Kamis, 25 Mei 2017

6 Argumen Muhammadiyah Mengapa Pakai Metode Hisab



Persoalan Hisab dan Rukyat sampai saat ini masih menjadi diskusi yang hangat. Salah satu saat Muhammadiyah ‘naik’ di media massa adalah ketika menjelang Ramadhan dan Idul Fitri. Pasalnya, Muhammadiyah yang memakai metode hisab (perhitungan) terkenal selalu mendahului pemerintah yang memakai metode rukyat (melihat) dalam menentukan masuknya bulan Qamariah. Hal ini menyebabkan ada kemungkinan 1 Ramadhan dan 1 Syawal versi Muhammadiyah berbeda dengan pemerintah. Dan hal ini pula yang menyebabkan Muhammadiyah banyak menerima kritik, mulai dari tidak patuh pada pemerintah, tidak menjaga ukhuwah Islamiyah, hingga tidak mengikuti Rasullullah Saw yang jelas memakai rukyat al-hilal. Bahkan dari dalam kalangan Muhammadiyah sendiri ada yang belum bisa menerima penggunaan metode hisab ini.

Umumnya, mereka yang tidak dapat menerima hisab karena berpegang pada salah satu hadits yaitu:
“Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan bebukalah (idul fitri) karena melihat hilal pula. Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka genapkanlah bilangan bulan Sya’ban tiga puluh hari” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Hadits tersebut (dan juga contoh Rasulullah Saw) sangat jelas memerintahkan penggunaan rukyat, hal itulah yang mendasari adanya pandangan bahwa metode hisab adalah suatu bid’ah yang tidak punya referensi pada Rasulullah Saw. Lalu, mengapa Muhammadiyah bersikukuh memakai metode hisab? Berikut adalah alasan-alasan dari makalah Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A.

Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal,yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtimak ( posisi Bulan-Bumi-Matahari segaris lurus), ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut.

Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahi bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa AzZarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi (tidak kenal baca tulis) dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskanoleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”..Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika  ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab,maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahl ihisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebu tbahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.

Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr. Nidhal Guessoum menyebut suatu iron ibesar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpaduyang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.

Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat.  Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.

Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zamantengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.

Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi  di Makkah belum terjadi rukyat sementaradi kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu haridengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau.

Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian sistem waktu Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita memegangi hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat.


Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir alKhittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariahdi kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat”.

SUMBER : http://sangpencerah.id/2015/06/6-argumen-muhammadiyah-mengapa-pakai-metode-hisab/


Saya sendiri selama ini selalu mengikuti apa yang menjadi ketetapan dari Muhammadiyah ini.  Bukan karena saya orang Muhammadiyah, tetapi pemahamannya saya setuju dengan metode hisab ini.  Praktisnya bagi saya, di mana sekarang sudah zaman modern, semua sudah bisa ditentukan apalagi peralatan canggih sudah lengkap, sederhananya waktu sholat sudah bisa ditentukan, bahkan ada jadwal abadi.  Waktu dan tempat gerhana matahari atau bulan sudah bisa ditentukan waktunya bahkan jauh hari (tahun) sebelumnya.  Masa untuk urusan shaum dan idul fitri/idul adha harus menunggu detik-detik terakhir. 

Kadang, menurut saya, juga tidak konsisten, mereka sudah tahu dengan menghitung (hisab) posisi hilal, tetapi kemudian ketika rukyat kondisi cuaca mendung hampir di seluruh daerah pengamatan. Kalau mengikuti hadits, seharusnya digenapkan menjadi 30 hari karena bulan tidak terlihat, tetapi dirapat sidang istbat akhirnya ditentukan 1 ramadhan jatuh pada esok harinya, dengan alasan posisi hilal sudah tinggi di atas 2 derajat walaupun secara rukyat tidak terlihat. wallahu a'lam.

Senin, 22 Mei 2017

Lanjutan, dari musibah patah kaki.

Gara" mantan bos yg datang jauh", kristen lagi, saya setelah sekian lama kembali pakai celana panjang, karena mau diajak keluar rumah, yang selama ini menjadi orang rumahan. Dia tawarkan mau makan siang apa dan dimana, setelah itu mau jalan" kemana? Terakhir, selama ada di sini, hubungi saja klo mau jalan ke luar.

Waduh, kalau begini jadi tidak enak, kayaknya saya saja yang jadi mantan bosnya beliau! Hiks...

