Sabtu, 20 Juni 2015

Stories Number 2

Ketika Putra bundo heran dengan apa yang didapat,
hingga bertanya, "Kenapa dua?"
(Iklan Marjan)
tapi anak mami di tengah kota berseru,"Saya minum dua!"
(Iklan Yakult)

Ketika kombinasi 0-1 adalah simbol kekinian,
sementara 2 adalah simbol kelanjutan akar tradisional dalam hitungan angka anak-anak zaman pada umumnya.

Dua juga djadikan simbol kesejahteraan keluarga dengan dua jarinya yang terkenal di sini.
(ingat lambang KB, dua jari : dengan arti dua istri cukup, laki perempuan sama saja! eh, eh...salah, dua anak cukup! laki perempuan sama saja!)
tapi di negeri sebrang satu untuk kesejahteraan bangsa dan negara.
(di China, keluarga hanya diwajibkan punya anak satu, kecuali kembar!)

Dua pula merupakan gambaran sebuah pasangan yang ada di dunia ini, walau itu bukan menunjukkan keajaiban mutlak, karena kemutlakan ada pada Yang Esa!

Dalam terminologi agama, menduakan berarti musyrik yang kebalikan dari Tauhid yaitu meng-Esa-kan.

Dalam kompetisi jadi nomor dua sangat menyakitkan dibandingkan menjadi nomor 1.
Tetapi kalau kita menerima dua hadiah dibandingkan hanya satu tentu sangat menyenangkan!

Ketika seseorang tidak mau diduakan (terutama perempuan), di sisi lain ada orang (terutama perempuan) yang siap menjadi yang kedua! Hiks

apalagi yaaa.....?

Jumat, 19 Juni 2015

Es Krim dan THR

Si Bungsu, Khalifah Nurus Safira, 13 tahun, sekarang kelas 1 SMP naik ke kelas 2 SMP di SMP IT Wahdah Islamiyah, sebelum masuk bulan Ramadhan ini mengatakan sama saya, "Ayah, saya sudah hafal juz 30, belikan es krim ya?" Ups, saya kira mau minta yang luar biasa, tetapi walau pun begitu saya akan usahakan memenuhinya. Bukan berarti es krim juga bukan tidak luar biasa, dan supaya lebih puas maka saya akan belikan es krim literan/kiloan supaya dia makan es krimnya puas. Bagaimana pun hafal juz 30 adalah hal yang luar biasa dengan umur seperti itu dibandingkan dengan saya yang sudah setengah abad. Kurang lebih 10 tahun yang lalu, berarti sekitar umur 40 tahun, saya sudah bisa menghafalkan juz 30 itu. Tetapi karena kurang dipelihara sehingga banyak yang lupa lagi, terutama surat-surat yang panjang. hadeuh...

Tadi sore, di hari ke 2 puasa Ramadhan ini, ketika saya sudah kembali dari sholat Ashar, saya pun kembali membuka Al-Quran untuk meneruskan tadarusnya, dengan target bisa menyelesaikan 30 juz dalam bulan ramadhan ini. Alhamdulillah walau baru hari ke 2, saya sudah masuk di juz ke 4. Datanglah si bungsu dari kamarnya, melihat saya sedang tadarus al-Quran, dia tanya sudah juz ke berapa? saya karena sementara membaca di tengah-tengah ayat tidak langsung menjawab pertanyaan si bungsu itu. Karena tidak dijawab si bungsu melihat sendiri ke Al-Quran yang saya pegang. "Oh...juz 4" gumannya. Saya tanya sama dia, "memang sudah juz berapa?" Dia jawab, "sama sudah juz 4 juga", tetapi kemudian dia tanya, "Ayah dibaca juga artinya?" Saya bilang, "Tidak!" Dia pun berseru, "waaahh, kalau saya, saya baca artinya juga!' hhmmmm, saya fikir si bungsu memanfaatkan benar liburan kali ini dengan tadarus Al-Quran dengan membaca juga artinya.

Malam ini, waktu sudah menunjukkan jam 10 malam lebih, ketika saya masih di hadapan laptop, si bungsu pun mengatakan pada saya, "Ayah, kalau saya menyelesaikan tadarus al-Quran, minta THR ya?" He-he.... sudah biasa begitu, tahun-tahun sebelumnya anak-anak saya suka meminta THR kalau puasanya tidak bocor atau full satu bulan penuh. Tetapi itu tidak bisa dilakukan lagi karena si bungsu pun tahun ini sudah datang penyakit bulanannya, menstruasi. Jadi puasanya pasti tidak akan bisa full karenanya. He-he.... dia berfikir untuk mendapatkan THR, ada cara lain yang bisa dilakukannya, dan hafalan atau tadarusan bagi saya adalah hal yang luar biasa. Saya pun akan dengan bangga memberikan THR tersebut. Semoga....Insya Allah.

Selasa, 16 Juni 2015

Pernyataan Ali Bin Abi Thalib ra atas Terbunuhnya Ustman bin Affan ra

Pada masa kekhalifahan Ustman bin Affan ra, terjadilah apa yang dinamakan dengan fitnah, ada juga yang menamakan dengan huru-hara, yang saya melihat disinilah awal kejadian-kejadian berikutnya dalam sejarah Islam terutama berhubungan dengan perang yang terjadi di antara ummat Islam sendiri yang melibatkan tokoh-tokoh utama (sahabat-sahabat besar Nabi Muhammad saw) baik pada zaman kekhalifahan Ali bin Abi Thalib ra maupun setelahnya bahkan akibatnya dirasakan hingga kini, seperti adanya kelompok syiah yang menyebar di belahan bumi ini. Namun rupanya Rasulullah saw pun melalui mukjijat kenabiannya sudah mengabarkan kepada kita tentang kejadian fitnah besar ini. Salah satu haditsnya adalah sebagai berikut :

