Jumat, 24 Juni 2016

Hari ke-20 Puasa Ramadhan 1437 H

Alhamdulillah, tidak terasa kaki dan hati kita sudah menapak di hari ke 20 puasa.
Alhamdulillah, banyak anak-anak kecil di lingkungan kami yang mulai belajar berpuasa, menahan keinginan untuk makan dan minum di siang hari (sebagai proses pembelajaran). Semoga bisa rampung hingga hari terakhir dan bergembira di hari kemenangan. Dan semoga tidak lagi terdengar seperti tahun-tahun sebelumnya ketika sang anak sudah ada kesadaran untuk berpuasa, tetapi akhirnya tidak berpuasa karena orangtuanya tidak ada kesadaran untuk berpuasa sehingga tidak menyiapkan makan sahur bagi anak-anaknya! Hiks....
hhhmmm... apakah bisa dikatakan sebagai orangtua durhako!!! Mudah-mudahan tidak!  Semoga ke depan semuanya menjadi insan-insan yang terbaik dihadapan Allah, dan menggapai kebahagiaan di dunia dan akherat. Boleh jadi karena kebaikan sang anak bisa membuat orangtua menjadi orang yang terbaik di hadapan Allah swt.
Point-point yang mendukung kebahagiaan adalah :
1. Qalbun syakirun, rasa syukur.
2. Istri yang sholehah (pasangan yang saleh)
3. Anak yang sholeh.
4. Lingkungan yang baik.

