Minggu, 17 Juli 2016

*Ajaibnya Jodoh

*Ajaibnya Jodoh
Saya dulu punya teman kuliah. Kita sebut saja Miss A. Terdengar kabar, Miss A ditaksir oleh pemuda malang bernama Joko. Kenapa malang? Karena meski sungguh cinta si Joko pada Miss A, tidak kepalang cinta tersebut, tapi itu cinta yg bertepuk sebelah-tangan saja. Tak sudi, tak akan, impossible, demikian Miss A bilang. Si Joko itu sudah bukan type dia, malah setiap kali lihat, ilfil seketika. Ketemu di lorong2 kampus saja sudah bikin Miss A lari terbirit-birit, tak mau berpapasan. Jadi bagaimana mungkin cinta akan bersemi? Bertahun2, hingga lulus, mau pakai jurus paling sakti sekalipun, si Joko tetap nelangsa. Mereka nampaknya memang tidak akan pernah berjodoh.
Kami lulus dari kampus, terpisah oleh waktu dan geografi. Hanya untuk beberapa tahun kemudian, terkejut. Ada kabar melesat direlung-relung media sosial, Miss A dan si Joko menikah. Ya ampun? Saya terpana. Itu betulan? Bagaimana mungkin? Bukankah dulu Miss A benci sekali sama si Joko? Duh, duh, kisah ini sudah macam film2 saja. Sy tidak pernah tahu bagaimana akhirnya si Joko berhasil meluluhlantakkan hati Miss A--tapi itu bukan poin pentingnya (kecuali kalian senasib dengan si Joko dan mau belajar triknya). Bertahun2 lagi berlalu, mereka sudah punya buah hati yg tumbuh besar. Hidup bahagia.
Jodoh. Memang selalu bekerja dengan cara misterius. Benci bisa berubah jadi cinta. Musuh bebuyutan bisa jadi suami-istri.
Lain lagi dengan Imam (sebut saja demikian namanya). Asli jawa, pendek, pesek, item (ini bukan fisik ya, ini biar ceritanya detail dan punya background). Sekilas lalu, tidak ada yg spesial dgn mas Imam ini. Dia bukan mahasiswa paling populer di kampus, tidak juga paling jenius, bukan ketua senat mahasiswa (BEM), bukan pula si jago basket yg mengundang decak kagum, dia hanya Imam. Pendiam. Pemalu.
Teman2 mulai menikah satu per satu, Imam tetap sendiri. Teman2 mulai pamer kartu undangan, Imam juga tetap sendiri. Bahkan saat teman2 mengirim ucapan selamat lebaran: “Minal aidzin wal faidzin, maaf lahir bathin, Bambang & family”, Imam cuma bisa reply ngilu, “Sama2, maaf lahir bathin juga. Imam & masih sendiri.” Beberapa tahun lulus, Imam berangkat ke Eropa ambil S-2, wah, dia punya kesibukan sekarang. Beberapa tahun lagi berlalu, terbetik kabar dia menikah. Ya ampun? Siapa istrinya? Gadis turki--yg terkenal cantik jelita itu.
Jodoh. Memang selalu bekerja dengan cara misteriusnya. Jauh sekali Imam ini mendapatkan jodohnya. Bukan gadis jawa, bukan teman kuliah, bukan rekan kerja. Entah apa yg membuat gadis turki itu terpesona pada Imam, bukankah di negaranya sana banyak cowok2 lain? Lagi2 itu bukan poin pentingnya, poin pentingnya adalah mereka berdua seperti garam di laut, asam di gunung, ketemu juga di belanga.
Dua kisah ini anggap saja fiksi--karena sy juga sudah lupa detail kisahnya. Tapi di sekitar kalian, berserakan kisah nyata serupa--yg boleh jadi lebih menakjubkan. Ketika jodoh bekerja dengan sangat memesona. Yg saya ingat persis atas Joko dan Imam adalah: mereka berdua terus sibuk memperbaiki diri, sibuk fokus belajar dan bekerja. Dan benarlah rumus itu, saat kita jatuh cinta, bukan berarti dunia jadi berhenti, melainkan terus berlalu. Keliru sekali jika kita jatuh cinta, lantas rusuh, galau, baper, malah merusak diri sendiri.
Barangsiapa yg yakin dia akan memperoleh jodoh terbaik, maka dia akan memperolehnya. Tapi barangsiapa yg sebaliknya, hanya sibuk mengurus perasaan itu, tidak mau sabar, maka yg dia peroleh, hanya sebatas pendeknya rasa sabar miliknya.
*Tere Liye

====

Tulisan Tere Liye, saya angkat kali ini karena masalah jodoh memang menjadi rahasia Allah bagi manusia.  Ketika seseorang sangat sulit mendapatkan jodoh, walau sudah mengurangi syarat-syarat yang memberatkan tetapi tetap saja sulit.  Tetapi di sisi lain, seperti saya pergi kemarin menghadiri teman yang menikah dengan umurnya yang relatif muda, namun sudah menikah untuk ketiga kalinya.  Yang pertama cerai, yang kedua sang suami meninggal dan sekarang yang ketiga.  Begitu pula dengan seseorang yang baru dapat jodoh tetapi ketika umur sudah melewati normalnya dalam fikiran manusia untuk mendapatkannya.

Yaaa.....itulah Jodoh, misteri bagi Manusia, Rahasia Allah swt untuk manusia, yang intinya sebagai ujian keimanan kepada manusia, apakah masih mau menggantungkan semuanya kepada Allah swt atau tidak.  

Jumat, 15 Juli 2016

Prajurit yang hebat kah kita?

"Prajurit yang hebat, bukanlah prajurit yang jago dan pandai selama pendidikan dan latihan, tetapi yang tetap bertahan di medan pertempuran"

Begitu ungkapan yang disampaikan sang khotib pada materi khutbah jumat kemarin. Ungkapan itu beliau sampaikan sehubungan dengan telah berakhirnya bulan Ramadhan yang merupakan bulan pendidikan dan latihan bagi kaum Mukminin, artinya bahwa kaum mukminin akan dikatakan sebagai seseorang yang hebat, yang memperoleh gelar muttaqin dan kemenangan, adalah yang menerapkan ilmu selama bulan Ramadhan di bulan-bulan setelahnya, yang merupakan medan pertempuran sebenarnya.

Subhanalloh.... saya jadi ingat kata-kata mutiara yang pernah saya baca yang disampaikan oleh Al-Mutanabbi :

"Saya tidak mendapati aib pada manusia,
melebihi aib orang yang sebenarnya mampu untuk sempurna"

Ups!! klo dirangkaikan dengan ungkapan pak Khotib di atas, bahwa kesempurnaan kemenangan yang diperoleh manusia selama bulan ramadhan adalah dengan menerapkan hasil-hasil kemenangan itu di bulan setelahnya. Klo begitu kesempurnaan adalah, sebenarnya kita tidak akan menemukan lagi yang setelah Ramadhan, masjid-masjid kembali menjadi sepi. Kita akan selalu menemukan orang yang berpuasa syawal dan puasa-puasa sunat lainnya dan lain sebagainya.

Sejalan dengan itu, Allah swt pun telah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merusak segala amalmu" (Al-Quran surat Muhammad ayat 33)

Sayang sekali, kalau apa yang kita peroleh selama Ramadhan tidak kita sempurnakan di bulan Syawal (artinya kata syawal : peningkatan) dan bulan-bulan berikutnya, bahkan justru kita telah merusaknya, dan seolah apa yang usaha selama bulan Ramadhan hanya sebuah prosesi belaka! Na'udzubillahi min dzalik


Dan semoga kita tidak termasuk golongan yang seperti ini. Amin.

