Senin, 04 Juli 2016

Usman bin Affan ra : Yahudi pun bertekuk lutut di hadapannya.





Sumber : Toko Buku Muhasabah Hati
July 3 at 1:06pm
ANTUM PERHATIKAN, ,
DULU, di Madinah, tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi, ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Sumur itu dikenal dengan nama :Sumur Ruma (The Well of Ruma) karena dimiliki seorang Yahudi bernama Ruma.
Sang Yahudi menjual air kepada penduduk Madinah, dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Di waktu waktu tertentu sang Yahudi menaikkan seenaknya harga airnya, dan rakyat Medinahpun terpaksa harus tetap membelinya. karena hanya sumur inilah yang tidak pernah kering.
Melihat kenyataan ini, Rasulullah berkata, "kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah Surga". Seorang sahabat nabi bernama Usman bin Affan mendekati sang Yahudi. Usman menawarkan untuk membeli sumurnya. Tentu saja Ruma sang Yahudi menolak. Ini adalah bisnisnya, dan ia mendapat banyak uang dari bisnisnya.
Tetapi Usman bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi ia juga negosiator ulung. Ia bilang kepada Ruma, "aku akan membeli setengah dari sumur mu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya" Melalui negosiasi yang sangat ketat, akhirnya sang Yahudi mau menjual sumurnya senilai 1 juta Dirham dan memberikan hak pemasaran 50% kepada Usman bin Affan.
Apa yang terjadi setelahnya membuat sang Yahudi merasa keki. Ternyata Usman menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Pendudukpun mengambil air sepuas puasnya sehingga hari kesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma sang Yahudi. Merasa kalah, sang Yahudi akhirnya menyerah, ia meminta sang Usman untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya. Tentu saja Usman harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya.
Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman, atau The Well of Usman. Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini. Kurmanya dieksport ke berbagai negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan. Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan. Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang di saat ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun (atau setara 200 Milyar pertahun)
Sang Yahudi tidak akan penah menang. Kenapa?
Karena visinya terlalu dangkal. Ia hanya hidup untuk masa kini, masa ia ada di dunia. Sedangkan visi dari Usman Bin Affan adalah jauh kedepan. Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan.
Sebuah shadaqah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati.
Masya' Allah

