Perang Shiffin, adalah perang antara pasukan Ali bin Abi Thalib ra dari Irak dengan pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan ra dari Syam. Shiffin sendiri dinisbatkan kepada tempat di mana perang itu terjadi. Perang ini menjadi menarik dalam sejarah Islam apalgi untuk saat ini, sehubungan status Ali bin Abi Thalib ra sebagai khalifah, menggantikan khalifah Utsman bin Affan ra yang dibunuh sekelompok orang, yang digambarkan oleh Rasulullah saw sebagai orang munafik, "Wahai Utsman, mudah-mudahan Allah akan menyandangkan untukmu sebuah pakaian (khilafah), dan jika orang-orang munafik ingin engkau menanggalkan pakaian tersebut, maka jangan engkau lepaskan, hingga engkau menemuiku (meninggal)" (beliau bersabda demikian) tiga kali" (HR Ahmad)
Saya membayangkan bagaimana perang tersebut terjadi! Dimana kejadiannya berlangsung 14 abad yang lalu, dengan senjata tradisional (kalau dibandingkan dengan persenjataan saat ini), tidak ada alat komunikasi canggih seperti sekarang (HP, telephon atau sebangsanya), tetapi mereka berperang karena keyakinan masing-masing berdasarkan ijtihadnya. Yang satu, kubu Ali bin Abi Thalib ra menuntut ketaatan kubu yang lain melalui proses baiat dan menunda mengqishash para pembunuh Ustman bin Affan ra hingga kondisi politik menjadi tenang, sementara pihak lainnya, kubu Muawiyah ra mengenyampingkan baiat sebelum proses tuntutan mereka akan qishash terhadap para pembunuh khalifah Utsman bin Affan ra yang tinggal di daerah Irak dan sekitarnya terealisasi, apalagi dari segi kekerabatan Utsman bin Affan ra adalah sepupunya Muawiyah ra (walau sebenarnya kalau kita runut ke atas sebenarnya kaum Quraisy (termasuk Ali bin Abi Thalib ra) masih ada tali kekerabatan dengan Utsman bin Affan ra). Kedua kubu adalah orang-orang Islam dari generasi awal dimana para sahabat Rasulullah saw masih ada yang hidup, namun karena suatu kejadian terbelah kepada perbedaan ijtihad yang mengakibatkan perang, yang mungkin kalau sekarang diistilahkan sebagai perang saudara.
Namun, kalau kita melihat saat ini, dimana generasi sekarang hanya membaca buku-buku sejarah, yang boleh jadi dari buku-buku sejarah tersebut ada yang menampilkan kecenderungan hati dari para pembuat buku sejarah tersebut artinya tidak berdasarkan akan fakta yang sebenarnya (walaupun agak susah dikatakan sesuai dengan fakta karena factor kondisi, tetapi orang yang hatinya bersih dari kepentingan kelompok dan pribadi, tentu akan mendapatkan hidayah dari Allah swt akan menampilkan dengan hati-hati dan akan mengambil dari sumber yang kuat untuk menggambarkan setidaknya mendekati kondisi yang sebenarnya). Celakanya hal ini pula yang meracuni para pembaca yang juga sudah ada kecenderungan hati kepada kelompok tertentu, apalagi kalau sudah kena doktrin “gelap”, akan menyimpulkan sepihak bahkan akan semakin mencap negative kepada salah satu kubu atau tokoh penting dari perang Shiffin tersebut.
Padahal, kalau kita melihat akan periode kejadian berikutnya dan bersandarkan kepada sabda Rasulullah saw nyatalah bahwa kedua kelompok ini masih dalam ikatan keimanan kepada yang satu, yaitu Allah swt. Apa yang digambarkan sebagian orang yang mencap negative terhadap salah satu kubu atau tokohnya, menjadi sesuatu yang tidak benar. Boleh jadi seseorang membuat suatu kesalahan dalam menarik kesimpulan ijtihad, dalam pandangan kita pada saat ini tapi bagaimana kondisinya pada waktu itu dimana para sahabat Rasulullah saw pun masih hidup di kedua kubu. Biarkanlah hal itu menjadi urusan Allah swt, bukankah semua kejadian di muka bumi ini masih ada dalam scenario nya, apalagi ini berhubungan dengan Islam yang memang Allah swt sendiri menjadikan aturan bagi manusia untuk hidup di dunia. Boleh jadi ada hikmah-hikmah yang bisa diambil oleh generasi berikutnya akan kejadian perang Shiffin ini. Justru yang perlu kita perhatikan adalah jangan sampai kita terjebak oleh hasutan-hasutan dari orang-orang yang memang mau menghancurkan Islam baik dari luar maupun dari dalam.
