Minggu, 14 Februari 2016

BERAPA UMUR YANG TELAH ENGKAU LALUI?






Pustaka Fathul Islam
BERAPA UMUR YANG TELAH ENGKAU LALUI?
Umur berlalu begitu cepat.
Umur yang telah berlalu tentu tidak mungkin kembali lagi.
Ada yang berkata kepada Muhammad bin Wasi’,
كيف أصبحت ؟
“Bagaimana engkau di pagi ini?”. Beliau lantas mengatakan,
ما ظنك برجل يرتحل كل يوم مرحلة إلى الآخرة ؟
“Apa pendapatmu mengenai seseorang yang setiap harinya akan berpindah ke negeri akhirat?”
Al Hasan (Al Bashri) mengatakan,
إنما أنت أيام مجموعة ، كلما مضي يوم مضي بعضك .
“Sungguh, engkau bagaikan sekumpulan hari. Apabila satu hari berlalu darimu, maka berlalu pula sebagian (umur)mu.”
Beliau juga mengatakan,
ابن آدم إنما أنت بين مطيتين يوضعانك ؛ يوضعك الليل إلى النهار والنهار إلى الليل حتى يسلمانك إلى الآخرة ، فمن أعظم منك يا ابن آدم خطراً ؟
Wahai manusia. Sungguh engkau berada di antara dua binatang tunggangan (yaitu malam dan siang) yang akan saling memindahkanmu. Malam akan memindahkanmu ke waktu siang. Siang pun akan berganti memindahkanmu ke waktu malam, hingga engkau pun akan sampai ke negeri akhirat. Adakah yang akan menghalangimu hingga negeri akhirat?
Beliau mengatakan pula,
الموت معقود بنواصيكم ، والدنيا تطوي من ورائكم .
“Kematian akan diikat di bagian depan kepala kalian. Sedangkan dunia akan dilipat (dibiarkan) di belakang kalian.”
Daud Ath Tho’i mengatakan,
إنما الليل والنهار مراحل ينزلها الناس مرحلة مرحلة حتى ينتهي ذلك بهم إلى آخر سفرهم ، فإن استطعت أن تـُـقدِّم في كل مرحلة زاداً لما بين يديها فافعل ، فإن انقطاع السفر عن قريب ما هو ، والأمر أعجل من ذلك ، فتزوّد لسفرك ، واقض ما أنت قاض من أمرك ، فكأنك بالأمر قد بَغَـتـَـك
Sesungguhnya malam dan siang adalah tempat persinggahan manusia sampai dia berada pada akhir perjalanannya. Jika engkau mampu menyediakan bekal di setiap tempat persinggahanmu, maka lakukanlah. Berakhirnya safar boleh jadi dalam waktu dekat. Namun, perkara akhirat lebih segera daripada itu. Persiapkanlah perjalananmu (menuju negeri akhirat). Tunaikanlah kewajiban yang patut engkau tunaikan. Karena mungkin saja, perjalananmu akan berakhir dengan tiba-tiba.
Sebagian salaf menuliskan nasehat pada saudaranya,
يا أخي يَخيّـل لك أنك مقيم ، بل أنت دائب السير ، تُساق مع ذلك سوقا حثيثا ، الموت متوجِّه إليك ، والدنيا تطوى من ورائك ، وما مضى من عمرك فليس بِكَـارٍّ عليك حتى يَكُـرَّ عليك يوم التغابن .
سبيلك في الدنيا سبيل مسافر == ولا بـد من زاد لكل مسافر
ولا بد للإنسان من حمل عدة == ولا سيما إن خاف صولة قاهر
Wahai saudaraku, kami menduga engkau adalah seorang mukim (yang tidak bepergian jauh). Namun sebenarnya engkau adalah seorang yang melakukan perjalanan (safar). Engkau akan digiring dengan cepatnya. Kematian pun akan ada di hadapanmu. Sedangkan dunia akan berada di belakangmu. Umur yang telah berlalu darimu tidak akan kembali padamu, sampai engkau akan bertemu kembali dengan hari yang dinampakkan kesalahan-kesalahan.
