Sebagai orang yang berkeyakinan bahwa para sahabat Nabi saw adalah orang-orang yang terbaik yang mendampingi Beliau saw dalam perjuangannya menegakan kalimat Tauhid, Tiada Ilah atau Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, tentu akan sangat sedih dongkol dan marah kepada orang-orang yang mencaci maki, mencap sudah murtad hingga melaknati mereka dengan laknatullah. Benar mereka bukan orang-orang suci (maksum) yang lepas dari kesalahan dan dosa, tetapi mereka lah yang dengan ikhlas mengorbankan diri, harta dan keluarganya untuk kemenangan Islam. Apalagi memang dari sabdanya sendiri Rasulullah saw ada beberapa sahabat yang sudah dijamin masuk syurga.
Namun begitu, orang-orang yang hatinya kotor tetap saja tidak menerima akan kenyataan seperti itu. Apalagi hal itu dihubungkan dengan masalah kepemimpinan setelah Rasulullah saw wafat. Mereka, yang biasa disebut kaum Syiah, bahwa para sahabat sudah merampok kepemimpinan yang seharusnya menjadi hak idola mereka yaitu Ali bin Abi Thalib ra beserta keturunannya. Mereka dengan mudah menyandingkan beberapa sahabat dengan kata laknatullah di belakang nama mereka, hingga istri Rasulullah saw pun yang sangat dicintainya, Aisyah ra, dicaci maki oleh mereka.
Hanya perlu para pemirsa mengerti bahwa kalau ada orang khususnya kaum dari agama syiah yang mensandingkan sahabat dengan laknat Allah, bahwa Allah yang dimaksud oleh mereka bukan Allah swt yang kita orang Islam yakini. Ulama besar agama syiah, Nikmatullah al-Jazaairi mengatakan, "Sesungguhnya kami (syiah) tidak berkumpul bersama mereka pada satu tuhan, tidak juga pada satu nabi, dan tidak pada satu imam. Hal ini dikarenakan mereka berkata : bahwa Rabb mereka-lah yang Muhammad adalah nabi-Nya dan khalifah setelahnya adalah Abu Bakar. Dan kita tidak mengakui Rabb yang seperti ini, dan juga nabi yang seperti ini. Sesungguhnya Rabb yang khalifah nabi-Nya adalah Abu Bakar, bukan Rabb kami, nabi tersebut juga bukan nabi kami" (Al-Anwar an Nu'maaniyah 2/278 dalam Abidin).
Khusus kasus Muawiyah ra bagi umat Islam, (1) Bagaimana cucu Rasulullah saw sendiri, Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra (yang orang agama syiah menjadikannya imam ke-2) menyerahkan masalah kepemimpinan umat Islam kepada Muawiyyah ra, pertanyaannya Bagaimana mungkin Al-Hasan ra yang merupakan penghulu pemuda di Syurga menyerahkan kepemimpinan ke orang yang dilaknati Allah. Tidak mungkin toh!? (jadi itu mah karangan agama syiah saja)
(2) Apa yang dilakukan oleh Al-Hasan ra adalah seperti apa yang disampaikan sendiri oleh Rasulullah saw ketika beliau saw masih hidup, sebagai mukjizat kenabian yang dimiliki oleh Rasulullah saw, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid (pemimpin). Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin melalui tangannya” (HR Bukhari). Dari hadist ini jelas bahwa dua kelompok besar itu adalah kaum Muslimin (kelompok Muawiyah rad an kelompok Ali ra) dan yang mendamaikan adalah Allah swt sendiri. Bagaimana mungkin Allah swt mendamaikan dua kelompok dimana salah satunya dilaknati! Tidak mungkin toh?! (jadi itu mah karangan agama syiah saja!)
(3) Imam Jafar shodiq rohimakumullah (yang oleh agama syiah dijadikan imam ke-6) menjawab ketika ditanya mengenai Muawiyyah ra, beliau hanya menjawab, "Aku menjawab sebagaimana yang Allah swt berfirman :"Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab. Rabb kami tidak salah dan tidak (pula) lupa” (thaha, 52). Bagaimana mungkin imam yang diklaim syiah yang lebih hebat dari nabi, yang tahu akan kejadian sebelum dan sesudah, tetapi tidak mau terbuka dan malah membuat bingung kaum syiahnya. Tidak mungkin toh?! (jadi itu mah karangan agama syiah saja!
(4) Memang benar bahwa Muawiyyah memegang tampuk kepemimpinan terutama menjadi gubernur Syam ketika ditunjuk oleh Umar bin Al-Khathab rad an diteruskan ketika Ustman bin Affan ra menjadi khalifah. Kita sebagai kaum Muslimin tentu meyakini bahwa Umar dan Ustman ra adalah sahabat-sahabat yang dijamin masuk surga, tentu tidak mungkin lah memilih pemimpin yang dilaknat oleh Allah swt. Mereka berdua tentu tidak akan sembarangan memilihnya menjadi gubernur kalau tidak mempunyai kemampuan, begitu pula kenapa Hasan bin Ali ra menyerahkan kepemimpinannya kepada Muawiyyah ra. Dan itu terbukti ketika memimpin setelah era kekhalifahan bertahan hingga waktu yang cukup lama. Islam pun lebih berkembang hingga tembus ke konstantinopel karena nya.
Sebenarnya masih banyak lagi keutamaan yang bisa kita tampilkan. Namun bagaimana pun Muawiyyah ra adalah seorang manusia juga, kalau ada kesalahan-kesalahan yang pernah beliau lakukan (seperti yang dituduhkan oleh orang yang beragama syiah) kita sebagai yang berkeyakinan Islam kita kembalikan kepada Allah swt. (seperti yang dilakukan oleh Imam Ja’far shodiq yang diakui sebagai imam ke-6 agama syiah!). wallahu a’lam
=====
Pendapat Para Sahabat tentang Muawiyah ra.
1. Amirul Mukninin Umar bin Al-Khathab ra : "Kalian menyebut-nyebut kecerdikan Kisra Persia dan Kaisar Romawi, padahal kalian mempunyai Muawiyah.
2. Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib ra : "Jangan membenci kepemimpinan Muawiyah, demi Allah, bila kalian kehilangan dia niscaya kalian melihat kepala-kepala terjatuh dari leher seperti buah Hanzhal"
3. Abdullah bin Umar ra : "Aku tidak melihat seseorang yang lebih tinggi kepemimpinannya daripada Muawiyah." Seseorang berkata kepada Abdullah, "Bagaimana dengan Umar?" Beliau menjawab, "Umar lebih baik darinya, tetapi dia lebih mumpuni kepemimpinannya".
4. Abdullah bin Abbas ra : "Aku tidak melihat seseorang yang patut atas kerajaan daripada Muawiyah"
5. Umar bin Abdul Aziz : Abdullah bin Al-Mubarak berkata dari Muhammad bin Muslim dari Ibrahim bin Maisarah, dia berkata, "Aku tidak melihat Umar bin Abdul Aziz mencambuk siapapun kecuali orang yang mencaci Muawiyah, dia mencambuk beberapa kali"
6. Al-Mu'afa bin Imran ditanya, "Siapa yang lebih utama, Muawiyah atau Umar bin Abdul Aziz?' Maka dia marah kepada penanya dan menjawab, "Apakah kamu menyamakan seorang laki-laki dari sahabat Rasulullah saw dengan seorang laki-laki tabi'in? Muawiyah adalah sahabat Rasulullah saw, ipar, juru tulis, dan orang kepercayaan beliau saw atas wahyu Allah."