Oh iya, sabda Rasulullah saw mengenai gambaran akan kedua kelompok atau kubu itu adalah “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid (pemimpin). Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin melalui tangannya” (HR Bukhari). Kita semua tahu bahwa yang dimaksud Cucu oleh Rasulullah saw adalah al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Al-Hasan ra adalah anak dari Ali bin Abi Thalib ra yang dibaiat oleh kaum Muslimin pada waktu itu untuk menggantikan ayahnya, Ali bin Abi Thalib ra yang dibunuh oleh kaum khawarij. Melalui tangan Al-Hasan ra lah akhirnya terjadi perdamaian dengan Muawiyah ra. Dengan jiwa besar kepemimpinan diserahkan kepada Muawiyah ra, sehingga para ulama menyatakan bahwa tahun itu adalah Tahun Persatuan.
Jadi jelas berdasarkan hadits Rasulullah saw bahwa kedua kubu adalah kaum Muslimin yang terbagi dalam dua kelompok besar yang karenanya Allah swt persatukan kembali dalam satu kepemimpinan. Kalau masih ada orang yang mengutuk dan mencaci Muawiyah ra hingga dikatakan laknatullah hanya karena melawan kepemimpinan khalifah Ali bin Abi Thalib ra, boleh jadi kutukan dan caciannya kembali kepada orang tersebut, artinya orang tersebutlah yang dilaknat oleh Allah swt, Naudzubillah min dzalik. Adapun sebagai manusia, sahabat Rasulullah saw sekalipun kalau mempunyai kesalahan dan dosa dalam proses kehidupan bermasyarakat, kita semua serahkan kepada Allah swt.
Kembali kepada perang Shiffin sebagai perang saudara karena perbedaan ijtihad akan suatu masalah, Ash-Shalabi menggambarkan perang tersebut dengan sangat luar biasa, hingga saya membacanya berulang-ulang, yang barangkali di luar perkiraan kita akan gambaran tentang perang yang memakan banyak korban. Tentu Ash-Shalabi, dengan kapasitasnya, bukanlah orang yang ingin mencari keuntungan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Dengan pendekatan dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, sehingga Ash-Shalabi menyentuh kejadian itu dengan kejadian yang mendekati kebenaran. Bagaimana pun dengan keterbatasan manusia, dan mengembalikan bahwa Allah lah Yang Maha Tahu akan segala urusan.
Saya kutip sedikit cuplikan tentang perang Shiffin dari Ash-Shalabi :
Perang Shiffin termasuk perang terunik dalam sejarah kaum Muslimin. Peristiwa ini mengandung banyak keunikan di mana pembaca bisa saja tidak mempercayai apa yang dibacanya dan berdiri tercengang di depan tabiat jiwa dari kedua kubu, masing-masing orang dari kedua kubu berdiri di medan perang dengan menghunus pedangnya sementara dia menyakini kebenaran sikapnya secara sempurna. Ini bukan perang yang didorong oleh sebuah komando di mana pasukan memasuki medan laga tanpa menyakininya, sebaliknya ini adalah perang tersendiri dari sisi pendorongnya, cara pelaksanaannya dan dampak-dampak yang ditinggalkannya.
Pendorongnya dalam jiwa orang-orang yang terlibat di dalamnya terungkap melalui sebagian peristiwa yang sampai kepada kita melalui buku-buku sejarah. Mereka adalah saudara, pergi bersama ke sumber air lalu mereka mengambil air bersama-sama, mereka menciduk air dengan berdesak-desakan, namun tidak seorang pun dari mereka menyakiti yang lainnya (Tarikh Ath-Thabari, 5/610, Siyar A’lam an-Nubala, 2/41 dan Marwiyat Abu Mikhnaf, hal 296), mereka adalah saudara, hidup bersama saat perang berhenti.
Salah seorang yang ikut serta (dalam perang itu) menjelaskan, “Bila kami berhenti berperang, maka orang-orang Irak masuk ke markas orang-orang Syam dan orang-orang Syam masuk ke maskas orang-orang Irak……mereka saling berbincang.” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, 7/270 dan Dirasat fi Ahdi an-Nubuwwah, hal 42)
Mereka adalah anggota satu kabilah, masing-masing dari mereka dengan ijtihadnya, sehingga masing-masing memerangi yang lainnya dengan gigih. (Tarikh ath-Thabari, dinukil dari Dirasat fi ahdi an-Nubuwwah, hal 424) Masing-masing melihat dirinya di atas kebenaran dan memiliki kesiapan untuk mati karenanya. Dua orang laki-laki dari mereka bertarung saling serang sampai keduanya kelelahan kemudian keduanya duduk beristirahat dan berbincang panjang lebar, kemudian keduanya bangkit kembali dan berperang sebagaimana sebelumnya (Al-Bidayah wa an-Nihayah, 10/272), keduanya beragama satu, di mana agama tersebut lebih dia cintai daripada dirinya sendiri, bila saat shalat telah tiba, maka mereka menghentikan perang dan menunaikannya (Tarikh ath-Thabari, dinukil dari Dirasat fi ahdi an-Nubuwwah, hal 424). Dan saat Ammar terbunuh, kedua kubu sama-sama menshalatkannya (Tarikh Dimasyq, 8/233, dinukil dari Dirasat fi ahdi an-Nubuwwah, hal 424).