Imam Ahmad berkata, Affan telah mengatakan kepada kami adn ia berkata, Wuhaib telah mengatakan dan ia berkata, Musa bin Utbah telah mengatakan kepada kami, kakekku dan bapak ibuku -Abu Habibah- telah mengatakan kepadaku, "Bahwa ia masuk ke dalam rumah dan Utsman sedang terkepung di dalamnya. Beliau mendengar Abu Hurairah yang meminta izin untuk bicara maka beliau mengizinkannya. Ia berdiri seraya memuji Allah swt lantas berkata, "Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya kalian akan menemui fitnah dan perselisihan -atau (kalau tidak salah) beliau bersabda, 'Perselisihan dan fitnah'- setelahku nanti.' Seseorang bertanya, "Siapa yang harus kami ikuti ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Ikutilah Al-Amin (yang terpercaya) ini dan para sahabatnya (yang berada di pihaknya). Sambil beliau menunjuk kepada Utsman." (Al-Musnad, 2/345 dan seperti ini juga sanad dan matan pada Fadha'il ash-Shahabah 1/450. 723 muhaqqiqnya berkata, "Sanad haditsnya shahih.")

Kejadian fitnah inilah yang akhirnya membuat Utsman bin Affan ra sebagai khalifah waktu itu terbunuh menjadi syahid di hadapan Allah swt. Utsman bin Affan ra pun mengetahui akhir dari kejadian fitnah ini yang akan merenggut jiwanya, padahal waktu itu banyak para sahabat mau membantu Utsman ra untuk ikut menjaga rumahnya termasuk dari Ali bin Abi Thalib ra yang menyuruh anaknya untuk ikut menjaga di rumah Utsman. Tapi semua bantuan itu ditolak Utsman bin Affan ra.

Imam Ahmad berkata, Abul Mughirah telah mengatakan kepad kami dan berkata, al-Walid bin Sulaiman (pada kitab asli tertulis "Al-Walib bin Muslim" dan koreksi ini diambil dari Musnad Ahmad, 6/76) telah mengatakan kepada kami dan berkata, Rabi'ah bin Yazid telah mengatakan kepadaku dari Abdullah bin Amir, dari An-Nu'man bin Basyir, dari Aisyah ra, ia berkata, "Rasulullah saw mengutus orang kepada Utsman bin Affan agar datang menghadap. Ketika ia datang, Rasulullah saw menyambut kedatangannya. Setelah kami melihat Rasulullah menyambutnya maka salah seorang kami pun menyambut kedatangan yang lain dan ucapan terakhir yang diucapkan Rasulullah saw sambil menepuk pundaknya, "Wahai Utsman, mudah-mudahan Allah akan menyandangkan untukmu sebuah pakaian, dan jika orang-orang munafik ingin engkau menanggalkan pakaian tersebut, maka jangan engkau lepaskan, hingga engkau menemuiku (meninggal)." (Beliau bersabda demikian) tiga kali." (Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad, 6/86, beliau juga memiliki jalur lain yang beliau keluarkan, 6/149. Dan diriwayatkan secar ringkas oleh At-Tirmidzi dalam Manaqib Utsman bin Affan, 5/628 dan seraya berkata, "Hadits hasan shahih gharib)." Ibnu Majah dalam Sunannya pada pendahuluan, bab ke 11, 1/41, dari jalan Al-Faraj bin Fudhalah dari Rabi'ah bin Yazid.)

Mengenai kesyahidan Utsman bin Affan ra, Rasulullah saw pun sudah menyatakannya. Diriwayatkan dari Qatadah bahwa Anas bin Malik ra berkata, "Rasulullah saw pernah mendaki gunung Uhud bersama Abu Bakar, Umar dan Utsman, lantas gunung tersebut bergetar, maka beliau bersabda, "Tenanglah wahai Uhud! -kalau tidak salah (ingat) beliau menghentakkan kaki padanya- tidak ada siapa-siapa di atasmu melainkan hanya seorang Nabi, seorang ash-Shiddiq dan dua orang syahid."

Atas terbunuhnya Utsman bin Affan ra, sebenarnya para sahabat besar Rasulullah saw yang ada di Madinah membuat mereka terkejut. Karena aksi yang dibuat oleh pembuat kerusuhan sebelumnya adalah hanya memprotes atas kebijaksanaan yang diterapkan oleh Utsman bin Affan ra sebagai khalifah. Musyawarah di kalangan para sahabat pun sudah dilakukan untuk meredam tuntutan mereka, tetapi sikap yang berlebihan dari mereka membuat Utsman bin Affan ra terbunuh dengan cara yang zhalim.

Salah satu sahabat besar yang berada di Madinah waktu itu adalah Ali bin Abi Thalib ra, yang dalam sejarah akhirnya menjadi khalifah berikutnya menggantikan Utsman bin Affan ra. Ali bin Abi Thalib ra sendiri adalah menantu Rasulullah saw yang menikahi putri beliau, Fatimah Az-Zahra ra. Beberapa pernyataannya atas terbunuh Utsman bin Affan ra banyak diriwayatkan dalam hadits, seperti : Al-'Amasy dan lainnya berkata dari Tsabit bin Ubaid dari Abu Ja'far al-Anshari, "Ketika Utsman bin Affan terbunuh, aku mendatangi Ali yang sedang duduk di masjid dengan mengenakan sorban hitam. Aku katakan kepada beliau, "Utsman bin Affan terbunuh." Ali berkata, "Celakalah merka selamanya." Dalam riwayat lain, "Sungguh kegagalan besar bagi mereka."

Abu al-Qasim al-Baghawi berkata, "Ali bin Ja'dan telah mengabarkan kepada kami, Syarik telah mengabarkan kepada kami, dari Abdullah bin Isa, dari Ibnu Abi Laila, "Aku mendengar Ali yang sedng berada di pintu masjid atau dekat Ahjar Zait berkata dengan suara lantang, "Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari pembunuh Utsman."