7. dll
Daftar Pustaka :
1. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Prof. Dr. Khawarij dan Syiah dalam timbangan ahlu sunnah wal jamaah. Pustaka Al-Kautsar. 2012
2. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Prof. Dr. Mu'awiyah bin Abu Sufyan. Darul Haq. 2012
3. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Prof. Dr. Umar Bin Al-Khathab. Pustaka Al-kautsar. 2009
4. Al-Hafizh Ibnu Katsir. Perjalanan Hidup Empat khalifah Rasul yang Agung. Darul Haq. 2012
5. Firanda Andirja Abidin, Lc, MA. Banyolan Syiah Imamiyah. Nasirussunnah. 2014
6. 'Utsman bin Muhammad al-Khamis. Dr. Inilah Faktanya. Meluruskan Sejarah Umat Islam sejak wafat Nabi saw hingga terbunuhnya al-Husain ra. Pustaka Imam Asy-Syafi'i. 2013
7. Muhibbuddin Al-Khatiib. Mungkinkah Sunnah & Syiah Bersatu? (Sebuah tinjauan kritis terhadap prinsip-prinsip dasar sekte syiah Imamiyyah Itsna 'Ashariyyah) Pustaka Muslim. 1959
Senin, 25 Agustus 2014
Jumat, 22 Agustus 2014
Syair-syair klasik
Bila orang keji bertemu dengan orang keji
Itu artinya bejana bertemu dengan tutupnya
Keburukan dan orang yang terbiasa melakukannya
Adalah seperti gagak jelek yang berteriak sesukanya
Atau seperti keledai buruk bila kamu memberinya makan
maka dia akan menyepak orang,
tetapi bila lapar, ia meringkik
Atau seperti budak yang buruk
bila kamu membiarkannya lapar,
dia mencuri dari tetangga,
namun bila dia kenyang, dia berbuat dosa
Atau seperti wanita pecemburu
dia mengangkat ujung jubahnya
Kemudian menurunkannya kembali di depan madunya
Lalu ia robek
Wahai orang yang bertanya
tentang orang-orang yang telah berlalu
Adakah yang baru itu seperti yang sudah terpakai lagi usang
=====
Apiku dan api tetanggaku adalah satu
Kepadanya bejana diturunkan sebelumku
Tidak ada tetanggaku yang dirugikan olehku
Sekalipun pintu rumahnya dibiarkan tanpa penutup
Aku menutup mata bila tetanggaku yangwanita keluar
Sampai tetanggaku yang wanita itu masuk ke rumahnya
Karya : Miskin Ad-Darimi (Zaman Muawiyyah ketika menjadi Pemimpin)
dari buku : Muawiyyah bin Abu Sufyan karya Dr. Muhammad Ash Shalabi
=====
Wahai orang yang mengajar orang lain
Mengapa kamu tidak mengajari dirimu dulu?
Kamu membuat resep obat bagi orang sakit
Agar dia bisa sembuh sementara dirimu sendiri sakit
Kami melihatmu terus memperbaiki akal kami dengan nasihatmu
Sedangkan justru kamu tidak memilih arahan sendiri
Mulailah dengan dirimu, cegahlah ia dari keburukannya
Bila jiwamu sudah meninggalkannya, maka kamu adalah orang bijak
Saat itu apa yang kamu ucapkan di dengar dan kata-katamu
dijadikan obor dan pengajaranmu pun bermanfaat
Jangan melarang sebuah perbuatan
tetapi justru kamu melakukannya
Aib sekali bagimu bila kamu melakukannya sekaligus buruk
=====
Bila engkau mencari sebuah hajat dari hajat-hajat hidup
Maka berdoalah kepada Tuhan dan perbaikilah pekerjaanmu
Agar Dia memberimu apa yang Dia kehendaki
dengan kuasa-Nya, Dia Yang Maha Lembut
bagi apa yang ingin Dia lakukan
Biarkan manusia dengan urusan dan kesibukan mereka
Di Tangan Tuhan yang membolak-balik keadaan hidup
Karya : Abu Al-Aswad ad-Du'ali (Zaman Muawiyyah ketika menjadi Pemimpin)
dari buku : Muawiyyah bin Abu Sufyan karya Dr. Muhammad Ash Shalabi
========
Jika kau berada pada kenikmatan, jagalah ia
karena kenikmatan 'kan lenyap disebabkan dosa
turunkan nikmat dengan ketaatan kepada Rabb hamba
berapa banyak hamba yang begitu cepat mendapat siksa
jauhi kezhaliman meski engkau memiliki kesanggupan
karena kezhaliman hamba mencerminkan sifat keburukan
berkelanalah di antara manusia dengan hatimu
agar kau tahu akibat dari kezhaliman itu
sesudah itu ada bagi mereka ada tempat tinggal
ada saksi yang memberatkan dan tak dapat disangkal
tak ada yang lebih berbahaya dari kezhaliman
ketika mereka ada di ambang kebinasaan
berapa banyak mereka meninggalkan kebun dan istana
yang lain lagi dalam benteng tinggi bangunannya
mereka mendekam di neraka tanpa sedikit pun kenikmatan
karena yang mereka terima dahulu seakan-akan kesenangan
Karya : NN
dari buku : Setiap Penyakit ada obatnya karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
Itu artinya bejana bertemu dengan tutupnya
Keburukan dan orang yang terbiasa melakukannya
Adalah seperti gagak jelek yang berteriak sesukanya
Atau seperti keledai buruk bila kamu memberinya makan
maka dia akan menyepak orang,
tetapi bila lapar, ia meringkik
Atau seperti budak yang buruk
bila kamu membiarkannya lapar,
dia mencuri dari tetangga,
namun bila dia kenyang, dia berbuat dosa
Atau seperti wanita pecemburu
dia mengangkat ujung jubahnya
Kemudian menurunkannya kembali di depan madunya
Lalu ia robek
Wahai orang yang bertanya
tentang orang-orang yang telah berlalu
Adakah yang baru itu seperti yang sudah terpakai lagi usang
=====
Apiku dan api tetanggaku adalah satu
Kepadanya bejana diturunkan sebelumku
Tidak ada tetanggaku yang dirugikan olehku
Sekalipun pintu rumahnya dibiarkan tanpa penutup
Aku menutup mata bila tetanggaku yangwanita keluar
Sampai tetanggaku yang wanita itu masuk ke rumahnya
Karya : Miskin Ad-Darimi (Zaman Muawiyyah ketika menjadi Pemimpin)
dari buku : Muawiyyah bin Abu Sufyan karya Dr. Muhammad Ash Shalabi
=====
Wahai orang yang mengajar orang lain
Mengapa kamu tidak mengajari dirimu dulu?