SUNGGUH BERUNTUNGLAH BAGI ANDA YANG GEMAR MENGKONSUMSI PETAI,TERNYATA PETAI BISA MENINGKATKAN KEKUATAN OTAK, MENCEGAH KANGKER, MENURUNKAN DARAH TINGGI BAHKAN 40% TERHINDAR STROK '''!!




Buah petai sesungguhnya mempunyai kandungan gizi yang sangat besar dan faedah yang begitu banyak. Petai memiliki kandungan 3 tipe gula alami yakni fruktosa, glukosa dan sukrosa yang berkombinasi dengan kandungan serat. Gabungan tersebut waktu itu membuahkan zat daya yang berbentuk instan walaupun itu cukup besar dan tahan lama.

Kecuali memiliki kandungan 3 type gula alami diatas, buah petai juga memiliki kandungan zat-zat gizi yang bermanfaat untuk kesehatan seperti Karbohidrat, Vitamin A, Zat besi, serta Mineral.




Mengkonsumsi buah petai dalam jumlah yang wajar mempunyai sangat banyak manfaat serta manfaat. Itu di sini sebagian manfaat buah petai untuk badan :

1. Tingkatkan Kekuatan Otak
Satu riset diakukan pada 200 siswa di kota Twickenham, samping barat kota London dengan membiasakan mereka makan buah petai saat sarapan pagi, waktu istirahat serta saat makan siang keseharian. Selanjutnya, 200 siswa ini dapat lulus sekolah dengan gampang. Penelitian itu perlihatkan kalau kandungan mineral kalium yang ada pada petai sangat tinggi. Kalium melakukan tindakan tingkatkan kemampuan otak dan memberi konsentrasi dalam fikirkan.

2. Tingkatkan Energi
Kandungan gula alami pada buah petai berbentuk fruktosa, glukosa dan sukrosa yang berkombinasi dengan serat dengan cepat bisa membuahkan zat daya. Satu penelitian membuka kalau dengan konsumsi dua jumlah petai bisa berikanlah daya yang cukup untuk kerjakan berbagai kesibukan berat selama satu 1/2 jam. Tidak mengherankan jika petai sangat disukai beberapa atlet berolahraga.

3. Mengatasi Depresi
Satu diantara kandungan buah petai yaitu Tryptophan, yakni semacam protein sebagai zat awal serotonin. Kandungan itu menolong otak jadi enjoy, kerjakan perbaikan keadaan badan dan merangsang orang makin bahagia. Satu organisasi konsultasi kesehatan, MIND pernah lakukan penelitian pada sebagian pasien depresi. Beberapa besar mereka terasa lebih baik sesudah rajin konsumsi buah petai.

4. Menghindar Anemia
Anemia yaitu menyusutnya sel darah merah atau berkurangnya jumlah hemoglobin dalam darah. Waktu sinyal tanda anemia menyerang, kepala bakal terasa pusing, pucat, sesak nafas, jantung berdetak tidak teratur, kehilangan tenaga, kram dan sulit tidur. Untuk jauhi anemia, disarankan untuk konsumsi makanan yang kaya akan zat besi lantaran zat besi melakukan tindakan untuk
pembentukan sel darah merah. Makanan seperti buah aprikot, jagung, telur, kangkung dan buah petai yaitu sebagian makanan yang mempunyai kandungan zat besi tinggi.

5. Turunkan Tekanan Darah Tinggi
Buah petai mempunyai kandungan mineral kalium yang begitu tinggi tetapi


rendah garam. Kandungan itu begitu baik untuk melawan penyakit tekanan darah tinggi.

6. Mengatasi Sembelit
Jika anda terasa sulit buang air besar atau sembelit, mungkin saja saja saja anda tengah alami persoalan pencernaan. Makan buah petai mungkin saja satu diantara langkah supaya buang air besar jadi lancar karena buah petai mempunyai banyak kandungan serat yang melakukan tindakan menormalkan sistem pencernaan dan memudahkan buang air besar.

7. Anti Mabuk
Buat milkshake buah petai lewat langkah campur susu dingin dan sedikit juice petai. Tambahkan madu supaya rasa jadi manis. Milkshake buah petai ditambah madu buat perut jadi tenang, kembalikan kandungan gula darah yang pernah drop, dan menormalkan kembali cairan badan yang hilang.

8. Kurangi Kemungkinan Obesitas
Satu riset yang diakukan di Institute of Psychology Austria menyimpulkan kalau umumnya persoalan obesitas yaitu karena tekanan yang tinggi waktu kerja. Ya, desakan tinggi waktu kerja buat beberapa orang mencari langkah untuk menentramkan diri. Satu diantaranya yaitu dengan ngemil keripik dan makan coklat. Mereka memanglah dapat mendapatkan sedikit ketenangan dan relaksasi, tetapi mereka tidak paham kalau kebiasaan ngemil yaitu tidak baik untuk kesehatan. Untuk mengatasinya, diperlukan konsumsi makanan yang mempunyai kandungan karbohidrat tinggi dan dapat bertahan lama. Salah satunya yaitu dengan konsumsi buah petai.

9. Kurangi Peluang Stroke
Berdasar pada disuatu penelitian yang ditulis dalam jurnal kesehatan Inggris “The New England Journal of Medicine” menjelaskan kalau konsumsi buah petai sebagai makanan sehari – hari berguna turunkan peluang kematian yang karena stroke hingga 40%.

10. Menolong Berhenti Mero*ko*k
Berhenti mero*ko*k untuk biasanya orang yaitu hal yang begitu susah diakukan. Senantiasa saja ada godaan dan rangsangan untuk kembali mero*ko*k. Cobalah untuk konsumsi buah petai lantaran buah petai mempunyai kandungan vitamin B6, B12, kalium dan magnesium yang menolong berhenti dari dampak nikotin dalam tembakau atau ro*ko*k.

Sebenarnya tetap masih ada banyak manfaat buah petai yang lain yang belum diterangkan. Penjelasan diatas sedikitnya berikanlah input untuk kita kalau meskipun dibenci sebagian orang, buah petai nyatanya mempunyai manfaat luar umum dan sangat bermanfaat untuk kesehatan.

Dibanding dengan apel, buah petai mempunyai kelebihan yang lebih. Kandungan karbohidratnya 2 kali makin banyak, proteinnya 4 kali makin banyak, vitamin A dan zat besinya 5 kali makin banyak, mineral fosfornya 3 kali lebih banyak.

Rabu, 13 Juli 2016

Rokok lagi, rokok lagi!!! Hadeuh......