Abu Hilal berkata, dari Qatadah, dari al-Hasan, "Utsman terbunuh sementara Ali tidak berada di tempat karena sedang berada di suatu tanah miliknya. Ketika berita tersebut sampai kepada beliau, beliau berkata, "Ya Allah, aku tidak rela dan tidak pula berkomplot dengan mereka."

Ats-Tsauri dan lainnya berkata dari Thawus dari Ibnu Abbas, 'Ali berkata pada hari terbunuhnya Utsman, "Ya Allah, aku tidak membunuhnya, tidak pula atas perintahku, tapi aku dalam keadaan tidak berdaya."

Pernyataan serupa diriwayatkan dari Ali dari jalur-jalur lain. Al-Hafizh Abu al-Qasim berusaha mengumpulkan semua jalur periwayatan dan mencantumkan bahwa Ali berlepas diri dari darah Utsman, bahkan beliau bersumpah, baik dalam khutbahnya maupun dalam kesempatan lain bahwa beliau tidak membunuh Utsman, tidak menyuruhnya, tidak rela dan tidak pula terlibat dengan mereka. Beliau telah melarang namun mereka tidak lagi mendengar ucapannya. Menurut kebanyakan para Imam Hadits telah tercantum dari berbagai jalur yang memastikan bahwa Ali tidak terlibat.

Ya'qub bin Sufyan meriwayatkan dari Sulaiman bin Harb dari Hammad bin Zaid dari Mujalid, dari Umair bin Rudzi Abi Katsir berkata, "Pada suatu hari Ali berkhutbah dan seorang khawarij memotong khutbah tersebut. Lalu beliau turun dan berkata, "Sesungguhnya perumpamaan diriku dan Utsman adalah seperti tiga ekor sapi berwarna putih, hitam dan merah di tengah-tengah gerombolan singa. Setiap kali singa tersebut henadk memakan salah satu di antara ketiga sapi itu, maka sapi lain akan mencegahnya. Singa tersebut berkata kepada si sapi hitam dan si sapi merah, 'Sesungguhnya si Putih membuat rombongan ini jadi terlihat jelek.' Maka keduanya membiarkan si sapi putih, lantas singa itu pun memakannya. Ketika singa itu hendak memakan salah satu dari sapi tersebut, maka sapi yang satu mencegahnya. Lalu singa tersebut berkata kepada si sapi merah, 'Sesungguhnya si sapi hita, membuat rombongan ini jadi terlihat jelek dan warnaku seperti warna mu jika engkau membiarkan dia, aku akan memakannya.' Maka si sapi merah membiarkan si sapi hitam dimakan singa. Kemudian singa tersebut berkata kepada si sapi merah, 'Sekarang aku hendak memakanmu.' Si sapi merah berkata, "Sebelum kau makan, biarkan aku berteriak tiga kali." Singa itu berkata, "Silahkan!" Sapi merah itu berteriak, "Ketahuilah sesungguhnya aku telah dimakan pada hari dimakannya sapi putih." 3 kali.

Kemudian Ali berkata, "Sesungguhnya posisiku sangat lemah pada hari terbunuhnya Utsman," beliau katakan itu tiga kali.

Dalam khutbahnya Ali bin Abi Thalib ra, "Sesungguhnya Allah telah memuliakan kita dengan Islam dan mengangkat derajat kita dengannya. Dan Allah telah menjadikan kita bersaudara setelah kita hina, minoritas, saling membenci dan saling mendahului. Umat manusia mempertahankan hal itu sampai waktu yang dikehendaki Allah. Islam adalah agama mereka. Kebenaran tegak di antara mereka. Kitabullah adalah Imam mereka. Hingga lelaki ini (Ustman bin Affan ra) terbunuh ditangan orang-orang yang disesatkan oleh syeitan untuk menghembuskan api permusuhan di tengah umat ini. Ketahuilah, umat ini pasti berselisih sebagaimana umat-umat sebelumnya. Kita berlindung kepada Allah dari keburukan yang terjadi. Dan hal itu pasti terjadi. Ketahuilah, umat ini akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Golongan yang paling buruk adalah golongan yang menisbatkan diri kepadaku, namun tidak mengikuti amal perbuatanku. Kalian telah menemukan dan melihatnya sendiri Komitmenlah di atas agamamu dan ikutilah petunjuk Nabimu. Ikutilah sunnah beliau saw. Tinggalkanlah masalah-masalah sulit atas kalian, hingga kalian mendapatkan solusinya pada Kitabullah. Ambillah perkara-perkara yang diakui dalam Al-Quran, sedang perkara-perkara yang ditolak maka tolaklah. Ridhoilah Allah sebagai Rab kalian, Islam sebagai agama kalian, Muhammad sebagai nabi kalian dan Al-Quran sebagai hakim dan imam kalian." ====
Buku : Perjalanan Hidup Empat Khalifah Rasul Yang Agung. Al-Hafizh Ibnu Katsir>

Marhaban yaa Ramadhan.

Di sisi timur dari arah langkahku
di kegelapan penghujung malam
sinar sabit menyisakan akhir pesonanya
untuk sebuah kepentingan engkau telah berbicara banyak
walau tidak bersuara merdu bak burung berkicau di pagi hari
tetapi untuk sebagian yang lain tidak ada kepedulian sama sekali
tetapi engkau pun tidak peduli karenanya
karena engkau bukanlah pemutus sebuah harapan
Engkau hanyalah penghias dan pelengkap hati penguasa jiwa
tuk menggapai dan mencapai sebuah keindahan dan kesempurnaan

wahai pengembara belantara dunia
ada masa ketika cinta mereguk kesenangan jiwa
tidak peduli kakimu telah lelah bengkak karenanya
dan badanmu dipenuhi peluh dan debu-debu zaman
cukuplah itu untuk menghapus dahaga di tenggorokanmu
dan rasa lapar yang membungkukkan tulang punggungmu
cintamu tak terbendung dengan gelora kekhusyuanmu
tapi cinta harus ada dalam nalar dan hatimu
sehingga cinta tidak lari ke arah yang tidak terkendali dan salah arah

wahai pengagum keindahan cinta
detik-detikmu adalah nafas keagungan dan pemujaan
dengan kerinduan yang amat sangat tuk selalu bersua
membakar angkara kebathilan yang menusuk seluruh rusuk
walau rasa lapar dan dahaga menyelemutimu

Marhaban yaa Ramadhan!!!

