Minggu, 13 September 2015

30 ORANG YANG PERTAMA DALAM ISLAM

(Status Ucha Banahsan Effendhy di fb shared Dato Kuzie Mazlan's photo.)

Dato Kuzie Mazlan

30 ORANG YANG PERTAMA DALAM ISLAM

1. Orang yang pertama menulis Bismillah : Nabi Sulaiman AS.

2. Orang yang pertama minum air zamzam : Nabi Ismail AS.

3. Orang yang pertama berkhatan : Nabi Ibrahim AS.

4. Orang yang pertama diberikan pakaian pada hari qiamat : Nabi Ibrahim AS.

5. Orang yang pertama dipanggil oleh Allah pada hari qiamat : Nabi Adam AS.

6. Orang yang pertama mengerjakan saie antara Safa dan Marwah : Sayyidatina Hajar (Ibu Nabi Ismail AS).

7. Orang yang pertama dibangkitkan pada hari qiamat : Nabi Muhammad SAW.

8. Orang yang pertama menjadi khalifah Islam : Abu Bakar As Siddiq RA.

9. Orang yang pertama menggunakan tarikh hijrah : Umar bin Al-Khattab RA.

10. Orang yang pertama meletakkah jawatan khalifah dalam Islam : Al-Hasan bin Ali RA.

11. Orang yang pertama menyusukan Nabi SAW : Thuwaibah RA.

12. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan lelaki : Al-Harith bin Abi Halah RA.

13. Orang yang pertama syahid dalam Islam dari kalangan wanita : Sumayyah binti Khabbat RA.

14. Orang yang pertama menulis hadis di dalam kitab / lembaran : Abdullah bin Amru bin Al-Ash RA.

15. Orang yang pertama memanah dalam perjuangan fisabilillah : Saad bin Abi Waqqas RA.

16. Orang yang pertama menjadi muazzin dan melaungkan adzan: Bilal bin Rabah RA.

17. Orang yang pertama bersembahyang dengan Rasulullah SAW : Ali bin Abi Tholib RA.

18. Orang yang pertama membuat minbar masjid Nabi SAW : Tamim Ad-dary RA.

19. Orang yang pertama menghunuskan pedang dalam perjuangan fisabilillah : Az-Zubair bin Al-Awwam RA.

20. Orang yang pertama menulis sirah Nabi SAW : Ibban bin Othman bin Affan RA.

21. Orang yang pertama beriman dengan Nabi SAW : Khadijah binti Khuwailid RA.

22. Orang yang pertama mengasaskan usul fiqh : Imam Syafei RH.

23. Orang yang pertama membina penjara dalam Islam: Ali bin Abi Tholib RA.

24. Orang yang pertama menjadi raja dalam Islam : Muawiyah bin Abi Sufyan RA.

25. Orang yang pertama membuat perpustakaan awam : Harun Ar-Rasyid RH.

26. Orang yang pertama mengadakan baitul mal : Umar Al-Khattab RA.

27. Orang yang pertama menghafal Al-Qur'an selepas Rasulullah SAW : Ali bn Abi Tholib RA.

28. Orang yang pertama membina menara di Masjidil Haram Mekah : Khalifah Abu Ja'far Al-Mansur RH.

29. Orang yang pertama digelar Al-Muqry : Mus'ab bin Umair RA.

30. Orang yang pertama masuk ke dalam syurga : Nabi Muhammad SAW.

✔ Rugilah kalau tak SHARE sebab hanya 1 peluang dakwah yang MUDAH. . . Jom share !!! Sebarkan...

Wallahua'lam

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra dan syair

Di antara syair-syair yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib ra adalah sebagai berikut :

1. Tentang kelapangan dan kesempitan :

Di kala hati dirundung putus asa
Rasa sempit terasa menghimpit dada
Kebencian tak mau beranjak dari tempatnya
Datang silih berganti hal-hal besar dan utama
Wajah tak pernah tampak berseri tanda suka
Dan tak berguna hiasan-hiasan yang mahal harganya




2. Tentang Kesabaran :

"Hendaklah bersabar ketika peristiwa dahsyat menghadang
Obatilah rasa dukamu dengan indahnya kesabaran
Tinggalkanlah keluh kesah ketika satu hari dililit kesukaran
Sebab kelapangan telah direguk di masa-masa yang panjang
Jangan sekali-kali berprasangka buruk kepada Tuhan
Sesunggguhnya Allah lebih utama untuk dimuliakan
Segala kesukaran akan diiringi kemudahan
Firman Allah lebih benar dari segala perkataan
Betapa banyak mukmin yang lapar dalam seharian
Di surga akan mereguk minuman salsabil penuh kenikmatan"