Seorang saksi sejarah dalam perang ini berkata, “Kami tiba di Shiffin, kami berperang beberapa hari, korban di antara kami berjumlah banyak, sampai-sampai kuda-kuda disembelih, lalu Ali mengirim pesan ke Amr bin al-Ash bahwa korban telah berjumlah besar, maka hentikanlah peperangan sehingga kita bisa mengebumikan korban-korban perang. Maka Amr mengiyakan, lalu sebagian dari kami berbaur dengan sebagian yang lain sehingga mereka itu seperti ini –laki-laki ini memasukan jari-jarinya ke jari-jari yang lain-. Seorang prajurit Ali menyerang maskas Muawiyah sehingga dia terbunuh dan mayatnya dikeluarkan dari sana. Rekan-rekan Ali melewati seorang korban dari pihak mereka di depan Amr, manakala dia melihat, dia menangis dan berkata, “Orang ini berijtihad, dia bertindak tegas dalam perintah Allah.” (Ansab al-Asyaraf, 6/56 dengan sanad hasan)
Sekalipun kondisinya adalah perang, mereka tetap bersegera dalam beramar ma’ruf dan bernahi mungkar. Ada sekelompok orang yang dikenal dengan qurra’, mereka adalah murid-murid Abdullah bin Mas’ud, baik dari Irak maupun dari Syam, mereka tidak bergabung ke barisan Amirul Mukminin Ali dan tidak pula ke dalam barisan Muawiyah bin Abu Sufyan. Mereka berkata kepada Amirul Mukminin Ali, “Kami keluar bersama kalian namun kami tidak bermarkas bersama kalian, kami mengambil tempat tersendiri, sehingga kami bisa memperhatikan perkara kalian dan perkara orang-orang Syam. Barang siapa hendak melakukan sesuatu yang tidak halal atau terlibat melakukan tindak kezhaliman, maka kami akan memeranginya.” Ali menjawab, “Dengan senang hati, itulah sikap pemahaman dalam Agama yang benar dan ilmu tentang sunnah. Siapa yang tidak merelakannya maka dia adalah orang zhalim dan penghianat.” (Shiffin, hal 155 dan Dirasat fi Ahdi an-nubuwwah, hal 424)
Sebenarnya semua sikap tersebut berawal dari kemantapan dan ijtihad yang mereka meyakini kebenarannya dalam jiwa mereka dan mereka pun siap berperang karenanya (Dirasat fi Ahdi an-nubuwwah, hal 424).
Muhibbuddin al-Khathib memberikan komentar terhadap terhadap perang ini, “Sekalipun begitu, perang yang menjunjung nilai-nilai luhur ini merupakan perang kemanusiaan pertama dalam sejarah, di mana kedua kubu yang terlibat sama-sama berjalan di atas dasar-dasar keutamaan di mana orang-orang bijak dari barat berharap menerapkannya dalam perang-perang mereka di abad dua puluh satu, tidak sedikit kaidah-kaidah perang dalam Islam yang belum diketahui dan belum tertulis sekiranya perang ini tidak terjadi, dan Allah selalu memiliki hikmah di balik setiap kejadian (Al-Awashim min al-Qawashim, hal 167-169 dari catatan kaki Muhibbuddin al-Khathib).
Jumat, 01 Agustus 2014
Rabu, 30 Juli 2014
SMS ucapan selamat Idul Fitri
(1) Bismillah
"Selembut apa pun angin, ia pernah terbangkan debu"
"Sebaik apa pun manusia, ia pasti pernah khilaf"
"Tak ada putih yang tak ternoda, tak ada insan yang tak berdosa"
"Andaikan tangan tak sempat berjabat tangan"
"Andaikan badan tak sempat berjumpa"
"Andai kata membekas lara..."
"Jika ada salah yang menoreh luka, mohon maaf dari hati yang paling dalam..."
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H / 2014 M
Teriring doa "Taqobbalahu minna wa minkum"
Semoga Allah swt menerima kami dan kamu sekalian.
(2) IDUL FITRI telah tiba.