Entah apa judulnya!!!!

Setelah dua cerita yang saya tampilkan yang berhubungan dengan masalah keluarga bagi orang yang menjalaninya, yang satu ini entah dikatakan masalah atau tidak bagi yang menjalaninya. Pembaca tinggal menilainya sendiri

Mungkin pembaca akan menilai bahwa ini adalah cerita bohong-bohongan, saya juga tidak tahu tapi orang yang menceritakannya (dan menjalaninya) terlihat enjoy seperti tidak ada beban dan yang mengenalnya pun sepertinya membenarkannya. Cerita ini dimulai ketika saya mendapatkan undangan dari teman untuk menghadiri acara syukuran anaknya yang telah menyelesaikan kuliahnya. Teman ini adalah teman bisnis, jarang ketemu tetapi beliau selalu ingat kepada saya kalau ada acara-acara yang beliau adakan, padahal saya juga bukan teman bisnis yang luar biasa bagi dirinya dibandingkan dengan teman-teman lainnya. SAya sendiri kadang tidak terlalu percaya diri kalau berada di kerumunan teman-temannya, yaa...bagaimana saya dengan omzet bisnis yang sedikit berdampingan dengan mereka yang berkali-kali lipat nilainya dari saya. Jadi kadang saya menjaga diri dalam perbincangan alias sebatas menjadi pendengar setia saja atau sekedar ikut tersenyum dan basa-basi saja.

Untuk menghindari perhatian dari yang hadir saya datang tepat waktu, namun terlihat rumah teman itu masih sepi dari para tamu. Tenda yang terpasang terlihat juga masih tidak ada deretan kursi untuk para tamu. Walau begitu saya tetap melangkahkan kaki dari tempat parkir motor menuju tempat acara. Di depan saya beberapa ibu-ibu (sekitar 3 orang) juga menuju ke tempat lokasi acara, jadi saya berkesimpulan bahwa mereka pun adalah undangan. Sesampainya di bawah tenda artinya di depan rumah teman, suasana masih sepi yang terlihat beberapa orang tuan rumah yang saya tidak kenal dan dua orang dari pihak katering yang mempersiapkan makanan prasmanan yang sudah tersaji di meja tersendiri. Melihat kedatangan kami (ibu-ibu dan saya) tuan rumah mempersilahkan untuk langsung makan dan memberitahukan bahwa teman saya masih ada di lokasi wisuda anaknya. Yaa...sudah, karena perut sudah menderit meminta jatahnya, saya pun menyambut acara makan dengan antusias. he-he....

Selama kami makan, datang satu per satu undangan yang lain, tetapi saya melihat bahwa acara ini tidaklah sebesar yang diperkirakan karena yang hadir tidaklah terlalu banyak, jadi kemungkinan ini acara hanya untuk pihak keluarga dan beberapa kenalan dari teman saya itu. Cukup lama juga setelah saya selesai makan, tuan rumah baru datang dengan mobil sedan mewahnya. Keluar dari mobil dengan setelah baju yang resmi teman saya tersenyum melihat kami semua yang sudah hadir dan menyampaikan permohonan maaf karena urusan yang lama di tempat wisuda anaknya. Katanya acara foto-foto yang bikin lama. Masuk di area, beliau langsung ngajak makan karena dia sendiri rupanya kelaparan..he-he...yaa maklum saja dengan perawakan yang agak gemuk dan waktu makan yang sudah lewat tentu perutnya bukan hanya menderit seperti yang saya alami tetapi boleh jadi menjuriiiit!!!

Sementara, tuan rumah sedang mengisi piring dengan makanannya, datang temannya beliau. Seseorang yang sosoknya tegap, gagah dengan kepalanya yang botak ditutup songkok haji. Ucapan salam yang mantaf di depan rumah terdengar seantero tempat acara, sambil membungkukkan badan dan senyumnya yang manis tentu sambil menampilkan deretan giginya yang rapi berbaris sesuai tempatnya yang bersinar putih bersih seolah model iklan pasta gigi yang ada di te-pe! Saya ingat-ingat, perasaan pernah melihat sebelumnya di acara yang diadakan teman ini sebelumnya. Sang tuan rumah pun langsung mengajak untuk makan. Supaya lebih nyaman, sang istri tuan rumah mengangkat meja dari dalam rumah untuk mmemudahkan makan teman dan lainnya. Nah dalam acara makan inilah muncul pembicaraan yang cukup menarik bagi saya dan tentunya yang lainnya terutama ibu-ibu yang juga hadir di situ.