Perjalananmu di dunia seperti perjalanan seorang musafir. Setiap musafir haruslah memiliki bekal.
Setiap orang haruslah memiliki persiapan, apalagi jika dia takut tidak akan sampai pada Rabb Yang Maha Tinggi.
Sebagian salaf pun ada yang melantunkan sya’ir:
إنا لنفــرح بالأيام نقطعهـا == وكل يوم مضي يدني من الأجلِ
فاعمل لنفسك قبل الموت مجتهدا == فإنما الربح والخسران في العملِ
Sungguh kami sangat bergembira dengan hari yang kami lalui. Setiap hari yang telah berlalu adalah pertanda semakin dekatnya ajal.
Beramallah untuk dirimu dengan sungguh-sungguh sebelum datang kematianmu. Karena keberuntungan dan kerugian di akhirat tergantung pada amalmu. (Faedah dari Ibnu Rojab diJami’ul ‘Ulum wal Hikam)
Mengenai umur akan ada dua pertanyaan
Pertanyaan pertama mengenai keadaan di waktu muda atau dewasa.
Pertanyaan kedua mengenai umur secara keseluruhan.
Oleh karena itu, dua telapak kaki manusia tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga dia ditanyakan mengenai lima hal, di antaranya:
Mengenai umurnya di mana dia habiskan [?]
Mengenai waktu mudanya untuk apa dia gunakan [?]
Siapkanlah jawaban yang benar untuk pertanyaan tersebut!
Renungkanlah Umurmu!
Berapa umur yang telah berlalu darimu?
Apakah umurmu yang telah lewat engkau gunakan untuk hal yang bermanfaat? Ataukah untuk hal yang sia-sia?
Imam Asy Syafi’i pernah ditanyakan oleh seseorang mengenai umurnya, lalu beliau menjawab:
ليس من المروءة أن يُخبِر الرجل بِسِنِّـه
“Bukan merupakan sikap yang bagus jika seseorang menceritakan umurnya.”
Imam Malik juga pernah ditanyakan hal ini (yaitu mengenai umurnya), lantas beliau menjawab:
أقبل على شأنك . ليس من المروءة أن يُخبِر الرجل بسنه ؛ لأنه إن كان صغيرا استحقروه ، وإن كان كبيرا استهرموه .
“Aku terima maksudmu. Bukan merupakan sikap yang bagus jika seseorang menceritakan umurnya. Jika dia memang muda, maka dia akan direndahkan. Jika dia memang sudah tua, maka dia akan dianggap pikun.”
Renungkanlah Umurmu!
Jika memang engkau masih muda, sungguh amat jelek jika engkau menghabiskan umurmu hanya untuk bersenang-senang dan sering gegabah.
Jika engkau sudah berusia senja, maka hendaklah engkau memperbaiki hal-hal yang telah engkau lalaikan. Sungguh amatlah jelek, jika orang yang sudah berusia senja malah ingin bersenang-senang saja.
Renungkanlah Perkataan:
الناس صنفان ك موتى في حياتهمُ == وآخرون ببطن الأرض أحياءُ
“Manusia itu ada dua golongan. Ada yang hidup, namun sebenarnya dia mati. Namun ada pula yang berada di bawah tanah, namun mereka dalam keadaan hidup.”
Engkau ingin jadi seperti apa dari dua golongan ini?
Aku berdiam beberapa saat dalam waktu yang lumayan lama.
Setelah selesai merenungkan, aku begitu takjub dengan sejarah hidup yang kubaca dari manusia pilihan yang begitu tersohor kabar tentang mereka.