Minggu, 03 Juli 2016

Al Qur’an Pemelihara dan Penyelamat Otak Manusia



Akhwatmuslimah.com – Al Qur’an dapat memelihara dan menyelamatkan otak manusia dengan cara membaca atau menghafalkannya. Apalagi kegiatan tersebut dilakukan sejak anak-anak dalam usia pertumbuhan. Dengan kata lain, “Al Qur’an save the brain”.
Pendapat ini mengemuka dalam Seminar “Peran Ayah dalam Mengansipasi Dampak Media Visual pada Perkembangan Psikologis Anak” yang diselenggaran Sekolah Nurul Iman, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Sabtu, 9 Mei 2015. Tampil sebagai pembiacara Ahli Syaraf Dr. dr. Tiara Aninditha, Sp.S, Pakar tadabbur Qur’an Ust. Bachtiar Nasir, Lc, MM, dan artis muslimah Astrie F. Ivo.
Dalam paparannya Dr. dr. Tiara Aninditha yang juga Dosen Syarah di Faklutas Kedokteran UI, menjelaskan bahwa usia 0 sampai 5 tahun adalah masa terbaik dalam pertumbuhan syaraf-syaraf otak anak. Sedangkan usia 7-15 tahun adalah masa terbaik dalam pembangunan koneksi antar syaraf otak.
“Sehingga asupan interaksi yang berlangsung antara anak dan orangtua pada usia itulah yang akan menjadi pegangan hidup seseorang pada usia berikutnya,” papar dr. Tiara.
Seseorang yang sering melihat kekerasan, ungkapnya, baik dari orangtua, sosial media, atau gadged, seperti games kekerasan, maka dari hasil penelitian yang dilakukan pada anak yang selama dua minggu terus-menerus bermain game, hasilnya cukup membuat salah satu bagian otak anak itu menjadi tidak berfungsi, alias si anak menjadi bebal.
“Yang akan mereka tiru hanya perilaku kekerasannya,” ungkap dr. Tiara.
Dokter syaraf yang praktek di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini, menegaskan mengapa Islam pernah mengalami masa “golden age” (masa kejayaan) di masa awal pertumbuhan Islam –dengan banyaknya lahir pemikir-pemikir muda–, karena anak-anak pada masa itu sangat dekat dengan Al Qur’an. “Artinya, Al Qur’an save the brain,” katanya.
Karena itu, lanjutnya, jika para orangtua ingin mendidik anaknya dengan benar dan cerdas secara edukasi, maka disarankan untuk mengajarkan Al Qur’an sejak dini. “Jadi tidak benar, jika ada yang mengatakan bahwa untuk mencerdaskan otak anak, makasejak dalam kandungan harus sering diperdengarkan dengan musik klasik,” ujar dr. Tiara yang menganjurkan seaiknya ibu-ibu hamil untuk banyak membaca atau mendengarkan murotal Al Qur’an.
Senada dengan dr. Tiara, Ust. Bachtiar juga menegaskan Al Qur’an memang mampu menyembuhkan otak yang sudah “rusak”. Menurutnya, tidak benar jika otak anak-anak yang telah dirusak oleh peristiwa kekerasan di dalam rumah tangga atau oleh games kekerasan, maka tidak dapat disembuhkan di hari tuanya.
“Yang dapat menyembuhkannya hanya Al Qur’an, baik dengan cara dibaca atau dihafalkan,” ujar Ust. Bachtiar sambil mencontohkan pada riwayat hidup sahabat Rasullah khalifah Umar bin Khatab dan Khaid bin Walid.
“Khalifah Umar bin Khatab dan Khalid bin Walid itu sebelum masuk Islam, mereka adalah orang yang sangat dekat dengan kekerasan. Mereka disebut “singa dan serigala gurun pasir”. Namun saat mereka sudah masuk Islam dan dekat dengan Al Qur’an, mereka pun kemudian menjadi orang-orang terbaik di zaman kejayaan Islam,” ungkap Ust. Bachtiar.
Tentang peran ayah dalam membentuk jiwa dan karakter anak, Ust. Bachtiar memaparkan kisah Nabi Ya’qub di dalam Al Qur’an. Dimana dari kisah sebelum wafatnya Nabi Ya’qub tersebut, ada tiga poin penting yang dapat menjadi tolak ukur keberhasilan seorang ayah selama hidupnya dalam mendidik anak-anaknya.
“Pertama, tanamkan pada jiwa anak untuk selalu mentauhidkan Allah. Kedua, agar anak tidak menyekutukan Allah. Dan ketiga, anak-anak harus terikat pada syariat (aturan/tuntunan) Allah dan Rasulnya,” tandas Pimpinan AQL Islamic Center ini. “Jika ketiga hal itu sudah kita ajarkan secara sungguh-sungguh, isnya Allah kita telah lulus sebagai ayah yang amanah.”


Sumber: http://www.akhwatmuslimah.com/2015/09/09/3302/al-quran-pemelihara-dan-penyelamat-otak-manusia/#ixzz4DOHBf9Lg
Follow us: @akhwatm on Twitter | akhwatmuslimahcom on Facebook

Rabu, 29 Juni 2016

"Bagaimana Ucapan Idul Fitri yang Sesuai Sunnah?"

