Selasa, 14 Oktober 2014

Kembali : rokok jadi perbincangan!!!!!

dengan suara serak-serak, entah karena lehernya yang sudah berlubang yang disebabkan oleh kanker di pita suara atau karena suaranya seperti itu, orangtua di te-pe itu bilang, "berhentilah menikmati rokok, sebelum rokok menikmati anda!"

entah karena sebab apa saya lupa lagi, saya bertanya ke siswa kelas 10, "siapa diantara kalian yang suka merokok?" (saya minta ke siswa untuk terus terang dan angkat tangan). sebagian ada yang angkat tangan walau malu-malu, sebagian lagi senyum-senyum malu karena ditunjuk-tunjuk sama teman-teman yang perempuan! luar biasa......kira-kira 15 % dari kelas itu yang merokok, boleh jadi lebih! kisaran umur mereka yaaa....15-16 tahun. sudah berapa lama mereka merokok, saya tidak mengorek lebih dalam, boleh jadi 1 tahun, 2 tahun, 3 tahun dan atau lebih dari 3 tahun.....bisa jadi! berarti kalau lebih 3 tahun mereka sudah mulai merokok ketika mereka masih sekolah di SD! hiks

Saya masih ingat, ketika saya mencoba untuk merokok. Itu terjadi beberapa puluh tahun yang lalu, yaaa....ketika saya masih SMA, hanya lupa kelas berapa! kenapa mencoba? karena saya melihat orang yang merokok itu seperti nikmat sekali, isap, sedot, ngepul asap dari mulut dan hidung (dari telinga ada ngak ya? hiks!). tapi anehnya kok bibir atawa lidah saya merasakan yang tidak enak, ah....saya pun coba dengan rokok kretek, yang sebelumnya rokok filter, eeehhhh...ternyata sami mawon (sama saja)! bibir bin lidah tidak merasakan nikmat seperti saya lihat di orang lain yang merokok. Mungkin itu karena pengalaman pertama, yaa.....boleh jadi, tapi saya apakah berikutnya bibir dan lidah akan nyaman, saya pun tidak yakin, sehingga saya memutuskan untuk tidak merokok! he-he....bukan karena alasan kesehatan tapi karena bibir dan lidah yang tidak nyaman untuk itu!
Melihat tayangan iklan merokok oleh kakek-kakek tadi di te-pe yang disiarkan berulang-ulang, saya sendiri merasa terhibur dengan karya seninya membuat iklan itu. Tapi saya tidak yakin bahwa iklan itu akan menghentikan siswa-siswa saya untuk berhenti merokok! loh kok gitu syih! dan begitu pula dengan yang lainnya (maksudnya orang-orang yang biasa merokok), kalau pun ada yang berhenti boleh jadi kalau dihitung pakai ilmu statistik, pasti jawabannya tidak signifikan!!! wah-wah-wah....pasti lagi! hiks.

he-he.....terus gimana don? yaaa......sebagai sebuah upaya "kebaikan", itu tetep harus dilakukan. entah karena dengan alasan kesehatan, moral hingga keyakinan. persoalan dan pergulatan masalah rokok, akan selalu menjadi bahan yang menarik untuk diperbincangkan! karena disana ada pro-kontra dalam memandangnya hatta ketika dalam bingkai agama sekalipun, contoh getir sederhana adalah ternyata banyak juga yang namanya pak kiai adalah penggemar berat rokok itu! hiks

klo tidak salah, saya sampaikan ke siswa saya, dengan maksud sebagai bahan pemikiran bagi mereka (mudah-mudahan bisa berfikir! hiks) bahwa belum punya penghasilan, masih menerima uang jajan dari orangtua sudah merokok! apa tidak salah? disamping dilihat dari kesehatan tidak baik. Itu saja yang bisa saya sampaikan sebagai awalnya. Namun bukan berarti bahwa kalau sudah punya penghasilan merokok itu diperbolehkan (secara nalar!!) he-he.....atas kalimat terakhir ini saya pernah kena batunya. tetangga saya yang kala itu masih kelas 3 smp, merokok di depan saya. saya bilang "wah...kamu (sambil disebut namanya), sudah merokok ya? belum kerja sudah merokok!" Dia jawab, "ayah! (anak-anak kecil bahkan satu-dua ibu-ibu memanggil saya dengan kata ayah) saya merokok pakai uang sendiri, saya kerja cuci motor di depan!" Hiks! matilah saya!!!!!!

