Rabu, 13 Juli 2016

Hadiah seorang ibu untuk Allah swt.

Wanita Mulia Ibu dari Seorang Pahlawan Belia
Dalam Shifatus Shofwah oleh Ibnul Jauzi dan Masyaraqiul Asywaq oleh Ibnu Nahhas dikisahkan seorang salih yang bernama Abu Qudamah Asy-Syami.
Abu Qudamah adalah seorang yang hatinya dipenuhi kecintaan akan jihad fi sabilillah. Tak pernah ia mendengar akan jihad fi sabilillah, atau adanya perang antara kaum muslimin dengan orang kafir, kecuali ia selalu ambil bagian bertempur di pihak kaum muslimin.
Suatu ketika saat ia sedang duduk-duduk di Masjidil Haram, ada seseorang yang menghampirinya seraya berkata, "Hai Abu Qudamah, Anda adalah orang yang gemar berjihad di jalan Allah, maka ceritakanlah peristiwa paling ajaib yang pernah kau alami dalam berjihad."
"Baiklah, aku akan menceritakannya bagi kalian," kata Abu Qudamah.
"Suatu ketika aku berangkat bersama beberapa sahabatku untuk memerangi kaum Salibis di beberapa pos penjagaan dekat perbatasan. Dalam perjalanan itu aku melalui kota Raqh (sebuah kota di Irak, dekat sungai Eufrat). Di sana aku membeli seekor unta yang akan kugunakan untuk membawa persenjataanku. Di samping itu aku mengajak warga kota lewat masjid-masjid, untuk ikut serta dalam jihad dan berinfak fi sabilillah.
Menjelang malam harinya, ada orang yang mengetuk pintu. Tatkala kubukakan, ternyata ada seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan gaunnya.
"Apa yang Anda inginkan?" tanyaku.
"Andakah yang bernama Abu Qudamah?" katanya balik bertanya.
"Benar," jawabku.
"Andakah yang hari ini mengumpulkan dana untuk membantu jihad di perbatasan?" tanyanya kembali.
"Ya, benar," jawabku.
Maka wanita itu menyerahkan secarik kertas dan sebuah bungkusan terikat, kemudian berpaling sambil menangis.
Pada kertas itu tertulis, "Anda mengajak kami untuk ikut berjihad, namun aku tak sanggup untuk itu. Maka kupotong dua buah kuncir kesayanganku agar Anda jadikan sebagai tali kuda Anda. Kuharap bila Allah melihatnya pada kuda Anda dalam jihad, Dia mengampuni dosaku karenanya."
"Demi Allah, aku kagum atas semangat dan kegigihan wanita itu untuk ikut berjihad, demikian pula dengan kerinduannya untuk mendapat ampunan Allah dan Surga-Nya," kata Abu Qudamah.
Keesokan harinya, aku bersama sahabatlu beranjak meninggalkan Raqh. Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin Abdul Malik, tiba-tiba dari belakang ada seorang penunggang kuda yang memanggil-manggil,
"Hai Abu Qudamah.. Abu Qudamah.. tunggulah sebentar, semoga Allah merahmatimu," teriak orang itu.
"Kalian berangkat saja duluan, biar aku yang mencari tahu tentang orang ini," perintahku pada para sahabatku.
Ketika aku hendak menyapanya, orang itu mendahuluiku dan mengatakan,
"Segala puji bagi Allah yang mengizinkanku untuk ikut bersamamu, dan tidak menolak keikutsertaanku."
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku.
"Aku ingin ikut bersamamu memerangi orang-orang kafir," jawabnya.
"Perlihatkan wajahmu, aku ingin lihat, kalau engkau memang cukup dewasa dan wajib berjihad, akan aku terima. Namun jika masih kecil dan tidak wajib berjihad, terpaksa kutolak." Kataku.
Ketika ia menyingkap wajahnya, tampak olehku wajah yang putih bersinar bak bulan purnama. Ternyata ia masih muda belia, dan umurnya baru 17 tahun.
"Wahai anakku, apakah kamu memiliki ayah?" tanyaku.
"Ayah terbunuh di tangan kaum Salibis dan aku ingin ikut bersamamu untuk memerangi orang-orang yang membunuh ayahku," jawabnya.
"Bagaimana dengan ibumu, masih hidupkah dia?" tanyanku lagi.
"Ya," jawabnya.
"Kembalilah ke ibumu dan rawatlah ia baik-baik, karena surga ada di bawah telapak kakinya," pintaku kepadanya.
"Kau tak kenal ibuku?" tanyanya.
"Tidak," jawabku.
"Ibuku ialah pemilik titipan itu," katanya.
"Titipan yang mana," tanyaku.
"Dialah yang menitipkan tali kuda itu," jawabnya.
"Tali kuda yang mana?" tanyaku keheranan.
"Subhanallah..!! alangkah pelupanya Anda ini, tidak ingatkah Anda dengan wanita yang tadi malam menyerahkan seutas tali kuda dan bingkisan?"
"Ya, aku ingat," jawabku.
"Dialah ibuku! Dia menyuruhku untuk berjihad bersamamu dan mengambil sumpah dariku supaya aku tidak kembali lagi," katanya.
"Ibuku berkata, ‘Wahai anakku, jika kamu telah berhadapan dengan musuh, janganlah kamu melarikan diri. Persembahkanlah jiwamu untuk Allah. mintalah kedudukan di sisi-Nya, dan mintalah agar engkau ditempatkan bersama ayah dan paman-pamanmu di surga. Jika Allah mengaruniamu mati syahid, maka mintalah syafaat bagiku."
Kemudian ibu memelukku, lalu menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata, "Ya Allah.. ya Ilahi.. inilah puteraku, buah hati dan belahan jiwaku, kupersembahkan ia untukmu, maka dekatkanlah ia dengan ayahnya’."
"Aku benar-benar takjub dengan anak ini," kata Abu Qudamah, lalu anak itupun segera menyela,
"Karenanya, kumohon atas nama Allah, janganlah kau halangi aku untuk berjihad bersamamu. Insya Allah akulah asy-syahid putra asy-syahid. Aku telah hafal Alquran. Aku juga pandai menunggang kuda dan memanah. Maka janganlah meremehkanku hanya karena usiaku yang masih belia." kata anak itu memelas.
Setelah itu mendengar uraiannya aku tak kuasa melarangnya, maka kusertakanlah ia bersamaku.
Demi Allah, ternyata tak pernah kulihat orang yang lebih cekatan darinya. Ketika pasukan bergerak, dialah yang tercepat, ketika kami singgah untuk beristirahat, dialah yang paling sibuk mengurus kami, sedang lisannya tak pernah berhenti dari dzikrullah sama sekali.
Kemudian, kami pun singgah di suatu tempat dekat pos perbatasan. Saat itu matahari hampir tenggelam dan kami dalam keadaan berpuasa. Maka ketika kami hendak menyiapkan hidangan untuk berbuka dan makan malam, bocah itu bersumpah atas nama Allah bahwa ialah yang akan menyiapkannya. Tentu saja kami melarangnya karena ia baru saja kecapaian selama perjalanan panjang tadi.