3. Tentang Cinta Dunia :

Tamak akan dunia memaksa orang selalu kekurangan
Bagimu kejernihan dunia telah dikeruhkan
Mereka tak temukan rezeki dunia dengan pikiran
Mereka temukan rezeki dengan takaran
Bahkan dengan kekuatan atau perang
Bak burung pemburu yang rezeki burung gereja ia temukan




4. Tentang Persahabatan :

"Jangan bersahabat dengan kawan yang bodoh akalnya
Barhati-hatilah kalian terhadapnya
Agar ia berhati-hati juga kepada anda
Betapa banyak orang bodoh membinasakan orang yang baik akhlaknya
Ketika si dia memaksakan bersahabat dengannya
Seseorang akan diukur dengan sahabatnya
Tatkala mereka tampak berjalan bersama
Sesuatu itu ada ukuran bagi sesuatu yang lainnya
Begitu pula terhadap yang memiliki kemiripan dengannya
Hati punya petunjuk atas hati yang lainnya
Yaitu ketika bertemu antara yang satu dengan yang lainnya."




5. Tentang Tawadhu dan Qonaah

Hakekat ketawadhuan apa pada kematian
Cukuplah di dunia apa yang bisa dimakan
Tidaklah seseorang di waktu pagi dipenuhi harapan
Hingga ia tak rakus untuk mendapatkan segalanya




6. Rahasia dan Menjaganya.

"Janganlah engkau beberkan rahasiamu kecuali untuk dirimu
Setiap penasehat itu mempunyai penasehat untuk dirinya
Sesungguhnya aku melihat orang-orang yang menyesatkan
Akan merobek-robek kulit pembeber rahasia"




Dari Buku : Biografi Ali bin ABi Thalib ra
karya : Prof. Dr. Ali Muhammad Ah-Shalabi

Sabtu, 12 September 2015

HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN (seri : Haji Mabrur)


Ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini. Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :

“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.

“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.

“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”

“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.

“Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?” Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”

“Kok bisa”

“Itu Kehendak Allah”

“Siapa orang tersebut?”

“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang ke rumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.Sampai di sana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.“Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang tukang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai di sana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu

“Betul, siapa tuan?”

“Aku Abdullah bin Mubarak”

Said pun terharu, "bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”

“Wah saya sendiri tidak tahu!”

“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini."

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita, “Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarikalaka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu. Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis, Ya allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat kabah. Ijinkan aku datang….. Ijinkan aku datang ya Allah..

“Saya sudah siap berhaji”

“Tapi anda batal berangkat haji”

“Benar”

“Apa yang terjadi?”

“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”

“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?“

"ya sayang”

“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku” sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Di situ ada seorang janda dan enam anaknya.

Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan:“tidak boleh tuan”

“Dijual berapapun akan saya beli”

“Makanan itu tidak dijual, tuan”, katanya sambil berlinang mata.

Akhirnya saya tanya, "kenapa?"

Sambil menangis, janda itu berkata, “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan”, katanya.

Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim? Karena itu saya mendesaknya lagi

“Kenapa?”

“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, dia pun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.“Ini masakan untuk mu”

Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”

Ya Allah……… di sinilah Hajiku
Ya Allah……… di sinilah Mekahku.

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air mata.

عبد الله ابن المبارك كاتب الكتاب"الجهادفي سبيل الله

Rujukan cerita diatas
Al-Imam Az-Zahabi ada buat kitab khusus tentang Imam Ibnul Mubarak iaitu "قضِّ نهارك بأخبار ابن المبارك" ada kisah ini di situ, begitu juga di kitab "Siyar A'lam An-nubala" karya Az-Zahabi juga, dgn lebih lengkap(8/378-421) dan Tarikh Kabir (5/212), Tarikh Sagheer(2/225) Hliyatul Awliya (8/162) Tarikh Baghdad (10/152) , dan sebahagiannya di Tahzibu Kamal dan Tazkiratul Huffaz dll.