Untuk saudaraku yang masih merokok...
Abu Laksamana
*KATA SIAPA ROKOK HARAM...!!!???*
GURU : “Syeikh, menurut saya rokok itu tidak haram.”
Syeikh : “Kenapa?”
Guru : “Tak ada dalilnya. Saya ingin tahu, satu ayat saja yang menyebutkan ‘diharamkan atas kalian rokok’.”
Syeikh : “Apakah Anda makan jeruk, apel, maupun pisang?”
Guru : “Iya.”
Syeikh : Apakah” ada ayat yang menyebutkan bahwa jeruk, apel maupun pisang itu halal?”
Guru : “Tidak ada.”
Syeikh : “Bagaimana tidak ada, bagaimana Al Qur’an tidak menyebutkan mana yang halal dan mana yang haram, padahal Qur’an itu pedoman umat. Coba perhatikan firman Allah Ta’ala dalam surat al-A’raf : (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan MENGHALALKAN bagi mereka segala yang BAIK dan MENGHARAMKAN bagi mereka segala yang BURUK..(QS al A’raf 157).”
“Maka segala yang baik semisal daging (halal). jeruk, apel, susu dan lain-lain itu termasuk yang baik-baik sehingga termasuk yang
dihalalkan. Adapun yang buruk- buruk, maka Allah mengharamkannya.”
Guru : “Menurut kami, rokok itu termasuk thayyibaat (yang baik-baik), meskipun menurut Anda tidak baik.”
Syeikh : “Anda punya istri?”
Guru : “Ya…”
Syeikh : “Anda punya anak?”
Guru : “Ya …”
Syeikh : “Jika kaulihat anakmu memakan pisang, apakah kamu ridha?”
Guru : “Ya, tidak masalah…”
Syeikh : “Kalau kaulihat anakmu sedang menghisap rokok, apakah kamu ridha?”
Guru : “Tidak…”
Syeikh : “Kenapa?”
Guru : “Karena itu tidak baik (yakni termasuk sesuatu yang buruk).”
Syeikh: “Jika itu sesuatu buruk, bukankah masuk yang haram? Bagaimana pula jika yang merokok itu istrimu?”
Tiba-tiba sang guru mengeluarkan bungkusan rokok dari sakunya, ia meremas dengan tangannya lalu menginjak dengan kakinya, lalu ia berkata, “Mulai sekarang wahai Syeikh, saya bertaubat kepada Allah dari rokok.”
Jika rokok haram siapa yang akan hidupi petani tembakau?
Jika ganja haram siapa yang akan hidupi petani ganja?
Jika mencuri haram siapa yang akan hidupi maling?
Jika korupsi haram siapa yang akan hidupi koruptor?
Jika narkoba haram siapa yang akan hidupi kartel narkoba?
*Kalau cuma alasan pembenaran seperti itu, siapapun juga punya.*
Mengapa ibu hamil tidak boleh merokok...?
karena ROKOK tidak baik untuk si hamil dan calon bayinya.
Mengapa para pelajar tidak boleh merokok...?
karena ROKOK bukan ajaran baik, dan pelajar tidak diajarkan yg tidak baik.
Mengapa di toko buku, perpustakaan, majalah dan Koran tidak ada tuntunan cara merokok...?
karena jelas, ROKOK sesuatu yang tidak baik,
buat apa capek" mikir dan nulis faedah rokok, Kan Kaga bakal nemu.
Allah Ta'ala Berfirman
ﻭَﻟَﺎ ﺗُﻠْﻘُﻮﺍ ﺑِﺄَﻳْﺪِﻳﻜُﻢْ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟﺘَّﻬْﻠُﻜَﺔِ ۛ.
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." [ QS. Al Baqarah 195 ]
Rosulullah Shollallahu 'alayhi wasallam bersabda,
"Barangsiapa yang menghirup racun (dengan sengaja) hingga mati, maka ia akan menghirup racun itu selama-lamanya di neraka Jahannam." [HR. Al Bukhari dan Muslim]
Sebarkanlah Ilmu ini.
Semoga Bermanfaat
Yang merokok jangan marah ya 😊

Sejahtera karena Malaysia



Selama dua hari yang lalu, saya diajak tetangga pergi ke kampungnya, di daerah pegunungan yang duuuiiingin luar biasa. bbbrrrrrr...seakan raga ini membeku (bahkan sempat menggigil ketika tidur) terutama bagi kami yang tinggal di daerah rendah (pantai). Walau begitu, rasa dingin tertutupi oleh pemandangan yang indah oleh lukisan alam berbentuk bukit-bukit dengan deretan sawah yang mengikuti alur ke lembah hingga gunung yang menjulang dengan bayangan hutan yang membiru.

Sudah umum, namanya perkampungan, mata pencaharian pada umumnya penduduk di sana adalah petani di sawah dan di kebun. Tetapi kalau melihat rumah mereka, banyak sekali yang terbuat dari tembok (istilahnya rumah batu), tidak seperti umumnya masyarakat Sulawesi yang rumahnya terbuat dari kayu, istilahnya rumah tinggi. Dari informasi tuan rumah, kebanyakan yang mempunyai rumah tembok adalah orang-orang yang bekerja di Malaysia. Mereka bekerja di perkebunan-perkebunan kelapa sawit di Malaysia (serawak). Tidak jarang, rumah-rumah itu ditinggali oleh orangtua/nenek mereka atau bahkan kosong sama sekali. Setelah membangun mereka kembali ke Malaysia.

Syukur, saya sempat bicara banyak dengan salah seorang dari mereka yang merupakan ipar dari tuan rumah sendiri. Beliau bicara tidak hanya masalah pekerjaan, tetapi juga kehidupan lainnya selama di sana, apakah itu pendidikan, sosial ekonomi dan lain sebagainya, yaaahhhh...boleh dibilang studi perbandingan dengan kondisi di sini. (Hiks! jangan bertanya bagaimana, tapi intinya bahwa di sana semua lebih wah dibandingkan di Indonesia ini)

Saya sempat tanya, mengenai perusahaan-perusahaan malaysia yang membuka lahan di Kalimantan, apakah mereka menerapkan aturan (terutama penggajian) sama seperti di malaysia. Beliau menjawab justru perusahaan lebih untung karena mereka membayar karyawan dengan standar Indonesia, yang lebih rendah dari Malaysia. Hik. Pantas mereka senang untuk pergi ke sana karena dari kelebihan uang yang mereka dapat mereka bawa ke Indonesia, kampung halamannya dan membangun kampungnya. Tetapi kadang ada juga orang yang kerja di sana tetapi berperilaku tidak baik, uang yang didapatkan dihabiskan di perjudian dan main perempuan Na'udzubillahi min dzalik.

Hadiah seorang ibu untuk Allah swt.