Akan tetapi bocah itu bersikeras untuk menyiapkan hidangan bagi kami. Lama kami beristirahat di suatu tempat, kami katakan kepadanya, "Menjauhlah sedikit agar asap kayu bakarmu tidak mengganggu kami."
Maka bocah itu pun mengambil tempat yang agak jauh dari kami untuk memasak. Akan tetapi bocah itu tak kunjung tiba. Mereka merasa bahwa ia agak terlambat menyiapkan hidangan mereka.
"Hai Abu Qudamah, temuilah bocah itu. Ia sudah terlalu lama memasak. Ada apa dengannya?" pinta seseorang kepadaku. Lalu aku bergegas menemuinya, maka kudapati bocah itu telah menyalakan api unggun dan memasak sesuatu di atasnya. Tapi karena terlalu lelah, ia pun tertidur sambil menyandarkan kepalanya pada sebuah batu.
Melihat kondisinya yang seperti itu, sungguh demi Allah aku tak sampai hati mengganggu tidurnya, namun aku juga tak mungkin kembali kepada mereka dengan tangan hampa, karena sampai sekarang kami belum menyantap apa-apa.
Akhirnya kuputuskan untuk menyiapkan makanan itu sendiri. Aku pun mulai meramu masakannya, dan sembari menyiapkan masakan, sesekali aku melirik bocah itu. Suatu ketika terlihat olehku bahwa bocah itu tersenyum. Lalu perlahan senyumnya makin melebar dan mulailah ia tertawa kegirangan.
Aku merasa takjub melihat tingkahnya tadi, kemudian ia tersentak dari mimpinya dan terbangun.
Ketika melihatku menyiapkan masakan sendiran, ia nampak gugup dan buru-buru mengatakan,
"Paman, maafkan aku, nampaknya aku terlambat menyiapkan makanan bagi kalian."
"Ah tidak, kamu tidak terlambat kok," jawabku.
"Sudah, tinggalkan saja masakan ini, biar aku yang menyiapkannya, aku adalah pelayan kalian selama jihad," kata bocah itu.
"Tidak," sahutku, "Demi Allah, kau tak kuzinkan menyiapkan apa-apa bagi kami sampai kau ceritakan kepadaku apa yang membuatmu tertawa sewaktu tidur tadi? Keadaanmu sungguh mengherankan," lanjutku.
"Paman, itu sekedar mimpi yang kulihat sewaktu tidur," kata si bocah.
"Mimpi apa yang kau lihat?" tanyaku.
"Sudahlah, tak usah bertanya tentangnya. Ini masalah pribadi antara aku dengan Allah," sahut bocah itu.
"Tidak bisa, kumohon atas nama Allah agar kamu menceritakannya," kataku.
"Paman, dalam mimpi tadi aku melihat seakan aku berada di surga, kudapati surga itu dalam segala keindahan dan keanggunannya, sebagaimana yang Allah ceritakan dalam Alquran.
Sembari aku jalan-jalan di dalamnya dengan terkagum-kagum, tiba-tiba tampaklah olehku sebuah istana megah yang berkilauan, dindingnya dari emas dan perak, dan terasnya dari mutiara dan batu permata, dan gerbangnya dari emas.
Di teras itu ada tirai-tirai yang terjuntai, lalu perlahan tirai itu tersingkap dan tampaklah gadis-gadis belia nan cantik jelita, wajah mereka bersinar bak rembulan."
Kutatap wajah-wajah cantik itu dengan penuh kekaguman, sungguh, kecantikan yang luar biasa, gumamku, lalu muncullah seorang gadis lain yang lebih cantik dari mereka, dengan telunjuknya ia memberi isyarat kepada gadis yang ada di sampingnya seraya mengatakan, "Inilah (calon) suami al-mardhiyyah.. ya, dialah calon suaminya.. benar, dialah orangnya!"
Aku tak paham siapa itu al-mardhiyyah, maka aku bertanya kepadanya, "Kamukah al-mardhiyyah..?
"Aku hanyalah satu di antara dayang-dayang al-mardhiyyah…" katanya. "Anda ingin bertemu dengan al-mardhiyyah..?" tanya gadis itu.
"Kemarilah.. masuklah ke sini, semoga Allah merahmatimu," serunya.
Tiba-tiba kulihat di atasnya ada sebuah kamar dari emas merah.. dalam kamar itu ada dipan yang bertahtakan permata hijau dan kaki-kakinya terbuat dari perak putih yang berkilauan.
Dan di atasnya.. seorang gadis belia dengan wajah bersinar laksana surya!! Kalaulah Allah tidak memantapkan hati dan penglihatanku, niscaya butalah mataku dan hilanglah akalku karena tak kuasa menatap kecantikkannya..!!!
Tatkala ia menatapku, ia menyambutku seraya berkata, "Selama datang, hai wali Allah dan Kekasih-Nya. Aku diciptakan untukmu, dan engkau adalah milikku."
Mendengar suara merdu itu, aku berusaha mendekatinya dan menyentuhnya.. namun sebelum tanganku sampai kepadanya, ia berkata,
"Wahai kekasihku dan tambatan hatiku.. semoga Allah menjauhkanmu dari segala kekejian.. urusanmu di dunia masih tersisa sedikit.. InsyaAllah besok kita bertemu selepas ashar."
Aku pun tersenyum dan senang mendengarnya."
Abu Qudamah melanjutkan, "Usai mendengar cerita indah dari si bocah tadi, aku berkata kepadanya, "InsyaAllah mimpimu merupakan pertanda baik."
Lalu kami pun menyantap hidangan tadi bersama-sama, kemudian meneruskan perjalanan kami menuju pos perbatasan.
Setibanya di pos perbatasan kami menurunkan semua muatan dan bermalam di sana. Keesokan harinya setelah menunaikan shalat fajar, kita bergerak ke medan pertempuran untuk menghadapi musuh.
Sang komandan bangkit untuk mengatur barisan. Ia membaca permulaan surat Al-Anfal. Ia mengingatkan kami akan besarnya pahala jihad fi sabilillah dan mati syahid, sembari terus mengobarkan semangat jihad kaum muslimin."
Abu Qudamah mengisahkan, "Tatkala kuperhatikan orang-orang di sekitarku, kudapati masing-masing dari mereka mengumpulkan sanak kerabatnya di sekitarnya. Adapun si bocah, ia tak punya ayah yang memanggilnya, atau paman yang mengajaknya, dan tidak pula saudara yang mendampinginya.
Aku pun terus mengikuti dan memperhatikan gerak-geraknya, lalu tampaklah olehku bahwa ia berada di barisan terdepan. Maka segeralah kukejar dia, kusibak barisan demi barisan hingga sampai kepadanya, kemudian aku berkata,
"Wahai anakku, adakah engkau memiliki pengalaman berperang..?"
"Tidak.. tidak pernah. Ini justru pertempuranku yang pertama kali melawan orang kafir," jawab si bocah.