Khoiril Anwar, Tukang "Ngarit" Penemu 4G


Pelagi Hati
Khoirul Anwar dianggap gila. Ditertawakan. Bahkan dicemooh. Idenya dianggap muskil. Tak masuk akal. Semua ilmuwan yang berkumpul di Hokkaido, Jepang, itu menganggap pemikiran yang dipresentasikan itu tak berguna.
.
Dari Negeri Sakura, Anwar terbang ke Australia. Tetap dengan ide yang sama. Setali tiga uang. Ilmuwan negeri Kanguru itu juga memandangnya sebelah mata. Pemikiran Anwar dianggap sampah.
.
Pemikiran Anwar yang ditertawakan ilmuwan itu tentang masalah power atau catu daya pada Wi-Fi. Dia resah. Saban mengakses internet, catu daya itu kerap tak stabil. Kadang bekerja kuat, sekejap kemudian melemah. Banyak orang mengeluh soal ini.
.
Tak mau terus mengeluh, Anwar memutar otak. Pria asal Kediri, Jawa Timur, itu ingin memberi solusi. Dia menggunakan algoritma Fast Fourier Transform (FFT) berpasangan.
.
FFT merupakan algoritma yang kerap digunakan untuk mengolah sinyal digital. Anwar memasangkan FFT dengan FFT asli. Dia menggunakan hipotesis, cara tersebut akan menguatkan catu daya sehingga bisa stabil.
.
Ide itulah yang diolok-olok ilmuwan pada tahun 2005. Banyak ilmuwan beranggapan, jika FFT dipasangkan, keduanya akan saling menghilangkan. Tapi Anwar tetap yakin, hipotesa ini menjadi solusi keluhan banyak orang itu.
.
Ilmuwan Jepang dan Australia boleh mengangapnya sebagai dagelan. Tapi dia tak berhenti. Anwar kemudian terbang ke Amerika Serikat. Memaparkan ide yang sama ke para ilmuwan Paman Sam.
.
Tanggapan mereka berbeda. Di Amerika, Anwar mendapat sambutan luar biasa. Ide yang dianggap sampah itu bahkan mendapat paten. Diberi nama Transmitter and Receiver. Dunia menyebutnya 4G LTE. Fourth Generation Long Term Evolution.
.
Yang lebih mencengangkan lagi, pada 2008 ide yang dianggap gila ini dijadikan sebagai standar telekomunikasi oleh International Telecommunication Union (ITU), sebuah organisasi internasional yang berbasis di Genewa, Swiss. Standar itu mengacu prinsip kerja Anwar.
.
Dua tahun kemudian, temuan itu diterapkan pada satelit. Kini dinikmati umat manusia di muka Bumi. Dengan alat ini, komunikasi menjadi lebih stabil.
.
Karya besar ini ternyata diilhami masa kecil Anwar. Dulu, dia suka menonton serial kartun Dragon Ball. Dalam film itu, dia terkesan dengan sang lakon, Son Goku, yang mengeluarkan jurus andalan berupa bola energi, Genkidama.
.
Untuk membuat bola tersebut, Goku tidak menggunakan energi dalam dirinya yang sangat terbatas. Goku meminta seluruh alam agar menyumbangkan energi. Setelah terkumpul banyak dan berbentuk bola, Goku menggunakannya untuk mengalahkan musuh yang juga saudara satu sukunya, Bezita.
.
Prinsip jurus tersebut menjadi inspirasi bagi Anwar. Dia menerapkannya pada teknologi 4G itu. Jadi, untuk dapat bekerja maksimal, teknologi 4G menggunakan tenaga yang didapat dari luar sumber aslinya.
***
Ya, karya besar ini lahir dari orang desa. Anwar lahir di Kediri, Jawa Timur, pada 22 Agustus 1978. Dia bukan dari kalangan ningrat. Atau pula juragan kaya. Melainkan dari kalangan jelata.
.
Sang ayah, Sudjiarto, hanya buruh tani. Begitu pula sang bunda, Siti Patmi. Keluarga ini menyambung hidup dengan menggarap sawah tetangga mereka di Dusun Jabon, Desa Juwet, Kecamatan Kunjang.
.
Saat masih kecil, Anwar terbiasa ngarit. Mencari rumput untuk pakan ternak. Pekerjaan ini dia jalani untuk membantu kedua orangtuanya. Dia ngarit saban hari. Setiap sepulang sekolah.
.
Meski hidup di sawah, bukan berarti Anwar tak kenal ilmu. Sejak kecil dia bahkan mengenal betul sosok Albert Einstein dan Michael Faraday. Ilmuwan dunia itu. Anwar suka membaca buku-buku mengenai dua ilmuwan tersebut, padahal tergolong berat.
.
Hobi ini belum tentu dimiliki anak-anak lain. Dan dari dua tokoh inilah, Anwar menyematkan cita-cita menjadi ‘The Next Einstein’ atau ‘The Next Faraday’.
.
Cita-cita tersebut hampir saja musnah. Saat sang ayah meninggal pada tahun 1990. Sang tulang punggung tiada. Siapa yang akan menopang keluarga? Perekonomian sudah tentu tersendat. Padahal kala itu Anwar baru saja menapak sekolah dasar.
.
Anwar tentu khawatir, sang ibu tak mampu membiayai sekolah. Apalagi hingga perguruan tinggi. Tapi Anwar memberanikan diri, mengungkapkan keinginan bersekolah setinggi mungkin kepada sang ibu. Kepada emak.
.
Anwar menyiapkan diri. Sudah siap apabila sang emak menyatakan tidak sanggup. Tapi jawaban yang dia dengar di luar dugaan. Bu Patmi malah mendorongnya untuk bersekolah setinggi mungkin.
.
“Nak, kamu tidak usah ke sawah lagi. Kamu saya sekolahkan setinggi-tingginya sampai tidak ada lagi sekolah yang tinggi di dunia ini,” ucap Anwar terbata, karena tak kuasa menahan haru saat mengingat perkataan emaknya itu.
.
Perkataan itu menjadi bekal Anwar untuk melanjutkan langkah meraih mimpi. Lulus SD, dia diterima di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Kunjang. Kemudian dia meneruskan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Kediri. Salah satu sekolah favorit di Kota Tahu itu.
.
Saat SMA itulah dia memilih meninggalkan rumah. Dia tinggal di rumah kost, tidak jauh dari sekolah. Jarak rumah dengan sekolah memang lumayan jauh. Dia sadar pilihan ini akan menjadi beban sang ibu.
.
Masalah itu membuat Anwar harus memutar otak. Dia lalu memutuskan untuk tidak sarapan demi menghemat pengeluaran. Tetapi, itu bukan pilihan tepat. Prestasi Anwar turun lantaran jarang sarapan.
.
“Karena tidak sarapan, setiap jam sembilan pagi kepala saya pusing,” kata dia.
.
Kondisi Anwar sempat terdengar oleh ibu salah satu temannya. Merasa prihatin dengan kondisi Anwar, ibu temannya itu menawari dia tinggal menumpang secara gratis. Anwar tidak perlu lagi merasakan pusing saat sekolah. Sarapan sudah terjamin dan prestasi Anwar kembali meninggi.
.
Lulus dari SMA 2 Kediri, Anwar lalu melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Dia diterima sebagai mahasiswa Jurusan Teknik Elektro dan ditetapkan sebagai lulusan terbaik pada 2000. Dia kemudian mengincar beasiswa dari Panasonic dan ingin melanjutkan ke jenjang magister di sebuah universitas di Tokyo.
.
Sayangnya, Anwar tidak lolos seleksi universitas tersebut. Dia merasa malu dan tidak ingin dipulangkan. Alhasil, dia memutuskan beralih ke Nara Institute of Science and Technology NAIST dan diterima.
.
Di universitas tersebut, Anwar mengembangkan tesis mengenai teknologi transmitter dan menggarap disertasi bertema sama dalam program doktoral di universitas yang sama pula.
.
Dan Anwar, kini telah menelurkan karya besar. Temuan yang ditertawakan itu dinikmati banyak orang. Termasuk para ilmuwan yang mengolok-olok dulu...
.
Sumber: dream.co.id | @kisahsemangat