Wanita Mulia Ibu dari Seorang Pahlawan Belia
Dalam Shifatus Shofwah oleh Ibnul Jauzi dan Masyaraqiul Asywaq oleh Ibnu Nahhas dikisahkan seorang salih yang bernama Abu Qudamah Asy-Syami.
Abu Qudamah adalah seorang yang hatinya dipenuhi kecintaan akan jihad fi sabilillah. Tak pernah ia mendengar akan jihad fi sabilillah, atau adanya perang antara kaum muslimin dengan orang kafir, kecuali ia selalu ambil bagian bertempur di pihak kaum muslimin.
Suatu ketika saat ia sedang duduk-duduk di Masjidil Haram, ada seseorang yang menghampirinya seraya berkata, "Hai Abu Qudamah, Anda adalah orang yang gemar berjihad di jalan Allah, maka ceritakanlah peristiwa paling ajaib yang pernah kau alami dalam berjihad."
"Baiklah, aku akan menceritakannya bagi kalian," kata Abu Qudamah.
"Suatu ketika aku berangkat bersama beberapa sahabatku untuk memerangi kaum Salibis di beberapa pos penjagaan dekat perbatasan. Dalam perjalanan itu aku melalui kota Raqh (sebuah kota di Irak, dekat sungai Eufrat). Di sana aku membeli seekor unta yang akan kugunakan untuk membawa persenjataanku. Di samping itu aku mengajak warga kota lewat masjid-masjid, untuk ikut serta dalam jihad dan berinfak fi sabilillah.
Menjelang malam harinya, ada orang yang mengetuk pintu. Tatkala kubukakan, ternyata ada seorang wanita yang menutupi wajahnya dengan gaunnya.
"Apa yang Anda inginkan?" tanyaku.
"Andakah yang bernama Abu Qudamah?" katanya balik bertanya.
"Benar," jawabku.
"Andakah yang hari ini mengumpulkan dana untuk membantu jihad di perbatasan?" tanyanya kembali.
"Ya, benar," jawabku.
Maka wanita itu menyerahkan secarik kertas dan sebuah bungkusan terikat, kemudian berpaling sambil menangis.
Pada kertas itu tertulis, "Anda mengajak kami untuk ikut berjihad, namun aku tak sanggup untuk itu. Maka kupotong dua buah kuncir kesayanganku agar Anda jadikan sebagai tali kuda Anda. Kuharap bila Allah melihatnya pada kuda Anda dalam jihad, Dia mengampuni dosaku karenanya."
"Demi Allah, aku kagum atas semangat dan kegigihan wanita itu untuk ikut berjihad, demikian pula dengan kerinduannya untuk mendapat ampunan Allah dan Surga-Nya," kata Abu Qudamah.
Keesokan harinya, aku bersama sahabatlu beranjak meninggalkan Raqh. Tatkala kami tiba di benteng Maslamah bin Abdul Malik, tiba-tiba dari belakang ada seorang penunggang kuda yang memanggil-manggil,
"Hai Abu Qudamah.. Abu Qudamah.. tunggulah sebentar, semoga Allah merahmatimu," teriak orang itu.
"Kalian berangkat saja duluan, biar aku yang mencari tahu tentang orang ini," perintahku pada para sahabatku.
Ketika aku hendak menyapanya, orang itu mendahuluiku dan mengatakan,
"Segala puji bagi Allah yang mengizinkanku untuk ikut bersamamu, dan tidak menolak keikutsertaanku."
"Apa yang kau inginkan?" tanyaku.
"Aku ingin ikut bersamamu memerangi orang-orang kafir," jawabnya.
"Perlihatkan wajahmu, aku ingin lihat, kalau engkau memang cukup dewasa dan wajib berjihad, akan aku terima. Namun jika masih kecil dan tidak wajib berjihad, terpaksa kutolak." Kataku.
Ketika ia menyingkap wajahnya, tampak olehku wajah yang putih bersinar bak bulan purnama. Ternyata ia masih muda belia, dan umurnya baru 17 tahun.
"Wahai anakku, apakah kamu memiliki ayah?" tanyaku.
"Ayah terbunuh di tangan kaum Salibis dan aku ingin ikut bersamamu untuk memerangi orang-orang yang membunuh ayahku," jawabnya.
"Bagaimana dengan ibumu, masih hidupkah dia?" tanyanku lagi.
"Ya," jawabnya.
"Kembalilah ke ibumu dan rawatlah ia baik-baik, karena surga ada di bawah telapak kakinya," pintaku kepadanya.
"Kau tak kenal ibuku?" tanyanya.
"Tidak," jawabku.
"Ibuku ialah pemilik titipan itu," katanya.
"Titipan yang mana," tanyaku.
"Dialah yang menitipkan tali kuda itu," jawabnya.
"Tali kuda yang mana?" tanyaku keheranan.
"Subhanallah..!! alangkah pelupanya Anda ini, tidak ingatkah Anda dengan wanita yang tadi malam menyerahkan seutas tali kuda dan bingkisan?"
"Ya, aku ingat," jawabku.
"Dialah ibuku! Dia menyuruhku untuk berjihad bersamamu dan mengambil sumpah dariku supaya aku tidak kembali lagi," katanya.
"Ibuku berkata, ‘Wahai anakku, jika kamu telah berhadapan dengan musuh, janganlah kamu melarikan diri. Persembahkanlah jiwamu untuk Allah. mintalah kedudukan di sisi-Nya, dan mintalah agar engkau ditempatkan bersama ayah dan paman-pamanmu di surga. Jika Allah mengaruniamu mati syahid, maka mintalah syafaat bagiku."
Kemudian ibu memelukku, lalu menengadahkan kepalanya ke langit seraya berkata, "Ya Allah.. ya Ilahi.. inilah puteraku, buah hati dan belahan jiwaku, kupersembahkan ia untukmu, maka dekatkanlah ia dengan ayahnya’."
"Aku benar-benar takjub dengan anak ini," kata Abu Qudamah, lalu anak itupun segera menyela,
"Karenanya, kumohon atas nama Allah, janganlah kau halangi aku untuk berjihad bersamamu. Insya Allah akulah asy-syahid putra asy-syahid. Aku telah hafal Alquran. Aku juga pandai menunggang kuda dan memanah. Maka janganlah meremehkanku hanya karena usiaku yang masih belia." kata anak itu memelas.
Setelah itu mendengar uraiannya aku tak kuasa melarangnya, maka kusertakanlah ia bersamaku.
Demi Allah, ternyata tak pernah kulihat orang yang lebih cekatan darinya. Ketika pasukan bergerak, dialah yang tercepat, ketika kami singgah untuk beristirahat, dialah yang paling sibuk mengurus kami, sedang lisannya tak pernah berhenti dari dzikrullah sama sekali.
Kemudian, kami pun singgah di suatu tempat dekat pos perbatasan. Saat itu matahari hampir tenggelam dan kami dalam keadaan berpuasa. Maka ketika kami hendak menyiapkan hidangan untuk berbuka dan makan malam, bocah itu bersumpah atas nama Allah bahwa ialah yang akan menyiapkannya. Tentu saja kami melarangnya karena ia baru saja kecapaian selama perjalanan panjang tadi.