Kamu membuat resep obat bagi orang sakit
Agar dia bisa sembuh sementara dirimu sendiri sakit
Kami melihatmu terus memperbaiki akal kami dengan nasihatmu
Sedangkan justru kamu tidak memilih arahan sendiri
Mulailah dengan dirimu, cegahlah ia dari keburukannya
Bila jiwamu sudah meninggalkannya, maka kamu adalah orang bijak
Saat itu apa yang kamu ucapkan di dengar dan kata-katamu
dijadikan obor dan pengajaranmu pun bermanfaat
Jangan melarang sebuah perbuatan
tetapi justru kamu melakukannya
Aib sekali bagimu bila kamu melakukannya sekaligus buruk
=====
Bila engkau mencari sebuah hajat dari hajat-hajat hidup
Maka berdoalah kepada Tuhan dan perbaikilah pekerjaanmu
Agar Dia memberimu apa yang Dia kehendaki
dengan kuasa-Nya, Dia Yang Maha Lembut
bagi apa yang ingin Dia lakukan
Biarkan manusia dengan urusan dan kesibukan mereka
Di Tangan Tuhan yang membolak-balik keadaan hidup
Karya : Abu Al-Aswad ad-Du'ali (Zaman Muawiyyah ketika menjadi Pemimpin)
dari buku : Muawiyyah bin Abu Sufyan karya Dr. Muhammad Ash Shalabi
========
Jika kau berada pada kenikmatan, jagalah ia
karena kenikmatan 'kan lenyap disebabkan dosa
turunkan nikmat dengan ketaatan kepada Rabb hamba
berapa banyak hamba yang begitu cepat mendapat siksa
jauhi kezhaliman meski engkau memiliki kesanggupan
karena kezhaliman hamba mencerminkan sifat keburukan
berkelanalah di antara manusia dengan hatimu
agar kau tahu akibat dari kezhaliman itu
sesudah itu ada bagi mereka ada tempat tinggal
ada saksi yang memberatkan dan tak dapat disangkal
tak ada yang lebih berbahaya dari kezhaliman
ketika mereka ada di ambang kebinasaan
berapa banyak mereka meninggalkan kebun dan istana
yang lain lagi dalam benteng tinggi bangunannya
mereka mendekam di neraka tanpa sedikit pun kenikmatan
karena yang mereka terima dahulu seakan-akan kesenangan
Karya : NN
dari buku : Setiap Penyakit ada obatnya karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah.
Kamis, 21 Agustus 2014
Keputusan MK (mahkamah konstitusi) atas sengketa pilpres 2014 dan pasca setelah itu
Keputusan MK (Mahkamah Konstitusi) atas sengketa pilpres 2014
Seperti sudah diduga sebelumnya bahwa keputusan MK atas sengketa pilpres 2014, tidak merubah keputusan KPU yang memenangkan capres dan cawapres dari kandidat no. 2 yaitu Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Dengan begitu berarti proses secara legal sudah berjalan hingga langkah terakhir, terlepas atas puas atau tidak puas dari hasil keputusan dari MK dari pihak pemohon yaitu kandidat no 1 yaitu pasangan Prabowo dan Hatta Rajasa. Kita semua masyarakat Indonesia tinggal menunggu ceremony pelantikan presiden dan wakil presiden periode 2014 – 2019.
Yang menjadi rasa penasaran masyarakat akan langkah-langkah yang diambil Presiden dan wakil presiden terpilih yang pertama adalah komposisi para pembantu presiden yaitu susunan cabinet, entah apa namanya (bagi saya itu penting), berupa nama-nama menteri serta komposisinya. Hal ini menjadi penting karena menjawab isu-isu yang berkembang selama proses pencalonan, masa kampanye hingga pemilihan presiden dan wakil presiden berlangsung. Dengan keanekaan dan kemajemukan suku bangsa, agama dan ras serta kepentingan yang tampak maupun tidak nampak setidaknya gambaran awal akan terlihat dari komposisi cabinet yang akan diusung oleh pak Jokowi dan pak JK.
Isu yang paling mendasar yang berhubungan dengan keyakinan masyarakat dan banyak dibahas dimedia social yaitu bahwa mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam, sementara banyak yang bergabung dengan gerbong pak Jokowi dan pak JK adalah para tokoh Islam liberal dan kelompok-kelompok minoritas yang bercirikan kepada Islam. Sehingga isu yang berkembang bahwa kaum Muslimin Indonesia akan tertekan dengan kebijakan-kebijakan yang ada, seperti wacana penghapusan perda syariah, penghapusan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP), melegalkan kelompok-kelompok tertentu yang selama tersisihkan. Sehingga tokoh atau nama yang akan menduduki kementrian agama menjadi perhatian banyak orang.
Lebih dari itu semua adalah masalah kepribadian bangsa yang berdasarkan pada keluruhan masyarakat yang beragama, sehingga isu-isu yang mendistorsi agama dan membuka kran untuk paham komunisme harus diclearkan dengan lebih jelas dan tegas. Bagaimana pun kalau isu terjadi maka ditakutkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di masyarakat.
Dalam bidang ekonomi, yang merupakan titik sentral akan peningkatan kesejahteraan masyarakat juga menjadi perhatian para pengamat baik di dalam negeri maupun luar negeri. Indonesia yang kaya raya akan sumber daya alam dan manusia namun ternyata secara ekonomi kita masih belum mampu untuk berdiri sendiri dalam pengelolaannya. Memang tidak mudah dan semudah membalikkan tangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui peningkatan laju ekonomi Indonesia. Di depan, subsidi BBM menjadi perhatian penting pemerintah pak Jokowi dan pak JK, dengan langkah yang mendesak dengan menaikkan harga BBM. Namun kebijakan ini bukanlah tindakan popular di masyarakat apalagi untuk kelas menengah ke bawah. Tetapi sosok pak JK, sebagai wakil presiden sudah mempunyai pengalaman tentang hal ini ketika menjabat dalam jabatan yang sama bersama presiden SBY. Apakah dalam waktu dekat ini atau menunggu waktu, itu yang akan kita tunggu.
Isu berikutnya yang menjadi perhatian adalah pemanfaat sumber daya alam yang dikuasai oleh perusahaan asing. Terakhir ini berita perpanjangan Freeport menjadi sangat menarik perhatian. Kemandirian dan martabat bangsa dipertaruhkan tidak hanya kasus Freeport saja tetapi juga kontrak-kontrak kerja sama dengan perusahaan asing. Jangan sampai istilah Indonesia ada dalam cengkraman asing yang menghisap kekayaan bangsa dan Negara Indonesia terus berlangsung.
Masih banyak lagi masalah yang harus ditangani oleh Presiden dan wakil presiden baru nanti. Semoga dengan visi dan misi yang disampaikan bisa menangani semua masalah yang ada tersebut. Mari kita dukung kiprahnya, sehingga ada imbal balik kepada kita masyarakat Indonesia. Amin
Seperti sudah diduga sebelumnya bahwa keputusan MK atas sengketa pilpres 2014, tidak merubah keputusan KPU yang memenangkan capres dan cawapres dari kandidat no. 2 yaitu Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Dengan begitu berarti proses secara legal sudah berjalan hingga langkah terakhir, terlepas atas puas atau tidak puas dari hasil keputusan dari MK dari pihak pemohon yaitu kandidat no 1 yaitu pasangan Prabowo dan Hatta Rajasa. Kita semua masyarakat Indonesia tinggal menunggu ceremony pelantikan presiden dan wakil presiden periode 2014 – 2019.