(status Safri Anwar Al Jundi shared Pelagi Hati's post.) 

=======
Lebaran sebentar lagi ===>  www.onstore.co.id/s/00367940001 

Selasa, 21 Juni 2016

#serifullmoon

Malam ini (21 Juni 2016) kamu terlihat sangat cantik sekali di balik layar, hanya sayang di alam nyata kamu sembunyi di balik awan.

Waktu masih menunjukkan area sepertigamalam. Panggilan subuh masih sekitar penggalan jam. Dilayar kaca terlihat jajaran rapih berkeliling dihiasi lantunan ayat ayat suci yang diperdengarkan sang imam dalam prosesi penghambaan manusia kepada Allah di tanah suci-Nya, Mekkah Al-Mukarromah.
Tiba-tiba, crew mengarahkan kamera ke bulatan bulan purnama yang sempurna di atas langit yang bersih. Cantik sekali. Seolah menjadi saksi orang yang sedang sholat dan thawaf di Masjidil Haram. Subhanallah. Allahu Akbar.
Rasa penasaran, ku paksakan untuk keluar rumah untuk menyaksikan salah satu tanda kebesaran Allah Yang Maha Agung. Ahh...sayangnya, dalam keheningan ku dapatkan kekecewaan, karena sang cantik sembunyi di balik awan. Hiks!
"Dan telah Kami tetapkan tempat peredaran bagi bulan, sehingga (setelah ia sampai ke tempat peredaran yang terakhir) kembalilah ia seperti bentuk tandan yang tua." (Al Quran surat Yasin ayat 39)

Catatan : Gambar hanya ilustrasi bulan purnama, di ambil di dusun Cambang-cambangan pulau Tana keke, kab Takalar, Sulawesi Selatan.

Minggu, 19 Juni 2016

Apakah syeitan benar-benar dibelenggu pada bulan Ramadhan?



Banyak mubaligh yang menyampaikan hal ini, tentu dengan dalil yang ada.
Pertanyaan berikutnya yang biasa terlontar yaitu kenapa kemaksiatan dan pelanggaran terhadap syariat Allah masih tetap ada, yang berarti proses godaan syeitan tetap berlangsung. Katanya dibelenggu atau diikat.
Jawaban diplomatis para Mubaligh biasanya mengatakan begini, Syeitan itu kan dari jenis Jin dan Manusia. Syeitan dari jenis Jin lah yang dibelenggu, dan syeitan dari jenis manusia tetap bergentangan dan berkeliaran mencari mangsanya, sehingga kemaksiatan dan pelanggaran terhadap syariat Allah masih tetap berlangsung, artinya proses untuk pengalihan manusia menjadi hamba Allah swt tetap ada.