Rabu, 09 September 2015

KUMPULAN KISAH HIKMAH DAN UNIK

(http://kisahmuslim.com/kumpulan-kisah-hikmah-dan-unik/)



– Pada suatu hari Imran bin Haththan menemui istrinya. Secara fisik, Imran memang buruk, berjerawat dan pendek. Sedangkan istrinya cantik jelita. Tiap kali dia memandang istrinya, si istri kelihatan semakin cantik dan jelita. Dia tidak dapat menahan diri dari memandang istrinya terus-menerus. Lantas istrinya berkata, “Ada apa dengan dirimu?” Dia menjawab, “Segala puji bagi Allah. Demi Allah, kamu perempuan yang cantik.” Si istri berkata, “Bergembiralah, karena sesungguhnya saya dan kamu akan masuk surga.” Dia bertanya, “Dari mana kamu tahu hal itu?” Istrinya menjawab, “Sebab, kamu telah dianugerahi istri seperti aku, dan engkau bersyukur. Sedangkan aku diuji dengan suami seperti kamu, dan aku bersabar. Orang yang bersabar dan bersyukur ada di dalam surga.”

– Dikatakan kepada As’ab, “Engkau telah tua renta. Sampai seusia ini apakah engkau belum hafal hadis sedikit pun?” Dia pun berkata, “Demi Allah, bahkan tidak ada seorang pun yang pernah mendengar (hadis) dari Ikrimah seperti apa yang saya dengar darinya.” Mereka berkata, “Sampaikanlah hadis tersebut kepada kami.” Dia berkata, “Saya pernah mendengar Ikrimah menceritakan sebuah hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bersabda, ‘Ada dua hal yang tidak akan berkumpul pada diri seorang muslim.’ Ikrimah lupa satu bagian dan saya lupa bagian satunya lagi.”

– Seorang perempuan mukminah pernah ditanya mengenai kosmetik yang dipakainya. Dia berkata, “Saya menggunakan kejujuran untuk bibirku, Alquran untuk suaraku, kasih sayang untuk mataku, kebaikan untuk tanganku, istiqamah untuk fisikku, dan ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk hatiku.”

– Harun ar-Rasyid pernah berkata kepada Qadhi Abu Yusuf, seorang qadhi, “Apa pendapatmu mengenai Faludzat dan Lauzaj (makanan sejenis puding). Manakah di antara keduanya yang lebih enak dan lebih manis?” Qadhi Abu Yusuf menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, saya tidak akan memutuskan atau menghukumi dua hal yang tidak hadir di sisiku.” Lantas ar-Rasyid memerintahkan agar kedua makanan tersebut dihadirkan. Kemudian Qadhi Abu Yusuf menyantap makanan ini sesuap dan makanan satunya lagi sesuap sehingga beliau memakan separuh dari keduanya. Selanjutnya dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Saya belum pernah melihat dua pihak yang bersengketa berdebat lebih dahsyat daripada keduanya. Ketika saya hendak memutuskan untuk memenangkan salah satunya, pihak yang lain mengemukakan hujjahnya.”

– Ada seorang laki-laki tinggal di sebuah rumah sewaan. Kayu atapnya telah usang dan rusak. Atapnya banyak yang hancur. Ketika pemilik rumah datang meminta uang sewa, maka si penyewa berkata, “Perbaiki dahulu atap ini, karena sudah rusak.” Dia menjawab, “Jangan khawatir. Tidak apa-apa kok. Atap itu sedang bertasbih kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Si penyewa menimpali, “Saya khawatir kalau atapnya punya rasa khasyyah (takut kepada Allah) lantas dia bersujud.”

– Seorang penduduk pedalaman berhenti di suatu kaum, lalu dia menanyakan nama-nama mereka. Salah seorang dari mereka berkata, “Nama saya Watsiq.” Lainnya mengatakan, “Nama saya Mani’.” Lainnya lagi berkata, “Nama saya Tsabit.” Orang keempat berkata, “Nama saya Syadid.” Lantas orang pedalaman tersebut berkata, “Saya menduga bahwa kunci-kunci dibuat hanya dengan nama-nama kalian.”

– Al-Ashmu’i mengisahkan, “Saya pernah masuk ke daerah pedalaman. Ternyata ada seorang perempuan cantik yang mempunyai suami jelek. Lalu saya bertahan kepadanya, “Bagaimana kamu bisa merelakan dirimu dimiliki oleh orang seperti ini?” Dia menjawab, “Coba dengarkan! Barangkali dia berbuat baik dalam hubungan antara dirinya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sang Penciptanya. Sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan diriku sebagai pahalanya. Dan barangkali aku berbuat tidak baik, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai siksa bagiku.”