Yang menjadi rasa penasaran masyarakat akan langkah-langkah yang diambil Presiden dan wakil presiden terpilih yang pertama adalah komposisi para pembantu presiden yaitu susunan cabinet, entah apa namanya (bagi saya itu penting), berupa nama-nama menteri serta komposisinya. Hal ini menjadi penting karena menjawab isu-isu yang berkembang selama proses pencalonan, masa kampanye hingga pemilihan presiden dan wakil presiden berlangsung. Dengan keanekaan dan kemajemukan suku bangsa, agama dan ras serta kepentingan yang tampak maupun tidak nampak setidaknya gambaran awal akan terlihat dari komposisi cabinet yang akan diusung oleh pak Jokowi dan pak JK.
Isu yang paling mendasar yang berhubungan dengan keyakinan masyarakat dan banyak dibahas dimedia social yaitu bahwa mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam, sementara banyak yang bergabung dengan gerbong pak Jokowi dan pak JK adalah para tokoh Islam liberal dan kelompok-kelompok minoritas yang bercirikan kepada Islam. Sehingga isu yang berkembang bahwa kaum Muslimin Indonesia akan tertekan dengan kebijakan-kebijakan yang ada, seperti wacana penghapusan perda syariah, penghapusan kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP), melegalkan kelompok-kelompok tertentu yang selama tersisihkan. Sehingga tokoh atau nama yang akan menduduki kementrian agama menjadi perhatian banyak orang.
Lebih dari itu semua adalah masalah kepribadian bangsa yang berdasarkan pada keluruhan masyarakat yang beragama, sehingga isu-isu yang mendistorsi agama dan membuka kran untuk paham komunisme harus diclearkan dengan lebih jelas dan tegas. Bagaimana pun kalau isu terjadi maka ditakutkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di masyarakat.
Dalam bidang ekonomi, yang merupakan titik sentral akan peningkatan kesejahteraan masyarakat juga menjadi perhatian para pengamat baik di dalam negeri maupun luar negeri. Indonesia yang kaya raya akan sumber daya alam dan manusia namun ternyata secara ekonomi kita masih belum mampu untuk berdiri sendiri dalam pengelolaannya. Memang tidak mudah dan semudah membalikkan tangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui peningkatan laju ekonomi Indonesia. Di depan, subsidi BBM menjadi perhatian penting pemerintah pak Jokowi dan pak JK, dengan langkah yang mendesak dengan menaikkan harga BBM. Namun kebijakan ini bukanlah tindakan popular di masyarakat apalagi untuk kelas menengah ke bawah. Tetapi sosok pak JK, sebagai wakil presiden sudah mempunyai pengalaman tentang hal ini ketika menjabat dalam jabatan yang sama bersama presiden SBY. Apakah dalam waktu dekat ini atau menunggu waktu, itu yang akan kita tunggu.
Isu berikutnya yang menjadi perhatian adalah pemanfaat sumber daya alam yang dikuasai oleh perusahaan asing. Terakhir ini berita perpanjangan Freeport menjadi sangat menarik perhatian. Kemandirian dan martabat bangsa dipertaruhkan tidak hanya kasus Freeport saja tetapi juga kontrak-kontrak kerja sama dengan perusahaan asing. Jangan sampai istilah Indonesia ada dalam cengkraman asing yang menghisap kekayaan bangsa dan Negara Indonesia terus berlangsung.
Masih banyak lagi masalah yang harus ditangani oleh Presiden dan wakil presiden baru nanti. Semoga dengan visi dan misi yang disampaikan bisa menangani semua masalah yang ada tersebut. Mari kita dukung kiprahnya, sehingga ada imbal balik kepada kita masyarakat Indonesia. Amin
Sabtu, 16 Agustus 2014
Kompetisi, prestasi dan prestise!
Hiks! miris rasanya ketika melintas di depan kami, rombongan defile SD yang membawa poster, "Kami datang bukan untuk juara, kami datang untuk berpartisipasi". Ya...boleh jadi miris bagi saya, belum tentu bagi anda. Bagi saya, saya berfikir bahwa seharusnya ditanamkan sifat berkompetisi yang baik kepada anak-anak sejak dini sehingga bisa mencapai prestasi yang terbaik. Bagaimana pun prestasi nantinya akan menghasilkan prestise baik bagi dirinya sendiri mapun kelompok/komunitas/bangsa.
Apalagi dalam kehidupan bermasyarakat nantinya, kompetisi dalam kehidupan akan selalu ada dan semakin berat. Dengan berkompetisi, kita akan diajarkan sifat percaya diri, berani bertindak, sportifitas, berjiwa kesatria. Dengan semua itu akan timbul kemandirian dalam menghadapi kehidupan, apalagi ketika prestasi mereka dapatkan tentu semua orang akan memandang dengan pandangan yang menghormati, memuja dan menempatkannya pada kedudukan yang teratas. Itulah yang dinamakan dengan prestise.
Prinsip ini banyak dipakai pada jaman modern ini untuk meningkatkan prestasi dan menggapai prestise dalam kompetisi dalam kehidupan. Bagaimana sekolah yang ingin dipandang ternama menerima calon-calon siswa dari siswa yang berprestasi yang nantinya diharapkan akan mengangkat nama sekolah. Aspek pengetahuan kadang tidak terlalu diperhatikan artinya dijadikan nomor dua. Kita lihat juga dicabang olah raga, dalam lingkup klub professional mereka berani membayar atletnya dengan harga atau gaji yang mahal dengan catatan mempu menghasilkan prestasi dalam kompetisi. Bahkan dalam setiap pertandingan kadang diiming-imingi bonus dan lainnya untuk memacu semangat dan prestasi. Begitu pula di dunia kerja, perusahaan yang ingin cepat mencapai prestasi dalam kompetisi yang semakin ketat, mereka berani untuk membajak karyawan yang potensi yang mempunyai skill atau keahlian yang mampu mengangkat nama perusahaan.
Untuk kerja seperti ini diperlukan kata sehati dan kebersamaan yang luarbiasa. Ketika ada satu orang yang tidak sejalan dan selaras apalagi tidak terlalu bergairah untuk menyetujuinya maka proses pengangkatan prestasi dan prestise tidak akan berjalan dengan baik. Selain itu juga diperlukan sumber daya yang lain untuk mendukung itu. Ketika mau menjalankan proses kompetisi, ketika harus membayar lebih karyawan yang dibajak atau atlet professional. Tapi yakinlah semua sumber daya yang dikerahkan dan dikeluarkan pasti akan terbayar dengan lunas dan tuntas nantinya bahkan boleh jadi lebih dari semuanya itu. Kebalikan bagi seseorang yang tidak mau berkompetisi dalam kehidupannya, ada istilah yang biasa disebut untuk itu yaitu : "mengikuti arus", untung-untung kalau arusnya membawa kepada kebaikan, klo tidak yaa....istilahnya termakan arus atau terbawa arus. Boro-boro berkompetisi untuk menggapai prestasi tapi boleh jadi hanya sebagai penggembira. Bahkan boleh jadi ketika arusnya kepada ketidak baikan maka akan jadi perusak kehidupan.