Bolehlah....kita simpan pernyataan di atas. Kita lihat dulu syeitan dari jenis manusia dulu. Sosok syeitan dari jenis manusia yang sangat jelas dalam Al-Quran digambarkan Allah swt salah satunya sebagai kaum munafik. "Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman!" Tetapi apabila mereka kembali kepada syeitan-syeitan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kami, kami hanyaa berolok-olok". (Surat Al-Baqarah ayat 14)

Namanya pemimpin dan anak buah kaum munafik sama saja. Tujuan mereka ingin menghancurkan Islam dari dalam. Boleh jadi kalau ada kaum munafik sekarang ini, orang bilang jaman modern, modern juga pemikiran mereka. Boleh jadi ayat-ayat Al-Quran sudah ada dalam fikiran mereka, hafal luar dalam, hanya tidak masuk di hati, karena di hatinya ada penyakit ingin menghancurkan Islam.

Sekarang pertanyaannya bagaimana menangani syeitan seperti ini ketika bulan Ramadhan. Memang ada hadits-hadits yang menyatakan ketika kita diganggu seseorang yang akan mengganggu puasa kita maka kita usaha menghindar dan mengatakan bahwa kita sedang puasa. Tetapi bagaimana kalau syeitan-syeitan manusia ini terus-terus merongrong kita dengan berbagai macam trik supaya kita rusak dari ibadah yang diperintahkan Allah swt. Semakin modern dunia semakin modern juga cara-cara mereka, bahkan permainan samar-samar pun kadang mereka lakukan, dan yang begini hanya bisa dideteksi oleh orang yang punya akal. Yang tidak punya akan tentu akan mempunyai kesimpulan yang salah, bahkan bolah jadi dia sudah masuk perangkap syeitan itu sendiri.

Dalam tingkatan tertentu, tentunya kita bisa diam saja. Rasulullah sendiri, melawan mereka hingga berperang secara fisik (perang badar) terjadi pada bulan Ramadhan. Nah loh!!? sekarang lebih hebat lagi mereka menyerang melalui perangkat canggih seperti kekuatan struktur organisasi, media sosial, bahkan aturan-aturan yang membatasi hingga penekanan-penekanan secara fisik. Apakah mau diam saja? tentu saja tidak karena syeitan itu harus tetap dilawan, sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.

Nah, yang menjadi pertanyaan lanjutan adalah apakah syeitan-syeitan manusia ini tidak didukung, digerakkan, dibisikan dalam hatinya untuk terus menyerang kaum muslimin oleh syeitan-syeitan Jin. Pertanyaan lebih pribadi, apakah kita tidak pernah merasakan bisikan-bisikan di hati untuk bermaksiat dan melanggar perintah Allah pada bulan Ramadhan ini. Kalau ada, darimana bisikan-bisikan itu kecuali dari syeitan yang berbentuk Jin yang bisa masuk ke dalam hati kita. Seperti dalam surat An-Nas yang kita hafal semuanya. Nah Loh?!!

Jadi terlepas dari dalil hadits yang menyatakan syeitan di belenggu, tetapi kenyataannya seperti itu, kita masih merasakan bisikan-bisikan syeitan yang ada dalam dada/hati kita, kalau begitu titik temunya ada dimana?

Penjelasan ilmiah dari kita berpuasa seperti berikut. Ada yang menyatakan bahwa dengan puasa, tidak makan di siang hari, pasokan energi ke dalam organ-organ tubuh yang lain berkurang, apalagi puasa ini didasarkan kepada keimanan, sehingga rasa 'lapar' dari organ-organ tubuh lain tidak terpenuhi dengan full sehingga syeitan tidak bisa memanfaatkan organ-organ tubuh itu untuk diarahkan berbuat maksiat. Salah satu contoh sederhana kalau pasokan energi kurang, maka kehidupan 'sex' juga akan berkurang. Disinilah istilah syeitan terbelenggu tidak bisa berbuat banyak. Bahkan ada keterangan yang menyatakan bahwa syeitan akan sangat ketakutan kepada manusia-manusia yang berpuasa dengan landasan iman.

Syeitan terbelenggu!!!

