kembali ke danau melewati sungai. Dalam siklus hidupnya mereka melewati dua kondisi yang berbeda air laut dan air tawar. Masya Allah. Allahu Akbar.
Di samping ikan sidat, masyarakat di sana juga mengembangkan ikan nila. Mayarakat di sana lebih banyak mengatakan ikan mujair, padahal kalau saya lihat itu adalah ikan nila. Ikan nila dan ikan mujair hampir mirip-mirip sama. di beberapa tempat muncul rumah makan yang menyajikan menu ikan dari danau poso ini, terutama ikan nila. Kita bisa memilih besarnya ikan yang akan kita makan, dengan menu yang kita inginkan. Ada ikab bakar, goreng, rica-rica dan lain-lain.
Teman yang satu ini sudah sangat lama saya mengenalnya bahkan terasa seperti keluarga, Hendrayat Yayat. ketika kami menemui masalah di perjalanan, dengan kehadiran beliau masalah sepertinya nothing. Dengan memakai mobil tua, jenis panther tahun 1995, saya merasa agak kurang mantap sebenarnya. Kecepatan yang tidak bisa maksimal dan juga potensi kerusakan mesin dan sparepart sangat lah besar apalagi ini menempuh perjalanan yang sangat jauh, yang belum pernah saya lalui dan saya belum mengenal keadaan dan situasi masyarakatnya.
Selepas Perbatasan provinsi di pagi hari itu, saya sudah meneleponnya bahwa saya akan melewati tempat dimana beliau bekerja dan akan berusaha untuk bertemu bahkan kalau bisa menginap di daerah itu. Menjelang malam datang, setelah berkomunikasi yang cukup banyak, saya merasa bahwa tempatnya bekerja sudah semakin dekat. Namun kemudian kendaraan kami ada masalah lampu mati dan ketika saya coba parkir di pinggir jalan dan mematikan mesin mobil, ternyata ketika akan di starter, mobilpun tidak mau hidup. kami berada di kegelapan malam di daerah yang saya sendiri tidak tahu ada di mana! tapi saya tetap bersikap tenang dan mencoba menelepon teman. dengan ketawa Yayat pun datang dengan teman-temannya, mereka tangani masalah yang ada sehingga mobil kembali siap dipergunakan! Sippp!!!
Yang dibanggakan "sang bupati luwuk" Iwak Paus Ngepot, yang merestui kami memasuki dan melewati wilayahnya, disertai wejangan layaknya orangtua dengan kearifan lokalnya! Saya tahu bahwa homebasenya Pak Hakim adalah kota Luwuk, walau kerjaannya pergi kesana-kesini. Namanya Bos ya, seperti itu. Sesampainya di kota Luwuk, saya sempatkan menelepon beliau walau beliau tidak ada di kota luwuk (ada di makassar). Setelah tahu saya mau kemana, beliau memberi wejangan dan masukan apa yang harus dilakukan berhubungan dengan tempat dimana saya akan berkunjung. ya...bagus juga karena semuanya akhirnya digantungkan kepada yang di Atas sana.
Trima kasih semuanya. Rezeki yang luar biasa Allah swt berikan kepada saya sehingga saya bisa kembali dengan selamat. Alhamdulillah, Allahu Akbar. Istilah yang luar biasa dari bahasa Balantak Amo Kolimbo konon! yang artinya, "Jangan dilupakan"! Tanpa mereka rasanya perjalanan ini akan banyak hambatan dan kehilangan momen.
=========
"Teman sejati adalah anugerah terbaik, namun kadang kita kurang peduli untuk mendapatkannya" (Francois De La Rochefoucauld, penulis Perancis (1613-1680))
Kalau boleh menambahkan. bagi saya mempunyai teman yang membawa kebaikan kepada kita adalah rezeki. Selama perjalanan yang cukup melelahkan, banyak hal baru yang saya lihat. Trima kasih kepada ibu dosen Riri, yang telah menunjukkan sisi elok dari danau poso yang boleh jadi saya akan melewatkannya kalau saya tidak mengenal sang ibu dosen. Ternyata danau Poso disamping keindahannya juga telah memberikan manfaat yang luar biasa kepada masyarakat sekitar dengan ikan yang dihasilkan dari danau Poso. sebelumnya saya pernah mendengar bahwa sungai poso yang berasal dari danau poso dan bermuara di kota poso adalah sungai yang dilewati ribuan bahkan jutaan bibit ikan sidat. Ikan yang mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Seperti diketahui bahwa ikan sidat mempunyai keunikan tersendiri ketika berkembang biak. Dewasa berkembang di danau dan ketika akan kawin dia berangkat ke laut. Anak-anak ikan sidat yang lahir di laut akan kembali ke danau melewati sungai. Dalam siklus hidupnya mereka melewati dua kondisi yang berbeda air laut dan air tawar. Masya Allah. Allahu Akbar.