Kami kirimkan Parcel yang isinya :
1 toples doa
1 botol kasih
1 ikat senyuman
1 liter kebahagiaan
1 ikat harapan
1 keranjang kesuksesan
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H / 2014 M
Minal aidzin wal faidzin
(3) Asslamu'alaikum wr wb
Urang palidkeun kaperih ati ka sagara asih
Urang gurat sadaya lepat ku tinta ning rohmat
Urang sulam kembang kanyaah ku sutra hampura
Urang singlar ka geuleuh ku rasa deudeuh
Clik bodas clik herang anu di seja
Caang bulan opat welas
Neda hapunten ti sadayana
Tinu sagaraning lepat sareng dosa lahir tamakaning bathin
Minal Aidzin wal Faidzin
Wilujeng Idul Fitri 1435 H / 2014 M
(4) Gema takbir tlah berkumandang
Hari Idul Fitri tlah tiba
Saat nya kita saling bermaaf-maafan agar kembali fitrah
Kami sekeluarga minta maaf atas segala kekhilafan baik lisan maupun perbuatan
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
"Selembut apa pun angin, ia pernah terbangkan debu"
"Sebaik apa pun manusia, ia pasti pernah khilaf"
"Tak ada putih yang tak ternoda, tak ada insan yang tak berdosa"
"Andaikan tangan tak sempat berjabat tangan"
"Andaikan badan tak sempat berjumpa"
"Andai kata membekas lara..."
"Jika ada salah yang menoreh luka, mohon maaf dari hati yang paling dalam..."
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H / 2014 M
Teriring doa "Taqobbalahu minna wa minkum"
Semoga Allah swt menerima kami dan kamu sekalian.
(2) IDUL FITRI telah tiba.
Kami kirimkan Parcel yang isinya :
1 toples doa
1 botol kasih
1 ikat senyuman
1 liter kebahagiaan
1 ikat harapan
1 keranjang kesuksesan
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1435 H / 2014 M
Minal aidzin wal faidzin
(3) Asslamu'alaikum wr wb
Urang palidkeun kaperih ati ka sagara asih
Urang gurat sadaya lepat ku tinta ning rohmat
Urang sulam kembang kanyaah ku sutra hampura
Urang singlar ka geuleuh ku rasa deudeuh
Clik bodas clik herang anu di seja
Caang bulan opat welas
Neda hapunten ti sadayana
Tinu sagaraning lepat sareng dosa lahir tamakaning bathin
Minal Aidzin wal Faidzin
Wilujeng Idul Fitri 1435 H / 2014 M
(4) Gema takbir tlah berkumandang
Hari Idul Fitri tlah tiba
Saat nya kita saling bermaaf-maafan agar kembali fitrah
Kami sekeluarga minta maaf atas segala kekhilafan baik lisan maupun perbuatan
MINAL AIDZIN WAL FAIDZIN
Selasa, 29 Juli 2014
Niat Sunat apa daya terpotong semua, Hiks!
ketika beberapa hari lalu sbagian besar masyarakat indoensia menunggu-nunggu berita dipotongnya sang penis seseorang (Ahmad Dani, walau akhirnya beritanya dbantah oleh yang empunya!), ternyata ada kejadian yang terpotong di tempat lain. wahhh...., tapi ingat, ini kata diawali kata ter, berarti tidak sesuai antara pesanan dan eksekusi (walau bagi yang melakukan, sang dokter tuh, pasti awalannya bukan ter tapi me he-he......). Ini pak dokter lagi, mungkin belum ada di kamusnya kata sunat yang ada ......gorok! hiks!
http://health.detik.com/read/2014/07/25/110144/2648070/1390/alat-vitalnya-diamputasi-saat-sunat-pria-di-alabama-gugat-rumah-sakit?991104topnews
http://suara.com/entertainment/2014/07/21/185815/ahmad-dhani-jawab-tweet-potong-kemaluan-jika-jokowi-menang/?utm_source=facebook&utm_medium=cpm&utm_campaign=Dhani+Jawab+Kemaluan
http://health.detik.com/read/2014/07/25/110144/2648070/1390/alat-vitalnya-diamputasi-saat-sunat-pria-di-alabama-gugat-rumah-sakit?991104topnews
http://suara.com/entertainment/2014/07/21/185815/ahmad-dhani-jawab-tweet-potong-kemaluan-jika-jokowi-menang/?utm_source=facebook&utm_medium=cpm&utm_campaign=Dhani+Jawab+Kemaluan
Tantangan bagi kaum yang muda untuk beribadah!
http://ramadan.detik.com/read/2014/07/27/121658/2649338/1598/meski-uzur-semangat-ibadah-dua-nenek-di-tiongkok-ini-tetap-tinggi?r992202625
Kalau dikatakan wajar sudah uzur semangat ibadahnya meningkat karena dekat dengan kematian, bagaimana kalau kita yang usianya lebih muda meninggal detik ini atau esok hari , atau lusa...karena sebenarnya kematian tidak mengenal kata uzur dan tidak uzur, sementara ibadah kita masih bermalas-malasan. Apa yang akan menjadi bekal untuk kematian itu?