Selamat melawan dan berperang dengan syeitan, syeitan dari Jin maupun syietan manusia, smoga kita semua selalu menang atas godaan dan gangguannya.
Wallahu 'alam.

Sabtu, 18 Juni 2016

Komunikasi dengan rasa penuh cinta

Shalat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya serta aktifitas kehidupan sehari-hari yang didasarkan atas keimanan, itu semua merupakan bentuk komunikasi kita, manusia sebagai makhluk Allah, kepada Allah sebagai Penciptanya (kholiq). Komunikasi yang selalu berlangsung (kontinyu) dan dengan cara yang telah ditetapkan, akan terasa indah jika komunikasi itu didasarkan rasa cinta sang makhluk kepada Kholiqnya.

Jika ini sudah terjadi, diharapkan rasa cinta itu pun akan berbalas dari Sang Kholiq kepada makhluk-Nya. Sehingga akibat lebih jauhnya akan menimalisir segala kekurangan yang ada pada manusia, sebagai makhluk.

“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’ Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-Quran surat Ali-Imran ayat 31)

Bagaimana dengan komunikasi antara sesama makhluk, misalnya antara manusia dengan manusia. Tentu sudah seharusnya komunikasi yang terjalin harus didasarkan cinta kepada Allah, jangan sampai merusaknya. Jika komunikasi antara sesama manusia justru menghancurkan cinta manusia kepada Allah, maka hal itu akan berakibat kepada manusia itu sendiri.

Berbicara komunikasi karena dilandasi cinta kepada Allah, berlaku juga ketika kita berhubungan dengan orang-orang di luar keyakinan kita, bahkan orang-orang yang sombong sekalipun. Orang-orang yang sombong yang merendahkan Allah dan aturan-Nya, dalam tingkatan tertentu kita pun harus lebih sombong dari mereka untuk menjaga martabat kekuasaan Allah dan aturan-Nya kalau perlu berperang dengan mereka (berjihad), seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya,

Kamis, 16 Juni 2016

Melanggar "agama" membawa "berkah"!


Klo kita melihat akar kata "agama", katanya 'a' itu artinya tidak dan 'gama' itu artinya kacau. Jadi sederhananya "agama" artinya tidak kacau. Suatu ketetapan yang dibuat supaya orang atau sekumpulan orang (komunitas) yang terikat dengannya hidupnya tidak kacau, bahasa lain teratur, rapih.


Dalam terminologi kehidupan manusia dimana mereka sepakat untuk membuat sebuah aturan untuk kebaikan bersama baik itu tertulis atau tidak, entah apakah itu namanya Undang-undang, peraturan, adat dan lain-lain pada dasarnya klo dilihat dari definisi kata tadi itu juga termasuk agama. Tentu didalamnya baik secara eksplisit maupun implisit mengandung arti sangsi, hukuman dan lain sebagai jika seseorang melanggar "agama" tersebut, yang nilainya atau besaran sangsi itu akan disesuaikan dengan jenis dan kualitas pelanggarannya.


Boleh jadi dengan perkembangan zaman "agama" yang dibuat komunitas itu akan berubah sesuai kebutuhan, entah itu berubah total atau sekedar penyempurnaan dan penyesuai dan lain sebagainya. Namun tetap pada intinya bahwa itu untuk kebaikan bersama dalam hubungan sesama di komunitas tersebut.


Namun, bisa jadi bahwa "agama" bagi suatu komunitas tertentu dinilai tidak sesuai bagi komunitas yang lainnya. Yaahhh, wajarlah namanya juga beda komunitas. Tetapi apakah komunitas lain berhak untuk mengkritisi "agama" komunitas lain. Saya kira selama untuk kebaikan komonitasnya sendiri (misalnya untuk studi perbandingan, studi kasus dan lain sebagainya), tidak masalah, tetapi kalau sampai mengintervensi dan mengobok-obok itu akan menjadi masalah (dengan cara apapun). Karena di situ ada kewenangan, ada jiwa kebersamaan, ada kebanggaan sebagai sebuah komunitas.