Akan tetapi bocah itu bersikeras untuk menyiapkan hidangan bagi kami. Lama kami beristirahat di suatu tempat, kami katakan kepadanya, "Menjauhlah sedikit agar asap kayu bakarmu tidak mengganggu kami."
Maka bocah itu pun mengambil tempat yang agak jauh dari kami untuk memasak. Akan tetapi bocah itu tak kunjung tiba. Mereka merasa bahwa ia agak terlambat menyiapkan hidangan mereka.
"Hai Abu Qudamah, temuilah bocah itu. Ia sudah terlalu lama memasak. Ada apa dengannya?" pinta seseorang kepadaku. Lalu aku bergegas menemuinya, maka kudapati bocah itu telah menyalakan api unggun dan memasak sesuatu di atasnya. Tapi karena terlalu lelah, ia pun tertidur sambil menyandarkan kepalanya pada sebuah batu.
Melihat kondisinya yang seperti itu, sungguh demi Allah aku tak sampai hati mengganggu tidurnya, namun aku juga tak mungkin kembali kepada mereka dengan tangan hampa, karena sampai sekarang kami belum menyantap apa-apa.
Akhirnya kuputuskan untuk menyiapkan makanan itu sendiri. Aku pun mulai meramu masakannya, dan sembari menyiapkan masakan, sesekali aku melirik bocah itu. Suatu ketika terlihat olehku bahwa bocah itu tersenyum. Lalu perlahan senyumnya makin melebar dan mulailah ia tertawa kegirangan.
Aku merasa takjub melihat tingkahnya tadi, kemudian ia tersentak dari mimpinya dan terbangun.
Ketika melihatku menyiapkan masakan sendiran, ia nampak gugup dan buru-buru mengatakan,
"Paman, maafkan aku, nampaknya aku terlambat menyiapkan makanan bagi kalian."
"Ah tidak, kamu tidak terlambat kok," jawabku.
"Sudah, tinggalkan saja masakan ini, biar aku yang menyiapkannya, aku adalah pelayan kalian selama jihad," kata bocah itu.
"Tidak," sahutku, "Demi Allah, kau tak kuzinkan menyiapkan apa-apa bagi kami sampai kau ceritakan kepadaku apa yang membuatmu tertawa sewaktu tidur tadi? Keadaanmu sungguh mengherankan," lanjutku.
"Paman, itu sekedar mimpi yang kulihat sewaktu tidur," kata si bocah.
"Mimpi apa yang kau lihat?" tanyaku.
"Sudahlah, tak usah bertanya tentangnya. Ini masalah pribadi antara aku dengan Allah," sahut bocah itu.
"Tidak bisa, kumohon atas nama Allah agar kamu menceritakannya," kataku.
"Paman, dalam mimpi tadi aku melihat seakan aku berada di surga, kudapati surga itu dalam segala keindahan dan keanggunannya, sebagaimana yang Allah ceritakan dalam Alquran.
Sembari aku jalan-jalan di dalamnya dengan terkagum-kagum, tiba-tiba tampaklah olehku sebuah istana megah yang berkilauan, dindingnya dari emas dan perak, dan terasnya dari mutiara dan batu permata, dan gerbangnya dari emas.
Di teras itu ada tirai-tirai yang terjuntai, lalu perlahan tirai itu tersingkap dan tampaklah gadis-gadis belia nan cantik jelita, wajah mereka bersinar bak rembulan."
Kutatap wajah-wajah cantik itu dengan penuh kekaguman, sungguh, kecantikan yang luar biasa, gumamku, lalu muncullah seorang gadis lain yang lebih cantik dari mereka, dengan telunjuknya ia memberi isyarat kepada gadis yang ada di sampingnya seraya mengatakan, "Inilah (calon) suami al-mardhiyyah.. ya, dialah calon suaminya.. benar, dialah orangnya!"
Aku tak paham siapa itu al-mardhiyyah, maka aku bertanya kepadanya, "Kamukah al-mardhiyyah..?
"Aku hanyalah satu di antara dayang-dayang al-mardhiyyah…" katanya. "Anda ingin bertemu dengan al-mardhiyyah..?" tanya gadis itu.
"Kemarilah.. masuklah ke sini, semoga Allah merahmatimu," serunya.
Tiba-tiba kulihat di atasnya ada sebuah kamar dari emas merah.. dalam kamar itu ada dipan yang bertahtakan permata hijau dan kaki-kakinya terbuat dari perak putih yang berkilauan.
Dan di atasnya.. seorang gadis belia dengan wajah bersinar laksana surya!! Kalaulah Allah tidak memantapkan hati dan penglihatanku, niscaya butalah mataku dan hilanglah akalku karena tak kuasa menatap kecantikkannya..!!!
Tatkala ia menatapku, ia menyambutku seraya berkata, "Selama datang, hai wali Allah dan Kekasih-Nya. Aku diciptakan untukmu, dan engkau adalah milikku."
Mendengar suara merdu itu, aku berusaha mendekatinya dan menyentuhnya.. namun sebelum tanganku sampai kepadanya, ia berkata,
"Wahai kekasihku dan tambatan hatiku.. semoga Allah menjauhkanmu dari segala kekejian.. urusanmu di dunia masih tersisa sedikit.. InsyaAllah besok kita bertemu selepas ashar."
Aku pun tersenyum dan senang mendengarnya."
Abu Qudamah melanjutkan, "Usai mendengar cerita indah dari si bocah tadi, aku berkata kepadanya, "InsyaAllah mimpimu merupakan pertanda baik."
Lalu kami pun menyantap hidangan tadi bersama-sama, kemudian meneruskan perjalanan kami menuju pos perbatasan.
Setibanya di pos perbatasan kami menurunkan semua muatan dan bermalam di sana. Keesokan harinya setelah menunaikan shalat fajar, kita bergerak ke medan pertempuran untuk menghadapi musuh.
Sang komandan bangkit untuk mengatur barisan. Ia membaca permulaan surat Al-Anfal. Ia mengingatkan kami akan besarnya pahala jihad fi sabilillah dan mati syahid, sembari terus mengobarkan semangat jihad kaum muslimin."
Abu Qudamah mengisahkan, "Tatkala kuperhatikan orang-orang di sekitarku, kudapati masing-masing dari mereka mengumpulkan sanak kerabatnya di sekitarnya. Adapun si bocah, ia tak punya ayah yang memanggilnya, atau paman yang mengajaknya, dan tidak pula saudara yang mendampinginya.
Aku pun terus mengikuti dan memperhatikan gerak-geraknya, lalu tampaklah olehku bahwa ia berada di barisan terdepan. Maka segeralah kukejar dia, kusibak barisan demi barisan hingga sampai kepadanya, kemudian aku berkata,
"Wahai anakku, adakah engkau memiliki pengalaman berperang..?"
"Tidak.. tidak pernah. Ini justru pertempuranku yang pertama kali melawan orang kafir," jawab si bocah.