– Ibnu as-Sammak az-Zahid berkata kepada Harun ar-Rasyid –sebelumnya dia meminta segelas air untuk diminum, “Wahai Amirul Mukminin! Seandainya Anda dihalangi untuk meneguk minuman ini. Berapa Anda berani membelinya?” Beliau menjawab, “Dengan semua kepemilikanku.” Ibnu as-Sammak melanjutkan, “Seandainya Anda dihalangi mengeluarkan minuman tersebut dari diri Anda (maksudnya tidak bisa kencing). Dengan berapa banyak Anda rela menebus diri Anda?” Beliau menjawab, “Dengan semua kepemilikanku.” Ibnu as-Sammak berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Tidak ada sisi kebaikan harta yang tidak sebanding dengan minuman dan air kencing.”

– Seorang penduduk pedalaman datang ke sebuah daerah. Ada anak-anak yang sedang bermain. Mereka melemparinya dengan beberapa batu. Ternyata ada sebauh batu yang tepat mengenai kepalanya, sehingga kepalanya bocor dan terluka. Lantas dia menghadap kepada penguasa daerah tersebut untuk mengadukan kejadian tersebut. Sang penguasa bertanya kepadanya, “Pada hari apa engkau datang?” Dia menjawab, “Pada saat kesulitan.” Sang penguasa melanjutkan, “Di daerah mana engkau singgah?” Dia menjawab, “Di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman.” Lantas sang penguasa tertawa dan memberi bantuan kepadanya.

– Seorang laki-laki meminta izin kepada Amirul Mukminin. Abu Ja’far al-Manshur untuk memperlihatkan kelihaiannya dalam ber-atraksi. Beliau pun memberinya izin. Lantas lelaki tersebut mengambil banyak piring besar. Lalu dia mengombang-ambingkannya ke udara dengan kelihaian yang luar biasa tanpa ada satu pun yang jatuh ke tanah. Abu Ja’far berkata, “Lalu apa lagi?” Kemudian dia mengeluarkan banyak tongkat. Pada tiap-tiap ujung tongkat terdapat tempat untuk menyusun tongkat lainnya. Selanjutnya dia melempar tongkat pertama dan langsung menancap di dinding. Lantas dia melempar tongkat kedua dan masuk ke lubang tongkat pertama, dan demikian seterusnya sampai seratus tongkat. Tidak ada satu pun yang jatuh ke tanah. Setelah aksinya selesai dia berharap agar Amirul Mukminin dapat menghargai kelihaiannya. Akan tetapi, al-Manshur justru memanggil para algojonya seraya berkata, “Tangkap lelaki ini dan berilah dia seratus cambukan.” Lelaki itupun berteriak, “Mengapa engkau melakukan ini, Amirul Mukminin?” Beliau menjawab, “Karena kamu telah menyia-nyiakan waktu kaum muslimin untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi mereka.”

– Ditanyakan kepada Hakim, “Apa sesuatu yang paling baik untuk seseorang?” Dia menjawab, “Diam yang membuatnya selamat.” Dilanjutkan lagi, “Jika masih tidak ada juga?” Dia menjawab, “Kematian yang menjadikan para hamba dan negara-negara beristirahat.”

– Suatu ketika al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi sedang mandi di Teluk Persia dan dia hampir tenggelam, lalu ada seseorang yang menyelamatkannya. Ketika orang tersebut telah berhasil membawanya ke darat, al-Hajjaj berkata kepadanya, “Mintalah apa saja yang kamu inginkan, niscaya permintaanmu akan dipenuhi.” Orang tersebut bertanya, “Kamu ini siapa? Kok akan memenuhi apa saja yang aku minta?” Al-Hajjaj menjawab, “Aku adalah al-Hajjaj ats-Tsaqafi?” Dia pun lalu berkata, “Permintaanku hanya satu. Demi Allah, saya minta kepadamu agar kamu tidak menceritakan kepada seorang pun bahwa aku telah menolongmu.”

– Diceritakan bahwa seorang pedalaman bertanya kepada penduduk Bashrah, “Siapa pemimpin kalian?” Mereka menajwab, “al-Hasan.” “Kenapa dia dapat menjadi pemimpin kalian?” Mereka menjawab, “Karena orang-orang membutuhkan ilmunya, sedangkan beliau tidak membutuhkan dunia mereka.”