Kitab-kitab mereka pun tersebar di berbagai penjuru dunia.
Di antara manusia-manusia istimewa ini ada yang berusia muda dan ada juga yang berusia tua.
Para ulama pun mengajarkan karya mereka pada para penuntut ilmu.
[Berikut sejarah dua golongan tersebut]
Coba kita perhatikan Asy Syaikh Hafizh Hakamiy rahimahullah
Beliau memiliki banyak karya tulis dalam aqidah dan ilmu lainnya.
Pasti engkau akan kagum dengan sejarah hidupnya.
Lihatlah beliau lahir pada tahun 1342 H dan meninggal dunia pada tahun 1377 H!
Berapa umur beliau ketika meninggal dunia?
Umurnya hanya 35 tahun saja.
Begitu besar pengaruhnya bagi manusia (melalui karya-karyanya) dan dia mati dalam usia muda.
Bagaimana jika dia hidup dalam waktu yang lebih lama lagi [?]
Sebelum Al Hakami, ada pula Al Imam An Nawawi rahimahullah
Beliau memiliki karya tulis yang amat banyak. Beliau meninggal dunia pada usia 45 tahun.
Stop!
Kita berhenti membicarakan sejarah ulama yang mati dalam usia muda di atas, namun meninggalkan karya yang bermanfaat bagi umat. Sekarang, marilah kita beralih ke sejarah sebagian ulama yang menuntut ilmu setelah usia 40 tahun.
Ingatlah, tidak ada usia muda dalam menuntut ilmu. Begitu pula tidak ada usia tua dalam belajar dan mendalami agama ini.
Lihatlah pada biografi Syibl bin ‘Abbad Al Makkiy. Beliau menuntut ilmu agama setelah berusia 50 tahun.
Lihatlah pula kehidupan Abi Nashr At Tammaar beliau melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu setelah usia 60 tahun.
Perhatikanlah kehidupan Asy Syaikh Hafizh Hakamiy, bagaimana pengaruh beliau bagi umat melalui karyanya? Bukankah mendatangkan banyak manfaat?
Renungkan pula perjalanan hidup orang-orang pilihan di atas yang belajar dan menuntut ilmu baru setelah berusia senja, namun lihatlah jejak-jejak melalui karya mereka yang ditinggalkan bagi umat ini?
Tidak ada udzur lagi bagimu ketika engkau menyia-nyiakan umurmu.
Sudah seharusnya engkau memperhatikan umurmu dan selalu melihat bagaimana orang lain memanfaatkan umurnya.
Bakr bin ‘Abdillah mengatakan, “Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu, maka katakanlah: Orang ini lebih beriman dan lebih banyak memiliki amal sholeh dariku, maka dia lebih baik dariku. Namun jika engkau melihat orang yang lebih muda darimu, maka katakanlah: Aku lebih banyak berbuat dosa dan maksiat daripada dia, maka dia lebih baik dariku.”
Jika engkau masih berada di usia muda, maka janganlah katakan: jika berusia tua, baru aku akan beramal.
Jika engkau sudah berada di usia tua, apa lagi yang engkau tunggu [?]
Setelah usia tua yang ada hanya kematian yang menunggu [!]
Sungguh menyenangkan jika seseorang bergegas melalukan kebaikan lalu dia meninggalkan bekas sehingga ada yang memanfaatkannya.
Beramallah untuk dirimu sebelum datang kematianmu. Ingatlah, dzikir bagi seseorang adalah umur kedua baginya