Kalau kita tidak heran dan takjub dengan upaya yang telah dilakukan dua nenek ini untuk menggapai kebaikan, seharusnya kita malu dengan harta melimpah kita, motor kita, mobil kita yang tidak pernah dipakai untuk mengantarkan kita ke rumahnya Allah swt, padahal berapa banyak kali sang penyeru (muadzin) memanggil-manggil kita untuk menghampiri rumah Allah swt demi menggapai kebaikan, hingga semua harta itu justru akan menjadikan bahan bakarnya api neraka karena kelalaian kita tidak mengindahkan seruan itu.
Smoga kita mampu mensyukuri apa yang diberikan Allah swt, entah itu kesehatan, umur yang panjang, harta yang cukup, dan keimanan yang masih tertanam untuk menggapai kebaikan seperti perintah-Nya sehingga menjadi bekal akan kematian kita dan menjemput Rahmat-Nya untuk kehidupan yang lebih baik di hari yang tiada kefanaan lagi. Amin
Kalau dikatakan wajar sudah uzur semangat ibadahnya meningkat karena dekat dengan kematian, bagaimana kalau kita yang usianya lebih muda meninggal detik ini atau esok hari , atau lusa...karena sebenarnya kematian tidak mengenal kata uzur dan tidak uzur, sementara ibadah kita masih bermalas-malasan. Apa yang akan menjadi bekal untuk kematian itu?
Kalau kita tidak heran dan takjub dengan upaya yang telah dilakukan dua nenek ini untuk menggapai kebaikan, seharusnya kita malu dengan harta melimpah kita, motor kita, mobil kita yang tidak pernah dipakai untuk mengantarkan kita ke rumahnya Allah swt, padahal berapa banyak kali sang penyeru (muadzin) memanggil-manggil kita untuk menghampiri rumah Allah swt demi menggapai kebaikan, hingga semua harta itu justru akan menjadikan bahan bakarnya api neraka karena kelalaian kita tidak mengindahkan seruan itu.
Smoga kita mampu mensyukuri apa yang diberikan Allah swt, entah itu kesehatan, umur yang panjang, harta yang cukup, dan keimanan yang masih tertanam untuk menggapai kebaikan seperti perintah-Nya sehingga menjadi bekal akan kematian kita dan menjemput Rahmat-Nya untuk kehidupan yang lebih baik di hari yang tiada kefanaan lagi. Amin
Minggu, 27 Juli 2014
Idul Fitri 1435 H / 2014 M, 28 Juli
langkah kaki di sepanjang lorong subuh itu setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah di masjid di dekat rumah di hari terakhir di bulan Ramadhan, mengantarkan mata pada penglihatan dimana sebagian orang sudah mulai sibuk untuk membuat tungku pembakaran untuk memasak ketupat lebaran, dalam rangka merayakan Idul Fitri 1435 H / 2014 M, yang insya Allah akan jatuh bertepatan dengan tanggal 28 Juli 2014.
Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Bagaimana Ke Maha Besaran Allah dalam bingkai Idul Fitri?
Idul Fitri, adalah hari raya kembali makan-makan setelah sebulan penuh kita berpuasa. Bahkan untuk orang-orang yang serba kekurangan atau fakir miskin harus dibebaskan dari persoalan mencari dan menyediakan makan untuk hari itu, itulah kenapa ada yang dinamakan Zakat Fitri. Zakat Fitri yang mengharuskan kepada setiap orang untuk membayarkan zakat berupa makanan yang biasa dimakan sehari-harinya kepada orang-orang yang membutuhkan atau fakir miskin. Sehingga karenanya semua bergembira.
Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Bagaimana Ke Maha Besaran Allah dalam bingkai Idul Fitri?
Ketika Sang Mentari naik sepenggalan, sebagian orang membersihkan lapangan untuk dipakai shalat sunat Idul Fitri esok pagi harinya. Disinilah, Takbir ke Maha Besaran Allah akan dikumandangkan dari hati-hati yang kecil dan lemah. berulang-ulang, bergema menembus semua relung kehidupan hamba yang hina, walau sebagiaan orang, yaitu orang-orang pembangkang dari kelompok kafir, musyrikin dan munafikin tidak menyukainya.
Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Bagaimana Ke Maha Besaran Allah dalam bingkai Idul Fitri?