Di samping ikan sidat, masyarakat di sana juga mengembangkan ikan nila. Mayarakat di sana lebih banyak mengatakan ikan mujair, padahal kalau saya lihat itu adalah ikan nila. Ikan nila dan ikan mujair hampir mirip-mirip sama. di beberapa tempat muncul rumah makan yang menyajikan menu ikan dari danau poso ini, terutama ikan nila. Kita bisa memilih besarnya ikan yang akan kita makan, dengan menu yang kita inginkan. Ada ikab bakar, goreng, rica-rica dan lain-lain.
Teman yang satu ini sudah sangat lama saya mengenalnya bahkan terasa seperti keluarga, Hendrayat Yayat. ketika kami menemui masalah di perjalanan, dengan kehadiran beliau masalah sepertinya nothing. Dengan memakai mobil tua, jenis panther tahun 1995, saya merasa agak kurang mantap sebenarnya. Kecepatan yang tidak bisa maksimal dan juga potensi kerusakan mesin dan sparepart sangat lah besar apalagi ini menempuh perjalanan yang sangat jauh, yang belum pernah saya lalui dan saya belum mengenal keadaan dan situasi masyarakatnya.
Selepas Perbatasan provinsi di pagi hari itu, saya sudah meneleponnya bahwa saya akan melewati tempat dimana beliau bekerja dan akan berusaha untuk bertemu bahkan kalau bisa menginap di daerah itu. Menjelang malam datang, setelah berkomunikasi yang cukup banyak, saya merasa bahwa tempatnya bekerja sudah semakin dekat. Namun kemudian kendaraan kami ada masalah lampu mati dan ketika saya coba parkir di pinggir jalan dan mematikan mesin mobil, ternyata ketika akan di starter, mobilpun tidak mau hidup. kami berada di kegelapan malam di daerah yang saya sendiri tidak tahu ada di mana! tapi saya tetap bersikap tenang dan mencoba menelepon teman. dengan ketawa Yayat pun datang dengan teman-temannya, mereka tangani masalah yang ada sehingga mobil kembali siap dipergunakan! Sippp!!!
Yang dibanggakan "sang bupati luwuk" Iwak Paus Ngepot, yang merestui kami memasuki dan melewati wilayahnya, disertai wejangan layaknya orangtua dengan kearifan lokalnya! Saya tahu bahwa homebasenya Pak Hakim adalah kota Luwuk, walau kerjaannya pergi kesana-kesini. Namanya Bos ya, seperti itu. Sesampainya di kota Luwuk, saya sempatkan menelepon beliau walau beliau tidak ada di kota luwuk (ada di makassar). Setelah tahu saya mau kemana, beliau memberi wejangan dan masukan apa yang harus dilakukan berhubungan dengan tempat dimana saya akan berkunjung. ya...bagus juga karena semuanya akhirnya digantungkan kepada yang di Atas sana.
Trima kasih semuanya. Rezeki yang luar biasa Allah swt berikan kepada saya sehingga saya bisa kembali dengan selamat. Alhamdulillah, Allahu Akbar. Istilah yang luar biasa dari bahasa Balantak Amo Kolimbo konon! yang artinya, "Jangan dilupakan"! Tanpa mereka rasanya perjalanan ini akan banyak hambatan dan kehilangan momen.
=========
"Teman sejati adalah anugerah terbaik, namun kadang kita kurang peduli untuk mendapatkannya" (Francois De La Rochefoucauld, penulis Perancis (1613-1680))
Mistoro, sosok transmigran yang sukses!