"Wahai anakku, sesungguhnya perkara ini tak segampang yang kau bayangkan, ini adalah peperangan. Sebuah pertumpahan darah di tengah gerincingnya pedang, ringkikan kuda, dan hujan panah.
Wahai anakku, sebaiknya engkau ambil posisi di belakang saja. Jika kita menang kaupun ikut menang, namun jika kita kalah kau tak jadi korban pertama," pintaku kepadanya.
"Ya, aku mengatakan seperti itu kepadamu," jawabku.
"Paman.. apa engkau menginginkanku jadi penghuni neraka?" tanyanya.
"A’udzubillah!! Sungguh, bukan begitu.. kita semua tidak berada di medan jihad seperti ini kecuali karena lari dari neraka dan memburu surga," jawabku.
Lalu kata si bocah, "Sesungguhnya Allah berfirman,
"Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya itu." (QS. Al-Anfal: 15-16)
"Adakah Paman menginginkan aku berpaling membelakangi mereka sehingga tempat kembaliku adalah neraka?" tanya si bocah.
Aku pun heran dengan kegigihannya dan sikapnya yang memegang teguh ayat tersebut. Kemudian aku berusaha menjelaskan, "Wahai anakku, ayat itu maksudnya bukan seperti yang kau katakan." Namun tetap saja ia bersikeras tak mau pindah ke belakang. Aku pun menarik tangannya secara paksa, membawa ke akhir barisan. Namun ia justru menarik lengannya kembali seakan ingin melepaskan diri dari genggamanku. Lalu perang pun dimulai dan aku terhalang oleh pasukan berkuda darinya.
Dalam kancah pertempuran itu terdengarlah derap kaki kuda, diirngi gemerincing pedang dan hujan panah, lalu mulailah kepala-kepala berjatuhan satu-persatu. Bau anyir darah tercium di mana-mana. Tangan dan kaki bergelimpangan. Dan tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah darah.
Demi Allah, perang itu telah menyibukkan tiap orang akan dirinya sendiri dan melalaikan orang lain. Sabetan dan kilatan pedang di atas kepala yang tak henti-hentinya, menjadikan suhu memuncak, seakan-akan ada tungku tanur yang menyala di atas kami.
Perang pun kian memuncak, kedua pasukan bertempur habis-habisan hingga matahari tergelincir dan masuk waktu zhuhur. Ketika itulah Allah berkenan menganugerahkan kemenangan bagi kaum muslimin, dan pasukan Salib lari tunggang-langgang.
Setelah mereka terpukul mundur, aku berkumpul bersama beberapa orang sahabatku untuk menunaikan shalat zuhur. Selepas shalat, mulailah masing-masing dari kita mencari sanak keluarganya di antara para korban.
Sedangkan si bocah,, maka tak seorang pun yang mencarinya atau menanyakan kabarnya. Maka kukatakan dalam hati, "Aku harus mencarinya dan menyelidiki keadaannya, barangkali ia terbunuh, terluka, atau jatuh dalam tawanan musuh?"
Aku pun mulai mencarinya di tengah para korban, aku menoleh ke kanan dan ke kiri kalau-kalau ia terlihat olehku. Di saat itulah aku mendengar ada suara lirih di belakangku yang mengatakan, "Saudara-saudara.. tolong panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari.. panggilkan Abu Qudamah kemari."
Aku menoleh ke arah suara tadi, ternyata tubuh itu ialah tubuh si bocah dan ternyata puluhan tombak telah menusuk tubuhnya. Ia babak belur terinjak pasukan berkuda. Dari mulutnya keluar darah segar. Dagingnya tercabik-cabik dan tulangnya remuk total.
Ia tergeletak seorang diri di tengah padang pasir. Maka aku segera bersimpuh di hadapannya dan berteriak sekuat tenagaku,
"Akulah Abu Qudamah..!! aku ada di sampingmu..!!"
"Segala puji bagi Allah yang masih menghidupkanku hingga aku dapat berwasiat kepadamu.. maka dengarlah baik-baik wasiatku ini..!" kata si bocah.
Abu Qudamah mengatakan, sungguh demi Allah, tak kuasa menahan tangisku. Aku teringat akan segala kebaikannya, sekaligus sedih akan ibunya yang tinggal di Raqqah. Tahun lalu ia dikejutkan dengan kematian suami dan saudara-saudaranya, lalu sekarang dikejutkan dengan kematian anaknya.
Aku menyingsingkan sebagian kainku lalu mengusap darah yang menutup wajah polos itu. Ketika ia merasakan sentuhanku ia berkata, "Paman.. usaplah darah dengan pakaianku, dan jangan kau usap dengan pakaianmu."
Demi Allah, aku tak kuasa menahan tangisku dan tak tahu harus berbuat apa. Sesaat kemudian, bocah itu berkata dengan suara lirih, "Paman.. berjanjilah bahwa sepeninggalku nanti kau akan kembali ke Raqqah, dan memberi kabar gembira bagi ibuku bahwa Allah telah menerima hadiahnya, dan bahwa anaknya telah gugur di jalan Allah dalam keadaan maju dan pantang mundur. Sampaikan pula padanya jikalau Allah menakdirkanku sebagai syuhada, akan kusampaikan salamnya untuk ayah dan paman-pamanku di surga.
Paman.. aku khawatir kalau nanti ibu tak mempercayai ucapanku. Maka ambillah pakaianku yang berlumuran darah ini, karena bila ibu melihatnya ia akan yakin bahwa aku telah terbunuh, dan insya Allah kami bertemu kembali di surga.
Paman.. setibanya engkau di rumahku, akan kau dapati seorang gadis kecil berumur sembilan tahun. Ia adalah saudariku.. tak pernah aku masuk rumah kecuali ia sambut dengan keceriaan, dan tak pernah aku pergi kecuali diiringi isak tangis dan kesedihannya. Ia sedemikian kaget ketika mendengar kematian ayah tahun lalu, dan sekarang ia akan kaget mendengar kematianku.
Ketika melihatku mengenakan pakaian safar ia berkata dengan berat hati, "Kak.. jangan kau tinggalkan kami lama-lama.. segeralah pulang..!!"
Paman.. jika engkau bertemu dengannya maka hiburlah hatinya dengan kata-kata yang manis. Katakan kepadanya bahwa kakakmu mengatakan, "Allah-lah yang akan menggantikanku mengurusmu."
Abu Qudamah melanjutkan, "Kemudian bocah itu berusaha menguatkan dirinya, namun napas mulai sesak dan bicaranya tak jelas. Ia berusaha kedua kalinya untuk menguatkan dirinya dan berkata,
