Selasa, 21 Juni 2016

#serifullmoon

Malam ini (21 Juni 2016) kamu terlihat sangat cantik sekali di balik layar, hanya sayang di alam nyata kamu sembunyi di balik awan.

Waktu masih menunjukkan area sepertigamalam. Panggilan subuh masih sekitar penggalan jam. Dilayar kaca terlihat jajaran rapih berkeliling dihiasi lantunan ayat ayat suci yang diperdengarkan sang imam dalam prosesi penghambaan manusia kepada Allah di tanah suci-Nya, Mekkah Al-Mukarromah.
Tiba-tiba, crew mengarahkan kamera ke bulatan bulan purnama yang sempurna di atas langit yang bersih. Cantik sekali. Seolah menjadi saksi orang yang sedang sholat dan thawaf di Masjidil Haram. Subhanallah. Allahu Akbar.
Rasa penasaran, ku paksakan untuk keluar rumah untuk menyaksikan salah satu tanda kebesaran Allah Yang Maha Agung. Ahh...sayangnya, dalam keheningan ku dapatkan kekecewaan, karena sang cantik sembunyi di balik awan. Hiks!
"Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua." (Al Quran surat Yasin ayat 39)

Catatan : Gambar hanya ilustrasi bulan purnama, di ambil di dusun Cambang-cambangan pulau Tana keke, kab Takalar, Sulawesi Selatan.

Minggu, 19 Juni 2016

Apakah syeitan benar-benar dibelenggu pada bulan Ramadhan?



Banyak mubaligh yang menyampaikan hal ini, tentu dengan dalil yang ada.
Pertanyaan berikutnya yang biasa terlontar yaitu kenapa kemaksiatan dan pelanggaran terhadap syariat Allah masih tetap ada, yang berarti proses godaan syeitan tetap berlangsung. Katanya dibelenggu atau diikat.
Jawaban diplomatis para Mubaligh biasanya mengatakan begini, Syeitan itu kan dari jenis Jin dan Manusia. Syeitan dari jenis Jin lah yang dibelenggu, dan syeitan dari jenis manusia tetap bergentangan dan berkeliaran mencari mangsanya, sehingga kemaksiatan dan pelanggaran terhadap syariat Allah masih tetap berlangsung, artinya proses untuk pengalihan manusia menjadi hamba Allah swt tetap ada.

Bolehlah....kita simpan pernyataan di atas. Kita lihat dulu syeitan dari jenis manusia dulu. Sosok syeitan dari jenis manusia yang sangat jelas dalam Al-Quran digambarkan Allah swt salah satunya sebagai kaum munafik. "Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman!" Tetapi apabila mereka kembali kepada syeitan-syeitan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kami, kami hanyaa berolok-olok". (Surat Al-Baqarah ayat 14)

Namanya pemimpin dan anak buah kaum munafik sama saja. Tujuan mereka ingin menghancurkan Islam dari dalam. Boleh jadi kalau ada kaum munafik sekarang ini, orang bilang jaman modern, modern juga pemikiran mereka. Boleh jadi ayat-ayat Al-Quran sudah ada dalam fikiran mereka, hafal luar dalam, hanya tidak masuk di hati, karena di hatinya ada penyakit ingin menghancurkan Islam.

Sekarang pertanyaannya bagaimana menangani syeitan seperti ini ketika bulan Ramadhan. Memang ada hadits-hadits yang menyatakan ketika kita diganggu seseorang yang akan mengganggu puasa kita maka kita usaha menghindar dan mengatakan bahwa kita sedang puasa. Tetapi bagaimana kalau syeitan-syeitan manusia ini terus-terus merongrong kita dengan berbagai macam trik supaya kita rusak dari ibadah yang diperintahkan Allah swt. Semakin modern dunia semakin modern juga cara-cara mereka, bahkan permainan samar-samar pun kadang mereka lakukan, dan yang begini hanya bisa dideteksi oleh orang yang punya akal. Yang tidak punya akan tentu akan mempunyai kesimpulan yang salah, bahkan bolah jadi dia sudah masuk perangkap syeitan itu sendiri.