KไSAH MξИGAGЦMKAИ TENTANG MENUNDUKKAN PANDANGAN




Yayasan Nurul Quran Sumbar
5 hrs
‌🇮‌🇧‌🇷‌🇦‌🇭
🍃 ‌KไSAH MξИGAGЦMKAИ
TENTANG MENUNDUKKAN PANDANGAN
🔹Ada seorang hamba yang shalih bernama Sulaimân bin Yasâr rahimahullâhu, beliau sedang berpergian meninggalkan negerinya (untuk menunaikan haji) ditemani oleh seorang sahabatnya.
 Suatu ketika, sahabat beliau pergi ke pasar untuk membeli persediaan makanan (untuk bekal perjalanan mereka) sedangkan Sulaimân sedang duduk menunggu di suatu tempat.
🌺 Sulaimân bin Yasâr ini adalah seorang yang memiliki wajah paling tampan dan memikat, namun paling berhati² dari segala perkara yang diharamkan Allâh.
👁 Tiba² ada seorang wanita dusun dari pegunungan melihatnya. Tatkala dia memperhatikan betapa tampan dan gantengnya Sulaimân, ia pun terpesona padanya.
🚺 Wanita tersebut memakai burqo' (sejenis cadar yang menutupi seluruh wajah) lalu ia mendekati Sulaimân dan berdiri diantara kedua tangannya kemudian ia membuka burqo'nya dan menampakkan wajahnya yang cantik seperti bulan purnama di tengah malam.
💬 Wanita tersebut berkata : "serahkan (dirimu) padaku!"
🔰Sulaimân segera menundukkan pandangannya dari wanita cantik tersebut! Ia mengira bahwa wanita tersebut adalah wanita yang yang fakir dan kekurangan serta menginginkan makanan.
🚹 Sulaimân lalu berdiri dan memberikan padanya sejumlah makanan yang masih ada padanya.
💬 Ketika melihat hal ini, wanita tersebut berkata pada Sulaimân : "Saya tidak menginginkan makanan tersebut! Yang saya inginkan adalah perbuatan seorang suami terhadap isterinya.!!
Dengan serta merta air muka Sulaimân berubah, dia marah dan menghardik wanita tersebut, sembari mengatakan, "Sungguh, Iblis telah memperalatmu!!"
Lalu Sulaimân menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan membenamkan kepalanya diantara lututnya.
Wanita tersebut segera menutup wajahnya dengan burqo', lalu ia pergi, pulang ke rumahnya.
🌤Tak lama kemudian, kawan Sulaimân datang setelah membeli makanan untuk mereka.
👁 Tatkala dia melihat Sulaimân yang matanya bengkak lantaran menangis hebat dan suara tangisnya berhenti, dia lalu bertanya : "Kenapa kamu menangis??"
💬 Sulaimân menjawab, "Tidak ada apa², saya hanya teringat anak²ku yang masih kecil."
💭 Sang kawan menukas, "Tidak! Sesungguhnya ada kejadian lain (yang menyebabkanmu menangis). Masa sedihmu karena anak²mu sudah berlalu semenjak 3 harian yang lalu."
🔺Kawan Sulaimân terus mendesak sampai Sulaimân akhirnya menceritakan kejadian yang terjadi dengan wanita tadi.
🔸Tiba-tiba, sang kawan tadi meletakkan dirinya di atas alas makan dan dia menangis dengan tersedu².
💬 Sulaimân lalu bertanya padanya, "Kamu sendiri, kenapa menangis?"
💭 Kawannya tersebut mengatakan, "Karena saya yang lebih berhak untuk menangis daripada dirimu."
💬 Sulaimân bertanya kembali, "kenapa bisa begitu?"
💭 Kawannya menjawab, "Karena sesungguhnya saya takut jika saya yang berada di posisimu, maka saya tidak dapat menahan diri darinya!!"
💧Maka kedua²nya pun menangis kembali.
🕋 Pada saat Sulaimân tiba di Makkah dan selesai melakukan thawaf dan sa'i, dia lalu mendatangi sebuah batu dan menjadikan pakaiannya sebagai alas. 💤 Dia merasa ngantuk dan tertidur sebentar. Di dalam mimpinya ia melihat seorang yang tampan rupawan lagi gagah. Pria tersebut memiliki paras yang bagus dan harum yang wangi.
💬 Sulaimân berkata padanya, "Siapakah gerangan dirimu? semoga Allah merahmatimu."
💭 Pria dalam mimpi itu menjawab, "Saya Yusuf, Nabi yang benar, putera Ya'qub."
💬 Sulaimân lalu berkata, "Sesungguhnya, kisah tentang dirimu dan isteri al-Aziz benar² sangat mengagumkan."
💭 Yusuf 'alaihis Salam berkata kepadanya, "Bahkan, kejadianmu dengan wanita dusun tsb adalah lebih mengagumkan lagi."
📚 Hilyah Auliyâ' karya Abu Nu'aim (II/191)
✏ @abinyasalma
#⃣ Channel telegram al-Wasathiyah wal I'tidâl

Agar jangan sampai dikatakan.......


Abdee Os
Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.
Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"
"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".
Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"
Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."
"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.
Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."
"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.
Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.
"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.
"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.
"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,
"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".
Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.
Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.
"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".
"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.
"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.
"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.
"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.
"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.
Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".
Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.
"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".
"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.
Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.
Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.
Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.
Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.
”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”
”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.
”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.
Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"
Kemudian Salman menjawab :
" Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.
Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.
”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.
Semua orang tersentak kaget.
“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.
Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin.
Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar…!

Kamis, 11 Februari 2016

Generasi yang beretika.