– Dikatakan kepada seseorang yang salih, “Sungguh, saya mengeluhkan penyakit jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, lantas apa obatnya?” kemudian hamba yang shalih tersebut menjawab, “Wahai saudara! Tetaplah kamu dengan akar-akar keikhlasan, daun kesabaran, dan perasaan buah tawadhu. Letakkanlah itu semua di dalam wadah takwa, tuangkanlah air khasyyah (takut kepada Allah), nyalakan padanya api kesedihan, letakkan dengan saringan muraqabah, raihlah dengan telapak tangan kejujuran, minumlah dengan gelas istighfar, berkumurlah dengan wara (menjauhi perbuatan maksiat), dan jauhkanlah dirimu dari loba tamak, niscaya penyakitmu akan sembuh dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

– Ibrahim bin Adham melihat seorang pemuda sedang bersedih, lalu dia berkata kepadanya, “Wahai anak muda! Saya akan menanyakan kepadamu tiga hal. Tolong dijawab!” “Baiklah,” ujar pemuda tersebut. Ibrahim bertanya kepadanya, “Apakah ada sesuatu di muka bumi ini yang dapat berjalan tanpa kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala?” Dia menjawab, “Tidak sama sekali.” Ibrahim berkata, “Apakah rezeki yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu dapat berkurang sedikit pun?” Dia menjawab, “Tidak akan sama sekali.” Ibrahim bertanya lagi, “Apakah ajal yang telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadamu dapat berkurang meskipun hanya sekejap saja?” Dia menjawab, “Tidak akan sama sekali.” Lantas Ibrahim berkata, “Kalau demikian, apa yang kamu susahkan?”

– Mu’awiyah berkata kepada seorang lelaki dari daerah Yaman, “Alangkah bodohnya kaummu yang mengangkat seorang perempuan sebagai pemimpin mereka.” Lelaki tersebut membalas perkataan Mu’awiyah, “Kaummu yang lebih bodoh daripada kaumku, yaitu orang-orang yang ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Pengasih, mereka berkata,

“Ya Allah, jika (Alquran) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami adzab yang pedih.” (QS. Al-Anfal: 32)

Mereka tidak mengucapkan, “Ya Allah, jika (Alquran) ini benar (wahyu) dari Engkau, berilah kami petunjuk.”



– Seorang ulama diberi pertanyaan pada saat berdiri di atas mimbar, tetapi beliau menjawab, “Saya tidak tahu.” Lantas ada yang berkata kepadanya, “Mimbar bukanlah tempat kebodohan.” Si ulama menjawab, “Saya naik ke mimbar ini sesuai dengan batas ilmuku. Seandainya saya naik sesuai dengan ukuran kebodohanku, pastilah saya sampai ke langit.”

– Seorang laki-laki datang menghadap al-Hasan al-Bashri radhiyallahu ‘anhu. Ia bertanya, “Apa rahasia sifat zuhudmu terhadap dunia wahai sang imam?” Beliau menjawab, “Ada empat hal. Saya tahu bahwa rezeki saya tidak akan diraih oleh orang lain. Makanya, saya menyibukkan diriku sendiri untuk rezekiku. Saya tahu bahwa amal perbuatanku tidak akan dilakukan oleh orang lain. Makanya, saya menyibukkan diriku sendiri untuk melakukannya. Saya tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu melihatku. Makanya, saya malu bila Allah Subhanahu wa Ta’ala melihatku sedang berbuat maksiat. Saya tahu bahwa kematian menantiku. Makanya, saya mempersiapkan bekal untuk menghadap Rabbku.”

Artikel www.KisahMuslim.com

Sabtu, 05 September 2015

Guruku cantik, guruku malang!

Setelah 3 jam pelajaran berkoar-koar di depan siswa di dalam kelas, istilah kerennya mah transfernisasi pengetahuan, tenggorokan pun terasa kering kerontang, yang membuat kemudi di otak merubah haluan arah dari arah menuju ruangan guru ke arah kantin, yang mengakibatkan buritan pun dengan tanpa paksaan menurutinya, layaknya budak kepada tuannya.