Allah Yang Maha Besar
Ketika kita coba merenungkan tentang keberadaan kita.
Kita, yang kecil, seorang diri, berada di kota dimana kita berada.
Seolah kita adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Kota, yang kecil, yang berada di negara Indonesia.
Seolah kota itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Indonesia, yang kecil, yang berada di planet bumi.
Seolah Indonesia itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Planet Bumi yang kecil, yang berada di Tata Surya.
Seolah Planet Bumi itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Tata surya yang kecil, yang berada di gugusan Bima Sakti.
Seolah Tata Surya itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Gugusan Bima Sakti yang kecil, yang berada di lapisan langit yang pertama.
Seolah gugusan Bima Sakti itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Lapisan langit pertama yang kecil, yang berada dilapisan langit kedua.
Seolah lapisan langit pertama itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Lapisan langit kedua, lapisan langit ketiga, terus hingga lapisan langit ke tujuh, yang berada di Alam semesta.
Seolah satu biji pasir yang berada di Samudera pasir yang sangat luas.
dan Samudera pasir itu ada dalam genggaman kecil dari Kekuasaan Allah Yang Maha Suci Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar.
dengan kekecilannya kita, manusia, ciptaan-Nya,
masih sanggupkah kita menggambarkan akan Ke Maha Besarannya Allah.
masih sanggupkah kita ingkar akan ke Maha Tinggiannya Allah.
masih sanggupkah kita melawan akan ke Maha Kuasanya Allah.
dengan kekecilannya kita, manusia, ciptaan-Nya.
masih beranikah kita dengan kesombongan menantang Ke Maha Besaran Allah.
sebagaimana iblis melawan perintah-Nya
dan berkeliaran di bumi kepunyaan Allah.
bahkan hingga beranak pinak bukan untuk menegak kalimah Tauhid.
Sungguh, manusia yang seperti itu adalah makhluk yang tidak tahu diuntung dan tidak tahu berterima kasih kepada Tuhannya.
Sungguh, disamping Ke Maha Besarannya Allah.
Allah pun Maha Penyayang dan Maha Pengasih.
Hingga saat ini, kita masih diberi kesempatan untuk hidup dan berkehidupan di tangan Kekuasaan-Nya.
Untuk itu, sebagai langkah awal permohonan ampunan kepada Allah swt yang bertepatan dengan datangnya Idul Fitri 1435 H / 2014 M, saya Muhammad Furqon Ramdani beserta keluarga, Memohon Maaf Lahir dan Bathin dari Teman-teman di Blog ini, teriring doa Semoga kita semua diterima oleh Allah swt (Taqobballahu Minna wa minkum), sehingga kita termasuk orang-orang yang kembali (suci, fitrah) dan mendapatkan kemenangan baik di dunia ini maupun di akherat kelak (MInal 'Aidzin wal faidzin), Aamiin
Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Bagaimana Ke Maha Besaran Allah dalam bingkai Idul Fitri?
Idul Fitri, adalah hari raya kembali makan-makan setelah sebulan penuh kita berpuasa. Bahkan untuk orang-orang yang serba kekurangan atau fakir miskin harus dibebaskan dari persoalan mencari dan menyediakan makan untuk hari itu, itulah kenapa ada yang dinamakan Zakat Fitri. Zakat Fitri yang mengharuskan kepada setiap orang untuk membayarkan zakat berupa makanan yang biasa dimakan sehari-harinya kepada orang-orang yang membutuhkan atau fakir miskin. Sehingga karenanya semua bergembira.
Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Bagaimana Ke Maha Besaran Allah dalam bingkai Idul Fitri?
Ketika Sang Mentari naik sepenggalan, sebagian orang membersihkan lapangan untuk dipakai shalat sunat Idul Fitri esok pagi harinya. Disinilah, Takbir ke Maha Besaran Allah akan dikumandangkan dari hati-hati yang kecil dan lemah. berulang-ulang, bergema menembus semua relung kehidupan hamba yang hina, walau sebagiaan orang, yaitu orang-orang pembangkang dari kelompok kafir, musyrikin dan munafikin tidak menyukainya.
Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Bagaimana Ke Maha Besaran Allah dalam bingkai Idul Fitri?
Allah Yang Maha Besar
Ketika kita coba merenungkan tentang keberadaan kita.
Kita, yang kecil, seorang diri, berada di kota dimana kita berada.
Seolah kita adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Kota, yang kecil, yang berada di negara Indonesia.
Seolah kota itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Indonesia, yang kecil, yang berada di planet bumi.
Seolah Indonesia itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Planet Bumi yang kecil, yang berada di Tata Surya.
Seolah Planet Bumi itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Tata surya yang kecil, yang berada di gugusan Bima Sakti.