-status di fb-


Tedi Mbo
28 minsBaleendah
Anak anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata krama, sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak anak yang tangguh, disenangi, dan disegani banyak orang...
Mereka tahu aturan makan table manner di restoran mewah. Tapi tidak canggung makan di warteg kaki lima...
Mereka sanggup beli barang-barang mewah. Tapi tahu mana yang keinginan dan kebutuhan...
Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota. Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana...
Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan. Tapi mampu berbicara santai bertemu orang jalanan...
Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja. Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah...
Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya. Tapi juga tidak merendahkan orang yg lebih miskin darinya...
Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi. Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas, kapasitas
dirinya, bukan dari barang yang dikenakan...
Mereka punya.. Tapi tidak teriak kemana -mana. Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya...
Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan, etika tata krama...
Hal hal sederhana tentang kesantunan seperti :
🔹Pamit saat pergi dari rumah
🔹Permisi saat masuk ke rumah temen (karena ternyata banyak orang masuk ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang orang yang ada di rumah itu),
🔹Saat masuk atau pulang kerja memberi salam kepada rekan, terlebih pimpinan
🔹Kembalikan pinjaman uang sekecil apapun,
🔹Berani minta maaf saat ada kesalahan
🔹Tahu berterima kasih jika dibantu sekecil apapun...
Kelihatannya sederhana, tapi orang yang tidak punya attitude itu tidak akan mampu melakukannya...
Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup...
Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika tata krama, kesederhanaan...
Karena ini jauh lebih mahal dari pada sekedar uang... 

Rabu, 10 Februari 2016

Keajaiban Perang di Suriah : Para Mailakat, Tentara Allah turun membantu Mujahidin.

(http://www.syiahindonesia.com/2016/02/keajaiban-perang-di-suriah-para.html)


Syiahindonesia.com - Perang di Suriah, entah kenapa, media di Indonesia khususnya seperti tak berminat untuk memblowupnya.

Kecamuk perang di Suriah dan banyaknya korban gugur, khususnya dari kalangan warga sipil Muslim, luput dari berita. Bahkan, ironisnya, umumnya media menyebut Mujahidin yang melawan rezim Basyar Asad sebagai “pemberontak”.

Karena sunyi dari berita dan tayangan inilah, otomatis publik–khususnya umat Islam di Indonesia–tidak begitu ngeh dengan apa yang terjadi di Suriah sesungguhnya.

Padahal, seperti diceritakan relawan Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) yang terlibat dalam bantuan kemanusiaan dan medis di salah satu front di jabal Akrod, perang di Suriah sungguh luar biasa. Karena itulah, kenapa, misalnya, dengan kehendak Allah, bumi Syam (Suriah) dipilih sebagai tempat perang yang melibatkan banyak pihak.

Akankah perang Suriah berlangsung lama, bahkan kelak menjadi cikal bakal peperangan menjelang kiamat tiba? Wallahu A’lam. Yang jelas, keterlibatan banyak pihak (negara) dalam konflik di Suriah ini, boleh jadi ada skenario yang Allah kehendaki dalam peperangan ini.

Tim Ketiga Relawan HASI, setidaknya, merasakan keberkahan bumi Syam. Panggilan jihad benar-benar mereka saksikan di wilayah tempat mereka mengemban tugas.

Saat mereka bertugas di Jabal Akrod, banyak kisah dan pengakuan yang mereka dengar sendiri, betapa pertolongan Allah benar-benar turun di Bumi Jihad Suriah.

Koordinator Tim Ketiga HASI,  Abu Yahya, menceritakan kisah seorang mantan tentara Bashar Asad yang membelot dan bertaubat lalu bergabung dengan Mujahidin.

Saat diwawancara oleh Mujahidin Suriah dan relawan HASI, mantan tentara Asad itu, menjawab pertanyaan kenapa pasukan Asad yang berjumlah 1500 personel di Jabal Akhrod tidak berani melakukan serangan kepada Mujahidin Suriah yang hanya berjumlah 150 personel, padahal baik secara kekuatan (jumlah)  maupun persenjataan, Mujahidin jauh kalah dibanding tentara Asad.

Mantan tentara Asad itu menjelaskan sembari terkejut dan heran lalu balik bertanya. “Siapa bilang jumlah kalian sedikit? Kami setiap malam melihat kalian dengan pakaian putih-putih bergerak dari satu lembah ke lembah lain sehingga kami berpikir jumlah kalian begitu banyak dan menjadi pertimbangan kami untuk tidak lebih dulu menyerang,” ungkapnya seperti diceritakan kembali oleh Abu Yahya dalam presentasi Laporan Tim ke-3 HASI kepada Forum Indonesia Peduli Suriah (FIPS) di Gedung Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Jakarta, Selasa (11/12/2012).
Untuk diketahui, wilayah Jabal Akrod mempunyai sebuah tapal batas dengan tentara Asad yang jumlahnya ribuan. Tapal batas tersebut hanya dijaga oleh ratusan Mujahidin. Begitu pentingnya tapal batas tersebut mempengaruhi situasi di Jabal Akrod, jika pasukan Asad mampu membobolnya.