(Fitriadi Akbar shared Agus Salaf's post at fb)
Oleh : Ust. Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A.
Sehubungan dengan akan datangnya Idul Fitri, sering kita dengar tersebar ucapan:
“MOHON MAAF LAHIR & BATHIN ”.
Seolah-olah saat Idul Fitri hanya khusus untuk minta maaf.
Sungguh sebuah kekeliruan, karena Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan.
Memaafkan bisa kapan saja tidak terpaku dihari Idul Fitri...
Demikian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam,, mengajarkan kita
Tidak ada satu ayat Qur'an ataupun suatu Hadits yang menunjukan keharusan mengucapkan “Mohon Maaf Lahir dan Batin” disaat-saat Idul Fitri.
Satu lagi, saat Idul Fitri, yakni mengucapan :
"MINAL 'AIDIN WAL FAIZIN".
Arti dari ucapan tersebut adalah :
“Kita kembali dan meraih kemenangan”
KITA MAU KEMBALI KEMANA?
Apa pada ketaatan atau kemaksiatan?
Meraih kemenangan?
Kemenangan apa?
Apakah kita menang melawan bulan Ramadhan sehingga kita bisa kembali berbuat keburukan?
Satu hal lagi yang mesti dipahami, setiap kali ada yang mengucapkan
“ Minal ‘Aidin wal Faizin ”
Lantas diikuti dengan kalimat,
“ Mohon Maaf Lahir dan Batin ”.
Karena mungkin kita mengira artinya adalah kalimat selanjutnya.
Ini sungguh KELIRU luar biasa...
Coba saja sampaikan kalimat itu pada saudara-saudara seiman kita di Pakistan, Turki, Saudi Arabia atau negara-negara lain....
PASTI MEREKA PADA BINGUNG....
Sebagaimana diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru sehingga sudah sepantasnya kita HINDARI.
Ucapan yang lebih baik dan dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , yaitu :
"TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM"
(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).
Jadi lebih baik, ucapan / SMS /BBM / WA,, kita :
" SELAMAT IEDUL FITRI. TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM "
Barakallahu Fiikum
Kewajiban kita hanya men-syiar kan selebihnya kembalikan kepada masing-masing.. Krn kita tdk bisa memberi hidayah kpd orang lain hanya Allah lah yg bisa memberi hidayah kepada hamba NYA yg IA kehendaki
Semoga bermanfaat... 🙏
yg mau share fadhol...

========

Kebutuhan Lebaran silahkan Klik ====> www.onstore.co.id/s/00367940001 

MIRACLE OF QURAN : Ini Tidak Mungkin! Muhammad Pasti Menggunakan Mikroskop



DR. KEITH L. MOORE MSc, PhD, FIAC, FSRM adalah Presiden AACA (American Association of Clinical Anatomi ) antara tahun 1989 dan 1991. Ia menjadi terkenal karena literaturnya tentang mata pelajaran Anatomi dan Embriologi dengan puluhan kedudukan dan gelar kehormatan dalam bidang sains.
Dia menulis bersama profesor Arthur F. Dalley II, Clinically Oriented Anatomy, yang merupakan literatur berbahasa Inggris paling populer dan menjadi buku kedokteran pegangan di seluruh dunia. Buku ini juga digunakan oleh para ilmuwan, dokter, fisioterapi dan siswa seluruh dunia.
Pada suatu waktu, ada sekelompok mahasiswa yang menunujukkan referensi al-Qur’an tentang ‘Penciptaan Manusia’ kepada Profesor Keith L Moore, lalu sang Profesor melihatnya dan berkata :
“Tidak mungkin ayat ini ditulis pada tahun 7 Masehi, karena apa yang terkandung di dalam ayat tersebut adalah fakta ilmiah yang baru diketahui oleh ilmu pengetahuan modern! Ini tidak mungkin, Muhammad pasti menggunakan mikroskop!”
Para Mahasiswa tersebut lalu berkata, “Prof, bukankah saat itu Mikroskop juga belum ada?”
“Iya, iya saya tau. Saya hanya bercanda, tidak mungkin Muhammad yang mengarang ayat seperti ini,” jawab sang profesor.