Seolah Tata Surya itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Gugusan Bima Sakti yang kecil, yang berada di lapisan langit yang pertama.
Seolah gugusan Bima Sakti itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Lapisan langit pertama yang kecil, yang berada dilapisan langit kedua.
Seolah lapisan langit pertama itu adalah satu biji pasir yang berada di lautan pasir yang sangat luas.
Lapisan langit kedua, lapisan langit ketiga, terus hingga lapisan langit ke tujuh, yang berada di Alam semesta.
Seolah satu biji pasir yang berada di Samudera pasir yang sangat luas.
dan Samudera pasir itu ada dalam genggaman kecil dari Kekuasaan Allah Yang Maha Suci Yang Maha Tinggi, Yang Maha Besar.
dengan kekecilannya kita, manusia, ciptaan-Nya,
masih sanggupkah kita menggambarkan akan Ke Maha Besarannya Allah.
masih sanggupkah kita ingkar akan ke Maha Tinggiannya Allah.
masih sanggupkah kita melawan akan ke Maha Kuasanya Allah.
dengan kekecilannya kita, manusia, ciptaan-Nya.
masih beranikah kita dengan kesombongan menantang Ke Maha Besaran Allah.
sebagaimana iblis melawan perintah-Nya
dan berkeliaran di bumi kepunyaan Allah.
bahkan hingga beranak pinak bukan untuk menegak kalimah Tauhid.
Sungguh, manusia yang seperti itu adalah makhluk yang tidak tahu diuntung dan tidak tahu berterima kasih kepada Tuhannya.
Sungguh, disamping Ke Maha Besarannya Allah.
Allah pun Maha Penyayang dan Maha Pengasih.
Hingga saat ini, kita masih diberi kesempatan untuk hidup dan berkehidupan di tangan Kekuasaan-Nya.
Untuk itu, sebagai langkah awal permohonan ampunan kepada Allah swt yang bertepatan dengan datangnya Idul Fitri 1435 H / 2014 M, saya Muhammad Furqon Ramdani beserta keluarga, Memohon Maaf Lahir dan Bathin dari Teman-teman di Blog ini, teriring doa Semoga kita semua diterima oleh Allah swt (Taqobballahu Minna wa minkum), sehingga kita termasuk orang-orang yang kembali (suci, fitrah) dan mendapatkan kemenangan baik di dunia ini maupun di akherat kelak (MInal 'Aidzin wal faidzin), Aamiin
Kamis, 24 Juli 2014
Lebaran atau Idul Fitri, kemenangan duniawi dan Ukhrowi!
masih ingat lagu : "lebaran sebentar lagi, lebaran sebentar lagi"..... "tidak ada baju baru, baju lama pun tidak apa-apa". Lagu anak-anak tapi cukup melegenda, yang menggambarkan sebuah kesenangan ketika datangnya hari lebaran atau dalam istilah syariah dikenal dengan Idul Fitri. dikatakan bahwa orang yang berpuasa akan menemui dua kesenangan atau kegembiraan ketika pertama berbuka (ada yang mengartikan berbuka pada lebaran) dan yang kedua ketika bertemu dengan Tuhannya.
kesenangan disini merupakan proyeksi dari kemenangan yang didapat setelah berjuang selama sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa di bulan ramadhan. dan kesenangan ini dalam tinjuaan keduniaan sungguh luar biasa pengaruhnya ke berbagai aspek kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. kita melihat bagaimana dalam berlebaran banyak orang diuntungkan karenanya, apakah dalam hubungan sosial, budaya maupun ekonomi. Silaturahim, saling memaafkan, budaya mudik hingga para pedagang baik yang orang islam maupun yang beragama selain islam pun merasakan keuntungan yang banyak dengan adanya lebaran. Kemudian bagaimana Pemerintah harus menyiapkan semua kebutuhan masyarakat yang akan merayakan kesenangan lebaran itu, sehingga tidak membebani masyarakat dengan misalnya mengontrol harga-harga kebutuhan pokok, yang mudik berjalan lancar dan nyaman dengan infrastruktur yang ajib dan ciamik, hingga membuatkan aturan untuk THR untuk karyawan perusahaan.