(Potongan kalimat di atas adalah postingan di fb saya, beberapa hari yang lalu,)  .....kemudian beberapa hari dari kejadian di atas sang mantan bos kembali menjemput saya untuk menemaninya belanja alat-alat yang dibutuhkan, hingga masuk malam hari. Karena sudah pada lapar kami masuk di rumah makan yang dilewati jalur perjalanan kami.  Masuk di rumah makan, sengaja saya tidak pakai kruk, walau terpincang-pincang tetapi saya usahakan untuk tetap berjalan. Saya fikir sambil belajar jalan, karena beberapa hari ini saya sudah bisa berjalan tanpa kruk. Namun apa yang terjadi, bengkak di kaki di bagian bawah besarnya tidak pernah sebesar sebelumnya. he-he.... mungkin masih adaptasi ototnya terhadap tekanan berat badan di kaki.

Hari ini, sudah hari ke 70an, jalan tanpa kruk sudah semakin terasa nyaman, tetapi saya tidak berani untuk jalan yang jauh, untuk jalan yang jauh saya masih tetap memakai kruk. Tetapi semakin semakin baik adaptasi otot kaki terhadap tekanan ketika berjalan.  Bengkak karena jalan juga semakin berkurang. Alhamdulillah.



Sabtu, 20 Mei 2017

Perang Ahzab, sebuah pelajaran.


Sungguh, tekanan yang luarbiasa dialami Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam dan kaum muslimin ketika terjadi perang ahzab. Di mana musuh, yang merupakan koalisi arab, datang ke Madinah, dan mengepung selama 30 hari.

Sebelum perang ahzab, perang biasanya terjadi di luar dan jauh dari kota madinah. Namun ketika musuh datang ke madinah, di mana madinah adalah basis kekuatan umat islam, di sana juga keluarga, anak istri tinggal, apalagi kekuatan musuh yang luarbiasa banyaknya yang berasal dari koalisi arab, DITAMBAH lagi penghiatan kaum Yahudi yang tinggal di Madinah, plus kaum Munafik, yang memang bergaul sehari2 dengan sesama muslim, menjadikan perang Ahzab memberikan tekanan yang luarbiasa kepada Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam dan kaum muslimin. Belum lagi, strategi yang diterapkan dengan menggali parit sekeliling kota Madinah, yang menguras tenaga dan fikiran, yang bisa mematahkan keimanan kaum Muslimin.

Namun, karena Rasul-Nya dan keteladannya, Allah akhirnya memenangkan kaum Muslimin dalam perang Ahzab itu.

"Wahai orang-orang yang beriman! ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

(yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai kr tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan pada Allah.

Disitulah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat.
Dan (ingatlah) ketika orang-orang MUNAFIK DAN ORANG-ORANG YANG HATINYA BERPENYAKIT berkata, "Yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami hanya tipu daya belaka."

Dan (ingatlah) ketika segolongan di antara mereka berkata, "Wahai penduduk Yastrib (Madinah) tidak ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebagian dari mereka meminta izin kepada Nabi (untuk kembali pulang) dengan berkata, "Sesungguhnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada penjaga)." Padahal rumah-rumah itu tidak terbuka, mereka hanyalah hendak lari.

..... Silahkan baca terus sampai ayat 27 di Al-Quran anda.

Al-Quran surat Al-Ahzab dari ayat 9 sampai 27.
Smoga kita menjadi penerus perjuangan Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam, walau musuh sudah berada disekeliling kita, dengan berbagai topeng yang berusaha mengecohkan aqidah kita. amin

7 juta status di fb

"Dan apabila mereka bertemu dengan orang beriman, mereka berkata, "Kami telah beriman", Tetapi apabila mereka kembali kepada syeitan-syeitan (pemimpin) mereka, mereka berkata, "Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok." (Al-Quran surat Al-Baqoroh ayat 14)

Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman. Amin

Minggu, 07 Mei 2017

9 MEI PERJUANGAN TERAKHIR ? (tulisan Nanik S Deyang di fb)

Saudara muslim setanah air , hampir 8 bulan kita berjibaku habis melawan seorang terdakwa penista agama yg diberlakukan istimewa oleh seluruh organ pemerintah. 

