Rabu, 19 April 2017

Setidaknya, tuntas sudah untuk urusan ahok!

Kemarin saya sengaja nongkrong di depan Te Ve di siang hari, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan,apalagi dengan kondisi kaki saya yang seperti ini.  Saya paksakan cari posisi yang bisa nyaman sehingga tidak menimbulkan rasa pegal karena aliran darah dari kaki tidak lancar ke arah jantung yang menyebabkan kaki bengkak dan mengeras. Sehingga untuk itu beberapa posisi selalu berganti-ganti untuk menikmati tayangan Te Ve dan kenyaman kaki.

Ya, saya paksakan karena saya ingin menonton penghitungan cepat PILGUB DKI yang sangat menghebohkan itu.  Yang membuat antara teman, saudara, bahkan mungkin kolega bisnis menjadi renggang hubungannya karena berbeda pilihan.  Yang luar biasa karena walau pilgub dki tetapi semua orang yang berkepentingan tetapi tidak tinggal di jakarta juga ikut terlibat.  Maksud berkepentingan di sini karena salah satunya berhubungan dengan keyakinan dan ada juga yang berkaitan dengan kepartaian.  

Yang berhubungan dengan keyakinan walau sudah dikatakan para ulama bahwa memilih pemimpin di luar keyakinan (Islam) adalah dilarang keras, haram, yang akan mengakibatkan kondisi keimanan seseorang menjadi tercoret ke dalam posisi yang sangat merugikan dirinya, tetapi ada juga orang yang ngotot untuk tetap memilihnya. Yang luar biasa karena ada sebagian elit-elit politik bahkan yang punya pemahaman keagamaan yang di atas rata-rata juga mendukung calon pemimpin yang berbeda agama, entah karena motif apa, silahkan anda terjemah sendiri.  Dan yang lebih hebat lagi, seperti nya ada statement kalau kita memilih pemimpin yang sesuai dengan keyakinan kita, terutama untuk umat islam dikatakan mereka bersikap intoleran, yang justru tidak kenakan kepada umat yang lain.  O, o......

Yang berhubungan dengan kepartaian, banyak yang tidak mempedulikan status keyakinannya, tetapi karena partainya mendukung sang calon yang berbeda keyakinan (Ahok), dia tetap pada keputusan sang partai.  Apalagi ada partai yang memang untuk mengkonsentrasi anggota partainya di seluruh ndonesia untuk memenangkan calon yang didukungnya.  Terakhir terlihat bagaimana Jakarta dibanjiri sembako dan baju gratis (bahkan mungkin uang), dengan maksud mencuri hati masyarakat Jakarta untuk memilih calon partainya, yang sebenarnya hal ini sudah melanggar aturan pilkada itu sendiri.

Kembali ke acara nonton, karena ada teman group wa yang tidak bsia menyaksikan acara di Te Ve, sehingga saya pun menjadi kepanjangan laporan dari acara itu ke postingan wa.  Setiap ada perubahan angka, selalu saya laporkan, hingga posisi data yang masuk 80 % dengan perbedaan suara yang cukup jauh hampir 20 persen., nampaknya kekalahan ahok sudah tidak bisa dipungkiri.  Saya pun lega karenanya, setidaknya, tuntas sudah untuk urusan ahok dalam pilgub dki ini.  Urusan selanjutnya adalah urusan KPUD.  Apakah akan ada sesuatu yang terjadi yang luar biasa yang membaliknya hitungan cepat yang ada???!!!! entahlah.......

(Berikutnya hutang ahok adalah menuntaskan penistaan agama yang sedang berlangsung di pengadilan.  Itu satu sisi yang lain......................)))))


Entah mau jadi apa mereka?

Terdengar suara grendel pintu besi di depan rumah berbunyi, tanda seseorang ingin membukanya.   Jam masih menunjukkan sekitar jam 6 pagi, suasana jalanan masih sepi, derit kehidupan belum begitu ramai terdengar. Saya pun kasih tahu ibu untuk melihat siapa itu gerangan. Memang sebelumnya terdengat langkah orang yang mendatangi rumah.  Tetapi ternyata yang dimaksud orang di sini adalah anak kecil berumur sekitar 8 tahun.  Karena sedang tidak memakai kerudung, Ibu pun berteriak dari dalam rumah menanyakan ada maksud apa, setelah menyebutkan nama si anak itu.  Rupanya dia mau mendaftar untuk belajar mengaji nanti siangnya.  Kejadian ini sudah dua hari berturut-turut. 