Dalam tingkatan tertentu, tentunya kita bisa diam saja. Rasulullah sendiri, melawan mereka hingga berperang secara fisik (perang badar) terjadi pada bulan Ramadhan. Nah loh!!? sekarang lebih hebat lagi mereka menyerang melalui perangkat canggih seperti kekuatan struktur organisasi, media sosial, bahkan aturan-aturan yang membatasi hingga penekanan-penekanan secara fisik. Apakah mau diam saja? tentu saja tidak karena syeitan itu harus tetap dilawan, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Nah, yang menjadi pertanyaan lanjutan adalah apakah syeitan-syeitan manusia ini tidak didukung, digerakkan, dibisikan dalam hatinya untuk terus menyerang kaum muslimin oleh syeitan-syeitan Jin. Pertanyaan lebih pribadi, apakah kita tidak pernah merasakan bisikan-bisikan di hati untuk bermaksiat dan melanggar perintah Allah pada bulan Ramadhan ini. Kalau ada, darimana bisikan-bisikan itu kecuali dari syeitan yang berbentuk Jin yang bisa masuk ke dalam hati kita. Seperti dalam surat An-Nas yang kita hafal semuanya. Nah Loh?!!

Jadi terlepas dari dalil hadits yang menyatakan syeitan di belenggu, tetapi kenyataannya seperti itu, kita masih merasakan bisikan-bisikan syeitan yang ada dalam dada/hati kita, kalau begitu titik temunya ada dimana?

Penjelasan ilmiah dari kita berpuasa seperti berikut. Ada yang menyatakan bahwa dengan puasa, tidak makan di siang hari, pasokan energi ke dalam organ-organ tubuh yang lain berkurang, apalagi puasa ini didasarkan kepada keimanan, sehingga rasa 'lapar' dari organ-organ tubuh lain tidak terpenuhi dengan full sehingga syeitan tidak bisa memanfaatkan organ-organ tubuh itu untuk diarahkan berbuat maksiat. Salah satu contoh sederhana kalau pasokan energi kurang, maka kehidupan 'sex' juga akan berkurang. Disinilah istilah syeitan terbelenggu tidak bisa berbuat banyak. Bahkan ada keterangan yang menyatakan bahwa syeitan akan sangat ketakutan kepada manusia-manusia yang berpuasa dengan landasan iman.

Syeitan terbelenggu!!!

Selamat melawan dan berperang dengan syeitan, syeitan dari Jin maupun syietan manusia, smoga kita semua selalu menang atas godaan dan gangguannya.
Wallahu 'alam.

Sabtu, 18 Juni 2016

Komunikasi dengan rasa penuh cinta

Shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya serta aktifitas kehidupan sehari-hari yang didasarkan atas keimanan, itu semua merupakan bentuk komunikasi kita, manusia sebagai makhluk Allah, kepada Allah sebagai Penciptanya (kholiq). Komunikasi yang selalu berlangsung (kontinyu) dan dengan cara yang telah ditetapkan, akan terasa indah jika komunikasi itu didasarkan rasa cinta sang makhluk kepada Kholiqnya.

Jika ini sudah terjadi, diharapkan rasa cinta itu pun akan berbalas dari Sang Kholiq kepada makhluk-Nya. Sehingga akibat lebih jauhnya akan menimalisir segala kekurangan yang ada pada manusia, sebagai makhluk.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-Quran surat Ali-Imran ayat 31)

Bagaimana dengan komunikasi antara sesama makhluk, misalnya antara manusia dengan manusia. Tentu sudah seharusnya komunikasi yang terjalin harus didasarkan cinta kepada Allah, jangan sampai merusaknya. Jika komunikasi antara sesama manusia justru menghancurkan cinta manusia kepada Allah, maka hal itu akan berakibat kepada manusia itu sendiri.