Entah bagaimana awal ceritanya, sang tuan rumah menyatakan bahwa teman yang gagah itu punya istri tiga. Pernyataan itu ditanggapi dengan tertawa dari orang yang dimaksud. Sang tuan rumah pun kembali menegaskan bahwa dia beristri tiga, sehingga yang mendengarpun semakin penasaran akan kebenarannya. Sang tuan rumah mengatakan seperti itu karena dia pernah bersinggungan dengan istri dari temannya itu walau tidak secara langsung. Artinya ketika mereka berdua berada di luar kota, yang jaraknya lumayan jauh, 12 jam perjalanan dari kota Makassar, teman yang gagah ini, sebutlah si G, di telepon istrinya menanyakan keberadaannya. Si G menjawab bahwa dia sedang berada di kota tertentu. Sang istri katanya tidak percaya. Untuk meyakinkan bahwa si G ini berada di kota itu si G berdalih bahwa dia bersama sang tuan rumah. Tetapi istrinya tidak percaya bahkan menuduh bahwa sang tuan rumah bersekongkol dengan si G. he-he...bagi kita heran juga, ada istri yang tidak tahu bahwa suaminya pergi jauh, dan saya yakin mereka pergi keluar kota, karena saya tahu aktifitas dari tuan rumah ini. Di situlah, si G bilang bahwa perempuan senangnya untuk di bohongi, ketika dia berkata jujur justru perempuan tidak percaya dengan kita!! O,o,...he-he..anda setuju?

Akhirnya cerita berlanjut dari si G ini, bahwa istrinya tidak hanya tiga, bahkan lebih. Dia sebutkan istrinya dari berbagai suku, ada jawa, ada menado, ada lampung, ada bugis, ada juga orang makassar dari jeneponto. Tanpa beban, apalagi ditanggapi oleh ibu-ibu yang ada disitu, si G ini mulai cerita. Dia bilang, bahwa dia pernah menikahi orang menado, dia masuk islam. Dia bilang saya ini makan haruslah bersih terutama dari hal-hal yang tidak diperbolehkan oleh agama. Tapi istrinya ini kadang masih makan makanan yang dilarang agama islam utamanya. Sehingga dia berfikir untuk menceraikan tapi bagaimana caranya? sehingga dia berfikir untuk berbuat seolah menjadi orang gila. Kejadiannya ketika pulang kampung di daerah madano sana, dia berbuat seolah gila, seperti hanya pakai celana dalam sehari-harinya, sehingga orangtua si perempuan bilang bahwa dia sudah gila. Dengan begitu katanya dia tinggalkan istrinya di orangtuanya di sana. Ups...dia cerita sambil ketawa karena pendengarpun tertawa semua.

Ketika ada salah seorang ibu bertanya istrinya yang dari jeneponto, dan bertanya jenepontonya di mana? Si G ini bilang wahhh...jangan-jangan itu keluarga ibu ya? Dia pun menjawab bahwa istrinya itu tinggal di Makassar dan berprofesi sebagai penyanyi. Dia menjadikan penyanyi ini sebagai istrinya ketika suatu saat dia bernyanyi bersama di panggung. Sejak saat itu wajah si penyanyi pun terbayang terus sehingga dia putuskan untuk menjadikannya sebagai istrinya. Istrinya yang penyanyi ini suka dicemburui oleh istri yang menelepon dia ketika dia bersama tuan rumah di luar kota. Dia bilang istri yang satu ini memang agak temperemental, suka main ke mall, mungkin karena tidak punya anak sehingga kerja nya main di mall. Dia pun cerita pernah dibuntuti ketika dia bersama dengan istrinya yang lain lagi, ketika sedang jalan-jalan ke pantai bersama anak-anaknya. Dia dibuntuti pake motor sementara dia dengan istri dan anaknya naik mobil. Sampai di pantai istri yang pecemburu ini pun menampakan diri. Pertengkaran pun terjadi. Tapi Dia bilang dalam kondisi begini saya bela istri saya yang ada anaknya.

Cerita lain, yang berhubungan dengan kondisi dua istri dalam satu tempat adalah ketika dua istrinya sakit dan masuk rumah sakit. Dia bilang satu istri di lantai bawah dan istri yang lain di lantai atas. Untuk kasus ini, ada saksinya yang hadir di acara syukuran wisuda sang tuan rumah, yaitu dokter yang bertugas di rumah sakit itu, yang nota bene adalah temannya si Gagah itu. Sang Dokter pun tertawa-tawa mengingat kejadian itu, yang sang dokter sesalkan juga adalah orang tua salah satu istri yang masuk rumah sakit itu adalah teman baik dari orangtuanya. Namun sang dokter tidak mau juga cerita baik kepada orangtua itu yang sahabat ayahnya maupun kepada istri temannya tentang suami atau menantunya yang banyak istrinya itu. Waduh!!!

Gara-gara si gagah ini, suasana acara syukuran wisuda itu menjadi ramai, semua tertawa, dan si Gagah ini pun tidak merasa bersalah telah menceritakan status dirinya dan istri-istrinya. Karena ibu-ibu dan saya yang datang pertama sudah merasa lama sekali di tempat itu, dan karena sedang ada acara lain ibu-ibu minta izin pamit, dan kesempatan itupun saya pergunakan juga untuk pamit. Si Gagah bilang kenapa cepat pulang naa ceritanya belum selesai. Si gagah bilang begitu sambil tertawa diiringi yang lain. Waduh....bagaimana pendapat kalian semua terhadap si Gagah ini?????

Sabtu, 13 Juni 2015

Setelah Wanita Luar Biasa

Setelah wanita luar biasa, saya pun tidak tahan untuk menulis kasus yang lain yang mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran bagi yang lainnya.

Linda, bukan nama sebenarnya, adalah sosok wanita yang cukup berhasil dalam karirnya. Saya sudah lama mengenalnya sejak dia masih gadis dan bekerja di perusahaan yang menyediakan kebutuhan perikanan, di mana saya sering berhubungan dengannya karena saya sering membeli kebutuhan perusahaan saya di perusahaan si Linda ini. Karena seringnya berhubungan sehingga hubungan saya dengan dia seperti saudara. Dia kalau ada masalah sering curhat kepada saya. he-he....sebenarnya bukan curhat hanya sebagai tumpahan keluh kesah karena kadang saya tidak bisa memberikan solusi untuk penyelesaian masalahnya. Termasuk masalah keluarga yang dia hadapi.