"Paman.. demi Allah, mimpi itu benar.. mimpi itu sekarang menjadi kenyataan. Demi Allah, saat ini aku benar-benar sedang melihat al-mardhiyyah dan mencium bau wanginya."
Lalu bocah itu mulai sekarat, dahinya berkeringat, napasnya tersengal-sengal dan kemudian wafat di pangkuanku."
Abu Qudamah berkata, "Maka kulepaslah pakaiannya yang berlumuran darah, lalu kuletakkan dalam sebuah kantong, kemudian kukebumikan dia. Usai mengebumikannya, keinginan terbsesar ku ialah segera kembali ke Raqqah dan menyampaikan pesannya kepada ibunya.
Maka aku pun kembali ke Raqqah. Aku tak tahu siapa nama ibunya dan di mana rumah mereka.
Takkala aku menyusuri jalan-jalan di Raqqah, tampak olehku sebuah rumah. Di depan rumah itu ada gadis kecil berumur sembilan tahun yang berdiri menunggu kedatangan seseorang. Ia melihat-lihat setiap orang yang berlalu di depannya. Tiap kali melihat orang yang baru datang dari bepergian ia bertanya,
"Paman.. Anda datang dari mana?"
"Aku datang dari jihad," kata lelaki itu.
"Kalau begitu kakakku ada bersamamu..?" tanyanya.
"Aku tak kenal, siapa kakakmu..?" kata lelaki itu sambil berlalu.
Lalu lewatlah orang kedua, dan tanyanya.
"Akhi, Anda datang dari mana?"
"Aku datang dari jihad," jawabnya.
"Kakakku ada bersamamu?" tanya gadis itu.
"Aku tak kenal siapa kakakmu," jawabnya sambil berlalu.
Lalu lewatlah orang ketiga, keempat, dan demikian seterusnya. Lalu setelah putus asa menanyakan saudaranya, gadis itu menangis sambil tertunduk dan berkata,
"Mengapa mereka semua kembali tapi kakakku tak kunjung kembali?"
Melihat ia seperti itu, aku pun datang menghampirinya. Ketika ia melihat bekas-bekas safar padaku dan kantong yang kubawa, ia bertanya,
"Paman.. Anda datang dari mana?
"Aku datang dari jihad," jawabku.
"Kalau begitu kakakku ada bersamamu?" tanyanya.
"Dimanakah ibumu?" tanyaku.
"Ibu ada di dalam rumah," jawabnya.
"Sampaikan kepadanya agar ia keluar menemuiku," perintahku kepadanya.
Ketika perempuan tua itu keluar, ia menemuiku dengan wajah tertutup gaunnya. Ketika aku mendengar suaranya dan ia mendengar suaraku, ia bertanya,
"Hai Abu Qudamah, engkau datang hendak berbela sungkawa atau memberi kabar gembira?"
Maka tanyaku, "Semoga Allah merahmatimu. Jelaskanlah kepadaku apa yang kau maksud dengan bela sungkawa dan kabar gembira itu?"
"Jika kau hendak mengatakan bahwa anakku telah gugur di jalan Allah, dalam keadaan maju dan pantang mundur berarti engkau datang membawa kabar gembira untukku, karena Allah telah menerima hadiahku yang telah kusiapkan untuk-Nya sejak tujuh belas tahun silam.
Namun jika engkau hendak mengatakan bahwa anakku kembali dengan selamat dan membawa ghanimah, berarti engkau datang untuk berbela sungkawa kepadaku, karena Allah belum berkenan menerima hadiah yang kupersembahkan untuk-Nya," jelas si perempuan tua.
Maka kataku, "Kalau begitu aku datang membawa kabar gembira untukmu. Sesungguhnya anakmu telah terbunuh fi sabilillah dalam keadaan maju dan pantang mundur. Ia bahkan masih menyisakan sedikit kebaikan, dan Allah berkenan untuk mengambil sebagian darahnya hingga ia ridha."
"Tidak, kurasa engkau tidak berkata jujur," kata ibu sembari melirik kepada kantong yang kubawa, sedang puterinya menatapku dengan seksama.
Maka kukeluarkanlah isi kantong tersebut, kutunjukkan kepadanya pakaian puteranya yang berlumuran darah.
Nampak serpihan wajah anaknya berjatuhan dari kain itu, diikuti tetesan darah yang tercampur beberapa helai rambutnya.
"Bukankah ini adalah pakaiannya.. dan ini surbannya.. lalu ini gamisnya yang kau kenakan pada anakmu sewaktu berangkat berjihad..?" kataku.
"Allahu Akbar..!!" teriak si ibu kegirangan.
Adapun gadis kecil tadi, ia justru berteriak histeris lalu jatuh terkulai tak sadarkan diri. Tak lama kemudian ia mulai merintih, "Aakh..! aakh..!"
Sang ibu merasa cemas, ia bergegas masuk ke dalam mengambil air untuk puterinya, sedang aku duduk di samping kepalanya, mengguyurkan air kepadanya,
Demi Allah, ia tak sedang merintih.. ia tak sedang memanggil-manggil kakaknya. Akan tetapi ia sedang sekarat!! Napasnya semakin berat.. dadanya kembang kempis.. lalu perlahan rintihannya terhenti. Ya, gadis itu telah tiada.
Setelah puterinya tiada, ia mendekapnya lalu membawanya ke dalam rumah dan menutup pintu di hadapanku. Namun sayup-sayup terdengar suara dari dalam,
"Ya Allah, aku telah merelakan kepergian suamiku, saudaraku, dan anakku di jalan-Mu. Ya Allah, kuharap Engkau meridhaiku dan mengumpulkanku bersama mereka di Surga-Mu."
Abu Qudamah berkata, "Maka kuketuk pintu rumahnya dengan harapan ia membukakan. Aku ingin memberinya sejumlah uang, atau menceritakan kepada orang-orang tentang kesabarannya hingga kisahnya menjadi teladan. Akan tetapi sungguh, ia tak membukakanku maupun menjawab seruanku.
"Sungguh demi Allah, tak pernah kualami kejadian yang lebih menakjubkan dari ini," kata Abu Qudamah mengakhiri kisahnya.
Lihatlah, bagaimana si ibu mengorbankan segala yang ia miliki demi menggapai kebahagiaan ukhrawi. Ia perintahkan anaknya untuk berjihad fi sabilillah demi keridhaan Ilahi. Maka bagaimanakah nasib para pemalas seperti kita. Apa yang telah kita korbankan demi keridhaan-Nya?
Sumber: Ibunda Para Ulama, Sufyan bin Fuad Baswedan, Wafa Press, Cetakann Pertama Ramadhan 1427 H / Oktober 2006
Bagian 2 = http://kisahmuslim.com/wanita-mulia-ibu-dari-seorang-pahla…/
Anda menerima email ini karena Anda adalah pembaca websiteKonsultasiSyariah.com
Unsubscribe furqontea@yahoo.com from this list.
Our mailing address is:
KonsultasiSyariah.com
Jl. Kaliurang KM 6,5
Yogyakarta 55581
Indonesia
Add us to your address book
Copyright (C) 2012 KonsultasiSyariah.com All rights reserved.
Forward this email to a friend
Update your profile
Email Marketing Powered by MailChimp