Mengenai kompetisi dalam agama saja diajarkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, Fastabikul khoirot, untuk menjadi yang terbaik dalam melakukan amal di dunia ini. Dalam firmannya, Allah swt menyatakan bahwa tujuan Tuhan menguji manusia supaya diketahui mana yang amalnya terbaik.
Hayo! Kita berkompetisi, untuk mencapai prestasi terbaik! Selamat memperingati HUT RI ke 69. 17 Agustus 2014. Selamat berlomba : Balap karung goni, makan kerupuk, panjat pinang, membawa kelereng di sendok dan lain sebagainya.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Apalagi dalam kehidupan bermasyarakat nantinya, kompetisi dalam kehidupan akan selalu ada dan semakin berat. Dengan berkompetisi, kita akan diajarkan sifat percaya diri, berani bertindak, sportifitas, berjiwa kesatria. Dengan semua itu akan timbul kemandirian dalam menghadapi kehidupan, apalagi ketika prestasi mereka dapatkan tentu semua orang akan memandang dengan pandangan yang menghormati, memuja dan menempatkannya pada kedudukan yang teratas. Itulah yang dinamakan dengan prestise.
Prinsip ini banyak dipakai pada jaman modern ini untuk meningkatkan prestasi dan menggapai prestise dalam kompetisi dalam kehidupan. Bagaimana sekolah yang ingin dipandang ternama menerima calon-calon siswa dari siswa yang berprestasi yang nantinya diharapkan akan mengangkat nama sekolah. Aspek pengetahuan kadang tidak terlalu diperhatikan artinya dijadikan nomor dua. Kita lihat juga dicabang olah raga, dalam lingkup klub professional mereka berani membayar atletnya dengan harga atau gaji yang mahal dengan catatan mempu menghasilkan prestasi dalam kompetisi. Bahkan dalam setiap pertandingan kadang diiming-imingi bonus dan lainnya untuk memacu semangat dan prestasi. Begitu pula di dunia kerja, perusahaan yang ingin cepat mencapai prestasi dalam kompetisi yang semakin ketat, mereka berani untuk membajak karyawan yang potensi yang mempunyai skill atau keahlian yang mampu mengangkat nama perusahaan.
Untuk kerja seperti ini diperlukan kata sehati dan kebersamaan yang luarbiasa. Ketika ada satu orang yang tidak sejalan dan selaras apalagi tidak terlalu bergairah untuk menyetujuinya maka proses pengangkatan prestasi dan prestise tidak akan berjalan dengan baik. Selain itu juga diperlukan sumber daya yang lain untuk mendukung itu. Ketika mau menjalankan proses kompetisi, ketika harus membayar lebih karyawan yang dibajak atau atlet professional. Tapi yakinlah semua sumber daya yang dikerahkan dan dikeluarkan pasti akan terbayar dengan lunas dan tuntas nantinya bahkan boleh jadi lebih dari semuanya itu. Kebalikan bagi seseorang yang tidak mau berkompetisi dalam kehidupannya, ada istilah yang biasa disebut untuk itu yaitu : "mengikuti arus", untung-untung kalau arusnya membawa kepada kebaikan, klo tidak yaa....istilahnya termakan arus atau terbawa arus. Boro-boro berkompetisi untuk menggapai prestasi tapi boleh jadi hanya sebagai penggembira. Bahkan boleh jadi ketika arusnya kepada ketidak baikan maka akan jadi perusak kehidupan.
Mengenai kompetisi dalam agama saja diajarkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, Fastabikul khoirot, untuk menjadi yang terbaik dalam melakukan amal di dunia ini. Dalam firmannya, Allah swt menyatakan bahwa tujuan Tuhan menguji manusia supaya diketahui mana yang amalnya terbaik.
Hayo! Kita berkompetisi, untuk mencapai prestasi terbaik! Selamat memperingati HUT RI ke 69. 17 Agustus 2014. Selamat berlomba : Balap karung goni, makan kerupuk, panjat pinang, membawa kelereng di sendok dan lain sebagainya.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!
Jumat, 15 Agustus 2014
Rusaknya Dunia
Dalam kesempatan membagi-bagikan bantuan untuk anak yatim, istri saya dimintai juga oleh anak kecil berumur kurang lebih 4 tahun untuk memberikan bantuan ke teman yang tinggal di sebelah rumahnya dengan alasan bahwa temannya juga tidak mempunyai Bapak. Istri saya pun membantah anak kecil itu karena sepengetahuannya keluarga itu masih ada Bapak dan Ibunya, dan istri saya mengenal sang ibu (sebut saja ibu A) itu karena anaknya juga mengaji di rumah dimana istri saya mengajar mengaji anak-anak. Tetapi ternyata dari informasi tetangga dan keluarga sang ibu itu ternyata Bapak dan Ibu A itu sudah bercerai.
Saya tahu sedikit tentang prahara rumah tangga mereka dari informasi teman di masjid yang masih termasuk tetangga. Teman ini punya tempat kos-kosan tetapi tempatnya agak jauh dari rumahnya. Kos-kosan itu diisi oleh para mahasiswi dari daerah yang kuliah di Makassar ini. Rupanya salah satu mahasiswi yang kos di tempat itu selalu menerima tamu laki-laki dan bermalam di tempat kos tersebut. Setelah ketahuan berbuat seperti itu akhirnya mahasiswi tersebut diusir dari tempat kos-kosannya. Hanya yang membuat kaget teman saya, ternyata laki-laki yang selalu bermalam dengan mahasiswi tersebut adalah Bapak sebagai suami dari sang ibu A yang saya ceritakan di alenia pertama tadi, yang tidak lain adalah tetangganya sendiri.
Kembali kepada istri saya, ketika istri saya mendapat berita dari keluarga sang ibu A tentang masalah keluarga itu, mereka (keluarga sang ibu A) menyayangkan kejadian hal itu, padahal menurut mereka bahwa kehidupan mereka mulai meningkat. Hal itu dibuktikan dengan mereka mampu membangun rumah baru yang cukup lumayan bagus walau belum selesai semuanya. Saya pun penasaran dengan kenyataan itu, saya fikir mereka mampu membangun rumah dari hasil penjualan tanah di kampungnya seperti saudaranya sang ibu A yang membangun rumah dari hasil menjual tanah, yang rumahnya juga tidak jauh dari rumah ibu A. Jawaban istri saya cukup mengagetkan bahwa pekerjaan Bapak, suami sang ibu A itu menjual kupon judi. Waduh!