“Namun, hingga kita pulang mereka tidak mampu membobol tapal batas, Allah menurunkan pertolongannya. Sebab, di sana dijaga oleh para Mujahidin yang sangat ikhlas mencari ridho Allah, sangat menjaga ke-Islamannya, sedikit bicara, menundukkan pandangan, dan menjauhi sikap ashobiyah (fanatisme kelompok),” papar Ustadz Oemar Mitha, penerjemah yang terlibat dalam bantuan kemanusiaan HASI.

Peristiwa-peritistiwa luar biasa seperti di atas pun tidak hanya terjadi satu kali.  Pada kejadian yang lain, Mujahidin hendak melakukan perang dengan konvoi 50 truk yang berisi tentara Basyar Asad.

Hingga pada satu titik terjadilah baku tembak antara Mujahidin dengan tentara Asad. Mujahidin memang sudah bertekad  untuk menghabisi dan memukul mundur tentara Bashar Asad.

Di luar dugaan, tiba-tiba saja muncul kejadian di luar perkiraan mereka. Helikopter dan pesawat tempur datang seperti hendak memerangi Mujahidin. Mujahidin yakin, ini bantuan dari pihak Bashar Asad untuk menghabisi mereka.

Ingat, hingga kini Mujahidin Suriah sama sekali tidak memiliki alat tempur seperti pesawat. Mereka bertempur hanya via jalur darat dengan persenjataan yang kalah canggih jika dibandingkan milik rezim Asad.

Mengukur jumlah personel dan persenjataan yang terbatas, komando Mujahidin menyerukan agar segera mengosongkan tempat pertempuran dan masuk ke gunung-gunung untuk mengatur strategi.

Anehnya, ketika Mujahidin sudah menarik diri, suara baku tembak masih saja terus terjadi. Berondongan dan desingan peluru seperti enggan berhenti walau tidak ada satu Mujahidin pun tersisa di lokasi pertempuran. Komandan Mujahidin sampai bertanya-tanya dalam hati, siapakah sebenarnya yang sedang berperang melawan tentara Bashar Asad?

Ia pun mengecek jumlah personel untuk memastikan kemungkinan ada Mujahidin tertinggal dan melakukan perlawanan terhadap tentara Asad. Namun hasil perhitungannya, seluruh Mujahidin sudah berada di gunung.

Hingga datang matahari terbit dan mereka yakin kondisi telah aman, barisan Mujahidin pun turun dari gunung-gunung. Dan, betapa terkejutnya mereka melihat sebagian tentara Asad telah tewas dengan luka menganga. Sebagian lainnya mengalami luka berat layaknya baru menghadapi pertempuran hebat.

Tentu kejadian ini menjadi seribu tanya bagi Abu Yahya, relawan HASI yang menghabiskan waktu selama satu bulan, 4 November-4 Desember 2012, di Desa Salma, Jabal Akhrod, Suriah. Ia mendapatkan kisah ini langsung dari Mujahidin.

“Lantas siapa yang berada di dalam pesawat dan helikopter untuk melawan tentara Suriah?” tanya Abu Yahya yang diliputi rasa heran audiens yang hadir.

Banyak peristiwa-peristiwa lain yang belum sempat diceritakan relawan HASI secara lengkap mengingat keterbatasan waktu.

Namun, kisah-kisah tersebut sudah cukup mengukuhkan keyakinan perihal munculnya ayaturrahman fii jihadil-Syam (keajaiban perang di Bumi Syam).

“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut,” (QS Al-Anfal: 10). Allahu Akbar! (arrahmah.com/salam-online.com)

Jawaban yang mengejutkan dari Bos Gudang Garam.

Pemilik Pt. Gudang Garam Susilo Wonowidjojo memiliki kekayaan senilai 5,3 miliar dolar amerika yang dalam mata uang Indonesia 58,3 triliun rupiah dengan kurs 11 ribu rupiah per dolarnya. Kekayaan itu diperoleh dari Grup Gudang Garam yang sangat terkenal dengan produk rokoknya. Ada yang menarik dari pribadi beliau, karena meskipun pemilik salah satu pabrik rokok terbesar di Indonesia, namun ternyata beliau tidak merokok.