Minggu, 10 Juli 2016

Seri Sejarah : Mongol gagal untuk menguasi negara Islam.


🌙
 Renungan 25 Ramadhan dari kisah 779 tahun yg lalu
🌙 Renungan 25 Ramadhan dari kisah 779 tahun yg lalu⚡ AKHIRNYA ISLAM RUNTUH
Hanya dengan kekuatan 200.000 tentara dan berlangsung hanya dalam waktu 40 hari Kekhalifahan Abbasiyah yang bertahta selama 500 tahun dengan segala kebesarannya lenyap dari muka bumi.
Baghdad luluh lantak dihancurkan. 1,8 juta kaum muslimin di Baghdad disembelih dan kepalanya disusun menjadi gunung tengkorak. Tua, muda bahkan kanak-kanak. Laki-laki maupun perempuan, hingga janin di dalam kandungan semua dipenggal.
Khalifah dibantai beserta 50.000 tentara pengawalnya. Sejak pembantaian itu selama 3,5 tahun umat Islam hidup tanpa Khalifah. Tentara yang biadab memusnahkan ribuan perpustakaan yang memuat jutaan kitab-kitab, manuskrip-manuskrip sebagai khazanah peradaban di Baghdad dengan mencampakkannya ke dalam laut sehingga berwarna kehitaman. Siapa pelakunya?
Mereka yang bengis itu disebut Bani Qantura dengan ciri-ciri fisik bermuka lebar dan bermata kecil yang telah diisyaratkan kemunculannya oleh Nabi Muhammad saw. Kita mengenalnya sebagai bangsa Mongol atau Tartar yang kala itu dipimpin oleh Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan.
Ketika itu, seluruh negeri Islam yaitu Baghdad, Syria dan Asia Tengah sudah jatuh ke tangan tentara Mongol. Hanya tinggal tiga negeri Islam yang belum dimasuki yaitu Makkah, Madinah dan Mesir. Maka Hulagu Khan terus merangsek berupaya menaklukkan negeri yang lain.
Ambisi selanjutnya adalah menaklukan Mesir dan mengutus delegasi Mongol ke Mamluk Mesir, dimana pemimpin saat itu adalah Sultan Syaifuddin Muzaffar al Quthuz. Delegasi ini datang dengan membawa surat dari Hulagu Khan yang isinya,
“Dari Raja Raja Timur dan Barat, Khan Agung. Untuk Quthuz Mamluk, yang melarikan diri dari pedang kami. Anda harus berpikir tentang apa yang terjadi pada negara-negara lain dan tunduk kepada kami. Anda telah mendengar bagaimana kami telah menaklukkan kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang tercemar itu. Kami telah menaklukkan daerah luas, membantai semua orang. Anda tidak dapat melarikan diri dari teror tentara kami. kemana Anda lari? Jalan apa yang akan Anda gunakan untuk melarikan diri dari kami?
Kuda-kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kami seperti petir, hati kami sekeras gunung-gunung, tentara kami banyak seperti pasir. Benteng tidak akan mampu menahan kami, lengan Anda tidak dapat menghentikan laju kami. Doa-doa Anda kepada Allah tidak akan berguna untuk melawan kami. Kami tidak digerakkan oleh air mata atau disentuh oleh ratapan. Hanya orang-orang yang mohon perlindungan akan aman. Mempercepat balasan Anda sebelum perang api dinyalakan.
Menolak dan Anda akan menderita bencana yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid Anda dan mengungkapkan kelemahan Tuhanmu, dan kemudian kami akan membunuh anak-anak dan orang tua Anda bersama-sama. Saat ini Andalah satu-satunya musuh yang mesti kami hadapi.”
Isi surat tersebut jelas-jelas melecehkan kedaulatan Islam, cuma ada dua opsi, menyerah atau berperang. Syaifuddin Quthuz tidak gentar sedikitpun, malah beliau dengan berani menempeleng delegasi Mongol itu dan membunuh mereka karena tertangkap tangan melakukan tindakan spionase. Dengan segera ia menggerakkan pasukannya dan memancing Mongol untuk bertempur di Ain jalut.
Kemudian Al Quthuz segera memobilisasi tentaranya maka terbentuklah pasukan berjumlah 20. 000 orang tentara dan bergerak menuju Ain Jalut di Palestina untuk menantang tentara Mongol. Bahkan istri sang sultan ikut berjuang dan memilih jalan jihad bersama kekasihnya.
Pada malamnya Quthuz dan pasukan Islam melakukan tahajud dan memohon dari Allah demi kemenangan pasukan Islam dalam pertempuran esok hari. Malam itu adalah malam jum'at 25 Ramadhan, mereka menghabiskan malam mereka dengan tahajud dan doa serta menyerahkan diri kepada Allah. Semoga Allah menerima mereka sebagai hamba-Nya dan memberikan kemuliaan kemenangan atau syahid di medan pertempuran esok hari. Hari di mana mereka menebus semua kematian jutaan umat Islam di tangan Mongol. Hari dimana kekhalifahan Islam akan sirna selamanya jika Mongol berhasil mengalahkan mereka.
🌙 JUM’AT, 25 RAMADHAN 658 H
Sultan Quthuz berdiri gagah, ia hendak memotivasi seluruh tentara gabungan Mesir, Syam dan Turki, serta seluruh rakyat Mesir untuk bergerak menuju jihad di jalan Tuhan. Suaranya begitu lantang dan keras, membuat jiwa bergetar, dan mengalirkan air mata, kata-katanya terdengar nyaring, menyerukan jihad paling menentukan dalam sejarah.
“Jika Mongol memiliki kuda, panah, tameng, dan manjanik. Maka kita punya yang tak terkalahkan oleh apapun, kita punya Allaaaaah,,,,,Azza wa Jalla.”
Suara takbir bergemuruh, semangat pasukan terbakar, dan rakyat berjanji akan bertempur bersama sultan mati-matian, hingga darah penghabisan.
Bertemulah Kedua kekuatan tersebut di Medan perang Ain jalut, Pasukan Mamluk dengan mengandalkan pasukan kavaleri sebagai kekuatan utama di pimpin oleh Jendral Baibars dengan Sultan Quthuz mengamati dari dataran tinggi sementara Pasukan Mongol dipimpin langsung oleh jendral tangan kanan dan kepercayaan Hulagu Khan, Qitbuka Noyan.
Baibars yang memiliki jumlah pasukan kaveleri yang lebih sedikit menggunakan taktik "hit and run" dalam melawan pasukan Mongol hingga terjadi pertempuran selama berjam-jam sampai pada akhirnya pasukan Mongol jatuh ketengah-tengah perangkap pasukan Mamluk.
Melihat lawannya sudah masuk kedalam perangkap, pasukan Mamluk yang bersembunyi mulai keluar dan langsung menghujani pasukan Mongol dengan panah dan meriam kecil dalam penyerangan ini.
Ketika pasukan lawannya sudah berada dalam posisi terdesak, pasukan kavaleri Mamluk lain yang juga bersembunyi serta kemudian disusul oleh Infantrinya langsung menyerbu lawannya dalam empat posisi, menutup jalan keluar bagi pasukan Mongol.
Qitbuka yang menyadari bahwa pasukannya tidak mempunyai harapan lagi untuk melawan pasukan Kaveleri utama pimpinan Baibars dan memenangkan pertempuran, serta pasukannya terpojok ditengah-tengah, segera memerintahkan keseluruhan sisa pasukan yang dimilikinya untuk memfokuskan penyerangan ke posisi sayap kiri pasukan Mamluk pimpinan Al-Mansur Mohammad yang dirasa paling lemah, untuk membuka jalan keluar bagi pasukan yang dipimpinnya. Setelah digempur secara gencar akhirnya posisi sayap kiri pasukan Mamluk menjadi goyah.
Dari dataran tinggi, Sultan Quthuz yang mengamati jalannya pertempuran, melihat posisi sayap kiri pasukannya mulai terbuka akan dijebol pasukan Mongol, seketika itu pula ia membuang topeng bajanya ke tanah hingga wajahnya dapat terlihat oleh seluruh pasukannya, Sambil mengacungkan senjata Ia menggebrak kudanya ke arah posisi sayap kiri pasukannya,dan berteriak keras-keras,
☀💪☝ "Demi Islam!..Demi Islam!" ☀💪☝
Melihat sultannya menuju ke arah mereka, seketika itu pula moral dan semangat bertempur pasukan sayap kiri Mamluk meningkat, mereka kembali meningkatkan pertahanan dan tekanan kepada pasukan Mongol, satu-persatu pasukan Mongol berjatuhan terbunuh termasuk Qitbuka.
Pasukan yang tak pernah terkalahkan akhirnya takluk oleh pejuang Islam yang pemberani dan panji-panji Islam kembali ditegakkan.
Sultan Syaifuddin Muzhaffar al Quthuz meninggal dunia hanya lima puluh hari setelah kemenangan Ain Jalut. Kekuasaannya hanya berusia 11 bulan dan 17 hari. Tidak genap satu tahun!
Berbagai peristiwa bersejarah yang agung, persiapan yang bagus, pendidikan yang tinggi, kemenangan gemilang, hasil yang luar biasa dan dampak yang besar. Ya, semua ini dicapai kurang dari satu tahun di bawah pemerintahan pemuda legendaris ini.
Lalu. Bagaimana dengan kita? Di penghujung Ramadhan ini, apakah yang telah kita persiapkan, korbankan bahkan perjuangkan untuk menegakkan keadilan dan mencegah kemungkaran di sepanjang hidup kita?
Ramadhan adalah bulan perjuangan. Mulai dari perang Badar, perang Tabuk, menggali parit untuk perang Khandaq, penaklukkan Makkah, penaklukkan Andalusia, serta banyak peperangan terjadi di bulan ini termasuk perang Ain Jalut. Maka bukan kebetulan juga jika kemerdekaan bangsa ini diproklamirkan pada hari jum'at 9 Ramadhan.
Selain bulan perjuangan,Ramadhan juga bulan kemenangan. Maka mari jadikan bulan ramadhan ini sebagai momentum revolusi. Mari kita berjuang, tentu saja bermula dari melawan hawa nafsu kita sendiri untuk menang dan merdeka baik sebagai diri, ummat dan bangsa. Karena tak ada yang tak bisa diraih jika perjuangan (Fight) dikombinasikan dengan keimanan (Faith).
Semoga cerita tersebut diatas menginspirasi kita semua, untuk terus bersiap siaga menjaga kehormatan diri, agama, bangsa dan negara...
*copas dari grup WA