Tadi pagi, dalam perjalanan pulang shalat subuh di masjid bersama-sama dengan teman yang punya kos-kosan, saya konfirmasi mengenai pekerjaan Bapak mantan suaminya ibu A. Ternyata jawaban istri saya dibenarkan sama teman itu. Wah! Yang tidak habis fikir adalah masyarakat sudah menilai biasa-biasa saja pekerjaan yang tidak diridloi oleh Allah swt, malah bangga dengan hasilnya yang bisa terlihat dalam kehidupan. Padahal boleh jad kejadian rumah tangga itu berasal dari penghasilan yang tidak benar. Lebih jauh lagi bagaimana dengan anak-anaknya nanti yang diberi makan dari hasil yang tidak benar. Na’udzubillah min dzalik. Astaghfirullahal’adzim.
Saya tahu sedikit tentang prahara rumah tangga mereka dari informasi teman di masjid yang masih termasuk tetangga. Teman ini punya tempat kos-kosan tetapi tempatnya agak jauh dari rumahnya. Kos-kosan itu diisi oleh para mahasiswi dari daerah yang kuliah di Makassar ini. Rupanya salah satu mahasiswi yang kos di tempat itu selalu menerima tamu laki-laki dan bermalam di tempat kos tersebut. Setelah ketahuan berbuat seperti itu akhirnya mahasiswi tersebut diusir dari tempat kos-kosannya. Hanya yang membuat kaget teman saya, ternyata laki-laki yang selalu bermalam dengan mahasiswi tersebut adalah Bapak sebagai suami dari sang ibu A yang saya ceritakan di alenia pertama tadi, yang tidak lain adalah tetangganya sendiri.
Kembali kepada istri saya, ketika istri saya mendapat berita dari keluarga sang ibu A tentang masalah keluarga itu, mereka (keluarga sang ibu A) menyayangkan kejadian hal itu, padahal menurut mereka bahwa kehidupan mereka mulai meningkat. Hal itu dibuktikan dengan mereka mampu membangun rumah baru yang cukup lumayan bagus walau belum selesai semuanya. Saya pun penasaran dengan kenyataan itu, saya fikir mereka mampu membangun rumah dari hasil penjualan tanah di kampungnya seperti saudaranya sang ibu A yang membangun rumah dari hasil menjual tanah, yang rumahnya juga tidak jauh dari rumah ibu A. Jawaban istri saya cukup mengagetkan bahwa pekerjaan Bapak, suami sang ibu A itu menjual kupon judi. Waduh!
Tadi pagi, dalam perjalanan pulang shalat subuh di masjid bersama-sama dengan teman yang punya kos-kosan, saya konfirmasi mengenai pekerjaan Bapak mantan suaminya ibu A. Ternyata jawaban istri saya dibenarkan sama teman itu. Wah! Yang tidak habis fikir adalah masyarakat sudah menilai biasa-biasa saja pekerjaan yang tidak diridloi oleh Allah swt, malah bangga dengan hasilnya yang bisa terlihat dalam kehidupan. Padahal boleh jad kejadian rumah tangga itu berasal dari penghasilan yang tidak benar. Lebih jauh lagi bagaimana dengan anak-anaknya nanti yang diberi makan dari hasil yang tidak benar. Na’udzubillah min dzalik. Astaghfirullahal’adzim.
Kamis, 14 Agustus 2014
Bendera Merah Putih dan Merdeka
Dalam sebuah obrolan ketika Teman saya dan penduduk lainnya di desa itu sedang mempersiapkan desanya, dimana dia tinggal, menjadi tuan rumah pesta seni dan budaya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat kecamatan pada tahun ini, teman saya mengatakan bahwa baru kali ini dia mengibarkan kembali bendera merah putih. Wah….suatu pernyataan yang menohok jiwa kebangsaan dan rasa nasionalisme pada diri saya sendiri, apakah perlu seperti itu. Dengan senyum kecut, saya menanggapi pernyataan dengan mengatakan bahwa di lorong dimana saya tinggal tidak ada satu orang pun yang mengibarkan bendera berah putih ketika tanggal 17 Agustus tiba termasuk saya, kecuali satu orang, yaitu seorang pegawai negeri sipil yang menjabat sebagai pengawas guru. Saya juga mengatakan bahwa bendera yang saya punya beberapa tahun yang lalu , entah saat ini saya masih punya atau tidak- warnanya sudah pudar. Bukan lagi merah menyala dan putih bersih. Merah yang melambangkan keberanian dan putih yang melambangkan kesucian. Hiks!
Saya dan teman saya, yang kemungkinan besar adalah generasi ke-2 dan atau generasi ke-3, dari generasi para pejuang kemerdekaan yang mengorbankan harta, nyawa dan keluarganya hanya untuk mengibarkan bendera merah putih dengan pekik Merdeka dari tangan penjajah yang mencengkeram dan membelenggu sendi-sendi asasi manusia Indoensia untuk berdiri tegak hidup dan berkehidupan di negaranya sendiri, tumbuh dan berkembang dengan sumber daya yang ada bersama dengan masyarakat dunia lainnya sebagai makhluk yang berkepribadian dan beradab. Ah…boleh jadi saya dan teman saya, dan juga barangkali berjuta-juta masyarakat Indonesia (termasuk anda) yang tidak mengibarkan bendera pada setiap tanggal 17 Agustus dinilai sebagai orang yang tidak mempunyai rasa Nasiolisme, jiwa Patriotis kebangsaan dan lain sebagainya. Hiks!
Sedih juga kalau dikatakan seperti itu! Di sisi lain boleh jadi ada orang yang dengan bangga selalu mengibarkan bendera Merah Putih setiap tanggal 17 Agustus dan di hari-hari lainnya yang diperintahkan untuk itu, tetapi kerjanya merampok kekayaan Negara. Di sisi lain ada orang yang tidak tahu dan tidak peduli dengan tanggal 17 Agustus, karena harus bergulat dengan waktu dan status marginal Karena mencari sesuatu untuk mengganjal perut diri dan keluarganya untuk kelangsungan hidupnya. Di sisi lain ada orang yang dengan gagahnya menghormati sang saka ketika diderek ke angkasa di tiang yang megah sementara dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa dengan kekayaan negeri yang meluncur dan dinikmati tanpa rasa keadilan oleh orang-orang yang tidak berhak. Di sisi lain ada orang yang dengan bangga mengibarkan bendera setiap 17 agustus, tetapi ketika mau mengabdi ke Negara dengan selembar kertas ijazah dan keahlian, terbentur kokoh keangkuhan karena konon dia tidak mempunyai akses baik materi maupun darah ke pusat kekuasaan. Hiks
Memang tidak mudah menjadi Negara dan bangsa yang mandiri dan bermartabat, apalagi ada orang yang mengatakan bahwa ketika Negara dan bangsa itu masih dalam kisaran umur yang relative muda! Muda dan tua sebenarnya hanyalah peristilahan yang sifatnya perbandingan. Padahal kita sebenarnya ada pilihan yang lebih baik dan hebat yaitu ketika menjadi Negara dan bangsa yang mandiri dan bermartabat ketika umurnya masih muda! Untuk itu diperlukan pribadi-probadi yang mengerti akan hakekat berbangsa dan bernegara, bukan hanya sekedar formalitas menaikkan bendera dimana diperintahkan. Tentu penghormatan kepada symbol Negara memang diperlukan sebatas tidak melebihi batas penghormtan itu sendiri. Secara eksklusif kita bisa melihat bagaimana anak bangsa bergembira dan mengagungkan sang saka ketika ada anak bangsa membela tanah airnya di medan laga, olah raga misalnya entah itu sepakbola, bulutangkis dll, di bidang ilmu dan teknologi, seperti olimpiade matematika, sains dll. Terutama dengan pencapaian prestasi di luar yang berhubungan dengan bangsa dan negara Indonesia.