Berbicara komunikasi karena dilandasi cinta kepada Allah, berlaku juga ketika kita berhubungan dengan orang-orang di luar keyakinan kita, bahkan orang-orang yang sombong sekalipun. Orang-orang yang sombong yang merendahkan Allah dan aturan-Nya, dalam tingkatan tertentu kita pun harus lebih sombong dari mereka untuk menjaga martabat kekuasaan Allah dan aturan-Nya kalau perlu berperang dengan mereka (berjihad), seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya,

Kamis, 16 Juni 2016

Melanggar "agama" membawa "berkah"!


Klo kita melihat akar kata "agama", katanya 'a' itu artinya tidak dan 'gama' itu artinya kacau. Jadi sederhananya "agama" artinya tidak kacau. Suatu ketetapan yang dibuat supaya orang atau sekumpulan orang (komunitas) yang terikat dengannya hidupnya tidak kacau, bahasa lain teratur, rapih.


Dalam terminologi kehidupan manusia dimana mereka sepakat untuk membuat sebuah aturan untuk kebaikan bersama baik itu tertulis atau tidak, entah apakah itu namanya Undang-undang, peraturan, adat dan lain-lain pada dasarnya klo dilihat dari definisi kata tadi itu juga termasuk agama. Tentu didalamnya baik secara eksplisit maupun implisit mengandung arti sangsi, hukuman dan lain sebagai jika seseorang melanggar "agama" tersebut, yang nilainya atau besaran sangsi itu akan disesuaikan dengan jenis dan kualitas pelanggarannya.


Boleh jadi dengan perkembangan zaman "agama" yang dibuat komunitas itu akan berubah sesuai kebutuhan, entah itu berubah total atau sekedar penyempurnaan dan penyesuai dan lain sebagainya. Namun tetap pada intinya bahwa itu untuk kebaikan bersama dalam hubungan sesama di komunitas tersebut.


Namun, bisa jadi bahwa "agama" bagi suatu komunitas tertentu dinilai tidak sesuai bagi komunitas yang lainnya. Yaahhh, wajarlah namanya juga beda komunitas. Tetapi apakah komunitas lain berhak untuk mengkritisi "agama" komunitas lain. Saya kira selama untuk kebaikan komonitasnya sendiri (misalnya untuk studi perbandingan, studi kasus dan lain sebagainya), tidak masalah, tetapi kalau sampai mengintervensi dan mengobok-obok itu akan menjadi masalah (dengan cara apapun). Karena di situ ada kewenangan, ada jiwa kebersamaan, ada kebanggaan sebagai sebuah komunitas.


Yang jadi pertanyaan, apakah jika sebuah komunitas yang berada dalam komunitas yang lebih besar, kemudian komunitas yang lebih besar berhak sewenang-wenang mengatur "agama" komunitas-komunitas yang lebih kecil yang ada di dalamnya? Logikanya, bergabungnya komunitas-komunitas kecil dalam sebuah komunitas besar tentu ada kesepakatan, ada hak dan kewajiban dan ada penghargaan, penghormatan kepada sesama komunitas. Tentu yang besar tidak bisa sewenang-wenang untuk merubah atau menghapuskannya tanpa ada saling pengertian, pembicaraan dan keputusan bersama. Kalau tidak seperti itu maka akan ada yang tersakiti salah satunya.


Kasus Saeni yang melanggar perda kemudian mendapat “berkah” ratusan jutaan rupiah adalah kasus yang cukup menarik. Saya tidak usah menceritakan lagi masalah ini, hanya saya hanya ingin bertanya sekitar kasus tersebut :
1.   Apakah akan memicu orang untuk melanggar dengan berharap  “berkah”?
        2. Apakah yang memberi “berkah” termasuk katagori intervensi terhadap “agama” dari komunitas yang ada? Atau sekedar belas kasihan tanpa mengerti permasalahan yang ada?
       3.   Apakah penghapusan “agama” dengan begitu saja yang katanya tidak sesuai dengan komunitas yang lebih besar adalah bentuk “arogansi” dari kewenangan sesuatu yang besar atau apakah?
       4.   Dan banyak lagi point-point yang ada untuk dikembangkan untuk membuka wawasan kita.