Di samping gudangnya obat kekeringan tenggorokan, tujuan ke kantin juga ingin menutupi rasa rindu dengan mas subroto sang peracik mie bakso yang ada di kantin. Beliau biasa telepon ke saya kalau lama tak basua. Namun sayang seribu sayang, setelah jangkar dilepaskan dan tali pengikat sudah ditambatkan, konternya mas subroto kosong melompong tanpa sang tuannya. Untuk mengurangi rasa kekecewaan, saya pun menuju konter yang lain yang menyediakan segala macam kebutuhan siswa terutama berhubungan dengan masalah perut.

Setelah berdiri di samping etalase konter, saya pun memperhatikan sekeliling ruangan kantin yang dipenuhi siswa yang sedang duduk di meja sedang makan makanannya dan juga siswa yang sedang berebut makanan yang tersaji di konter dimana saya berdiri. Sementara saya memperhatikan mereka, salah satu dari dua orang penjaga, yang sudah saya kenal, bertanya ke saya, "Mau beli apa Pak?" Saya pun sambil bercanda menjawab pertanyaan itu, "Berapa harganya yang sedang menjual?" Sang Penjaga pun menjawab dengan cepat-cepat, sambil tertawa "Kalau penjualnya tidak dijual Pak!" Akhirnya saya pun hanya membeli teh gelas untuk membasahi tenggorokan yang kering ini.

Teh gelas yang ada digenggaman, saya bawa menuju meja yang dipenuhi oleh para siswa. Melihat ada tempat duduk kosong, saya pun minta ijin untuk duduk di tempat itu. Kemudian saya bilang bahwa saya akan menonton para siswa yang sedang makan di situ. Mendengar hal itu mereka tidak mengiyakan ataupun tidak menolaknya, bahkan siswi yang duduk disamping kiri menawarkan makanannya ke saya. Tetapi saya bilang bahwa saya sedang minum!!

Sambil minum teh gelas saya, saya melihat bahwa siswi-siswi yang ada di depan saya sedang makan, ada yang makan nasi kuning, ada juga yang sedang makan gorengan yang dicampur sambal yang telah disiapkan di meja. Namun ada yang ganjil yang saya perhatikan dari cara makan mereka. dua, tiga orang dari mereka makan dengan tangan kiri, sehingga memaksa saya untuk bicara,
"Kalau makan jangan pakai tangan kiri. Kalian kidal ya?"
Mereka menjawab, "Tidak Pak!" sambil merubah posisi makannya dengan tangan kanan.
Saya pun melanjutkan, "Biar kidal juga tetap makannya harus pakai tangan kanan! Kalian tahu kenapa tidak boleh makan dengan tangan kiri?"
Mereka pun menjawab, "Jorok ya Pak!"
"Bukan. Kalau makan pakai tangan kiri itu perbuatan syeitan!" tegas saya.

Rupanya penjelasan saya mengenai makan dengan tangan kiri sudah mereka pahami, sehingga mereka melanjutkan pertanyaan di luar topik yang pertama dibahas.
"Bapak, guru ya?" Mereka bertanya dengan rasa penasaran.
Saya fikir, ini pasti siswa baru sehingga tidak kenal dengan saya. saya pun menjawabnya dengan singkat, "Iya!"
dilanjutkan dengan pertanyaan, "Kalian kelas berapa?"
"Kelas sepuluh Pak!" jawabnya.

Saya pun berkesimpulan bahwa mereka anak multi media, karena saya mengajar di kelas sepuluh jurusan perikanan. Tetapi saya tetap bertanya untuk memastikan, "Kalian anak multi media ya?"
"Iya Pak!" tukasnya. Tetapi salah satu dari mereka bertanya, "Bapak mengajar di kelas berapa?"
"Kelas sepuluh dan kelas duabelas" jawab saya.
"Pelajaran apa Pak?" mereka memburu saya!
Saya pun tertawa dalam hati saya, dan keluarlah sikap ngawur saya dengan balik bertanya, "Menurut kalian dengan wajah begini, kira-kira saya ini guru (mata pelajaran) apa?"
Tanpa jeda mereka menjawab, "GURU AGAMA!!!!"

xixixixixi.......dengan senyum mengambang di bibir saya, saya pun beranjak dari kursi dan meninggalkan mereka! entah mereka heran, entah mereka puas atau ......apalah-apalah!!!