Pegawai pabrik rokok heran, karena teryata owner Gudang Garam yang sangat kaya raya, malah tidak merokok sama sekali.
Pegawai : Bapak, kenapa kok Bapak tidak merokok sama sekali?
Owner : Lhoh, memangnya kenapa?
Pegawai : Kan bapak pemilik Gudang Garam, kenapa malah tidak merokok?
Owner : Itu di bungkus rokok kan ada tulisannya: Merokok dapat menyebabkan kanker, penyakit jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan janin. Ngapain saya merokok kalo bisa jadi penyakitan.
Pegawai : “Maksud Bapak….?
Owner : Percuma jadi orang kaya kalo kena kanker, penyakit jantung, apalagi impotensi.
(Tag yang tercantum di bungkus rokok. Sekarang tag nya berubah : Rokok Membunuhmu) 
Pegawai : Lhah, kenapa bapak bikin pabrik rokok?
Owner : Rokok itu dibikin hanya untuk orang orang yang NGGA BISA BACA saja..!!!
Semoga bisa jadi inspirasi untuk Anda.


Sumber: h2m9363
http://figuramalaya.net/2016/02/09/bos-pemilik-gudang-garam-ini-ternyata-tidak-merokok-ketika-ditanya-jawabannya-mengejutkan/

Senin, 08 Februari 2016

5 Kebijakan Militer Umar bin Khattab yang Dikagumi dan Diikuti Dunia Hingga Saat Ini


Umar bin Khattab radiallahu 'anhu adalah salah satu pemimpin fenomenal. Khalifah berjuluk amirul mukminin ini memiliki kecerdasan yang tinggi, berperangai keras, pemberani, dengan tubuh yang tinggi dan kuat. 

Inilah yang membuat khalifah kedua ini sukses menaklukan banyak negeri pada masa kepemimpinannya.  Umar berhasi menguasai  wilayah Samarkand hingga Libya bagian barat, kemudian seluruh wilayah Syam dan terus terbentang hingga wilayah selatan.

Umar bin Khatab membuat kebiijakan memukau untuk mengatur seluruh wilayah dalam naungan panji Islam. Khusus bidang militer, kebijakan Khalifah Umar pada abad 7 Masehi ini diikuti berbagai negara dan bertahan hingga saat ini. Berikut lima Kebijakan Militer Umar Bin Khatab yang memukau dunia.

1.  Membuat Pangkalan Militer

Umar Bin Khatab merupakan orang pertama dalam Islam yang membuat pangkalan-pangkalan militer dalam satu kota. Sebut saja kota kufah dan basrah di Irak. Pangkalan-pangkalan militer ini dibuat untuk memudahkan pasukan Islam yang memerlukan bantuan seperti misalnya pembinaan untuk menambah pasukan ke medan Jihad.

Strategi militer seperti ini sudah banyak kita temukan saat ini termasuk Indonesia. Karena pangkalan militer sangat dibutuhkan dalam pertahanan suatu negara.

Selain pangkalan militer, Umar bin Khatab juga membuat pos-pos militer di wilayah perbatasan.Umar bin Khatab memberikan perhatian yang sangat spesial kepada pasukan-pasukan di wilayah perbatasan. Baginya perbatasan merupakan sebuah pintu atau gerbang. Apabila pasukan di wilayah perbatasan gagal mempertahankan kedaulatan negara, maka musuh akan mudah masuk dan melancarkan aksi-aksinya untuk mengoyak kesatuan negara.

Karena itulah, perhatian Umar bin Khatab terbuang lebih banyak kepada pasukan di wilayah perbatasan ini.

2. Membentuk Laporan Harian Pasukan

Setiap saat, Umar bin Khatab meminta panglimanya untuk melaporkan situasi dan kondisi pasukannya di medan perang dan jihad. Tidak hanya itu, laporan tersebut kemudian dianalisa dan diberikan panduan setiap hari, sehingga pasukannya akan bergerak sesuai dengan aba-aba beliau.