"Wahai anakku, sesungguhnya perkara ini tak segampang yang kau bayangkan, ini adalah peperangan. Sebuah pertumpahan darah di tengah gerincingnya pedang, ringkikan kuda, dan hujan panah.
Wahai anakku, sebaiknya engkau ambil posisi di belakang saja. Jika kita menang kaupun ikut menang, namun jika kita kalah kau tak jadi korban pertama," pintaku kepadanya.
"Ya, aku mengatakan seperti itu kepadamu," jawabku.
"Paman.. apa engkau menginginkanku jadi penghuni neraka?" tanyanya.
"A’udzubillah!! Sungguh, bukan begitu.. kita semua tidak berada di medan jihad seperti ini kecuali karena lari dari neraka dan memburu surga," jawabku.
Lalu kata si bocah, "Sesungguhnya Allah berfirman,
"Hai orang-orang beriman, apabila kamu bertemu orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan lain, maka sesungguhnya orang itu kembali membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahanam. Dan amat buruklah tempat kembalinya itu." (QS. Al-Anfal: 15-16)
"Adakah Paman menginginkan aku berpaling membelakangi mereka sehingga tempat kembaliku adalah neraka?" tanya si bocah.
Aku pun heran dengan kegigihannya dan sikapnya yang memegang teguh ayat tersebut. Kemudian aku berusaha menjelaskan, "Wahai anakku, ayat itu maksudnya bukan seperti yang kau katakan." Namun tetap saja ia bersikeras tak mau pindah ke belakang. Aku pun menarik tangannya secara paksa, membawa ke akhir barisan. Namun ia justru menarik lengannya kembali seakan ingin melepaskan diri dari genggamanku. Lalu perang pun dimulai dan aku terhalang oleh pasukan berkuda darinya.
Dalam kancah pertempuran itu terdengarlah derap kaki kuda, diirngi gemerincing pedang dan hujan panah, lalu mulailah kepala-kepala berjatuhan satu-persatu. Bau anyir darah tercium di mana-mana. Tangan dan kaki bergelimpangan. Dan tubuh-tubuh tak bernyawa tergeletak bersimbah darah.
Demi Allah, perang itu telah menyibukkan tiap orang akan dirinya sendiri dan melalaikan orang lain. Sabetan dan kilatan pedang di atas kepala yang tak henti-hentinya, menjadikan suhu memuncak, seakan-akan ada tungku tanur yang menyala di atas kami.
Perang pun kian memuncak, kedua pasukan bertempur habis-habisan hingga matahari tergelincir dan masuk waktu zhuhur. Ketika itulah Allah berkenan menganugerahkan kemenangan bagi kaum muslimin, dan pasukan Salib lari tunggang-langgang.
Setelah mereka terpukul mundur, aku berkumpul bersama beberapa orang sahabatku untuk menunaikan shalat zuhur. Selepas shalat, mulailah masing-masing dari kita mencari sanak keluarganya di antara para korban.
Sedangkan si bocah,, maka tak seorang pun yang mencarinya atau menanyakan kabarnya. Maka kukatakan dalam hati, "Aku harus mencarinya dan menyelidiki keadaannya, barangkali ia terbunuh, terluka, atau jatuh dalam tawanan musuh?"
Aku pun mulai mencarinya di tengah para korban, aku menoleh ke kanan dan ke kiri kalau-kalau ia terlihat olehku. Di saat itulah aku mendengar ada suara lirih di belakangku yang mengatakan, "Saudara-saudara.. tolong panggilkan pamanku Abu Qudamah kemari.. panggilkan Abu Qudamah kemari."
Aku menoleh ke arah suara tadi, ternyata tubuh itu ialah tubuh si bocah dan ternyata puluhan tombak telah menusuk tubuhnya. Ia babak belur terinjak pasukan berkuda. Dari mulutnya keluar darah segar. Dagingnya tercabik-cabik dan tulangnya remuk total.
Ia tergeletak seorang diri di tengah padang pasir. Maka aku segera bersimpuh di hadapannya dan berteriak sekuat tenagaku,
"Akulah Abu Qudamah..!! aku ada di sampingmu..!!"
"Segala puji bagi Allah yang masih menghidupkanku hingga aku dapat berwasiat kepadamu.. maka dengarlah baik-baik wasiatku ini..!" kata si bocah.
Abu Qudamah mengatakan, sungguh demi Allah, tak kuasa menahan tangisku. Aku teringat akan segala kebaikannya, sekaligus sedih akan ibunya yang tinggal di Raqqah. Tahun lalu ia dikejutkan dengan kematian suami dan saudara-saudaranya, lalu sekarang dikejutkan dengan kematian anaknya.
Aku menyingsingkan sebagian kainku lalu mengusap darah yang menutup wajah polos itu. Ketika ia merasakan sentuhanku ia berkata, "Paman.. usaplah darah dengan pakaianku, dan jangan kau usap dengan pakaianmu."
Demi Allah, aku tak kuasa menahan tangisku dan tak tahu harus berbuat apa. Sesaat kemudian, bocah itu berkata dengan suara lirih, "Paman.. berjanjilah bahwa sepeninggalku nanti kau akan kembali ke Raqqah, dan memberi kabar gembira bagi ibuku bahwa Allah telah menerima hadiahnya, dan bahwa anaknya telah gugur di jalan Allah dalam keadaan maju dan pantang mundur. Sampaikan pula padanya jikalau Allah menakdirkanku sebagai syuhada, akan kusampaikan salamnya untuk ayah dan paman-pamanku di surga.
Paman.. aku khawatir kalau nanti ibu tak mempercayai ucapanku. Maka ambillah pakaianku yang berlumuran darah ini, karena bila ibu melihatnya ia akan yakin bahwa aku telah terbunuh, dan insya Allah kami bertemu kembali di surga.
Paman.. setibanya engkau di rumahku, akan kau dapati seorang gadis kecil berumur sembilan tahun. Ia adalah saudariku.. tak pernah aku masuk rumah kecuali ia sambut dengan keceriaan, dan tak pernah aku pergi kecuali diiringi isak tangis dan kesedihannya. Ia sedemikian kaget ketika mendengar kematian ayah tahun lalu, dan sekarang ia akan kaget mendengar kematianku.
Ketika melihatku mengenakan pakaian safar ia berkata dengan berat hati, "Kak.. jangan kau tinggalkan kami lama-lama.. segeralah pulang..!!"
Paman.. jika engkau bertemu dengannya maka hiburlah hatinya dengan kata-kata yang manis. Katakan kepadanya bahwa kakakmu mengatakan, "Allah-lah yang akan menggantikanku mengurusmu."
Abu Qudamah melanjutkan, "Kemudian bocah itu berusaha menguatkan dirinya, namun napas mulai sesak dan bicaranya tak jelas. Ia berusaha kedua kalinya untuk menguatkan dirinya dan berkata,