Untuk itu, Selamat memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-69.
Pekikan Merdeka di jiwa kita,
Pekikan Merdeka di kehidupan bermasyarakat kita,
Pekikan Merdeka di kehidupan berbangsa kita
Dengan Merdeka, kita tancapkan bendera di kemandirian dan kemartabatan bangsa kita.
Dengan Merdeka, kita kokohkan NKRI dari anasir-anasir pemecah belah bangsa.
Dengan Merdeka, kita rapatkan barisan dari para perampok-perampok kekayaan Negara.
Dengan Merdeka, kita langkahkan kaki bersama menuju kecerdasan bangsa, kemakmuran negara, kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan.
MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA! (diiringi lagu : Berkibarlah benderaku, lambing suci gagah berani, di penjuru……..)
Saya dan teman saya, yang kemungkinan besar adalah generasi ke-2 dan atau generasi ke-3, dari generasi para pejuang kemerdekaan yang mengorbankan harta, nyawa dan keluarganya hanya untuk mengibarkan bendera merah putih dengan pekik Merdeka dari tangan penjajah yang mencengkeram dan membelenggu sendi-sendi asasi manusia Indoensia untuk berdiri tegak hidup dan berkehidupan di negaranya sendiri, tumbuh dan berkembang dengan sumber daya yang ada bersama dengan masyarakat dunia lainnya sebagai makhluk yang berkepribadian dan beradab. Ah…boleh jadi saya dan teman saya, dan juga barangkali berjuta-juta masyarakat Indonesia (termasuk anda) yang tidak mengibarkan bendera pada setiap tanggal 17 Agustus dinilai sebagai orang yang tidak mempunyai rasa Nasiolisme, jiwa Patriotis kebangsaan dan lain sebagainya. Hiks!
Sedih juga kalau dikatakan seperti itu! Di sisi lain boleh jadi ada orang yang dengan bangga selalu mengibarkan bendera Merah Putih setiap tanggal 17 Agustus dan di hari-hari lainnya yang diperintahkan untuk itu, tetapi kerjanya merampok kekayaan Negara. Di sisi lain ada orang yang tidak tahu dan tidak peduli dengan tanggal 17 Agustus, karena harus bergulat dengan waktu dan status marginal Karena mencari sesuatu untuk mengganjal perut diri dan keluarganya untuk kelangsungan hidupnya. Di sisi lain ada orang yang dengan gagahnya menghormati sang saka ketika diderek ke angkasa di tiang yang megah sementara dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa dengan kekayaan negeri yang meluncur dan dinikmati tanpa rasa keadilan oleh orang-orang yang tidak berhak. Di sisi lain ada orang yang dengan bangga mengibarkan bendera setiap 17 agustus, tetapi ketika mau mengabdi ke Negara dengan selembar kertas ijazah dan keahlian, terbentur kokoh keangkuhan karena konon dia tidak mempunyai akses baik materi maupun darah ke pusat kekuasaan. Hiks
Memang tidak mudah menjadi Negara dan bangsa yang mandiri dan bermartabat, apalagi ada orang yang mengatakan bahwa ketika Negara dan bangsa itu masih dalam kisaran umur yang relative muda! Muda dan tua sebenarnya hanyalah peristilahan yang sifatnya perbandingan. Padahal kita sebenarnya ada pilihan yang lebih baik dan hebat yaitu ketika menjadi Negara dan bangsa yang mandiri dan bermartabat ketika umurnya masih muda! Untuk itu diperlukan pribadi-probadi yang mengerti akan hakekat berbangsa dan bernegara, bukan hanya sekedar formalitas menaikkan bendera dimana diperintahkan. Tentu penghormatan kepada symbol Negara memang diperlukan sebatas tidak melebihi batas penghormtan itu sendiri. Secara eksklusif kita bisa melihat bagaimana anak bangsa bergembira dan mengagungkan sang saka ketika ada anak bangsa membela tanah airnya di medan laga, olah raga misalnya entah itu sepakbola, bulutangkis dll, di bidang ilmu dan teknologi, seperti olimpiade matematika, sains dll. Terutama dengan pencapaian prestasi di luar yang berhubungan dengan bangsa dan negara Indonesia.
Untuk itu, Selamat memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-69.
Pekikan Merdeka di jiwa kita,
Pekikan Merdeka di kehidupan bermasyarakat kita,
Pekikan Merdeka di kehidupan berbangsa kita
Dengan Merdeka, kita tancapkan bendera di kemandirian dan kemartabatan bangsa kita.
Dengan Merdeka, kita kokohkan NKRI dari anasir-anasir pemecah belah bangsa.
Dengan Merdeka, kita rapatkan barisan dari para perampok-perampok kekayaan Negara.
Dengan Merdeka, kita langkahkan kaki bersama menuju kecerdasan bangsa, kemakmuran negara, kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan.
MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA! (diiringi lagu : Berkibarlah benderaku, lambing suci gagah berani, di penjuru……..)
Selasa, 12 Agustus 2014
Robin Williams: Kebahagiaan, terjadi bukan atas terpenuhinya kebutuhan jasmani!
Robin Williams. saya pertama kali menonton serial film nya, dulueee sekali, ketika Mork and Mindy ditayangkan di televisi. Waktu itu Robin Williams masih sangat muda (begitu pula saya, hiks). Tapi penampilannya di Serial komedi tersebut sungguh membuat penonton tertawa lepas.
Seiring berjalan waktu, dan karena saya juga tidak terlalu menjadi pemerhati dan pencinta film, saya tidak mengikuti perkembangan karier beliau, hingga film Mrs. Doubtfire begitu menarik magnet sedikit rasa seni jiwa saya untuk menontonnya, dan konon dengan film itu juga beliau dapat penghargaan tertinggi di dunia film yaitu oscar (bener ya?)
Dengan ketenaran yang menglobal dan jauhnya perjalanan kariernya di dunia film di amerika tentu kekayaan beliau tidaklah bisa dikatakan sedikit, tetapi pasti bejibun! Hanya sayang, berita terakhir saya dapat bahwa beliau meninggal yang disinyalir meninggal dengan cara bunuh diri. Hiks!
Sangat disayangkan kalau benar berita kematiannya dengan cara bunuh diri! apa yang menyebabkan beliau bunuh diri, juga beritanya masih kalang kabur! Yang jelas pasti ketidak bahagiaan akan sesauatu sehingga mengambil jalan pintas seperti itu. Tidak cukupkah ketenaran dan kekayaan (bahkan kalau mau kekuasaan pun bisa dia dapat. banyak artis yang menjadi pejabat publik!) untuk membuat beliau bahagia. Bukankah selama ini yang dia kejar adalah kebahagiaan?