di lain waktu, saya pernah dimarahi oleh orangtua yang memang sudah lama sekali merokok. dalam perbincangan ringan sehabis isya di bale-bale, kami bicara tentang hukum rokok yang lagi ramai ketika itu. saya seolah tahu banyak tentang info yang ada dimana sebagian para ulama sepakat bahwa hukum merokok itu haram dan makruh. ternyata kemudian orangtua itu menjadi marah dengan mengatakan bahwa orang seperti dia yang sudah puluhan tahun merokok dan dalam dirinya sudah menjadi candu akan rokok, mengakibatkan tidak bisa (menurut kakek itu) berhenti karena hukum itu. he-he....saya bilang yaaa kurangi saja kakek! he-he.....dan jangan marah dulu! huks

Yang menarik lagi akhir-akhir ini adalah adanya Menteri yang ditunjuk oleh Presiden terpilih Jokowi, yang luar biasa menteri itu adalah seorang perempuan. Mempertontonkan aksi merokoknya di istana negara setelah proses perkenalan menteri yang disampaikan oleh Presiden Jokowi. Atas perilakunya ditambah dengan atribut yang menempel dengan ibu menteri ini membuat ramai jagat maya dengan komentar-komentarnya baik yang miring maupun yang menaruh harapan. Bahkan tidak hanya para penggiat jagat maya, tapi juga KPAI (komisi perlindungan anak dan ibu) ikut juga berbicara atas aksi merokok sang ibu menteri di istana negara itu, katanya tidak bagus untuk anak-anak.


"....dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri dan berbuat baiklah......" (Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 195)

Abu Said Al-Khudri ra berkata, Rasulullah saw bersabda, "Janganlah membahayakan diri sendiri, jangan pula membahayakan orang lain." (HR Ibnu Majah dan Ad-Daruquthni)

======

http://health.detik.com/read/2014/11/16/144117/2749616/763/menkes-mau-gaya-merokok-tapi-sakit-bayar-sendiri-silakan

======

(menanggapi siswa saya yang mengatakan ulama merokok apalagi guru! kemudian dia mengatakan bahwa merokok mati, tidak merokok mati. mari kita merokok sampai mati!)

he-he......saya sementara jadi guru saat ini dan tidak merokok. dan kita tidak menutup mata bahwa ada guru yang juga merokok, bahkan ada juga ulama yang merokok (terakhir menteri perempuan juga merokok!), namun saya tidak tahu apa positifnya merokok bagi mereka, dibanding negatifnya! saya fikir jangan bersandarkan merokok pada guru dan ulama yang merokok, hingga kita tahu apa yang menyebabkan positifnya mereka merokok dibandingkan dengan negatifnya. Tapi kalau disandarkan pada mati, semua yang bernyawa akan mati, dengan melakukan sesuatu atau tanpa melakukan sesuatu. tetapi tujuan antara dari kehidupan di dunia adalah bahwa kita hidup dengan kualitas kehidupan yang baik (LG = life good ,promosi nih yee!), tetapi kalau tidak mempunyai tujuan hidup, yaaa......kalau bahasa jawa nya mah sakarep dewe lah, tergantung kamulah! yang jelas kehidupan (dalam arti yang luas, minimal organ tubuh dalamnya) orang yang merokok dan yang tidak merokok akan berbeda walau keduanya akan mati! he-he....maaf-maaf!

======



==========
Maaf, ikut nebeng, bagi yang mau memenuhi kebutuhan hidupnya klik http://onstore.co.id/s/00367940001

Baca juga : http://mang-emfur.blogspot.co.id/2016/05/apakah-kita-hanya-mau-berpangku-tangan.html

Minggu, 12 Oktober 2014

Buah jatuh, tidak jauh dari pohonnya!