***
“Kemudian Kami menjadikan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan alaqoh (sesuatu yang melekat), lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya mahluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah Pencipta yang paling baik,” [QS. Al Mu’minuun: 13-14]
Jika di cermati lebih dalam, sebenarnya ‘alaqoh’ dalam pengertian Etimologis yang biasa di terjemahkan dengan ‘segumpal darah’ juga bermakna ‘penghisap darah’, yaitu lintah.
Padahal tidak ada pengumpamaan yang lebih tepat ketika Embrio berada pada tahap itu, yaitu 7-24 hari, selain seumpama lintah yang melekat dan menggelantung di kulit.
Embrio itu seperti menghisap darah dari dinding Uterus, karena memang demikianlah yang sesungguhnya terjadi, Embrio itu makan melalui aliran darah. Itu persis seperti lintah yang menghisap darah. Janin juga begitu, sumber makanannya adalah dari sari makanan yang terdapat dalam darah sang ibu.
Ajaibnya, Embrio Janin dalam tahap itu jika di perbesar dengan mikroskop bentuknya benar-benar seperti lintah. Dan hal itu tidak mungkin jika Muhammad sudah memiliki pengetahuan yang begitu dahsyat tentang bentuk janin yang menyerupai lintah lalu menulisnya dalam sebuah buku.
Padahal pada masa itu belum di temukan mikroskop dan lensa. Jelas itu adalah pengetahuan dari Tuhan, itu wahyu dari Allah SWT, yang Maha Mengetahui segala Sesuatu.
Ayat tersebutlah yang membuat sang profesor akhirnya memeluk agama Islam dan merevisi beberapa kajian ilmiahnya karena Al-Quran ternyata telah menjawab beberapa bagian yang selama ini membuat sang profesor gusar. Ia merasa materi yang ditelitinya selama ini terasa belum lengkap atau ada tahapan dari perkembangan Embrio yang kurang.
***
Artikel Biografi Dr. Keith L. Moore >> http://goo.gl/OHjQW
Video Pernyataan Lengkap sang Profesor:
Embryology in the Qur’an by: Dr. Keith L. Moore >> http://goo.gl/8hS87 (Durasi 1 jam 12 Menit)
Video Biografi dan Wawancara Dr. Keith L. Moore >> http://goo.gl/CE1mW (Durasi 1 jam 8 Menit)
(Pizaro/Islampos/Zilzal/File Islam)
(https://www.islampos.com/ini-tidak-mungkin-muhammad-pasti-menggunakan-mikroskop-20436/)

DULUNYA IA HAFAL 30 JUZ, SEMUA HILANG TAK BERSISA KECUALI 2 AYAT SAJA

Al Rohilah As Seggaf
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه
Lelaki gagah itu mengayunkan pedangnya menebas
tubuh demi tubuh pasukan romawi.
Ia adalah dulunya termasuk dari Tabi’in (270 H) yang HAFAL AL QURAN.Namanya adalah sebaik-baik nama, ‘Abdah bin ‘Abdurrahiim.
Keimanannya tak diragukan.
Adakah bandingannya di dunia ini seorang MUJAHID nan
NAN HAFAL AL QURAN, terkenal akan keilmuannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa daudnya serta ketaqwaan dan keimanannya…???
Namun tak dinyana, akhir hayatnya mati dalam kemurtadan dan hilang semua ISI AL QURAN dalam hafalannya melainkan 2 AYAT SAJA YANG TERSISA.
Ayat apakah itu??
Apakah penyebabnya..??
Inilah kisahnya :
Pedangnya masih berkilat-kilat memantul cahaya mentari
yang panas di tengah padang pasir yang gersang.
Masih segar berlumur merahnya darah orang romawi.
Ia hantarkan orang romawi itu ke neraka dengan pedangnya.
Tak disangka pula,
nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang WANITA ROMAWI,
tidak dengan pedang melainkan dengan ASMARA.
Kaum muslimin sedang mengepung kampung romawi.
Tiba-tiba mata ‘Abdah tertuju kepada seorang wanita romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu
begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya.
Dia lupa bahwa tak seorangpun dijamin tak lolos su’ul khotimah.
Tak tahan, iapun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu.
Isinya kurang lebih:
“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”
Perempuan itu menjawab:
“Kakanda, masuklah agama nashrani maka aku jadi milikmu.
”Syahwat telah memenuhi relung hati ‘Abdah sampai-sampai ia menjadi lupa beriman, tuli peringatan dan buta Al Quran.
Hatinya terbangun tembok anti hidayah.
Khotamallaahu ‘ala qulubihim wa’ala sam’ihim wa’ala abshorihim ghisyawah… Astaghfirullah, ma’adzallah.
Pesona wanita itu telah mampu mengubur imannya di dasar samudra.
Demi tubuh cantik nan fana itu ia rela tinggalkan islam.
Ia rela murtad.
Menikahlah dia di dalam benteng.
Kaum muslimin yang menyaksikan ini sangat terguncang. Bagaimana mungkin? Bagaimana bisa seorg hafidz yang hatinya dipenuhi Al Qur’an meninggalkan Allah Ta'ala dan menjadi hamba salib?
Ketika dibujuk untuk taubat ia tak bisa.
Ketika ditanyakan kepadanya, “Dimana Al Quran mu yang dulu???”
Ia menjawab,
“Aku telah lupa semua isi Al Quran kecuali 2 ayat saja yaitu :
رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan,
kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.”
ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ ۖفَسَوْفَ يَعْلَمُونَ.
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong),
maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).”
(QS. Al Hijr: 2-3)
Seolah ayat ini adalah hujjah untuk dirinya,
kutukan sekaligus peringatan Allah Ta'ala yang terakhir namun tak digubrisnya.
Dan ia bahagia hidup berlimpah harta dan keturunan bersama kaum nashrani. Dalam keadaan seperti itulah dia sampai mati.
Mati dalam keadaan MURTAD.
Ya Allah, seorang hafidz nan mujahid saja bisa Kau angkat nikmat imannya berbalik murtad jika sudah ditetapkan murtad,
Apa lagi hamba yang banyak cacat ini.
Tak punya amal andalan.
Saudaraku, doakan aku dan aku doakan pula kalian agar Allah Ta'ala lindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia serta dihindarkan dari ketetapan yang buruk di akhir hayat.
Ma taraktu ba’di fitnatan adhorro ‘ala ar rijaal min nisaa…
“Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang maha dahsyat bahayanya bagi lelaki kecuali fitnah wanita.”
(Muttafaq ‘alaih).
Semoga bermanfaat
Silahkan share
"KISAH TERBELAHNYA IMAN"
اللهم صلو على سيدنا محمد ...