 Dia ingin berada diurutan pertama, biasanya dia dengan adiknya selamanya selalu berada di urutan pertama untuk belajar mengaji dan membaca untuk adiknya (karena belum sekolah), tetapi mereka mendaftar nanti setelah sholat dhuhur selesai, mereka datang dan menulis namanya yang telah disediakan ibu di luar. Tapi entah, mungkin karena teman-temannya juga ikut berlomba untuk menjadi urutan pertama, dia datang pagi-pagi sekali.

Saya perhatikan anak ini dan adiknya, nampaknya mempunyai kemampuan di atas teman-temannya, seperti yang ibu bilang juga ke saya terutama adik perempuannya itu, sebutlah si B.  Si B ini, belum masuk usia sekolah bahkan untuk tingkat Taman kanak-kanak, ya sekitar 4 tahunan. Berawal dari belajar mengaji, terus ibu bilang sama ibunya ketika melihat kemampuannya untuk dibelikan buku belajar membaca huruf latin.  Sewaktu saya duduk di sekitar mereka yang sedang belajar, saya kaget juga ketika dia belajar membaca huruf latin, dia sudah mampu membaca, walau pelan-pelan tapi sudah mengerti huruf mati dan kata-kata yang susah. Bagi saya itu sungguh luar baisa dengan umur yang masih anak-anak tapi kemampuannya sudah seperti itu.  

Kakaknya, tarohlah sebut si A, dulu saya biasa sama anak-anak yang suka mengaji di rumah, kalau akhir tahun atau pertengah tahun dimana mereka menerima rapor sekolah, saya selalu bilang siapa yang menadapat rangking satu di sekolahnya.  Kalau ada yang dapat saya kasih uang.  Sayang jarang sekali, bahkan boleh dibilang tidak ada, kecuali pernah satu kali si A ini. Teman-temannya bilang si A rangking. Jadi saya kasih uang beberapa ribu rupiah, terlihat senyum senang di wajahnya.  Hanya sayang berikutnya rangking satunya tidak pernah lagi dia capai. Di sinilah persoalannya!!!

Mereka berasal kalangan rakyat biasa yang orangtuanya rata-rata pekerja kasar, tukang, supir, pabentor dan lainnya, untung-untung mereka memperhatikan sekolah anak-anaknya, tetapi itu pun hanya sekedar menyekolahkan tanpa membimbingnya.  Apalagi pergaulan di lingkungan kami kurang begitu baik untuk perkembangan mereka.  Bahkan ada orangtua yang tidak peduli bahwa anak itu harus sekolah, ketika ada kemalasan dalam diri anak untuk pergi sekolah, si orangtua juga tidak mempedulikannya sehingga masih kelas awal sd sudah putuh sekolah.  Alasam yang lebih luar biasa, mereka akan tetap hidup walau tidak sekolah. ckckck.....

Si A dan si B, yang punya potensi menjadi anak pintar, termasuk anak-anak yang kurang beruntung dalam perhatian orangtua untuk sekolah anaknya.  Karena kakak-kakaknya terutama yang paling besar, sang bapak tidak mau lagi membiayai anaknya ketika masuk Sekolah tingkat atas, padahal menurut ibu punya kemampuan juga dan anaknya baik, artinya tidak terpengaruh lingkungan. Tapi karena sikap bapaknya seperti itu akhirnya si anak ini bergaul dengan teman-teman pengngguran lainnya dan terjerumus ke dunia isap lem, entah yang lainnya (minum-minum dan obat-obatan!!)

Sayang sekali, bagaimana nantinya dengan si A dan si B, si sulung sudah seperti itu, adiknya si sulung karena tidak pernah di kasih uang jajan lagi akhirnya dia bekerja di tempat cuci motor dan dengarnya putus sekolah juga.  Tetapi sisi baiknya si anak kedua ini, selalu menyimpan uang hasil mencuci motornya dengan cara dititipkan di ibu di rumah. Bagaimana pergaulannya? kadang dia pun suka mengisap lem!!!!