3. Pergantian Pasukan Secara Berkala


Umar bin Khatab juga menjadi pemimpin yang sangat perhatian terhadap individu pasukan. Hal ini berkaitan dengan kehadiran mereka ditengah-tengah keluarga. Jarak tempuh dan dan waktu pasukan, membuat waktu para pasukan harus berpisah berbulan-bulan dengan keluarga mereka. Umar bin Khatab harus membuat kebijakan untuk pasukannya untuk kembali pulang kepada keluarga secara berkala.

Hal ini berawal ketika Umar bin Khatab berjalan di kota Madinah. Pada saat itu Ia bertemu dengan seorang wanita yang bersyair. Dalam Isi syairnya wanita tersebut menyebutkan kepedihannya karena tidak ada suaminya bersamanya. Wanita ini mengatakan bahwa ada kekosongan jiwa karena suaminya tidak ada bersamanya. Namun istri tersebut tetap setia karena Ia takut pada Allah dan kemuliaan suaminya.

Maka malam ini Umar mengetuk rumah itu dan kemudian. Setelah yakin bahwa yang datang adalah Amirul Mukminin, maka wanita tersebut membukakannya. Kemudian Umar bin Khatab bertanya “Kemana suamimu?” kemudia wanita tersebut mengatakan bahwa suaminya pergi ke medan jihad.

Umar kemudian mengirim surat kepada kepala pasukan untuk memulangkan satuannya. Meski kasusnya terjadi pada satu orang namun diduga ini juga terjadi pada keluarga lain.

Umar bin Khatab kemudian membuat batasan seberapa lama pasukan boleh meninggalkan istri dan keluarganya. Untuk menentukan itu, maka Umar datang kepada putrinya untuk menanyakan berapa lama seorang wanita sabar ditinggal suaminya. Anaknya mengatakan satu bulan. Sedangkan batas maksimal adalah selama empat bulan.

Sejak hari itu, Umar membuat keputusan bahwa pasukan yang diutus ke medan perang harus diganti satu bulan sekali untuk menemui istrinya dan keluarga.

4. Sistem Upah Bagi Pasukan Militer

Kebijakan militer selanjutnya adalah menetapkan sistem upah kepada pasukan militer. Tolak ukur sistem upah ini dibuat untuk membuat klasifikasi di tingkatan upah yang ada di zaman Umar. Yang pertama adalah dari tingkatan mereka dengan Rasulullah SAW.

Pasukan yang tergabung sejak terjadinya perang badar mendapatkan gaji tertinggi.  Pasukan ini mendapatkan 5000 dirham selama satu tahun. Satu dirham sama dengan 2,75 gram perak. Kalau di rupiahkan satu dirham berjumlah sekitar Rp. 70 ribu, sehingga totalnya sekitar 350  juta.

Sementara itu mereka yang bergaji rendah adalah pasukan yang bergabung setelah perang Khandasiah. Perang ini terjadi pada masa Umar bin Khatab, saat umat muslim sudah berhasil menakhlukan Persia. Mereka mendapat upah 1000 dirham dalam satu tahun. Jika dirupiahkan nominalnya mencapai 70 juta rupiah dalam satu tahun.

Itu adalah jumlah nominal uang yang diterima selain pakaian, makanan, dan masih banyak lagi yang diterima oleh para pasukan. Bahkan pada akhir hidupnya, Umar bin Khatab memberikan gambaran konsep upah yang lebih baik dari zamannya, yakni memberikan minimal 4000 dirham pada seluruh pasukannya. Sedangkan bagi mereka yang memiliki keahliaan atau mendapatkan keberhasilan tertentu, maka mereka harus diberi reward 500 dirham.

5. Kebijakan Wajib Militer

Kebijakan Umar bi Khatab lainnya adalah kebijakan wajib militer. Bahkan kebijakan ini masih tetap terjadi dibeberapa negara di dunia. Umar bin Khatab sangat ketat terhadap wajib militer ini. Mereka yang terpilih harus siap moril dan materil.

Para panglima di pangkalan militer berhak memilih pasukan dari suku-suku yang dinilai mampu dan siap jiwa raga berjuang ke medan jihad demi memperjuangkan bangsa dan Islam.

(Wiwik Setiawati)

Sumber: log.viva.co.id
http://www.portalpiyungan.com/2016/01/5-kebijakan-militer-umar-bin-khattab.html