Yaa....Ketika dia bermasalah dengan suaminya yang nampaknya susah untuk dicari jalan keluarnya karena dua-duanya bersikap keras pada pendiriannya, Dia pun berkeluh kesah ke saya hingga menangis di hadapan saya. Saya hanya bisa memberikan kata-kata penghibur yang mungkin tidak menyelesaikan masalahnya, karena saya lihat masalahnya berat banget artinya mengarah ke perpisahan di antara mereka. Dan ternyata akhirnya mereka berpisah. Saya lihat Linda tidak menjadi beban bagi dirinya dengan statusnya itu, dia terlihat enjoy seperti dirinya telah lepas dari beban yang menggayutnya selama ini.

Lama setelah itu, saya dengar dari teman saya yang juga bekerja di perusahaan yang sama dengan si Linda, bahwa Linda nampaknya sudah menikah dengan teman yang juga satu perusahaan. Hanya yang saya bikin kaget dari informasi ini adalah bahwa teman yang dijadikan suami oleh Linda adalah sosok yang sudah ada istrinya. Untuk masalah ini si Linda memang tidak curhat ke saya. Tetapi nampaknya dari beberapa kali saya bertemu dengan Linda dia berusaha untuk menyampaikan kondisi itu, hingga suatu hari dia mengatakannya secara gamblang tentang pernikahannya dan kondisi suami yang dia berani menjadikannya suami, yaa...karena saya kenal dengan mereka. Saya cuma bisa memaklumi saja. Memang mereka tidak merayakan pernikahannya dengan acara yang ramai karena masalahnya juga adalah si suami Linda ini tidak disukai oleh ibunya Linda. Oh iya, Linda ini adalah anak tunggal, ayahnya sudah lama meninggal. Ibunya Linda tidak menyutujui dengan kalau dia dijadikan suami oleh Linda, sehingga mereka sembunyi-sembunyi menikahnya. Karena kalau Linda membicarakan suaminya ibunya akan jatuh sakit, sehingga untuk kebaikan ibunya Linda menikah dengan diam-diam tidak merayakannya dan tidak menyiarkannya hanya orang-orng tertentu saja yang tahu, tidak termasuk ke saya pada awalnya. Saya pernah diajak oleh Linda untuk berkunjung ke rumahnya di kampung, laki-laki yang jadi suami Linda juga ikut, kami bermalam di rumahnya. Saya lihat ibunya memang kurang begitu respek sama dia, tetapi waktu itu saya juga tidak tahu bahwa mereka punya hubungan.

Beberapa minggu yang lalu ketika saya ada urusan yang sama dengan si Linda dan ketika urusan itu telah selesai, kami pun menuju ke tempat parkir untuk pulang. Rupanya motor saya yang di parkir berdekatan dengan tempat parkir mobilnya Linda, sehingga kami menuju satu arah. Hanya mendekati tempat parkir, Linda tanya ke saya apakah buru-buru mau pulang? saya bilang tidak juga, dan saya menangkap bahwa dia ingin bicara dengan saya. Saya tanya kenapa? mau ada yang dibicarakan? sebelum menjawabnya pertanyaan saya, akhirnya saya pun mengiyakannya untuk berbicara dengan dia, yang akhirnya pembicaraannya dilakukan di mobilnya.

Linda membuka pembicaraan dengan seringnya dia pulang ke kampungnya akhir-akhir ini. Dia merasa bahwa selama ini dia berkeras untuk mengambil atau memilih jalan hidupnya dengan tidak mempertimbangkan ibunya, Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan ibunya menjadi semakin dekat, dan mungkin juga untuk mencari jalan untuk mau menerima suaminya. Tetapi Dia bilang dalam kunjungannya yang terakhir-terakhir, ibunya menyampaikan sama Linda tentang suatu berita yang justru membuatnya menjadi bingung setengah mati. Ibunya sudah menerima lamaran dari tetangganya yang melamar si Linda untuk anaknya. Linda juga kenal dengan Dia. Orangnya juga baik, seorang pengusaha juga. Waahhh....ini yang membuat bingung si Linda, apalagi katanya ibunya bilang lebih baik mati daripada menolak lamaran itu atau tidak jadi menikah antara Linda dengan tetangganya itu. Yang lebih parah lagi bagi dia adalah ancang-ancang waktu yang telah ditetapkan oleh ibunya, yaitu sehabis lebaran ini!!!

Linda, berusaha untuk mengulur waktu dengan alasan bahwa dia masih banyak urusan yang mau diselesaikan. Rupanya juga dari ceritanya ke saya bahwa dia sudah bicara dengan calon suami dari ibunya itu dan mau mengalahkan untuk sementara waktu kalau mereka menikah nantinya, Linda di Makassar dan dia di daerah, nanti suatu waktu di antara mereka berkunjung untuk bertemu. Masalah yang besar sebenarnya bukan kesepakatan itu bagi Linda, tetapi dia harus menghadapi suami yang dia sembunyikan dari ibunya. Akhirnya, bagaimanapun dia harus cerita kepad suaminya dengan masalah ini.

Yang bikin kaget dari Linda adalah juga sikap dari suaminya ketika masalah ini disampaikan kepadanya. Dia bilang, cepat urus perceraian, kamu harus menuruti kemauan ibumu. Sikap suaminya yang seperti ini, artinya tidak marah atau bagaimana, tambah bingung si Linda. Baiknya sikap suami menambah Linda merasa dia justru merasa berdosa dan berat untuk meninggalkannya. Linda tanya ke saya mengenai masa Iddah dari seseoang yang bercerai sampai dia bisa menikah kembali dan bagaimana sikap dia menghadapi masalah ini. Mendapat pertanyaan itu, saya jawab seperti yang saya tahu, dan untuk pertanyaan yang kedua, saya hanya bisa mengarahkannya saja karena bagaimana pun si Linda lebih berat kepada kondisi Ibunya dan rupanya suami yang sekarang pun mendukung untuk mengarah ke sana walau harus ada perceraian!