"Paman.. demi Allah, mimpi itu benar.. mimpi itu sekarang menjadi kenyataan. Demi Allah, saat ini aku benar-benar sedang melihat al-mardhiyyah dan mencium bau wanginya."
Lalu bocah itu mulai sekarat, dahinya berkeringat, napasnya tersengal-sengal dan kemudian wafat di pangkuanku."
Abu Qudamah berkata, "Maka kulepaslah pakaiannya yang berlumuran darah, lalu kuletakkan dalam sebuah kantong, kemudian kukebumikan dia. Usai mengebumikannya, keinginan terbsesar ku ialah segera kembali ke Raqqah dan menyampaikan pesannya kepada ibunya.
Maka aku pun kembali ke Raqqah. Aku tak tahu siapa nama ibunya dan di mana rumah mereka.
Takkala aku menyusuri jalan-jalan di Raqqah, tampak olehku sebuah rumah. Di depan rumah itu ada gadis kecil berumur sembilan tahun yang berdiri menunggu kedatangan seseorang. Ia melihat-lihat setiap orang yang berlalu di depannya. Tiap kali melihat orang yang baru datang dari bepergian ia bertanya,
"Paman.. Anda datang dari mana?"
"Aku datang dari jihad," kata lelaki itu.
"Kalau begitu kakakku ada bersamamu..?" tanyanya.
"Aku tak kenal, siapa kakakmu..?" kata lelaki itu sambil berlalu.
Lalu lewatlah orang kedua, dan tanyanya.
"Akhi, Anda datang dari mana?"
"Aku datang dari jihad," jawabnya.
"Kakakku ada bersamamu?" tanya gadis itu.
"Aku tak kenal siapa kakakmu," jawabnya sambil berlalu.
Lalu lewatlah orang ketiga, keempat, dan demikian seterusnya. Lalu setelah putus asa menanyakan saudaranya, gadis itu menangis sambil tertunduk dan berkata,
"Mengapa mereka semua kembali tapi kakakku tak kunjung kembali?"
Melihat ia seperti itu, aku pun datang menghampirinya. Ketika ia melihat bekas-bekas safar padaku dan kantong yang kubawa, ia bertanya,
"Paman.. Anda datang dari mana?
"Aku datang dari jihad," jawabku.
"Kalau begitu kakakku ada bersamamu?" tanyanya.
"Dimanakah ibumu?" tanyaku.
"Ibu ada di dalam rumah," jawabnya.
"Sampaikan kepadanya agar ia keluar menemuiku," perintahku kepadanya.
Ketika perempuan tua itu keluar, ia menemuiku dengan wajah tertutup gaunnya. Ketika aku mendengar suaranya dan ia mendengar suaraku, ia bertanya,
"Hai Abu Qudamah, engkau datang hendak berbela sungkawa atau memberi kabar gembira?"
Maka tanyaku, "Semoga Allah merahmatimu. Jelaskanlah kepadaku apa yang kau maksud dengan bela sungkawa dan kabar gembira itu?"
"Jika kau hendak mengatakan bahwa anakku telah gugur di jalan Allah, dalam keadaan maju dan pantang mundur berarti engkau datang membawa kabar gembira untukku, karena Allah telah menerima hadiahku yang telah kusiapkan untuk-Nya sejak tujuh belas tahun silam.
Namun jika engkau hendak mengatakan bahwa anakku kembali dengan selamat dan membawa ghanimah, berarti engkau datang untuk berbela sungkawa kepadaku, karena Allah belum berkenan menerima hadiah yang kupersembahkan untuk-Nya," jelas si perempuan tua.
Maka kataku, "Kalau begitu aku datang membawa kabar gembira untukmu. Sesungguhnya anakmu telah terbunuh fi sabilillah dalam keadaan maju dan pantang mundur. Ia bahkan masih menyisakan sedikit kebaikan, dan Allah berkenan untuk mengambil sebagian darahnya hingga ia ridha."
"Tidak, kurasa engkau tidak berkata jujur," kata ibu sembari melirik kepada kantong yang kubawa, sedang puterinya menatapku dengan seksama.
Maka kukeluarkanlah isi kantong tersebut, kutunjukkan kepadanya pakaian puteranya yang berlumuran darah.
Nampak serpihan wajah anaknya berjatuhan dari kain itu, diikuti tetesan darah yang tercampur beberapa helai rambutnya.
"Bukankah ini adalah pakaiannya.. dan ini surbannya.. lalu ini gamisnya yang kau kenakan pada anakmu sewaktu berangkat berjihad..?" kataku.
"Allahu Akbar..!!" teriak si ibu kegirangan.
Adapun gadis kecil tadi, ia justru berteriak histeris lalu jatuh terkulai tak sadarkan diri. Tak lama kemudian ia mulai merintih, "Aakh..! aakh..!"
Sang ibu merasa cemas, ia bergegas masuk ke dalam mengambil air untuk puterinya, sedang aku duduk di samping kepalanya, mengguyurkan air kepadanya,
Demi Allah, ia tak sedang merintih.. ia tak sedang memanggil-manggil kakaknya. Akan tetapi ia sedang sekarat!! Napasnya semakin berat.. dadanya kembang kempis.. lalu perlahan rintihannya terhenti. Ya, gadis itu telah tiada.
Setelah puterinya tiada, ia mendekapnya lalu membawanya ke dalam rumah dan menutup pintu di hadapanku. Namun sayup-sayup terdengar suara dari dalam,
"Ya Allah, aku telah merelakan kepergian suamiku, saudaraku, dan anakku di jalan-Mu. Ya Allah, kuharap Engkau meridhaiku dan mengumpulkanku bersama mereka di Surga-Mu."
Abu Qudamah berkata, "Maka kuketuk pintu rumahnya dengan harapan ia membukakan. Aku ingin memberinya sejumlah uang, atau menceritakan kepada orang-orang tentang kesabarannya hingga kisahnya menjadi teladan. Akan tetapi sungguh, ia tak membukakanku maupun menjawab seruanku.
"Sungguh demi Allah, tak pernah kualami kejadian yang lebih menakjubkan dari ini," kata Abu Qudamah mengakhiri kisahnya.
Lihatlah, bagaimana si ibu mengorbankan segala yang ia miliki demi menggapai kebahagiaan ukhrawi. Ia perintahkan anaknya untuk berjihad fi sabilillah demi keridhaan Ilahi. Maka bagaimanakah nasib para pemalas seperti kita. Apa yang telah kita korbankan demi keridhaan-Nya?
Sumber: Ibunda Para Ulama, Sufyan bin Fuad Baswedan, Wafa Press, Cetakann Pertama Ramadhan 1427 H / Oktober 2006
Bagian 2 = http://kisahmuslim.com/wanita-mulia-ibu-dari-seorang-pahla…/
Anda menerima email ini karena Anda adalah pembaca websiteKonsultasiSyariah.com
Unsubscribe furqontea@yahoo.com from this list.
Our mailing address is:
KonsultasiSyariah.com
Jl. Kaliurang KM 6,5
Yogyakarta 55581
Indonesia
Add us to your address book
Copyright (C) 2012 KonsultasiSyariah.com All rights reserved.
Forward this email to a friend
Update your profile
Email Marketing Powered by MailChimp