Mengulang istilah : buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Istilah ini biasanya dinisbatkan akan kondisi anak terhadap orangtuanya, artinya apa yang terjadi atau sifat/karakter pada anak akan dilihat dari sifat/karakter bapaknya atau orangtuanya, baik itu suatu kebaikan maupun suatu kejelekan. tetapi terhadap istilah itu saya pernah bergurau, kalau istilah itu sifatnya umum, karena kadang ada pohon (bahkan banyak) yang tumbuh di lereng atau di tanah yang mempunyai kemiringan yang memungkinkan ketika buahnya jatuh tidak lagi di dekat pohonnya tetapi jauh bahkan sangat jauh dari pohonnya karena terus menggelinding mengikuti alur kemiringan tanah dimana pohon itu tumbuh. klo boleh digambarkan dengan buah yang jatuh dari pohon yang tumbuh di tanah yang miring, bahwa anaknya sangat berbeda dengan orangtuanya, boleh jadi dia lebih hebat dari orangtuanya, boleh jadi dia lebih jelek bahkan lebih juuelek dari orangtuanya.

saya yakin pemirsa pernah menemukan kondisi anak dan orangtua, baik yang digambarkan dengan istilah buah jatuh tidak jauh dari pohonnya maupun yang buah jatuh jauh dari pohonnya!! sebagai makhluk sosial dan berkehidupan normal sebagai manusia, kita tidak akan menemukan masalah ketika semua hal berjalan baik-baik saja, artinya ketika kita menemukan anak-anak yang baik budi pekertinya apalagi pinter tidak keblinger, kita akan angkat jempol baik bagi dirinya maupun orangtuanya. Hal sebaliknya justru ketika menemukan anak yang nuaakaallll sekali, biang ribut di masyarakat, di lingkungan, di sekolah, dan ternyata.....eeeeeeee........orangtuanya pun seperti itu! Hiks

Saya sungguh kaget ketika saya utarakan kegalauan saya terhadap teman tentang siswa yang karena kelakukannya yang tidak baik, justru mencoreng nama sekolah dimana saya terlibat sebagai pembinanya. Jawaban dari teman yang rupanya mengenal anak atau siswa tersebut mengatakan bahwa orangtua atau bapaknya juga begitu, biang masalah. Apalagi teman pernah bersentuhan dengan orangtua siswa itu karena suatu masalah, yang sebenarnya orangtua itu tidak terlibat langsung dalam masalah yang dihadapi teman saya! Mungkin hanya karena solidaritas teman atau apalah sehingga ikut-ikutan kepada sesautu yang tidak benar! wah....repot juga kalau sudah begini!!!!

Senin, 06 Oktober 2014

Hubungan Pilkades dengan Kurban!

Alhamdulillah Masjid Al-Furqon, di Dusun Parengki desa Tasiwalie Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang, tahun ini kembali menyembelih 6 ekor Sapi dan 1 ekor kambing untuk Kurban. Padahal dusun kami berada lumayan jauh dari pusat kota terdekat, namun sejak dirintis untuk mengadakan penitipan pemotongan dan pembagian hewan Kurban 5 tahun yang lalu, animo masyarakat baik yang penduduk asli maupun penduduk yang diluar wilayah tetapi ada kaitan dengan dusun tersebut tetap cukup baik. Semoga dengan niat beribadah kurban menunjukkan keimanan khususnya masyarakat dusun Parengki, umumnya masyarakat desa Tasiwalie masih terpelihara dengan baik, Insya Allah. Dengan begitu tentunya, sebagai manifestasi dari rasa syukur kepada Allah swt melalui pengorbanan yang ikhlas akan berdampak positif terhadap hidup dan berkehidupan masyarakat sehari-harinya. Amin