Luar biasa perjuangan kita. Waktu, harta , air mata, bahkan resiko kehilangan nyawa semua kita lakukan demi tegaknya Islam, demi menjaga Al-qur'an agar tidak demikian mudah ayatnya dihina dan dilecehkan apalagi dilakukan oleh seorang pejabat yg mustinya malah menjaga kitab semua agama yg dibolehkan dianut di Indonesia. 

Bahkan teman -teman mujahid dari daerah lebih berat lagi perjuangannya, rela tidur di Masjid -Masjid , dan utk nginap di Masjid pun harus kucing -kucingan dengan petugas, karena kalau letahuan akan diusir atau dipulangkabn dengan paksa.

Banyak orang mencibir pada perjuangan kita, berbagai olok -olok pun diberikan pada kita, mulai sebutan manusia dari bumi datar, manusia sumbu pendek, Islam Radikal , politisasi Islam utk Pilkada, hingga kriminalisasi pada ulama dan tuduhan makar pun lengkap disematkan pada para tokoh yg ikut Bela Islam.

Sepanjang hidup sy dari melewati orde baru hingga saat ini, baru sekarang ini saya melihat sebuah friksi yg demikian tajam antar masyarakat yg bermuara pada kasus penghinaan agama.

Andai dari awal pemerintah bersikap sama dengan yg dilakukan pada penghina agama seperti yg pernah diadili , maka sebenarnya tidak akan terjadi seberlarut -larut hingga sekarang.

Muatan kepentingan yg demikian luar biasa menginginkan Ahok menjadi Gubernur DKI, membuat sikap pemerintah baik yg terlihat dari sikap polisi atau pun penegak hukum seperri kejaksaan, terlihat bak telanjang mempertontonkan HUKUM seolah hanya milik penguasa dan mereka yg ada dalam lingkar kekuasaan. 

Tak pelak kebencian bercampur kekecewaan rakyat, umat Islam khususnya, kepada penguasa memunculkan ghirah pada setiap hati umat, tanpa pandang dari aliran atau golongan manapun. Islam Bersatu! Itulah kristalisasi yg terjadi .

Dan kekuatan Islam bersatu itu telah terbukti ampuh meluluhluntahkan ambisi pemilik modal dj Jakarta, hingga uang, sembako, intimidasi, media dan apapun tak bisa MEMBELI SUARA RAKYAT.

Mungkin tak hanya Anies -Sandi beserta partai pendukungnya , yg terlonjak kaget melihat kemengan fenomenal pada Pilkada DKI, tetapi dunia pun ikut terbengong atas kekuatan Islam Bersatu! 

Hasil Pilkada DKI adalah "pesan awal" pada penguasa dan siapun pemilik modal serta pengatur konspirasi. " Hai Kalian boleh atur dunia , lewat Makar Allah kami yg atur demokrasi di Indonesia," ! 

Kawan perjuangan kita tinggal dua hari lagi, tanggal 9 adalah puncak keputusan bagi masa depan Islam di Indonesia . Mari kia kawal sidang terakhir kasus penistaan agama. Andai hukum tidak berpihak pada kita, mari kita menangis bersama sambil menunggu arahan ulama kita, dan bila ternyata si terdakwa dihukum penjara, mari gelar sajadah kita , tak hanya di tempat sidang tapi di masjid-masjid, di surau -surau , di balik dinding rumah kita dan dimana pun kita berada, utk berterimkasih pada Allah denga bersujud syukur.

ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR
Komenta

Sabtu, 06 Mei 2017

Peristiwa isro mi'raj dan Aksi Bela Islam 55


Sungguh beban yg sangat luarbiasa beratnya, ketika Rasulullah shollallahu'alaihi was sallam diharuskan menyampaikan peristiwa yang dialaminya semalam, yang kita kenal dengan isro mi'raj. yaa..karena apa yang dialaminya adalah sesuatu yang diluar nalar manusia!

Boleh jadi, jika kita hidup pada zaman itu pun kita akan menolak pernyataan sang Utusan Allah, atas peristiwa yang dialaminya. Tapi alhamdulillah, karena keimanan kita yang hidup zaman sekarang mengakui, membenarkan kejadian itu dan bahkan melaksanakan oleh-oleh dari kejadian itu sekaligus senjatanya kaum muslimin, yaitu sholat yg 5 waktu.