Sabtu, 09 Juli 2016

Kisah waktu kecil sang Milyader Saudi.

Sulaiman Al-Rajhi (سليمان الراجحي), milyarder Saudi Berkisah:
Dahulu, hidup saya sangat susah alias faqir, sampai-sampai saya tidak bisa ikutan rihlah atau tamasya yang dilaksanakan oleh sekolah saya, yang waktu itu, biaya pendaftarannya hanya 1riyal saudi saja. Walaupun saya sudah menangis-nangis memohon kepada keluarga agar saya dapat ikutan rihlah, tapi tetap saja keluarga saya tidak punya uang 1 riyal, untuk mendaftarkan saya ikutan rihlah.
Sehari sebelum rihlah, saya berhasil menjawab sebuah pertanyaan yang dilontarkan guru di kelas, lalu guru itupun memberi saya uang satu riyal sebagai hadiah, diiringi tepuk tangan para murid-murid yang lain.
Pada saat itu, saya tidak lagi mikir apa-apa, selain berlari kencang untuk mendaftarkan diri ikutan rihlah. Duka nestapa saya terasa terbang seketika dan berubah total menjadi bahagia berkepanjangan selama berbulan-bulan.
Hari-hari sekolahpun berlalu, sayapun dewasa untuk melanjutkan kehidupan. Setelah melewati berbagai rintangan hidup, setelah bekerja keras selama bertahun-tahun dan berkat anugerah dari Allah sayapun sukses dan selanjutnya saya membuat yayasan sosial. (Al Rajhi Bank Tower).
Setelah saya memulai bergerak di bidang amal sosial, saya kembali teringat kisah masa kecil saya. Teringat kembali guru waktu kecil saya, orang Palestina itu, yang pernah memberi saya uang 1 riyal. Saya mulai mengingat-ingat, apakah beliau dahulu memberi saya uang 1 riyal itu sebagai sedakah atau kah hadiah, karena saya sudah berhasil menjawab pertanyaannya. Yang jelas, saya tidak mendapatkan jawaban yang pasti. Saya berkata di dalam hati, apapun motif dan niat sang guru, beliau sudah menyelesaikan problem besar saya saat itu, tanpa membebankan siapa-siapa.
Oleh karenanya, saya mengunjungi kembali sekolah saya itu, lalu saya mendatangi kantor sekolah dan mencari tau keberadaan guru saya, yg orang Palestina itu, sampai akhirnya saya mendapatkan jalan untuk menemuinya. Saya pun akhirnya merencanakan untuk menemuinya untuk mengetahui kondisinya saat ini.
Singkat kata, sayapun akhirnya dipertemukan kembali oleh Allah dengan guru baik itu, yg mana, kondisi beliau sedang sangat susah, tidak lagi bekerja dan siap-siap pulang kampung.
Selanjutnya, setelah saya memperkenalkan diri, saya katakan pada beliau, bahwa saya punya hutang besar pada beliau, pada beberapa tahun yang lalu.
Guru saya ini kaget bukan kepalang, apa benar ada orang yang punya hutang pada saya, kata beliau..
Saya pun menjelaskan, apakah bapak masih ingat dengan murid bapak, yang pernah bapak beri uang satu riyal, karena murid bapak itu berhasil menjawab soal yang bapak lontarkan di kelas bapak saat itu?
Setelah berusaha mengingat-ingat, guru saya ini akhirnya tertawa, dan berkata: "ya..ya.. saya ingat. Jadi kamu mencari saya untuk mengembalikan uang 1 riyal itu". "Ia pak" jawab saya. Setelah sedikit berbincang, saya bawa beliau naik mobil dan kamipun beranjak.
Selanjutnya, kami sampai ke tujuan, dan kenderaan kami berhenti tepat di depan sebuah Villa Indah. Kami keluar dari mobil dan memasuki Villa tersebut. Setelah berada di dalam Villa, saya menyampaikan niat saya kepada guru saya ini, "Pak, villa ini saya berikan kepada bapak untuk melunasi hutang saya dahulu, plus mobil yang tadi kita naiki, dan gaji per bulan seumur hidup, serta pekerjaan buat putra bapak di perusahaan saya".
Guru saya ini kaget bukan kepalang, dan berujar, "Tetapi ini terlalu banyak, nak?"
"Percayalah pak, kegembiraan saya dengan 1 riyal yang bapak berikan pada saya saat itu lebih besar nilainya dibandingkan dengan 10 villa seperti ini, saya tidak akan dapat melupakan kebahagiaan itu sampai sekarang," jawab saya.
*
Inilah buah dari didikan agama yang baik, tebarkan bahagia, hilangkan duka nestapa sesama, dan tunggulah balasan terbaik dari-Nya. 👌