Kesenangan dunia akan kemenangan seperti yang diperlihatkan anak-anak, yang sekarang -mungkin juga dulu- orang-orang dewasa pun melakukannya, yaitu dengan memakai pakaian atau baju baru. bahkan di sini ini (sulawesi selatan) biasa perabotan rumah tangga terutama berhubungan dengan penampilan akan diusahakan baru, seperti sofa baru, tempat-tempat kueh yang baru, horden-horden yang baru dan lain-lainnya. he-he....saya rasa tidak ada masalah dih!
tetapi rupanya, dari aspek keakheratan, tidak semua orang yang berpuasa (apalagi yang tidak berpuasa) akan mendapatkan kemenangan, tentu kemenangan dari Allah swt, sehingga nantinya akan bertemu dengan Allah swt karena puasanya sebagai sebuah kesenangan atau kegembiraannya atas jerih payah berpuasa seperti yang diperintahkan-Nya (bahasa kerennya bukan puasa abal-abal!). Sehingga kadang ada Ustadz yang menyatakan bahwa orang yang tidak mendapatkan kemenangan ukhrowi tidak berhak untuk merayakan lebaran atau idul fitri. lohhhh, pak Ustadz, bagaimana kita tahu bahwa kita mendapatkan kemenangan ukhrowi, yang mendapatkan limpahan pahala, penghapusan dosa melalui ampunan Allah swt hingga menggapai malam lailatul qodr?
Baju baru, sepatu baru dan atau perabotan rumah yang baru, adalah tampilan luar dari prosesi kesenangan karena meraih kemenangan duniawi. Tentu, akan tambah sempurna kalau penampakan perilaku baik dalam pemahaman sebagai hamba terhadap Kholik-nya dan dalam beribadah pun semakin meningkat dari sebelum-sebelumnya. Agama ditempatkan sebagai jalan hidupnya, bukan nafsunya Itulah yang merupakan kemenangan ukhrowi, sehingga menjadikan kemenangan yang paripurna yang sebenarnya. Bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi, kemenangan duniawi seperti yang anak-anak perlihatkan tidaklah menjadi penting bagi orang-orang yang mengerti akan kemenangan Ukhrowi, seperti senandung "tidak ada baju baru, baju lama pun tidak apa-apa"
Smoga, kita semua mendapatkan semua kesenangan, kegembiraan dan kemenangan yang dijanjikan Allah bagi yang berpuasa dengan sebenarnya. Sehingga seolah-olah kita seperti bayi yang baru lahir ke dunia dengan penuh kefitrahannya, untuk menyongsong kehidupan akherat yang dijanjikan bagi orang-orang yang bertaqwa. Amin
Selasa, 22 Juli 2014
Penetapan Presiden dan Wakil Presiden Terpilih 2014 oleh KPU
Akhirnya proses penetapan melalui KPU sebagai penyelanggara Pilpres 2014 sudah disampaikan. Kejadian-kejadian yang ditakutkan sebelumnya ternyata hingga saat ini tidak terjadi (smoga seterusnya ....), walau pun kejadian politis muncul yang oleh para pengamat baru kejadian pada saat ini bahkan boleh jadi baru kejadian di dunia, dimana salah satu peserta (Prabowo-Hatta) menarik diri sebelum penetapan Presiden terpilih oleh KPU. Terlepas dari masalah itu, masyarakat secara umum masih bisa berkehidupan yang berkelanjutan (he-he...), justru smoga ke depannya semakin lebih baik lagi dirasakan oleh masyarakat dengan Presiden dan Wakil Presiden yang baru. Walau proses berikutnya masih ada, yaitu yang sifatnya ceremony Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, tapi tidak ada salahnya, kita ucapkan "Selamat kepada pak Jokowi dan pak Jusuf Kalla yang telah memenangkan Pilpres 2014 kali ini. Smoga keduanya diberi kekuatan oleh Allah swt dalam memimpin Indonesia 5 tahun ke depan. Karena saya yakin tidak mudah untuk memimpin negara Indoensia yang begitu besar, kaya akan kekayaan alam, penuh rona dengan aneka budaya, suku dan agama. saya rasa ucapan terima kasih dan penghargaan juga patut disampaikan kepada pak Prabowo dan pak Hatta, terlepas dari langkah yang ditempuhnya, bagaimana pun keberadaan keduanya proses Pilpres ini telah berjalan hingga tahapan ini. tidak mungkin pak Jokowi dan pak JK disebut pemenang kalau tidak ada pak Prabowo dan pak Hatta. Boleh jadi kekalahan pak Prabowo dan pak Hatta di Pilpres 2014 tidak menutup kemungkinan untuk keduanya ikut membantu masyarakat Indonesia menuju kesejahteran dan keadilan di tempat yang lain. yang jelas bahwa Pesta Demokrasi berupa Pilpres 2014 ini adalah pesta masyarakat Indoensia, yang menang pun secara umum adalah masyarakat Indonesia. Saling caci maki bahkan boleh jadi hingga fitnah adalah bunga dan buah dari sebuah kompetisi. yang saatnya bunga dan buah yang sebenarnya harus dirasakan semua masyarakat Indoensia ke depannya, berupa persatuan menuju kesejahteraan dan kemakmuran bersama." MAJU INDONESIA!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