Tapi anehnya kita manusia, kenapa kajadian yg diluar nalar dan diberitakan melalui ayat Al-Quran, kita yakini dan benarkan, tapi ayat yang jelas yg berhubungan dengan masalah kepeminpinan muslim dan kafir kita menolaknya. Dan juga ketika ada orang menistakan agama kita, kita diem saja malah membelanya!! hadeuh....

belum lagi bicara keadilan, kita akan nga-ngap, karena kita sendiri tidak adil pada diri kita sendiri. Kita merasa bahwa yang didapatkan selama ini berupa harta, jabatan dan kekuasaan adalah hasil tangan sendiri? Karena kepintaran sendiri?



Silahkan saja, bagi diri yang mengaku muslim tapi masih membela orang kafir dan menjadikannya sebagai pemimpinan serta mendukung penistaannya kepada agama kita, karena kehidupan akan tetap berjalan hingga hari penghisaban kelak. Akan ada Abu Bakar, Abu Bakar lainnya yang akan membenarkan cerita Rasulullah shollallahu 'alaihi was sallam yang bahkan tidak masuk akal sekalipun bagi nalar manusia, dan berdiri di belakangnya, membelanya dan siap berkorban harta hinga nyawa demi pembenaran tentang Isro Mi'raj dan yang lainnya.


Minggu, 30 April 2017

JIKA MEMANG KAMU JAGO!!


Apakah kamu menganggap remeh berita ini (Al-Quran)?

Dan kamu menjadikan rezeki yang kamu terima (dari Allah) justru untuk mendustakan(-Nya).

Maka kalau begitu mengapa (tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai kerongkongan,

dan kamu ketika itu melihat,

dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu, tetapi kamu tidak melihat,

maka mengapa jika kamu memang tidak dikuasai (oleh Allah),

kamu tidak mengembalikannya (nyawa itu) jika kamu orang yang benar?

Surat Al-Waqi'ah ayat 81-87


Akhir-akhir kita melihat semakin banyak orang yang sombong. tinggi hati, takabur, hanya karena banyaknya harta, banyaknya kendaraan yang dimiliki, banyaknya rumah yang ditinggali, banyaknya anak yang dibanggakan, tingginya jabatan yang diraih, luas dan kuatnya kekuasaan yang digenggam, untuk melawan ketentuan aturan yang seharusnya dilakoni dalam kehidupan di dunia ini.  Aturan Allah subhana wa ta'ala, Yang Menjadikannya dia hidup, dia lawan dengan menutup mata dan dengan congkaknya dia takar dengan rasanya.

Yang luar biasa juga, ada orang yang tidak mempunyai seperti yang digambarkan di atas, tetapi dia ikut-ikutan bertingkah seperti orang yang semuanya dia kuasai.  Yang satu ini dia ikuti orang yang berada untuk ikut numpang hidup, seolah kalau tanpa dia yang berada dia tidak bisa apa-apa dan tidak bisa hidup.

Kadang persengkongkolan ini menjadikan diri mereka seperti tuhan dan para pengikutnya. Dalam sejarah kehidupan ada yang dinamakan Fir'aun. Yang konon Raja di Raja di Mesir sana, tetapi karena kesombongannya menganggap dirinya tuhan, yang bisa menentukan hidup dan kehidupan seseorang. Bolehlah....dia merasa seperti dengan apa yang ada ditangannya, bahkan ketika seseorang menegurnya dengan keyakinan yang salah itu, lewat utusan Allah subhana wa ta'ala, yaitu nabi Musa dan Harun as. Allah subhana wa ta'ala membiarkannya hingga kematian menjemputnya yang nyata-nyata tidak bisa dia hindari walau dia mengaku sebagai tuhan.

Bagaimana dengan kondisi sekarang, khususnya kita di Indonesia.  Berita di medsos, beberapa orang membicarakan tentang akan menembak seseorang dan luar biasanya diamin juga oleh para pengikutnya.  Keinginan atau bahkan sudah melakukan aksi itu, seolah dia bersikap sebagai tuhan yang menentukan hidup dan kematian seseorang.  Silahkan saja.....jika anda sendiri siap menerima resiko kehidupan, tidak hanya di dunia ini tetapi juga di akherat kelak, karena telah berniat, melakukan untuk membunuh makhluk yang Allah ciptakan.  Walau keinginan itu terwujud dengan kematian seseorang karena tanganmu, tetap kamu bukan tuhan, dan tunggu balasannya.