Kami berusaha untuk anak-anak disekitar lingkungan kami supaya tidak terjerumus ke hal-hal yang tidak baik dengan menanamkan pengertian melalui mengajarkan mengaji dan menghafal al-Quran.  Dengan bekerja sama dengan lembaga keuangan yang ada, bagi mereka yang rajin mereka mendapatkan bea siswa yang bisa menutup uang jajan mereka walau tidak seberapa.  Ah, mudah-mudahan semangat belajar si A dan Si B dan tetap sitiqomah bisa mempertahankan mereka di jalur yang benar, bahkan kalau bisa tetap sekolah hingga yang paling tinggi.  Dan semoga kedua orangtuanya terutama bapaknya ada perhatian sedikit lebih kepada mereka dalam masalah pendidikan anaknya.  


Selasa, 04 April 2017

Kejutan lain setelah Raja Salman, Dr. Zakir Naik.

Bagi saya, kedatangan Dr. Zakir Naik ke Indonesia adalah berkah tersendiri bagi bangsa Indonesia khususnya bagi umat Islam setelah kedatangan Raja Salman dari Arab Saudi.  Kita tahu bersama bahwa Dr. Zakir Naik adalah ulama  internasional yang pengusaan ilmu agamanya tidak hanya mencakup tentang agama Islam saja, tetapi juga agama-agama lainnya, seperti budha, hindu dan kristen.  Terlepas apakah karena beliau dari India, yang mayoritas beragama hindu, tetapi dari uraian mengenai kehidupannya jelas bahwa beliau banyak berguru kepada ulama Ahmad Deedat yang memang terkenal dengan pengetahuan yang sama yang dikuasai oleh Dr. Zakir Naik sekarang.

Point lain, sudah umum bahwa di mana-di mana Dr. Zakir Naik berceramah beliau akan mengundang bukan hanya kaum muslimin juga tetapi juga kaum agama non muslim. Kaum agama non muslim ini akan diberi kesempatan untuk diberi kesempatan dalam sesi tanya jawab, yang efeknya dari tanya jawab itu banyak dari kaum non muslim yang otomatis masuk Islam, atau setidak membuka fikiran mereka tentang Islam yang baru dari pandangan mereka selama ini. Pasti, yang tidak berubah pandangannya pun pasti ada.  Tapi bagi saya lebih dari itu, baru pertama kali tampil di Indonesia di auditorium UPI di Bandung, permasalahan up to date yang terjadi di indonesia ini adalah adanya pandangan kaum muslimin yang terpecah kepada masalah kepemimpinan non Muslim (kasus pilgub DKI Jakarta, yang salah satu calonnya adalah Ahok yang beragama kristen) Dan ini mengemuka juga pada ceramahnya beliau di Bandung itu karena ada pertanyaan dari hadirin.

Kita umat Islam selalu diributkan dengan surat Al-Maidah ayat 51, antara yang berpandangan tidak boleh dan yang berpandangan boleh memilih pemimpin non muslim.  Yang luar biasa ini hingga menyerempet ke orang-orang yang dibilang ulama, hingga mereka berani mengatakan bahwa ayat itu sudah tidak berlaku lagi.  Tetapi Dr. Zakir Naik menjawab sungguh sangat sederhana tentang permasalahan ini, BUKAN UNTUK ANDA (NOT FOR YOU). Bukan untuk anda jika anda tidak mempercayai surat Al-Maidah ayat 51 itu. Beliau mengulas memang bahwa kata Aulia dalam ayat itu bisa ditafsirkan pemimpin, teman baik, penolong.  Di ayat lain dikatakan bahwa kita umat Islam harus berbuat baik kepada kaum non Islam, tetapi dalam masalah yang satu ini seperti yang tercantum dalam surat Al-Maidah ayat 51 jelas tidak boleh menempatkan mereka dalam posisi itu apalagi kalau memang ada pilihan dimana pilihan itu ada umat Islam nya.

Kalau kita tidak mempercayai Al-Quran sebagai sumber kebenaran, entah kita ber-KTP islam, Al-Quran itu bukan untuk kita.  Jadi apa jadinya kalau kita tidak mempercayai Al-Quran sebagai pemandu hidup di dunia ini?