Tanpa sengaja saya ketemu dengan Mistoro ini, transmigran yang sukses! Sukses boleh jadi bukan banyak mobil, rumahnya besar atau tanahnya bejibun. Sukses boleh jadi adalah suatu peningkatan kehidupan dari sebelumnya, lepas dari kesulitan dan adanya kemudahan yang didapat dari usahanya.
Ketika itu(4 April 2014) saya melewati batas provinsi antara Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, di daerah Mangkutana dimana waktu itu saya sedang ada dalam perjalanan dari Makassar Sulawesi Selatan menuju Balantak, Luwuk Sulawesi Tengah. Saya berniat, karena baru pertama kali, saya mau berhenti di perbatasan itu dan mengabadikannya. Ternyata tepat di sekitar perbatasan yang memang berada dalam ketinggian terdapat warung kecil. Saya pun menyempatkan singgah di warung itu apalagi ketika berangkat dari penginapan saya belum minum air hangat.
Di warung ada dua orang selain ibu yang punya warung. saya sempat menyapa anak muda yang duduk agak keluar, rupanya anak muda ini sudah menikmati sajian yang ada di warung. sedangkan seorang lagi yang agak lebih tua daru yang duduk di luar sedang sibuk makan mie siram. Saya pun duduk agak ke dalam warung dan ternyata pemandangan dari sisi ini sangat luar biasa, hamparan kaki gunung berselimutkan awam pagi (rupanya itu adalah danau poso). Setelah mengabadikan keindahan itu di hp sederhana saya, saya pun duduk di meja dimana teh panas pesanan saya datang tidak lama setelah itu.
Saya untuk coba membuka pembicaraan dengan sosok yang sedang makan mie ini. Saya mulai bertanya tujuan yang akan dituju. beliau pun menyebutkan nama desa yang akan dituju. dari aksennya saya tahu bahwa beliau adalah orang jawa dan saya berfikir jauh bahwa bapak yang satu ini adalah transmigran dari jawa. Bapak ini pun melanjutkan pembicaraan bahwa tujuan ke desa itu untuk membeli bibit pohon manggis, yang rupanya saat ini sedang banyak yang mencari. ternyata memang Bapak ini pengusaha bibit-bibit pohon buah-buahan di mangkutana, hanya untuk pohon manggis beliau belum punya sehingga harus membeli dari pembibit lain (tapi ini pun bibit pohon manggis dari biji bukan hasil tempel/okulasi)
Di sela-sela pembicaraan, saya pun bertanya untuk sebuah kepastian tentang status Bapak ini yaitu asal mula daerah. Beliau pun menceritakan bahwa dulu, 1979, beliau bersama keluarga bertransmigrasi ke sulawesi ini dan ditempatkan di daerah mangkutana yang sekarang berada di kabupaten luwu timur. Dengan sudah begitu lamanya, saya pun bertanya pertanyaan yang aneh sebenarnya, "apakah Bapak betah di sini?". Bapak yang mengenalka dirinya mistoro ketika saya tanya namanya, menjawab dengan lugas ,"Iya Pak, dulu saya di jawa tidak punya tempat yang layak. rumah saja kecil tidak ada halaman. Berusaha hanya untuk makan hari itu saja, tidak berfikir untuk hari esok. Tapi sekarang alhamdulillah sudah ada semuanya disini." Saya pun bertanya, "apakah Bapak pernah pulang ke Jawa untuk menengok keluarga atau famili?" Pak Mistoro pun menjawab, "Wah..sudah tidak pernah lagi Pak. Semua keluarga saya sudah di sini semuanya." Saya bilang, "transmigrasi bedol desa dong!" "Iya pak, bedol desa, semuanya pindah ke sini"
Ketika itu(4 April 2014) saya melewati batas provinsi antara Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, di daerah Mangkutana dimana waktu itu saya sedang ada dalam perjalanan dari Makassar Sulawesi Selatan menuju Balantak, Luwuk Sulawesi Tengah. Saya berniat, karena baru pertama kali, saya mau berhenti di perbatasan itu dan mengabadikannya. Ternyata tepat di sekitar perbatasan yang memang berada dalam ketinggian terdapat warung kecil. Saya pun menyempatkan singgah di warung itu apalagi ketika berangkat dari penginapan saya belum minum air hangat.