Konon, kasus bunuh diri di amerika tidaklah sedikit. Di Jembatan Golden Gate yang terkenal itu di amerika, banyak orang yang terjun bebas untuk bunuh diri. Dan setelah diteliti ternyata mereka yang bunuh diri secara ekonomi bukanlah orang-orang yang kesusahan artinya orang-orang yang mampu atau kaya yang tidak menemui kesulitan dalam kehidupan ini. Kalau orang yang digolongkan fakir miskin mungkin secara logika bisa dimaklumi bunuh diri karena mungkin tidak kuat menghadapi tekanan kehidupan. Lah, wong ini orang-orang berduit kok!
Kalau begitu masalahnya ada dimana? ketika seseorang mampu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, melengkapi apa yang dibutuhkan tubuh mereka mulai makanan, perlengkapan pakaian dan segala asesorisnya, rumah dan segala asesorisnya, kebutuhan kemewahan seperti kendaraan, hiburan, peralatan kecantikan bahkan hingga ketenaran dan kekuasaan, apakah dengan demikian kebahagiaan haqiqi akan didapatkan orang tersebut? Dari kasus di atas, ternyata bukan di situ masalahnya. Kalau kebahagiaan disandingkan dengan pemenuhan aspek jasmani, pertanyaannya bagaimana dengan orang yang tidak bisa memenuhinya, bagaimana dengan orang miskin? Fakta bisa kita temukan ternyata banyak orang yang serba kekurangan secara ekonomi yang tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmaninya, hidupnya enjoy-enjoy saja, bahagia, adapun kesulitan hidup yang dihadapi hanyalah kerikil-kerikil kecil dalam kehidupan, sebuah cobaan bagi mereka yang harus dihadapi dengan sabar dan tawakal.
Seperti dikatakan Pak Ustadz bahwa kebahagiaan itu bukan pada terpenuhinya kebutuhan fisik, ketenaran, kekayaan dan lain sebagainya yang sifatnya jasmani. Tetapi ada aspek Rohani yang juga harus dipenuhi kebutuhannya. Ketika si Rohani ini terlantarkan dan Jasmani dimanjakan maka akan ada ketimpangan jiwa dan raga, yang akan mengakibatkan fatal kalau sudah menjadi borok yang kronis. Aspek Rohani inilah yang akan menjadi penyeimbang jalannya alur kehidupan manusia, terlepas apakah aspek jasmani terpenuhi poll atawa tidak.
Aspek rohani ini dalam istilah agama terfokus pada hati. Sehingga dikatakan jika hatinya baik maka akan baik seluruh jiwa raganya, tapi jika hatinya tidak baik maka akan rusak seluruh jiwa raganya. Bagaimana menjadikan hati sehat dan baik, silahkan inbox ke pak Ustadz.
Selamat jalan Robin Williams!
Seiring berjalan waktu, dan karena saya juga tidak terlalu menjadi pemerhati dan pencinta film, saya tidak mengikuti perkembangan karier beliau, hingga film Mrs. Doubtfire begitu menarik magnet sedikit rasa seni jiwa saya untuk menontonnya, dan konon dengan film itu juga beliau dapat penghargaan tertinggi di dunia film yaitu oscar (bener ya?)
Dengan ketenaran yang menglobal dan jauhnya perjalanan kariernya di dunia film di amerika tentu kekayaan beliau tidaklah bisa dikatakan sedikit, tetapi pasti bejibun! Hanya sayang, berita terakhir saya dapat bahwa beliau meninggal yang disinyalir meninggal dengan cara bunuh diri. Hiks!
Sangat disayangkan kalau benar berita kematiannya dengan cara bunuh diri! apa yang menyebabkan beliau bunuh diri, juga beritanya masih kalang kabur! Yang jelas pasti ketidak bahagiaan akan sesauatu sehingga mengambil jalan pintas seperti itu. Tidak cukupkah ketenaran dan kekayaan (bahkan kalau mau kekuasaan pun bisa dia dapat. banyak artis yang menjadi pejabat publik!) untuk membuat beliau bahagia. Bukankah selama ini yang dia kejar adalah kebahagiaan?
Konon, kasus bunuh diri di amerika tidaklah sedikit. Di Jembatan Golden Gate yang terkenal itu di amerika, banyak orang yang terjun bebas untuk bunuh diri. Dan setelah diteliti ternyata mereka yang bunuh diri secara ekonomi bukanlah orang-orang yang kesusahan artinya orang-orang yang mampu atau kaya yang tidak menemui kesulitan dalam kehidupan ini. Kalau orang yang digolongkan fakir miskin mungkin secara logika bisa dimaklumi bunuh diri karena mungkin tidak kuat menghadapi tekanan kehidupan. Lah, wong ini orang-orang berduit kok!
Kalau begitu masalahnya ada dimana? ketika seseorang mampu untuk memenuhi kehidupan sehari-hari, melengkapi apa yang dibutuhkan tubuh mereka mulai makanan, perlengkapan pakaian dan segala asesorisnya, rumah dan segala asesorisnya, kebutuhan kemewahan seperti kendaraan, hiburan, peralatan kecantikan bahkan hingga ketenaran dan kekuasaan, apakah dengan demikian kebahagiaan haqiqi akan didapatkan orang tersebut? Dari kasus di atas, ternyata bukan di situ masalahnya. Kalau kebahagiaan disandingkan dengan pemenuhan aspek jasmani, pertanyaannya bagaimana dengan orang yang tidak bisa memenuhinya, bagaimana dengan orang miskin? Fakta bisa kita temukan ternyata banyak orang yang serba kekurangan secara ekonomi yang tidak bisa memenuhi kebutuhan jasmaninya, hidupnya enjoy-enjoy saja, bahagia, adapun kesulitan hidup yang dihadapi hanyalah kerikil-kerikil kecil dalam kehidupan, sebuah cobaan bagi mereka yang harus dihadapi dengan sabar dan tawakal.
Seperti dikatakan Pak Ustadz bahwa kebahagiaan itu bukan pada terpenuhinya kebutuhan fisik, ketenaran, kekayaan dan lain sebagainya yang sifatnya jasmani. Tetapi ada aspek Rohani yang juga harus dipenuhi kebutuhannya. Ketika si Rohani ini terlantarkan dan Jasmani dimanjakan maka akan ada ketimpangan jiwa dan raga, yang akan mengakibatkan fatal kalau sudah menjadi borok yang kronis. Aspek Rohani inilah yang akan menjadi penyeimbang jalannya alur kehidupan manusia, terlepas apakah aspek jasmani terpenuhi poll atawa tidak.
Aspek rohani ini dalam istilah agama terfokus pada hati. Sehingga dikatakan jika hatinya baik maka akan baik seluruh jiwa raganya, tapi jika hatinya tidak baik maka akan rusak seluruh jiwa raganya. Bagaimana menjadikan hati sehat dan baik, silahkan inbox ke pak Ustadz.
Selamat jalan Robin Williams!
Langganan:
Postingan (Atom)