Yang jadi pertanyaan, apakah jika sebuah komunitas yang berada dalam komunitas yang lebih besar, kemudian komunitas yang lebih besar berhak sewenang-wenang mengatur "agama" komunitas-komunitas yang lebih kecil yang ada di dalamnya? Logikanya, bergabungnya komunitas-komunitas kecil dalam sebuah komunitas besar tentu ada kesepakatan, ada hak dan kewajiban dan ada penghargaan, penghormatan kepada sesama komunitas. Tentu yang besar tidak bisa sewenang-wenang untuk merubah atau menghapuskannya tanpa ada saling pengertian, pembicaraan dan keputusan bersama. Kalau tidak seperti itu maka akan ada yang tersakiti salah satunya.


Kasus Saeni yang melanggar perda kemudian mendapat “berkah” ratusan jutaan rupiah adalah kasus yang cukup menarik. Saya tidak usah menceritakan lagi masalah ini, hanya saya hanya ingin bertanya sekitar kasus tersebut :
1.   Apakah akan memicu orang untuk melanggar dengan berharap  “berkah”?
        2. Apakah yang memberi “berkah” termasuk katagori intervensi terhadap “agama” dari komunitas yang ada? Atau sekedar belas kasihan tanpa mengerti permasalahan yang ada?
       3.   Apakah penghapusan “agama” dengan begitu saja yang katanya tidak sesuai dengan komunitas yang lebih besar adalah bentuk “arogansi” dari kewenangan sesuatu yang besar atau apakah?
       4.   Dan banyak lagi point-point yang ada untuk dikembangkan untuk membuka wawasan kita.

T    Trima kasih

    =======





Selasa, 14 Juni 2016

Sepertiga perjalanan Ramadhan

Kaki sudah menginjakkan di hari  Ramadhan yang ke sepuluh.  Rasanya ada perbedaan di Ramadhan tahun lalu.  Entahlaaahhhh...... kalau di tempat lain.  Di tempat di mana saya tinggal, hari-hari pertama di Masjid tidak penuh seperti tahun lalu.  Untuk masalah ini, banyak teman-teman yang masih menghibur dengan mengatakan bahwa boleh jadi mereka yang tahun lalu datang dan tidak datang lagi ke Masjid ini, mereka pulang kampung atau pergi ke masjid lain. Yaahhhh...mudah-mudahan seperti itu.

Anak-anak yang main-main di masjid agak berbeda dengan tahun lalu.  Satu dua masih orang lama tetapi sekarang kebanyakan datang dari wilayah lain, yang syukur-syukur saya mengenal mereka sehingga masih bisa dikendalikan.  Tetapi berita jeleknya adalah yang menimpa kakak-kakan angkatannya yang memang pergaulannya sudah jauh dari kebaikan.  Terakhir terdengar bahwa polisi menangkap bahkan hingga dua orang dan ditembak lagi kakinya karena berperan sebagai Begal. Inna lillahi wainna ilaihi roji'on.

Yang langsung terasa akibat dari kenakalan anak-anak adalah hilangnya HP saya yang saya simpan di meja.  Padahal saya sedang menunggu telepon penting dari seseorang.  Alhamdulillah, ternyata berpindah tempatnya hp terlacak hingga chip nya masih saya dapat selang satu hari.  Fisik hpnya sudah terlanjur digadaikan ke orang lain.  Saya masih berharap fisiknya tetap kembali karena saya masih membutuhkan nomor-nomor yang ada di dalamnya.  Akhirnya di hari ke 4 atas kebaikan seseorang yang penuh tanggung jawab, hp saya pun kembali.  Sebenarnya hp itu bukan hp mahal, hp harga tiga ratus ribuan. Namun karena nomor-nomor yang ada di dalamnya jadi terasa sangat penting bagi saya.

Pak Ustadz bilang bahwa sumber kebahagian seseorang itu adalah ketika kita mempunyai Hati yang selalu bersyukur (1), Pasangan yang sholeh/sholehah (2), Anak-anak yang juga sholeh/sholehah (3), dan lingkungan yang baik yang mendukung kehidupan yang aman tentram, sejahtera.  Semoga Allah memberikan kepada kita  kebahagiaan itu dengan kondisi yang ada. Dan tentunya Allah bisa memberikan kepada kita untuk menyelesaikan Ramadhan yang kita ajalani sekarang ini. Amin