T    Trima kasih

    =======





Selasa, 14 Juni 2016

Sepertiga perjalanan Ramadhan

Kaki sudah menginjakkan di hari  Ramadhan yang ke sepuluh.  Rasanya ada perbedaan di Ramadhan tahun lalu.  Entahlaaahhhh...... kalau di tempat lain.  Di tempat di mana saya tinggal, hari-hari pertama di Masjid tidak penuh seperti tahun lalu.  Untuk masalah ini, banyak teman-teman yang masih menghibur dengan mengatakan bahwa boleh jadi mereka yang tahun lalu datang dan tidak datang lagi ke Masjid ini, mereka pulang kampung atau pergi ke masjid lain. Yaahhhh...mudah-mudahan seperti itu.

Anak-anak yang main-main di masjid agak berbeda dengan tahun lalu.  Satu dua masih orang lama tetapi sekarang kebanyakan datang dari wilayah lain, yang syukur-syukur saya mengenal mereka sehingga masih bisa dikendalikan.  Tetapi berita jeleknya adalah yang menimpa kakak-kakan angkatannya yang memang pergaulannya sudah jauh dari kebaikan.  Terakhir terdengar bahwa polisi menangkap bahkan hingga dua orang dan ditembak lagi kakinya karena berperan sebagai Begal. Inna lillahi wainna ilaihi roji'on.

Yang langsung terasa akibat dari kenakalan anak-anak adalah hilangnya HP saya yang saya simpan di meja.  Padahal saya sedang menunggu telepon penting dari seseorang.  Alhamdulillah, ternyata berpindah tempatnya hp terlacak hingga chip nya masih saya dapat selang satu hari.  Fisik hpnya sudah terlanjur digadaikan ke orang lain.  Saya masih berharap fisiknya tetap kembali karena saya masih membutuhkan nomor-nomor yang ada di dalamnya.  Akhirnya di hari ke 4 atas kebaikan seseorang yang penuh tanggung jawab, hp saya pun kembali.  Sebenarnya hp itu bukan hp mahal, hp harga tiga ratus ribuan. Namun karena nomor-nomor yang ada di dalamnya jadi terasa sangat penting bagi saya.

Pak Ustadz bilang bahwa sumber kebahagian seseorang itu adalah ketika kita mempunyai Hati yang selalu bersyukur (1), Pasangan yang sholeh/sholehah (2), Anak-anak yang juga sholeh/sholehah (3), dan lingkungan yang baik yang mendukung kehidupan yang aman tentram, sejahtera.  Semoga Allah memberikan kepada kita  kebahagiaan itu dengan kondisi yang ada. Dan tentunya Allah bisa memberikan kepada kita untuk menyelesaikan Ramadhan yang kita ajalani sekarang ini. Amin

Minggu, 12 Juni 2016

Mengapa membaca AL-QUR'AN itu penting? (berhubungan dengan kesehatan)

(Status Nina Herlina shared Dadang Rukanta's post. di fb)