Di warung ada dua orang selain ibu yang punya warung. saya sempat menyapa anak muda yang duduk agak keluar, rupanya anak muda ini sudah menikmati sajian yang ada di warung. sedangkan seorang lagi yang agak lebih tua daru yang duduk di luar sedang sibuk makan mie siram. Saya pun duduk agak ke dalam warung dan ternyata pemandangan dari sisi ini sangat luar biasa, hamparan kaki gunung berselimutkan awam pagi (rupanya itu adalah danau poso). Setelah mengabadikan keindahan itu di hp sederhana saya, saya pun duduk di meja dimana teh panas pesanan saya datang tidak lama setelah itu.
Saya untuk coba membuka pembicaraan dengan sosok yang sedang makan mie ini. Saya mulai bertanya tujuan yang akan dituju. beliau pun menyebutkan nama desa yang akan dituju. dari aksennya saya tahu bahwa beliau adalah orang jawa dan saya berfikir jauh bahwa bapak yang satu ini adalah transmigran dari jawa. Bapak ini pun melanjutkan pembicaraan bahwa tujuan ke desa itu untuk membeli bibit pohon manggis, yang rupanya saat ini sedang banyak yang mencari. ternyata memang Bapak ini pengusaha bibit-bibit pohon buah-buahan di mangkutana, hanya untuk pohon manggis beliau belum punya sehingga harus membeli dari pembibit lain (tapi ini pun bibit pohon manggis dari biji bukan hasil tempel/okulasi)
Di sela-sela pembicaraan, saya pun bertanya untuk sebuah kepastian tentang status Bapak ini yaitu asal mula daerah. Beliau pun menceritakan bahwa dulu, 1979, beliau bersama keluarga bertransmigrasi ke sulawesi ini dan ditempatkan di daerah mangkutana yang sekarang berada di kabupaten luwu timur. Dengan sudah begitu lamanya, saya pun bertanya pertanyaan yang aneh sebenarnya, "apakah Bapak betah di sini?". Bapak yang mengenalka dirinya mistoro ketika saya tanya namanya, menjawab dengan lugas ,"Iya Pak, dulu saya di jawa tidak punya tempat yang layak. rumah saja kecil tidak ada halaman. Berusaha hanya untuk makan hari itu saja, tidak berfikir untuk hari esok. Tapi sekarang alhamdulillah sudah ada semuanya disini." Saya pun bertanya, "apakah Bapak pernah pulang ke Jawa untuk menengok keluarga atau famili?" Pak Mistoro pun menjawab, "Wah..sudah tidak pernah lagi Pak. Semua keluarga saya sudah di sini semuanya." Saya bilang, "transmigrasi bedol desa dong!" "Iya pak, bedol desa, semuanya pindah ke sini"
Rabu, 02 April 2014
Sabar!
Harus bersabar jalan dengan orang yang sudah sepuh, kadang beliau di depan dan kadang anak muda yang di depan. Jadi kebayang kalau sudah terlanjur tua nanti apakah ada anak muda yang mau bersabar dengan saya! hadeuh, fikiraneun!!!
Secara fisik dan baragkali juga secara mental, orang yang sudah berumur kekuatannya menjadi berkurang. Respon fisik terhadap sesuatu menjadi lambat, tetapi boleh jadi respon psikis menjadi sangat cepat. Mudah marah dan boleh jadi tidak sabaran! Fikiran juga kadang menjadi apa yang diistilahkan dengan kata pikun. Untuk itulah, kewajiban anak muda yang mendampinginya haruslah bersikap sabar dan mengerti akan kondisi orang yang sudah tua atau berumur.
Secara fisik dan baragkali juga secara mental, orang yang sudah berumur kekuatannya menjadi berkurang. Respon fisik terhadap sesuatu menjadi lambat, tetapi boleh jadi respon psikis menjadi sangat cepat. Mudah marah dan boleh jadi tidak sabaran! Fikiran juga kadang menjadi apa yang diistilahkan dengan kata pikun. Untuk itulah, kewajiban anak muda yang mendampinginya haruslah bersikap sabar dan mengerti akan kondisi orang yang sudah tua atau berumur.
Langganan:
Postingan (Atom)