Minggu, 26 Juni 2016

Anda dan anak anda mungkin lebih beruntung dari anak ini, tapi….


Sesampainya di rumah siang itu, terlihat suasana rumah agak ramai dengan anak-anak kecil. Baru duduk di kursi rotan yang sudah tua (yang duduk juga sudah tua! Hiks), sang guru mengaji datang dan mengatakan, “Ayah, tolong dilihat anak-anak ini adzan, karena mau bertanding!” (waduh!! Sepertinya saya ini ahli adzan? Nafas saja sudah ngos-ngosan, maklum tua mi!) Saya lihat anak-anaknya baru kelihatan di rumah saya. Setelah mendapat kejelasan asal-usul mereka saya pun mengiyakan permintaan sang guru mengaji.

Satu, satu  anak ini mengumandangkan adzan, sambil saya memberikan penjelasan sedikit dari kekurangan yang ada.  Dalam hati saya, keduanya lebih bagus dari anak-anak yang biasanya mengaji di sini yang ikut bertanding adzan di masjid dekat rumah tahun lalu.

Dua hari kemudian, kejadian yang hampir sama terulang lagi. Sesampainya di rumah, terlihat salah satu anak yang adzan kemarin sedang duduk di halaman rumah sendirian, sementara anak-anak perempuan saya dengar sedang latihan mengaji atau apalah di ruangan bagian dalam yang biasa dipakai mengaji. Saya pun duduk manis di sofa yang sudah tua juga, sambil memainkan smartphone murah untuk bersilaturahmi dengan dunia medsos yang saya terkait dengannya.  Tidak lama berselang anak saya yang bungsu masuk dari ruangan dimana anak-anak perempuan sedang berlatih, kemudian meminta sesuatu kepada saya, “Ayah, tolong ajarkan si x adzan karena mau ikut lomba!” Yang dimaksud si x adalah anak yang di luar yang saya dengarkan adzannya kemarin. Saya Tanya balik, “mana yang satunya?” Tapi si bungsu tidak tahu dimana keberadaan anak yang satu lagi.  

Akhirnya saya suruh masuk si x itu. Setelah masuk ruangan dia mulai mengumandangkan adzan.  Terdengar apa yang sudah saya sampaikan sebagai bahan koreksi kemarin, sudah dia perbaiki tinggal masalah sedikit yang umum bagi orang Indonesia apalagi anak-anak, yaitu pengucapan huruf arab yang benar (makhroj).  Sebenarnya saya juga tidak terlalu pandai mengucapkan huruf-huruf arab terutama yang hruruf-huruf yang sulit, palagi kalau sudah digandengkan…uuuhhhhh repotnya lidah bermain untuk mengucapkan huruf dengan benar.