Selasa, 01 September 2015

Peristiwa Saqifah Bani saidah dari jalur Bukhari

Peristiwa Saqifah Bani Saidah adalah peristiwa yang selalu jadi sorotan terutama bagi orang-orang atau kelompok yang tidak puas akan kepemimpinan setelah Rasulullah saw meninggal beralih kepada Abu Bakar Ash Shiddiq ra. Apalagi dengan adanya jalur-jalur pemberitaan mengenai hal tersebut yang sifatnya memojokan pihak-pihak tertentu. Saqifah bani saidah sendiri adalah suatu tempat di mana para sahabat anshar berkumpul setelah meninggalnya Rasulullah saw untuk mengangkat pemimpin sebagai pengganti Rasulullah saw.

Namanya pemberitaan bisa jadi tidak terlalu lengkap merekam apa yang terjadi dari kejadian sebenarnya, dan bisa jadi suasana yang terjadi juga tidak terlalu tergambarkan dengan menyeluruh. Tetapi seperti kita ketahui bahwa Imam Bukhari adalah salah satu Imam yang dalam meriwayatkan suatu hadits sudah diakui oleh kaum muslimin akan kehati-hatian dalam periwayatannya, sehingga terhindar dari penyelewengan. Insya Allah.

Imam al-Bukhari meriwayatkan : Isma'il bin 'Abdullah menceritakan kepada kami: Sulaiman bin Bilal menceritakan kepada kami dari Hisyam bin 'Urwah: 'Urwah bin az-Zubair mengabarkan kepadaku dari 'Aisyah ra, istri Nabi saw, ia menuturkan bahwa tidak lama setelah Rasulullah saw wafat, orang-orang anshar berkumpul menghadap Sa'ad bin 'Ubadah di saqifah Bani Sa'idah dan berkata, "Kami akan mengangkat pemimpin kami, dan silahkan kalian mengangkat pemimpin kalian." Maka Abu Bakar, 'Umar bin Al-Khathab, dan Abu 'Ubaidah bin al-Jarrah mendatangi mereka. Kemudian 'Umar ra hendak maju berbicara, tetapi Abu Bakar ra menyuruhnya diam. 'Umar ra menuturkan, "Demi Allah, aku berinisiatif angkat bicara terlebih dahulu karena telah mempersiapkan perkataan yang bagus. Aku khawatir apa yang akan dikatakan Abu Bakar tidak seperti perkataan yang telah kusiapkan."

Ternyata, Abu Bakar ra berbicara dengan sangat lugas. Di antara isi pembicaraannya adalah, "Kami yang menjadi para pemimpin, dan kalian menjadi para penasihatnya."

Al-Hubab bin Al-Mundzir ra menyela. "Demi Allah, kami tidak setuju. Kami mengangkat pemimpin kami, dan kalian juga silahkan mengangkat pemimpin kalian."

Abu Bakar ra menanggapi, "Tidak demikian, tetapi kami yang menjadi pemimpin dan kalian yang menjadi para penasihatnya. Merekalah (Quraisy) orang-orang Arab yang paling mulia tempat tinggalnya (Makkah). Mereka jugalah suku yang paling mewakili Arab yang asli. Maka, bai'atlah'Umar atau Abu 'Ubaidah!"

Mendengar hal itu, 'Umar ra berseru kepada Abu Bakar, "Tidak, tetapi kamilah yang akan membai'at engkau. Engkaulah pemimpin kami, orang yang terbaik di antara kami, dan orang yang paling dicintai Rasulullah saw di antara kami." Kemudian 'Umar ra memegang tangan Abu Bakar ra dan membai'atnya. Lalu, orang-orang yang hadir berdiri dan membai'at Abu Bakar. Tiba-tiba, seseorang berseru, "Kalian(hampir saja) membunuh Sa'ad bin 'Ubadah!" 'Umar ra mengacuhkannya dengan mengatakan, "Semoga Allah saw membalas perbuatannya."1)

Kisah yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari yang singkat dan padat. Inilah cerita yang sebenarnya tentang Saqifah Bani Saidah yang dinukil dari Dr. Utsman bin Muhammad Al-Khamis.