Saya bilang masalah Linda yang ini lebih luar biasa lagi dibandingkan masalah yang dulu dengan suami pertama. Dia bilang sampai saat ini hubungan kami baik-baik saja dengan suami pertama. Kadang di antara mereka kalau salah satu membutuhkan dana mereka saling meminjam. Linda bilang juga hubungan dengan keluarga suaminya yang pertama masih sangat baik, malah mereka masih mengharapkan untuk mereka bisa rujuk lagi. Hanya mereka tidak tahu bahwa Linda sudah menikah dengan suami yang disembunyikan dari ibunya. Tetapi mengenai calon suami yang diajukan ibunya pernah juga disampaikan ke keluarga suaminya yang pertama. Mereka menjawab bahwa sebelum ada akad nikah kami masih mengharap bahwa Linda bisa rujuk lagi. Wuihhh.... saya bilang sama Linda, kamu itu luar biasa, saya tidak perkirakan bahwa hubungan kamu dengan mantan suamimu dan keluarganya masih sangat baik. Bahkan Linda cerita kalau di antara mereka masih saling memberikan souvenir kalau hari Raya tiba.

Pembicaraan itu cukup memakan waktu juga, berhubung waktu semakin siang kami pun mengakhiri pembicaraan itu. Tentu dengan saran dari saya yang saya rasa bisa dipertimbangkan Linda. Dalam hati saya juga berjanji, saya akan bawa istri saya untuk menemuinya setidaknya bisa memberikan sedikit tambahan saran dan dorongan, setidaknya kalau sesama wanita akan lebih terbuka dan lebih memahami.

Jumat, 12 Juni 2015

Wanita Luar Biasa

Katakanlah namanya Lisa, nama biasa saja tidak menunjukkan sesuatu nama kemoderenan yang dilahirkan dari keluarga suku jawa biasa, maksudnya ningrat bahkan dari ceritanya masyarakat pada umumnya, tetapi menunjukkan sosok yang sederhana, bersahaja seperti pada umumnya gadis jawa, tetapi Lisa juga adalah orang yang ulet, pintar, pekerja keras dan tidak takut sama siapa pun. Saya mengenalnya karena sama-sama bekerja di sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) di bawah naungan LSM Internasional yang bergerak dalam Pengembangan masyarakat di daerah tertinggal. Karena perilaku dan karakternyalah sehingga dipercaya untuk menangani beberapa proyek pengembangan masyarakat yang salah satunya adalah proyek atau program dimana saya berkecimpung di dalamnya.

Tetapi itu dulu, satu tahun yang lalu Lisa memilih untuk pulang ke Jawa setelah, katanya, kontraknya habis. Walau begitu kami kadang selalu memberi kabar tentang perkembangan program yang ada di daerah binaan kami, atau hanya sekedar say hello. Sebelum Lisa menyelesaikan kontraknya, kurang lebih setahun, datang seorang lelaki -katakanlah namanya Gunawan- bergabung juga dengan aktivitas kami. Meskipun Gunawan belakangan gabung dengan LSM ini dibandingkan saya, namun rupanya staf-staf di LSM ini sudah lama mengenal Gunawan termasuk pimpinan kami yang orang asing dan tentunya juga si Lisa itu. Akhirnya saya mengerti dari informasi masyarakat desa binaan bahwa ternyata Lisa dan Gunawan itu sebelumnya ada hubungan (baca : pacaran) dan pernah datang juga ke desa itu sehingga tidak asing lagi bagi masyarakat di sana. Pantas saja kelihatan di antara mereka seperti dekat sekali. Hanya yang menjadi sesuatu pertanyaan bagi masyarakat dan tentu saja saya adalah bahwa hubungan mereka sudah tidak ada lagi, artinya sekarang ini hanya sekedar teman kerja saja. Apa yang terjadi saya juga tidak tahu sama seperti masyarakat di desa itu.

Pernah saya singgung keduanya atau salah satunya untuk melanjutkan hubungan itu, tentu saya sampaikan dengan cara yang tidak menyinggung atau dengan godaan-godaan. Saya pun pernah tanya secara pribadi baik ke Lisa atau Gunawan kenapa sampai putus. Hanya keduanya atas pertanyaan saya dijawab dengan tertawa saja. Entah mungkin karena mereka menganggap saya bukan sebagai tempat untuk mengungkap sesuatu. Padahal saya termasuk tua dibandingkan mereka, saya yang sudah menginjak setengah abad dengan anak yang sudah besar-besar juga, belum menjamin untuk mereka bercerita tentang masa lalunya. Yaa, sudah...saya fikir mereka orang yang sudah dewasa, sehingga tahu mana yang terbaik bagi mereka sendiri.

Sepeninggalnya Lisa, praktis kegiatan di desa binaan lebih banyak saya dan Gunawan yang beraktifitas. Sehingga hubungan saya dengan dia juga semakin akrab walau dari segi umur dari kami jauh berbeda. Apalagi dari struktur, dia adalah Bos saya yang menyediakan segala kebutuhan bagi proyek kami berdua. Bukan saja dengan saya pribadi dengan keluarga saya terutama istri saya Gunawan juga sudah tidak sungkan-sungkan. Biasa datang ke rumah, kami jamu dengan kesukaannya dengan mie pangsit yang dibeli di warung dekat rumah. Hingga suatu hari kami mau mengunjungi sebuah undangan perkawinan, rencana saya dengan Gunawan mau berangkat dengan naik sepeda motor saja, tetapi Gunawan mau mengajak temannya sehingga kami pakai dua motor -dia dengan temannya dan saya sendiri. Ketika saya sudah bersiap-siap untuk pergi, motor pun sudah stand by di tempatnya, tiba-tiba tanpa ba-bi-bu Guanwan nongol di muka pintu tanpa terdengar suara motornya. Saya menjadi heran, sebelum keheranan saya terjawab dia bilang kita naik mobil saja. Yaa...saya sih tidak ada masalah, hanya pakai mobil tentu bensin yang dipakai agak lebih banyak. Akhirnya kami pun berangkat dan tentu menjemput dulu temannya Gunawan. Selama perjalanan untuk menjemput temannya saya jadi bertanya-tanya siapa sebenarnya temannya Gunawan, jangan-jangan cewek?. He-he...ternyata memang benar, temannya yang dijemput adalah cewek yang saya perkirakan sebelumnya. Dengan fakta ini, maka otak pun berputar-putar mencari kemungkinan-kemungkinan siapa sebenarnya cewek ini? Ha-ha....