Posting Grup Mukisi smg menambah wawasan ;
Mengapa membaca AL-QUR'AN itu penting ?
Karena menurut survey yang dilakukan oleh _dr. Al Qadhi_
di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat,
berhasil membuktikan hanya dengan mendengarkan ayat suci al Qur'an
baik bagi yg mengerti bahasa Arab atau tidak,
ternyata memberikan *perubahan fisiologis* yang sangat besar.
Termasuk salah satunya *menangkal berbagai macam penyakit*.
Hal ini dikuatkan lagi oleh penemuan _Muhammad Salim_ yang dipublikasikan Universitas Boston.
Lalu mengapa di dalam Islam ketika kita mengaji *disarankan untuk bersuara* ? Minimal untuk diri sendiri alias terdengar oleh telinga kita.
Berikut penjelasan logisnya :
1. Setiap sel di dalam tubuh kita *bergetar* di dalam sebuah sistem yang seksama,
dan perubahan sekecil apapun dalam getaran ini
akan menimbulkan potensi penyakit di berbagai bagian tubuh.
Nah sel2 yang rusak ini harus digetarkan kembali untuk mengembalikan keseimbangannya.
Hal ini artinya harus dengan suara.
Maka muncullah terapi suara.
Ditemukan oleh _Alfred Tomatis_ seorang dokter di Prancis.
Sementara Dr. Al Qadhi menemukan bahwa *Membaca Al Qur'an dengan bersuara*, memberikan pengaruh yg luar biasa terhadap sel2 otak untuk mengembalikan keseimbangannya.
2. Penelitian berikutnya membuktikan *sel kanker dapat hancur* dengan menggunakan frekuensi suara saja.
Dan kembali terbukti bahwa membaca Al Qur'an memiliki dampak hebat dlam proses penyembuhan penyakit sekaliber kanker.
3. Virus dan kuman berhenti bergetar* saat dibacakan ayat suci Al Qur'an
dan disaat yang sama , sel2 sehat menjadi aktif.
Mengembalikan keseimbangan program yang terganggu tadi.
QS Al Isra' : 82. Ayo buka ayatNYA
Dan yang lebih menguatkan supaya diri ini makin getol baca Qur'an adlah karena menurut survey :
SUARA YANG PALING MEMILIKI *PENGARUH KUAT* TERHADAP SEL2 TUBUH
ADALAH *SUARA SI PEMILIK TUBUH* ITU SENDIRI !
QS 7 : 55, QS 17: 10 Ayo buka..
Mengapa sholat berjamaah lebih di anjurkan ?
Karena ada doa yg dilantunkan dengan keras sehingga terdengar oleh telinga, Dan ini bisa mengembalikan sistem yang seharian rusak.
Mengapa dalam Islam *_mendengarkan lagu hingar bingar tidak dianjurkan_* ?
Karena survey membuktikan bahwa getaran suara bisa MEMBUAT TUBUH TIDAK SEIMBANG
Maka *kesimpulannya* adalah :
1. *Bacalah Al Qur'an* di pagi hari dan malam hari sebelum tidur untuk mengembalikan sistem tubuh kembali normal.
2. *Kurangi mendnegarkan musik hingar bingar*, ganti saja dgn murotal yang jelas2 memberikan efek menyembuhkan.
Siapa tau kita punya potensi kena kanker, tapi karena rajin dengerin murotal, keburu hancur sebelum terdeteksi..
3. *Benerin baca Qur'an* , karena efek suara kita sendirilah yang paling dasyat dalam penyembuhan.
_Selamat Mencoba dan semoga bermanfaat_😊
*Yuuk semangat Tilawah*

Sengaja tak puasa? Ngeri Lho Siksanya!

(Status Ucha Bani Sahar Effendhy shared Majalah Sakinah di fb)

Ada sebuah kisah dari sahabat Abu Umamah Al Bahili radhiyallahu ‘anhu. Beliau (Abu Umamah) menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata,”Naiklah”. Lalu kukatakan,”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.”
Kemudian dibawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. An Nasa’i dalam Al Kubra, sanadnya shahih. Lihat Shifat Shaum Nabi, hal. 25).
Lihatlah siksaan bagi orang yang membatalkan puasa dengan sengaja dalam hadits ini, maka bagaimana lagi dengan orang yang enggan berpuasa sejak awal Ramadhan dan tidak pernah berpuasa sama sekali?