============

Catatan : Shahiihul Bukhari, kitab "Fadhaa-ilush Shahaabah", Bab "Lau Kuntu Muntakhidzan Khaliilan" (no. 3667, 3668). Al-Hafizh Ibnu Hajar rohimahullah berkata, "Maksud perkataan 'Kalian telah membunuhn Sa'ad bin 'Ubadah' adalah 'Kalian hampir membunuhnya'. Ada yang berpendapat, ini sindiran terhadap sikap berpaling dan meninggalkan Sa'ad. Tetapi, ini tertolak dengan riwayat Musa bin 'Uqbah dari Ibnu Syihab, salah seorang dari kalangan anshar berkata, "Biarkan Sa'ad bin 'Ubadah, kalian jangan menginjak-nginjak harga dirinya.' Kemudian, Umar berkata, "Bunuh saja dia, semoga Allah membunuhnya.' Benar demikian adanya, tetapi 'Umar di sini tidak bermaksud memerintahkan orang untuk benar-benar membunuhnya. Mengenai perkataan 'Umar sebelumnya, 'Semoga Allah swt membunuhnya.' ungkapan ini sekedar sebagai doa agar Allah membalasnya. Pernyataan seperti ini lumrah bagi orang Arab, seperti firman Allah swt 'Celakalah manusia! Alangkah kufurnya dia!' (QS 'Abasa : 17). Jika kita mengambil pendapat pertama, maka maksudnya pemberitahuan tentang sikap mengabaikan dan berpaling dari Sa'ad. Dalam hadits Malik disebutkan, 'Dalam kondisi marah, aku ('Umar) berkata, 'Semoga Allah swt membunuh Sa'ad karena dia berbuat keburukan dan fitnah (pada saat genting seperti itu).' Lihat Fathul Baari (VII/384), terbitan daar al-Fikr.


==========

Maaf, ikut nebeng, bagi yang mau memenuhi kebutuhan hidupnya klik http://onstore.co.id/s/00367940001


Baca juga : http://mang-emfur.blogspot.co.id/2016/05/apakah-kita-hanya-mau-berpangku-tangan.html

Umar Bin Al-Khathab, Al-Faruq!

Umar bin Al-Khathab yang bernama lengkap Umar bin al-Khathab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdillah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’ab bin Luai bin Ghalib bin Firh (Al-Firh ini tidak lain adalah Quraisy), dijuluki juga Al-Faruq. Walau bukan orang yang pertama-tama masuk Islam seperti Abu Bakar ash-Shoddiq dan Ali bin Abi Thalib ra bahkan pernah ikut menyiksa kaum muslimin ketika itu hingga akan membunuh Rasulullah saw sendiri, tetapi dalam sepak terjang ketika sudah masuk Islam memberikan arti tersendiri dan coretan tinta emas dalam sejarah Islam. Apalagi secara khusus Rasulullah saw memohon doa kepada Allah swt akan ke-Islam-an Umar bin Al-Khathab untuk kemuliaan Islam. “Ya Allah, muliakanlah Islam dengan orang yang paling Engkau cintai dari kedua orang ini, dengan Abu Jahl bin Hisyam atau dengan Umar bin Al-Khathab.” (HR. Tirmidzi)

Point penting diawal Umar bin Al-Khathab ra dalam pelukan Islam seperti yang dikatakan Abdullah bin Mas’ud ra, “Posisi kami menjadi kuat sejak Umar bin Al-Khathab masuk Islam. Anda telah melihat kami tidak dapat melakukan thawaf dan shalat di Ka’bah hingga Umar bin Al-Khathab masuk Islam. Tatkala ia masuk Islam, ia memerangi mereka (orang-orang musyrik Quraisy) dan akhirnya mereka membiarkan kami menunaikan shalat dan tawaf.” (HR Ahmad). Begitu pula seperti yang diceritakan Shihaib bin Sinan ra, “Tatkala Umar bin Al-Khathab masuk Islam, ia menampakkan ke-Islam-annya dan mengajak untuk berdakwah secara terbuka. Kami duduk di sekitar Ka’bah dengan membentuk halaqah, melakukan thawaf di Ka’bah, dan berjalan dengan membentuk barisan menghadapi orang yang berlaku kasar kepada kami.” (Ath-Thabaqat Al-Kubra, 3/209 dan Shafwah Ash-Shafwah, 1/274. Dalam Muhammad Ash-Shalabi) Sehingga seorang penyair mengungkapkannya dalam bait-bait syair (Nuniyah Al-Qahthani, hal 22 dalam Muhammad Ash-Shalabi) :

Adalah Al-Faruq yang telah memisahkan dengan pedang antara kekufuran dan keimanan.
Ia tampakkan Islam setelah sebelumnya sembunyi-sembunyi.
Ia hapus kegelapan dan ia tampakkan dakwah Islam yang sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi.


==bersambung