Rabu, 06 Juli 2016

Tragedi Bom Bunuh Diri di Madinah dimata Imam Masjid Nabawi.

Syiffa Aulia Dewi with Muhammad Abdil Baar and 83 others.
9 hrs
SEKILAS INFO
Syaikh DR. Sholah bin Muhammad Al-Budair, Imam dan khotib masjid nabawi yang juga merangkap sebagai hakim di mahkamah Madinah Al-Munawwarah menegaskan bahwa siapun yang mendatangi masjid Rasulullah -shallallahu alaihi wasaallam- dalam keadaan menghunuskan pedang, membawa senjata, mengenakan ikat pinggang bom, dan dengan sengaja membunuh jamaah sholat masjid nabawi, membunuh penjaganya, melakukan teror terhadap jamaah sholat dan orang-orang yang sedang menjalankan ibadah puasa serta menerjang hal-hal yang terlarang di bulan ramadhan, maka ia kafir keluar dari agama.
Hal tersebut tidaklah dilakukan kecuali oleh orang yang telah menjual dirinya untuk musuh-musuh islam, mengkhianati agama dan pemeluknya, dan juga mengkhianati negaranya. Maka (semoga) laknat dan kemurkaan Allah meliputinya.
Dalam keterangannya kepada kantor berita KSA beliau menambahkan bahwa orang yang meledakkan dirinya dekat di masjid nabawi tidak lain adalah perpanjangan tangan dari khowarij abad ini, yang keluar dari islam.
Mereka adalah perpanjangan tangan Zionis, Yahudi, Majusi dan kaum paganis, musuh agama dan sunnah.
Bagi mereka laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia.
Siapa saja yang bersikap mesra dengan mereka, atau menolong salah satu diantara mereka, atau mendiamkan mereka, atau enggan melaporkan perihal mereka, atau membela mereka, maka orang tersebut masuk dalam golongan yang dikabarkan nabi -shallallallahu alaihi wasallam dalam sabdanya:
الْمَدِينَةُ حَرَمٌ مَا بَيْنَ عَيْرٍ إِلَى ثَوْرٍ، فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يَقْبَلُ اللهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا، وَلَا عَدْلًا.
Artinya,
"Madinah adalah tanah haram (tanah suci) antara bukit 'Aiir hingga Tsaur, maka barang siapa yang berbuat kesalahan di dalamnya, atau melindungi orang yang berbuat kesalahan, maka ia ditimpa laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, Allah tidak akan menerima darinya pada hari kiamat nanti tebusan atau pengganti…."
Al-Budair juga mengingatkan agar para pemuda tidak tertipu dengan pemikiran najis dan manhaj kotor tersebut. Beliau menambahkan,
"Siapapun yang menginginkan keselamatan untuk dirinya maka hendaknya dia memutuskan segala tali yang menghubungkannya atau mendekatkannya kepada para maariq*, pasukan iblis dan kelompok pengkhianat.
Beliau juga menghimbau agar para pemuda mengambil pelajaran dari tragedi ini agar tidak menjadi korban dari rangkaian kejahatan tersebut.
Selengkapnya di:
https://t.co/FEnJ2jZpch
Sumber: Situs kartor berita KSA
Catatan:
* Maariq adalah julukan bagi khawarij..
_____________
Makkah Al-Mukarramah 30 Ramadhan 1437 H
Akhukum fillah:
ACT El-Gharantaly

Idul Fitri 1437 H

Selamat merayakan Hari Idul Fitri 1437 H, Taqobbalallahu Minna Wa Minkum. Mohon maaf lahir dan bathin. Semoga dengan momen Ramadhan dan Kemenangan yang diperoleh menjadikan kita sebagai insan yang lebih baik lagi ke depannya hingga ajal menjemput kita, yang memposisikan kita bisa menggapai khusnul khotimah. Amin

Senin, 04 Juli 2016

Usman bin Affan ra : Yahudi pun bertekuk lutut di hadapannya.