Singkat cerita, cewek jemputan Gunawan ini, rupanya adalah cewek idamannya Gunawan. Hingga fotonya pun terpampang di meja kerjanya di kantor, sehingga semua orang ketika meeting rutin melihatnya dan tentu menjadi bahan candaan semua orang yang hadir. Gunawan mah hanya tertawa-tertiwi saja dijadikan bahan olokan teman-temannya. Yang beruntung bagi saya, setelah pertemuan di jemputan itu, eee....saya ketemu di suatu acara yang sang cewek idaman Gunawan pun ada di situ, sehingga sempat ngobrol sebentar dan kemudian si Gunawan disuruh juga datang ke acara itu untuk bicara-bicara sama saya.

Entah karena sepertinya saya sudah akrab dengan cewek idaman Gunawan, Gunawan suatu saat menyampaikan ke saya untuk bersedia menemani acara lamaran pada bulan Juli yang akan datang! Ups...wahh cepet banget, saya bilang. Dia bilang, memang ceweknya tidak ingin jangan lama-lama. Saya lihat memang, dua-duanya sudah cukup umur untuk melangsungkan pernikahan. Saya pun hanya bilang insya Allah, karena belum ada rencana yang lain.

Beberapa minggu kemudian, malam itu saya menerima sms dari Lisa. Dia menanyakan kabar tentang saya, disambung dengan kata-kata, "tidak tahu kenapa tiba-tiba saya ingat sama bapak." Saya pun jawab smsnya dengan kabar baik mengenai kondisi saya dan keluarga. Di Sela-sela dialog sms itu, saya sampaikan berita bahwa si Gunawan mau menikah. Sebenarnya maksud saya disamping memberitakan itu saya ingin tahu apakah si Gunawan juga sudah sampaikan sama si Lisa. Tetapi ternyata jawaban dari Lisa adalah bahwa berita dari saya merupakan suatu yang surprise baginya. Berarti bahwa si Gunawan tidak memberitahukan kabar dia mau menikah ke Lisa. Lisa menambahkan bahwa cepet banget si Gunawan mau menikah, dulu dengan saya sampai nunggu lima tahun untuk menikah dan itu pun gagal. Saya tanya gagal bagaimana? Ditanya begitu akhirnya si Lisa mau mengemukakan hubungannya selama ini dengan Gunawan. Dia bilang saya sudah dianggap sebagai orangtuanya juga. Hiks!

Lisa pun melanjutkan ceritanya, Pernikahannya gagal karena Gunawan selingkuh dengan pacarnya, yang luar biasa adalah lima hari sebelum tanggal pernikahan mereka. Mendengar ini saya kaget luar biasa. Masya Sih? Lisa bilang, iyaa...lima hari sebelum tanggal pernikahan berlangsung. Gunawan lari ke rumah ceweknya yang lain. Saya bilang, kalau lima hari berarti sudah ada persiapan untuk acara, undangan sudah tersebar dan lain sebagainya. Lisa bilang, itulah Pak, yang beruntung saya punya orangtua yang sabar sekali, saya temani orangtua saya untuk menerima tamu yang terlanjur datang. Saya tanya, bagaimana dengan keluarganya Gunawan apa datang atau tidak? Ini saya tanyakan karena Gunawan berasal dari daerah lain yang jauh dari kampungnya Lisa. Lisa bilang, datang pada hari H nya, tetapi ketika diterangkan kondisinya justru orangtua Gunawan marah-marah dan seolah-olah menyalahi kami. Tapi orangtua saya sabar menerima itu. waahhh....saya habis-habisan, saya tanggulangi sendiri semua biaya, catering, dekorasi dan lain-lainnya. Tabungan saya habiiissss, Pak!!

Waaaddduuuhhhhh.......saya geleng-geleng kepala, kenapa begini si Gunawan ini! Saya kira cerita seperti ini hanya ada di sinetron, tetapi terjadi pada teman saya. Dan yang luar biasa adalah sikap si Lisa setelah kejadian itu, seperti tidak meninggalkan bekas yang luar biasa di hatinya. Hubungan dia dengan Gunawan selama sebelum menyelesaikan kontraknya sangat akrab sekali dan tidak ada tanda-tanda permusuhan. Jadi waktu saya tanya kenapa mau bekerja bersamaan di tempat yang sama. Dia bilang kasihan setelah si Gunawan cari kerja hingga ditawarkan untuk kerja di tempat yang sama!!! Teman-teman yang lain yang tahu kejadian ini juga heran kenapa dia mau menerimanya bekerja di tempat itu. Si Lisa ini benar-benar punya hati yang luar biasa hebatnya. Dia pun tutupi kejadian yang lalu kepada orang-orang yang tidak tahu masalahnya, entah kenapa akhirnya dia cerita pada saya, apakah karena seperti yang disampaikannya sudah menganggap saya sebagai orangtuanya!!!

OK Lisa, saya doakan engkau mendapatkan rizki seorang suami yang lebih lebih hebat lagi dan tentu rizki kemudahan dalam hidup ini!