Hmmmmm...., saya jadi teringat ketika saya ingin memasyarakatkan ibadah kurban dan dilakukan oleh Masjid, yang kemudian dibagikan ke jamaah. Itu terjadi di tahun kedua pembangunan Masjid Al-Furqon, artinya 5 tahun yang lalu. Saya melihat sewaktu masjid Al-Furqon belum dibangun, yang mengerti tentang ibadah kurban hanya beberapa orang, dan itupun dilakukan pemotongan hewan kurban dilakukan di rumahnya. Kemudian dibagikan ke keluarganya masing-masing, tidak merata ke masyarakat. Bisa dimengerti kerena mereka memotong hewan kurban hanya 1 ekor sapi. Bagaimana mungkin membagi hewan kurban ke banyak orang. Jadi saya lemparkan ide untuk melakukan pemotongan hewan kurban di masjid ke jamaah Masjid, dengan cara iuran per bulan hingga cukup seharga 1 ekor sapi. Ide tersebut nampaknya kurang mendapatkan perhatian, kecuali beberapa orang saja. Sehingga ketika harinya telah tiba saya meminta bantuan teman-teman yang ada di makassar untuk ikut berpartisipasi memotong hewan kurban di desa, untuk mencukupi 7 orang untuk satu sapi. yaaaahhhhh...untuk pertama kali, hanya satu ekor sapi. dibagikan hanya kepada beberapa orang saja. Namun walau begitu, alhamdulillah, rupanya dari 1 ekor sapi, kemudian menjadi beberapa ekor di tahun-tahun berikutnya. Allahu Akbar, seluruh jamaah dalam lingkungan masjid Al-Furqon mendapatkan jatah daging sapi! alhamdulillah.


Di Tahun ketiga, hewan kurban yang dipotong oleh panitia di Masjid Al-furqon mencapai 7 ekor sapi dan 1 ekor kambing. Subhanalloh. Dengan demikian bagian per kepala rumah tangga yang mendapatkan daging kurban semakin banyak yaitu lebih dari 1 kg. Di samping itu, wilayah pembagian pun menjadi melebar ke masyarakat di luar wilayah Masjid Al-Furqon, yang kuponnya diberikan ke Imam dan pegawai sara Masjid Al-Furqon. Pada tahun itu pun, atau setelah Idul Adha terjadi proses pemilihan kepala desa (pilkades) Tasiwalie, dimana salah satu calon nya adalah salah satu panitia pembangunan Masjid Al-Furqon, dengan kedudukan sebagai sekretaris Panitia. Dan ternyata, Allah swt menentukan salah satu Panitia Pembangunan Masjid Al-Furqon itu menjadi Kepala Desa Tasiwalie terpilih.

Nah, disinilah awal cerita dari judul di atas. Ketika kami sedang mempersiapkan untuk menghadapi Idul Adha tahun ini, 2014, Pak Desa menceritakan informasi yang beliau dapat dari anggotanya mengenai hubungan pilkades dengan Kurban di Masjid Al-Furqon. Di tahun ke Empat, hewan yang diamanatkan untuk dipotong dan dibagikan di Masjid Al-Furqon berkurang dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yaitu hanya 5 ekor sapi. Ada penurunan 2 ekor. Tentu panitia mengutamakan masyarakat yang ada di wilayahnya, tidak lagi kupon disebarkan di luar wilayah Masjid Al-Furqon. Tetapi yang lucu, adalah orang-orang yang mendapatkan kupon pembagian hewan kurban di luar wilayah, sudah merasa bahwa mereka tidak akan mendapatkan hewan kurban karena pada pilkades sebelumnya tidak memilih kepala desa terpilih yang juga salah satu panitia pembangunan MAsjid Al-Furqon. Inilah yang membuat kita tertawa, padahal tidak ada hubungannya antara pembagian daging kurban dengan pilkades. Sehingga kepala desa yang mendengar hal itu, justru menambahkan sinyalemen mereka dengan tidak mendapatkan kupon daging kurban pada tahun itu, dengan mengatakan : "Memang bodoh mereka, mereka terima uang dari calon kepala desa lainnya sebesar paling sebesar lima puluh ribu rupiah satu kali, padahal kalau pilih saya mereka akan dapat kupon daging kurban selama kepala desa menjabat (6 tahun). Satu kilo pembagian daging harganya sudah berapa?" He-he....Pak desa ada-ada saja. Tahun itu mereka tidak dapat kupon karena daging yang disembelih berkurang sehingga kupon tidak keluar dari wilayah Masjid Al-Furqon. Jadi tidak ada hubungannya dengan pilkades.