Minggu, 02 April 2017

Musibah, yang tidak pernah diperkirakan. (episode 3)

Hari ke duapuluh lima.

Dengan mengucapkan bismillah, saya buka rangkaian bambu penahan kaki.  Beberapa pertimbangan saya ambil, yaitu :

(1) otot-otot kaki, terutama betis sudah semakin terkoordinasi, saya sudah bisa memutarkan kaki dan tidak perlu bantuan tangan, kalau ada hanya sedikit untuk menarik ke bagian atas.
(2) Mengerasnya sambungan tulang yang patah sudah melewati waktu yang disampaikan tukang urut tulang yaitu hari ke 20.
(3) Kulit disekitar rangkaian bambu semakin mudah gatal bahkan -berdasarkan fikiran saya yang awan terhadap masalah kedokteran- karena lama tidak kena air mandi (dibersihan, sabun dll) maka beberapa titik timbul bisul.  Nah, ini juga boleh jadi salah satu dampak lain dari patah tulang yang saya alami dengan proses penyembuhan seperti ini. Yang lainnya akan saya uraikan nanti.

Terasa ringan setelah saya buka rangkaian bambu yang selama ini menjadi penahan dalam proses penyembuhan patah tulang saya.  Terlihat kalau saya bandingkan dengan kaki kanan, bengkak di sekitar patah tulang masih ada, walau rasa sakit sudah tidak ada.  Pergerakan kaki juga menjadi terasa ringan, walau saya belum berani untuk menekan di lantai.  Semoga ke depannya, Allah swt menyembuhkan kaki yang patah ini sebagaimana sedia kala, artinya saya bisa beraktifitas tanpa terhalang sesuatu.

Sakit-sakit sampingan, he-he...saya katakan seperti itu selama menjalani proses penyembuhan :

(1) Sakit punggung, terutama waktu tidur.  Karena kaki yang patah belum bisa bergerak bebas, sejak hari pertama kejadian saya hanya bisa tidur telentang.  Hal ini mengakibatkan saya cukup tersiksa karena sakit punggung atau tulang belakang.  Setiap malam, saya selalu terbangun karena itu walau saya coba untuk tidur agak malam, tetapi tetap sekitar jam 1 atau jam 2 malam saya terbangun. Yang parah kalau tidak salah malam mendekati hari ke 20, saya bangun tapi tidak bisa saya angkat tubuh ini untuk duduk di ranjang, hingga saya minta bantuan istri saya untuk mengangkat badan saya. Padahal sebelumnya tidak pernah terjadi, kalau terbangun apalagi kalau sampai mau buang air kecil saya bisa angkat badan saya untuk duduk.

Dengan izin Allah, masalah ini bisa diselesaikan dengan saya meminta istri saya menyemprotkan obat tulang yang dipakai untuk membantu kaki yang patah di sekitar punggung.  Alhamdulillah, paginya saya bisa bangun sendiri tanpa bantuan istri saya.

Namun hari ke duapuluh satu, ketika saya terbangun malam saya coba berfikir dan membuat kaki saya yang patah nyaman kemudian saya coba tidur menyamping ke arah kiri. Alhamdulillah, ternyata bisa, kaki kiri saya nyaman dan saya bisa tertidur dengan posisi miring sedikit.  Posisi ini, membuat istri saya kaget ketika saya tidur siang dengan posisi seperti ini. Apalagi hari ke dua puluh tiga koordinasi otot di sekitar kaki yang patah sudah semakin bagus.

(2) Saya termasuk orang yang tidak mau kena kipas angin kalau tidur malam bahkan tidak langsung kena sekali pun. Dan ini terbalik dengan istri saya yang selalu kegerahan.  Kadang diambil jalan tengah, kipas angin dengan putaran kecil mengarah ke istri saya, dan saya kadang masih dapat sedikit...ya tidak apa-apa! Tapi kalau sudah merasa kedinginan saya minta dimatikan, dan ini biasanya sudah lewat tengah malam dimana udara malam juga sudah dingin.