Ahad Malam

Sepulang dari masjid sholat taraweh, mendekati rumah terlihat anak perempuan berbajukan putih-putih membawa kantong bingkisan dan piala. Aahhh…rupanya mereka baru pulang bertanding, setelah dekat saya Tanya, jadi juara ya? Anak perempuan itu dengan perasaan senang sambil tersenyum menjawab bahwa dia juara dua pildacil.  Waahh…saya pun memberikan selamat kepadanya.  Saya pun melanjutkan jalan kakinya, di penghujung jalan yang membelok ke arah rumah, saya ketemu dengan si x yang juga membawa bingkisan, namun tidak membawa piala.  Saya tanya, “Gimana, juara?” Anak itu pun menjawab dengan perasaan gembira, “Juara tiga!” waahhh….senang juga perasaan saya, saya Tanya, “apa hadiahnya?”. “Piala, bingkisan dan uang 200 ribu!” dengan cepatnya dia menjawab.  Saya pun acungkan jempol untuknya.  Mana pialanya ya?
Sampai di rumah ada, terlihat anak-anak perempuan lainnya mulai keluar pulang, saya pun mendapatkan kabar yang lain, yaitu juara hafalan surat-surat pendek. Terlihat piala dan piagam-piagam yang berada di lantai. Ibu dan si bungsu melaporkan bahwa yang si x juara 3 adzan.  Saya bilang sudah tahu karena tadi ketemu di jalan. Ibu pun cerita tentang anak itu, dulu dia –si x- ini mengaji di sini tetapi terus berhenti karena anak-anak yang lain kadang mengejek dia tidak punya bapak. Sekarang kembali lagi.  Ibu si x ini perilakunya kurang bagus di sekitar tetangganya karena tukang gonta-ganti pasangan. Naudzubillahi min dzalik.  Ketahuan juga, si x ini tidak puasa, alas an nya karena si ibu tidak membangunnya untuk makan sahur.  Padahal sudah banyak teman-temannya di bawah umurnya yang sudah belajar puasa. Hiks….!!! Padahal beberapa hari lalu saya membuat pengharapan semoga tidak ada berita anak yang ingin puasa tetapi tidak jadi puasa karena ibu atau orangtuanya tidak berpuasa (tidak bangun sahur).


Saya pun berharap kepada si x, semoga dia terus bisa mengumandangkan adzan mengajak kaum muslimin untuk sholat, tidak terbawa lingkungan anak-anak yang tidak baik, penghisap lem, begal dan lain sebagainya.  Terkadang tidak semua orang bisa mengumandangkan adzan (entah tidak ada kemauan atau yang lainnya).  Bagaimana pun dalam riwayat muadzin posisinya lebih tinggi dari imam sholat dan nanti di akherat akan terlihat sebagai seorang muadzin dengan lehernya yang panjang. Smogaa…..

Sabtu, 25 Juni 2016

Maka Nikmat Allah Mana Lagi Yang Kau Dustakan!! Hiks

Yusuf Mansur Network
2 hrs
Seorang Syaikh 80 tahun menjalani operasi telinga yang nyaris tuli. Setelah operasi sukses, dan bisa mendengar kembali, maka datanglah tagihan biayanya. Syaikh itu tiba2 menangis. Dokter yg melihat sang Syaikh itu merasa iba dan mengatakan bahwa bila tagihan itu terlalu tinggi maka ia akan membebaskan biaya dokter.
Maka sang Syaikh menjawab: "Aku bukan menangis karena uang yang akan aku keluarkan, tapi aku menangis karena Allah telah memberiku pendengaran yang jelas selama 80 tahun, namun Allah tidak pernah mengirimiku tagihan."
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik." (QS. Al Hasyr: 19)
Kadang NIKMAT yang Allah berikan baru kita ingat saat MUSIBAH menimpa kita...
Nikmat sehat baru teringat saat kita sakit, saat sehat kita lupa..
Nikmat kaya baru teringat saat kita jatuh miskin, saat kaya kita lupa...
Nikmat waktu luang baru teringat saat kita sibuk, saat punya waktu luang kita lupa...
Nikmat keluarga baru teringat setelah mereka tiada, saat mereka ada kita menyia-nyiakannya...
Nikmat umur baru teringat saat malaikat maut mendatangi kita, saat hidup kita melupakannya...
Nikmat Ramadhan baru terasa setelah kita ditinggalkannya...