Akhirnya, Pak Desa menambahkan ceritanya bahwa ada satu lagi masyarakat yang tidak mau memilih beliau karena ada hubungannya dengan Kurban. Orang ini adalah juga pemelihara sapi yang biasa menjual sapinya untuk kurban. Karena Pak Desa terpilih tidak pernah membeli sapi dari orang ini sehingga orang ini pun tidak mau memilihnya dalam pilkades. Pak Desa bilang, bagaimana mau beli sapinya, harganya tidak sesuai dengan besarnya sapi. he-he.....artinya sapinya kecil tapi harganya mahal. Tentu akan menjadi bahan pembicaraan orang yang mengamanatkan uangnya untuk membeli hewan kurban dan memotongnya di Masjid Al-Furqon. Hadeuh....lucu juga orang-orang ini!

Senin, 29 September 2014

Sepakat Demokrasi!

Ketika kita sepakat dengan demokrasi yang berujung kepada suara yang terbanyak sebagai pemenang, sebenarnya kita juga menyetujui akan hal-hal negatif yang ada di dalamnya. Seperti ketika terkumpul di dalamnya mayoritas orang-orang tidak baik bahkan (maaf) orang gila sekalipun, maka suara atau keputusannya yang dihasilkan tentu sesuai dengan mayoritas suara yang dominan tersebut, artinya boleh jadi menurut yang minoritas bahwa keputusannya juga gila-gila. boleh jadi ketika keputusan sudah diambil, tidak ada lagi istilah hak asasi, pro rakyat dan lain sebagainya jika memang itu berbentangan dengan nilai kebenaran yang sebenarnya.

Adapun pengujian keputusan hasil dari pemungutan suara (yang mayoritas orang gila tadi) melalui lembaga yang lebih tinggi yang mempunyai wewenang untuk menilai hasil keputusan itu, itu adalah soal lain. Tetapi kita juga akan terbentur dengan kenyataan bahwa ternyata keputusan di lembaga itu, kembali juga berdasarkan suara yang mayoritas! glek

Nah, begitu toh! Ini gambaran jelek dari sesuatu yang dinamakan demokrasi. Mudah-mudahan di Indonesia, masyarakatnya, anggota dewannya dan para hakimnya yang selama ini terlibat memberikan suara dalam menentukan sebuah keputusan, seperti pemilihan presiden kemarin, pileg, pembentukan UU dll, bukanlah orang-orang yang tidak baik sehingga menghasilkan keputusan-keputusan yang tidak baik. Semuanya berkeinginan untuk memajukan Indonesia, mensejahterakan rakyat Indonesia jasmani maupun rohaninya.

Go! go!! Indonesia.

Minggu, 28 September 2014

Kebenaran ada dalam diri yang tersembunyi

Jangan terlalu percaya diri, apalagi berlebihan. Karena kebenaran itu bukan mutlak milik diri sendiri. Benar menurut diri sendiri, belum tentu benar menurut yang lain, hingga kita menggantungkan nilai kebenaran itu ke Maha Yang Benar. Untuk itu, jangan keras kepala, karena bagaimana pun kerasnya kepala mu, akan dengan mudah pecah walau hanya dengan sentuhan halus sekalipun. Apalagi bersikap angkuh yang dibungkus dengan sikap lugu kekanak-kanakan, yang akan merumitkan sesuatu yang mudah dan sederhana dalam kehidupan. Sadarilah bahwa kita bukan apa-apa dan siapa-siapa, keberanian dalam tempat yang salah bukan akan menampilkan keagungan tetapi kedunguan dan arogansi murahan dalam lingkungan terpinggirkan. Pahamilah bahwa penampakan luar bukanlah segala-galanya, karena intinya ada dalam dirimu yang tersembunyi, yang boleh jadi kamu sendiri tidak menyadarinya, disebabkan kamu telah melupakannya! hiks.


===============================
Maaf, ikut nebeng, bagi yang mau memenuhi kebutuhan hidupnya klik http://onstore.co.id/s/00367940001

Baca juga : http://mang-emfur.blogspot.co.id/2016/05/apakah-kita-hanya-mau-berpangku-tangan.html

Selasa, 23 September 2014

Menikah Untuk Apa?

Hampir dalam waktu yang bersamaan.