Sumber : Toko Buku Muhasabah Hati
July 3 at 1:06pm
ANTUM PERHATIKAN, ,
DULU, di Madinah, tidak terlalu jauh dari masjid Nabawi, ada sebuah properti sebidang tanah dengan sumur yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Sumur itu dikenal dengan nama :Sumur Ruma (The Well of Ruma) karena dimiliki seorang Yahudi bernama Ruma.
Sang Yahudi menjual air kepada penduduk Madinah, dan setiap hari orang antri untuk membeli airnya. Di waktu waktu tertentu sang Yahudi menaikkan seenaknya harga airnya, dan rakyat Medinahpun terpaksa harus tetap membelinya. karena hanya sumur inilah yang tidak pernah kering.
Melihat kenyataan ini, Rasulullah berkata, "kalau ada yang bisa membeli sumur ini, balasannya adalah Surga". Seorang sahabat nabi bernama Usman bin Affan mendekati sang Yahudi. Usman menawarkan untuk membeli sumurnya. Tentu saja Ruma sang Yahudi menolak. Ini adalah bisnisnya, dan ia mendapat banyak uang dari bisnisnya.
Tetapi Usman bukan hanya pebisnis sukses yang kaya raya, tetapi ia juga negosiator ulung. Ia bilang kepada Ruma, "aku akan membeli setengah dari sumur mu dengan harga yang pantas, jadi kita bergantian menjual air, hari ini kamu, besok saya" Melalui negosiasi yang sangat ketat, akhirnya sang Yahudi mau menjual sumurnya senilai 1 juta Dirham dan memberikan hak pemasaran 50% kepada Usman bin Affan.
Apa yang terjadi setelahnya membuat sang Yahudi merasa keki. Ternyata Usman menggratiskan air tersebut kepada semua penduduk Madinah. Pendudukpun mengambil air sepuas puasnya sehingga hari kesokannya mereka tidak perlu lagi membeli air dari Ruma sang Yahudi. Merasa kalah, sang Yahudi akhirnya menyerah, ia meminta sang Usman untuk membeli semua kepemilikan sumur dan tanahnya. Tentu saja Usman harus membayar lagi seharga yang telah disepakati sebelumnya.
Hari ini, sumur tersebut dikenal dengan nama Sumur Usman, atau The Well of Usman. Tanah luas sekitar sumur tersebut menjadi sebuah kebun kurma yang diberi air dari sumur Usman. Kebun kurma tersebut dikelola oleh badan wakaf pemerintah Saudi sampai hari ini. Kurmanya dieksport ke berbagai negara di dunia, hasilnya diberikan untuk yatim piatu, dan pendidikan. Sebagian dikembangkan menjadi hotel dan proyek proyek lainnya, sebagian lagi dimasukkan kembali kepada sebuah rekening tertua di dunia atas nama Usman bin Affan. Hasil kelolaan kebun kurma dan grupnya yang di saat ini menghasilkan 50 juta Riyal pertahun (atau setara 200 Milyar pertahun)
Sang Yahudi tidak akan penah menang. Kenapa?
Karena visinya terlalu dangkal. Ia hanya hidup untuk masa kini, masa ia ada di dunia. Sedangkan visi dari Usman Bin Affan adalah jauh kedepan. Ia berkorban untuk menolong manusia lain yang membutuhkan dan ia menatap sebuah visi besar yang bernama Shadaqatun Jariyah, sedekah berkelanjutan.
Sebuah shadaqah yang tidak pernah berhenti, bahkan pada saat manusia sudah mati.
Masya' Allah

Minggu, 03 Juli 2016

Al Qur’an Pemelihara dan Penyelamat Otak Manusia



Akhwatmuslimah.com – Al Qur’an dapat memelihara dan menyelamatkan otak manusia dengan cara membaca atau menghafalkannya. Apalagi kegiatan tersebut dilakukan sejak anak-anak dalam usia pertumbuhan. Dengan kata lain, “Al Qur’an save the brain”.
Pendapat ini mengemuka dalam Seminar “Peran Ayah dalam Mengansipasi Dampak Media Visual pada Perkembangan Psikologis Anak” yang diselenggaran Sekolah Nurul Iman, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Sabtu, 9 Mei 2015. Tampil sebagai pembiacara Ahli Syaraf Dr. dr. Tiara Aninditha, Sp.S, Pakar tadabbur Qur’an Ust. Bachtiar Nasir, Lc, MM, dan artis muslimah Astrie F. Ivo.
Dalam paparannya Dr. dr. Tiara Aninditha yang juga Dosen Syarah di Faklutas Kedokteran UI, menjelaskan bahwa usia 0 sampai 5 tahun adalah masa terbaik dalam pertumbuhan syaraf-syaraf otak anak. Sedangkan usia 7-15 tahun adalah masa terbaik dalam pembangunan koneksi antar syaraf otak.
“Sehingga asupan interaksi yang berlangsung antara anak dan orangtua pada usia itulah yang akan menjadi pegangan hidup seseorang pada usia berikutnya,” papar dr. Tiara.
Seseorang yang sering melihat kekerasan, ungkapnya, baik dari orangtua, sosial media, atau gadged, seperti games kekerasan, maka dari hasil penelitian yang dilakukan pada anak yang selama dua minggu terus-menerus bermain game, hasilnya cukup membuat salah satu bagian otak anak itu menjadi tidak berfungsi, alias si anak menjadi bebal.
“Yang akan mereka tiru hanya perilaku kekerasannya,” ungkap dr. Tiara.
Dokter syaraf yang praktek di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini, menegaskan mengapa Islam pernah mengalami masa “golden age” (masa kejayaan) di masa awal pertumbuhan Islam –dengan banyaknya lahir pemikir-pemikir muda–, karena anak-anak pada masa itu sangat dekat dengan Al Qur’an. “Artinya, Al Qur’an save the brain,” katanya.
Karena itu, lanjutnya, jika para orangtua ingin mendidik anaknya dengan benar dan cerdas secara edukasi, maka disarankan untuk mengajarkan Al Qur’an sejak dini. “Jadi tidak benar, jika ada yang mengatakan bahwa untuk mencerdaskan otak anak, makasejak dalam kandungan harus sering diperdengarkan dengan musik klasik,” ujar dr. Tiara yang menganjurkan seaiknya ibu-ibu hamil untuk banyak membaca atau mendengarkan murotal Al Qur’an.
Senada dengan dr. Tiara, Ust. Bachtiar juga menegaskan Al Qur’an memang mampu menyembuhkan otak yang sudah “rusak”. Menurutnya, tidak benar jika otak anak-anak yang telah dirusak oleh peristiwa kekerasan di dalam rumah tangga atau oleh games kekerasan, maka tidak dapat disembuhkan di hari tuanya.
“Yang dapat menyembuhkannya hanya Al Qur’an, baik dengan cara dibaca atau dihafalkan,” ujar Ust. Bachtiar sambil mencontohkan pada riwayat hidup sahabat Rasullah khalifah Umar bin Khatab dan Khaid bin Walid.
“Khalifah Umar bin Khatab dan Khalid bin Walid itu sebelum masuk Islam, mereka adalah orang yang sangat dekat dengan kekerasan. Mereka disebut “singa dan serigala gurun pasir”. Namun saat mereka sudah masuk Islam dan dekat dengan Al Qur’an, mereka pun kemudian menjadi orang-orang terbaik di zaman kejayaan Islam,” ungkap Ust. Bachtiar.
Tentang peran ayah dalam membentuk jiwa dan karakter anak, Ust. Bachtiar memaparkan kisah Nabi Ya’qub di dalam Al Qur’an. Dimana dari kisah sebelum wafatnya Nabi Ya’qub tersebut, ada tiga poin penting yang dapat menjadi tolak ukur keberhasilan seorang ayah selama hidupnya dalam mendidik anak-anaknya.
“Pertama, tanamkan pada jiwa anak untuk selalu mentauhidkan Allah. Kedua, agar anak tidak menyekutukan Allah. Dan ketiga, anak-anak harus terikat pada syariat (aturan/tuntunan) Allah dan Rasulnya,” tandas Pimpinan AQL Islamic Center ini. “Jika ketiga hal itu sudah kita ajarkan secara sungguh-sungguh, isnya Allah kita telah lulus sebagai ayah yang amanah.”


Sumber: http://www.akhwatmuslimah.com/2015/09/09/3302/al-quran-pemelihara-dan-penyelamat-otak-manusia/#ixzz4DOHBf9Lg
Follow us: @akhwatm on Twitter | akhwatmuslimahcom on Facebook