Minggu, 10 Juli 2016

Seri Sejarah : Mongol gagal untuk menguasi negara Islam.


🌙
 Renungan 25 Ramadhan dari kisah 779 tahun yg lalu
🌙 Renungan 25 Ramadhan dari kisah 779 tahun yg lalu AKHIRNYA ISLAM RUNTUH
Hanya dengan kekuatan 200.000 tentara dan berlangsung hanya dalam waktu 40 hari Kekhalifahan Abbasiyah yang bertahta selama 500 tahun dengan segala kebesarannya lenyap dari muka bumi.
Baghdad luluh lantak dihancurkan. 1,8 juta kaum muslimin di Baghdad disembelih dan kepalanya disusun menjadi gunung tengkorak. Tua, muda bahkan kanak-kanak. Laki-laki maupun perempuan, hingga janin di dalam kandungan semua dipenggal.
Khalifah dibantai beserta 50.000 tentara pengawalnya. Sejak pembantaian itu selama 3,5 tahun umat Islam hidup tanpa Khalifah. Tentara yang biadab memusnahkan ribuan perpustakaan yang memuat jutaan kitab-kitab, manuskrip-manuskrip sebagai khazanah peradaban di Baghdad dengan mencampakkannya ke dalam laut sehingga berwarna kehitaman. Siapa pelakunya?
Mereka yang bengis itu disebut Bani Qantura dengan ciri-ciri fisik bermuka lebar dan bermata kecil yang telah diisyaratkan kemunculannya oleh Nabi Muhammad saw. Kita mengenalnya sebagai bangsa Mongol atau Tartar yang kala itu dipimpin oleh Hulagu Khan, cucu dari Jengis Khan.
Ketika itu, seluruh negeri Islam yaitu Baghdad, Syria dan Asia Tengah sudah jatuh ke tangan tentara Mongol. Hanya tinggal tiga negeri Islam yang belum dimasuki yaitu Makkah, Madinah dan Mesir. Maka Hulagu Khan terus merangsek berupaya menaklukkan negeri yang lain.
Ambisi selanjutnya adalah menaklukan Mesir dan mengutus delegasi Mongol ke Mamluk Mesir, dimana pemimpin saat itu adalah Sultan Syaifuddin Muzaffar al Quthuz. Delegasi ini datang dengan membawa surat dari Hulagu Khan yang isinya,
“Dari Raja Raja Timur dan Barat, Khan Agung. Untuk Quthuz Mamluk, yang melarikan diri dari pedang kami. Anda harus berpikir tentang apa yang terjadi pada negara-negara lain dan tunduk kepada kami. Anda telah mendengar bagaimana kami telah menaklukkan kerajaan yang luas dan telah memurnikan bumi dari gangguan yang tercemar itu. Kami telah menaklukkan daerah luas, membantai semua orang. Anda tidak dapat melarikan diri dari teror tentara kami. kemana Anda lari? Jalan apa yang akan Anda gunakan untuk melarikan diri dari kami?
Kuda-kuda kami cepat, panah kami tajam, pedang kami seperti petir, hati kami sekeras gunung-gunung, tentara kami banyak seperti pasir. Benteng tidak akan mampu menahan kami, lengan Anda tidak dapat menghentikan laju kami. Doa-doa Anda kepada Allah tidak akan berguna untuk melawan kami. Kami tidak digerakkan oleh air mata atau disentuh oleh ratapan. Hanya orang-orang yang mohon perlindungan akan aman. Mempercepat balasan Anda sebelum perang api dinyalakan.
Menolak dan Anda akan menderita bencana yang paling mengerikan. Kami akan menghancurkan masjid Anda dan mengungkapkan kelemahan Tuhanmu, dan kemudian kami akan membunuh anak-anak dan orang tua Anda bersama-sama. Saat ini Andalah satu-satunya musuh yang mesti kami hadapi.”
Isi surat tersebut jelas-jelas melecehkan kedaulatan Islam, cuma ada dua opsi, menyerah atau berperang. Syaifuddin Quthuz tidak gentar sedikitpun, malah beliau dengan berani menempeleng delegasi Mongol itu dan membunuh mereka karena tertangkap tangan melakukan tindakan spionase. Dengan segera ia menggerakkan pasukannya dan memancing Mongol untuk bertempur di Ain jalut.
Kemudian Al Quthuz segera memobilisasi tentaranya maka terbentuklah pasukan berjumlah 20. 000 orang tentara dan bergerak menuju Ain Jalut di Palestina untuk menantang tentara Mongol. Bahkan istri sang sultan ikut berjuang dan memilih jalan jihad bersama kekasihnya.
Pada malamnya Quthuz dan pasukan Islam melakukan tahajud dan memohon dari Allah demi kemenangan pasukan Islam dalam pertempuran esok hari. Malam itu adalah malam jum'at 25 Ramadhan, mereka menghabiskan malam mereka dengan tahajud dan doa serta menyerahkan diri kepada Allah. Semoga Allah menerima mereka sebagai hamba-Nya dan memberikan kemuliaan kemenangan atau syahid di medan pertempuran esok hari. Hari di mana mereka menebus semua kematian jutaan umat Islam di tangan Mongol. Hari dimana kekhalifahan Islam akan sirna selamanya jika Mongol berhasil mengalahkan mereka.
🌙 JUM’AT, 25 RAMADHAN 658 H
Sultan Quthuz berdiri gagah, ia hendak memotivasi seluruh tentara gabungan Mesir, Syam dan Turki, serta seluruh rakyat Mesir untuk bergerak menuju jihad di jalan Tuhan. Suaranya begitu lantang dan keras, membuat jiwa bergetar, dan mengalirkan air mata, kata-katanya terdengar nyaring, menyerukan jihad paling menentukan dalam sejarah.
“Jika Mongol memiliki kuda, panah, tameng, dan manjanik. Maka kita punya yang tak terkalahkan oleh apapun, kita punya Allaaaaah,,,,,Azza wa Jalla.”
Suara takbir bergemuruh, semangat pasukan terbakar, dan rakyat berjanji akan bertempur bersama sultan mati-matian, hingga darah penghabisan.
Bertemulah Kedua kekuatan tersebut di Medan perang Ain jalut, Pasukan Mamluk dengan mengandalkan pasukan kavaleri sebagai kekuatan utama di pimpin oleh Jendral Baibars dengan Sultan Quthuz mengamati dari dataran tinggi sementara Pasukan Mongol dipimpin langsung oleh jendral tangan kanan dan kepercayaan Hulagu Khan, Qitbuka Noyan.
Baibars yang memiliki jumlah pasukan kaveleri yang lebih sedikit menggunakan taktik "hit and run" dalam melawan pasukan Mongol hingga terjadi pertempuran selama berjam-jam sampai pada akhirnya pasukan Mongol jatuh ketengah-tengah perangkap pasukan Mamluk.
Melihat lawannya sudah masuk kedalam perangkap, pasukan Mamluk yang bersembunyi mulai keluar dan langsung menghujani pasukan Mongol dengan panah dan meriam kecil dalam penyerangan ini.
Ketika pasukan lawannya sudah berada dalam posisi terdesak, pasukan kavaleri Mamluk lain yang juga bersembunyi serta kemudian disusul oleh Infantrinya langsung menyerbu lawannya dalam empat posisi, menutup jalan keluar bagi pasukan Mongol.
Qitbuka yang menyadari bahwa pasukannya tidak mempunyai harapan lagi untuk melawan pasukan Kaveleri utama pimpinan Baibars dan memenangkan pertempuran, serta pasukannya terpojok ditengah-tengah, segera memerintahkan keseluruhan sisa pasukan yang dimilikinya untuk memfokuskan penyerangan ke posisi sayap kiri pasukan Mamluk pimpinan Al-Mansur Mohammad yang dirasa paling lemah, untuk membuka jalan keluar bagi pasukan yang dipimpinnya. Setelah digempur secara gencar akhirnya posisi sayap kiri pasukan Mamluk menjadi goyah.
Dari dataran tinggi, Sultan Quthuz yang mengamati jalannya pertempuran, melihat posisi sayap kiri pasukannya mulai terbuka akan dijebol pasukan Mongol, seketika itu pula ia membuang topeng bajanya ke tanah hingga wajahnya dapat terlihat oleh seluruh pasukannya, Sambil mengacungkan senjata Ia menggebrak kudanya ke arah posisi sayap kiri pasukannya,dan berteriak keras-keras,
💪 "Demi Islam!..Demi Islam!" 💪
Melihat sultannya menuju ke arah mereka, seketika itu pula moral dan semangat bertempur pasukan sayap kiri Mamluk meningkat, mereka kembali meningkatkan pertahanan dan tekanan kepada pasukan Mongol, satu-persatu pasukan Mongol berjatuhan terbunuh termasuk Qitbuka.
Pasukan yang tak pernah terkalahkan akhirnya takluk oleh pejuang Islam yang pemberani dan panji-panji Islam kembali ditegakkan.
Sultan Syaifuddin Muzhaffar al Quthuz meninggal dunia hanya lima puluh hari setelah kemenangan Ain Jalut. Kekuasaannya hanya berusia 11 bulan dan 17 hari. Tidak genap satu tahun!
Berbagai peristiwa bersejarah yang agung, persiapan yang bagus, pendidikan yang tinggi, kemenangan gemilang, hasil yang luar biasa dan dampak yang besar. Ya, semua ini dicapai kurang dari satu tahun di bawah pemerintahan pemuda legendaris ini.
Lalu. Bagaimana dengan kita? Di penghujung Ramadhan ini, apakah yang telah kita persiapkan, korbankan bahkan perjuangkan untuk menegakkan keadilan dan mencegah kemungkaran di sepanjang hidup kita?
Ramadhan adalah bulan perjuangan. Mulai dari perang Badar, perang Tabuk, menggali parit untuk perang Khandaq, penaklukkan Makkah, penaklukkan Andalusia, serta banyak peperangan terjadi di bulan ini termasuk perang Ain Jalut. Maka bukan kebetulan juga jika kemerdekaan bangsa ini diproklamirkan pada hari jum'at 9 Ramadhan.
Selain bulan perjuangan,Ramadhan juga bulan kemenangan. Maka mari jadikan bulan ramadhan ini sebagai momentum revolusi. Mari kita berjuang, tentu saja bermula dari melawan hawa nafsu kita sendiri untuk menang dan merdeka baik sebagai diri, ummat dan bangsa. Karena tak ada yang tak bisa diraih jika perjuangan (Fight) dikombinasikan dengan keimanan (Faith).
Semoga cerita tersebut diatas menginspirasi kita semua, untuk terus bersiap siaga menjaga kehormatan diri, agama, bangsa dan negara...
*copas dari grup WA