(1) Teman kami menikah. Berprofesi sesama guru. Dari segi fisik dan mental, mereka siap menghadapi kehidupan berumah tangga.
(2) Ada anak-anak muda yang menggugat aturan pernikahan ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang mengharuskan menikah untuk masyarakat Indonesia dengan agama yang sama. maksudnya orang Islam dengan orang Islam. Orang Kristen dengan orang Kristen dan seterusnya. Mereka menggugat aturan itu karena menginginkan menikah dengan beda agama. Katanya itu juga termasuk HAM (Hak Asasi Manusia).
(3) Ada beberapa siswa SMK kami yang menikah, padahal mereka belum menyelesaikan sekolahnya. Konon ada sebagian yang karena "kecelakaan". ah...sayang sebenarnya, tinggal setahun dua tahun untuk menyelesaikan sekolahnya!

Dari ketiga kasus ini, pertanyaannya Menikah itu untuk apa?
(1) Apakah hanya untuk melanjutkan keturunan sebagai manusia?
(2) Ketika ada orang yang tidak berfikir tentang keturunan, berarti apakah untuk hanya melampiaskan kebutuhan biologis semata dengan aturan norma yang ada?
(3) Di kota-kota besar yang biasa orang sibuk dengan pekerjaan. Apakah pernikahan hanya untuk status saja bahwa mereka sudah menjadi suami orang dan istrinya orang?
(4) Apakah untuk menutup rasa malu karena sudah hamil duluan?

Dalam peradaban manusia saat ini, proses menikah selalu didasarkan kepada agama, apapun agamanya. Pertanyaan selanjutnya adalah :
(1) apakah agama hanya sebagai pen-cap atau yang men-sah-kan pernikahan itu saja?
(2) Maksudnya setelah pernikahan itu orang terserah apakah mau terikat secara emosional dengan agamanya atau tidak?
(3) Ketika sudah mendapatkan, apakah perlu atau tidak mengajari anak untuk beragama dengan benar atau hanya sekedar ikut-ikutan ramainya orang menyekolahkan ke sekolah agama (TPA, guru ngaji) sementara dirinya sendiri (orangtua) tidak mengerti akan agama?



=======

KEUTAMAAN MENIKAH

Pertama, Ibnu Mas'ud ra berkata, Rasulullah saw bersabda, "Hai Para Pemuda, siapa di antara kamu yang sudah mampu menikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan siapa yang belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekang syahwat." (HR Bukhari dan Muslim)

Kedua, Sa'ad bin Abi Waqqash ra berkata, Rasulullah saw pernah melarang Utsman bin Mazh'un membujang dan sekiranya beliau mengizinkan, tentu kami berkebiri." (HR Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Ketiga, Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang Allah telah beri rezeki kepadanya berupa istri yang salehah, berarti Dia telah menolongnya pada setengah agamanya. Maka bertakwalah kepada Allah untuk setengahnya lagi." (HR. Ath-Thabrani)

================

HIKMAH MENIKAH (br />
Menikah merupakan kunci untuk mendapatkan kecukupan hidup. Ibnu Mas'ud ra. berkata, "Carilah kaya (kecukupan hidup) dengan menikah."

Abu Hurairah ra berkata bahwasanya Rasulullah saw bersabda tentang tiga golongan yang pasti mendapatkan pertolongan Allah, di antaranya, "Seseorang yang menikah karena ingin menjaga kesuciannya>" (HR. At-Turmudzi dan An-Nasai)

http://www.hidayatullah.com/kajian/jendela-keluarga/read/2015/01/02/36080/menikah-juga-perlu-ilmu.html

Senin, 22 September 2014

Hati yang sehat

Pak Ustadz bilang : Hidup ini sebentar. Untuk itu hidup ini harus berberkah. Supaya hidup ini berkah, maka kita harus menghidupkan hati. Hati yang hidup yaitu hati yang selalu dekat dengan Al-Quran, sehingga hati itu menjadi sehat. Standar hati yang sehat : (1) selalu membersihkan amal dengan keikhlasan (2) selalu mengontrol amalnya dengan amal yang dicontoh oleh Rasul, Ittiba. (3) selalu bersikap ikhsan (4) selalu melihat nikmat Allah lebih banyak daripada amal yang telah dilakukannya kepada Allah.

"Dan apakah orang yang sudah mati, lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan" (AQ Al-An'am ayat 122)

Semoga kita semua mampu mempertahankan hati kita menjadi hati yang sehat, sehingga kita mampu melewati hidup dan kehidupan ini dengan penuh keberkahan, di dunia ini dan di akherat kelak! Amin