Entah karena ada pengaruhnya dari patah tulang kaki ini, saya mudah berkeringat terutama di punggung (boleh jadi tidur telentang terus), kaki kiri bagian bawah (jarang bergerak kalau tidur), juga di bagian leher.  Karena selalu berkeringat sehingga timbul yang dikatakan orangtua, biang keringat.  Akibatnya adalah gatal-gatal.  Awal-awal cukup enak menggaruk yang gatal-gatal itu, tapi lama-lama jadi lecet kulit, sehingga setelah menyadari ini saya tahan-tahan sedikit untuk menggaruk.  Untuk membantu itu saya lebih sering mandi dan menggunakan bedak untuk mengurangi gatal-gatal.

(3) Bisul yang muncul di sekitar kaki di bawah rangkaian bambu penahan.  Entah bagaimana timbul seperti itu, tetapi seperti yang sudah saya uraikan di atas yaa begitulah.  Yang kecil-kecil tidak seberapa sakitnya bahkan boleh dibilang tidak sakit sama sekali, tetapi ada dua titik di bagian bawah betis yang cukup besar dan ini terasa sakit kalau saya berdiri.  Kalau posisi tidur atau saya duduk di kursi dengan kaki saya selonjorkan  bisul itu tidak terasa sakit, tapi kalau saya berdiri dan kaki tergantung, waduh sakitnya, kadang saya lawan dengan sedikit-sedikit saya angkat kaki dan diluruskan kembali. Sakitnya sampai kaki gemeteran, tapi lama-lama hilang lagi.

Mungkin bagi pembaca ini bisa dihindari kalau kejadian seperi saya dengan selalu membersihkan rangkaian bambu itu dan jangan mudah menggaruh bagian yang gatal di sekitar kaki yang patah.

Itulah sakit-sakit sampingan yang timbul dari sakit yang sebenarnya. Teman-teman yang pernah mengalami kasus seperti saya, menilai bahwa proses penyembuhan cukup cepat. yaahh...bagaimanapun semuanya atas izin dari Yang Di Atas, alhamdulillah.  Namun saya juga, tidak hanya mengandalkan apa yang disampaikan tukang urut, ada tambahan atau cara yang saya pakai untuk mempercepat kesembuhan. (Ups....sudah dua puluh lima yaa lumayan lama juga sebenarnya, tetapi dari cerita yang lain termasuk cepat juga)

Di Episode berikutnya, saya akan saya sampaikan apa saja yang saya pakai dan gunakan untuk mempercepat proses penyembuhan itu. Insya Allah.


Minggu, 26 Maret 2017

Musibah, yang tidak pernah diperkirakan. (episode 2)

Hari pertama, lanjutan....

Sesampainya di rumah teman, saya diangkat masuk di kamar tidur dan ditempatkan di kasur yang biasa saya pakai.  Setelah teman-teman yang mengantar kembali ke sekolah, tinggallah saya dengan tuan rumah yang sudah seperti saudara ini.  Kami berbincang, entah kenapa air mata terus menetes, seperti orang menangis, entah karena pengaruh di hati yang galau karena kejadian yang tidak terduga ini.  Patah Tulang Kaki!! Sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya.  Namun bagaimana pun saya harus menghadapinya.


Hari ke delapan, lanjutan....

Setelah saya tetap untuk tetap di tempat tidur, hampir 2 hari saya hanya berada di tempat tidur, telentang.  Pegal, gatal, bosan....terus menghingapi hari-hari itu.  Namun saya paksakan untuk itu demi kesembuhan kaki saya yang patah itu.  Untuk mengurangi rasa bosan, saya coba buka Al-Quran dan menghafalkan kembali surat-surat yang sudah saya lupa. Alhamdulillah ada beberapa surat kembali saya hafal.

Yang luarbiasa, pada masa ini adalah tiba-tiba saya terbangun di malam karena rasa sakit yang luar biasa yang datangnya dari arah kaki bagian depan.  Saya berfikir itu adalah pas tulang kering yang patang.  Sakitnya bukan sepertinya nyut, nyut... tetapi seperti loncatan listrik dari satu sisi ke sisi lainnya.  Berbeda dengan rasa sakit di bagian sisi dalam kaki, karena posisi menjadi tergantung ketika saya pindah tempat, tetapu ini karena saya sedang tidur dan posisi kaki tidak berubah.  Waahhh....saya berfikir positif saja bahwa jaringan tulang atau entah apa namanya sedang tersambung kembali. Kasarnya seperti sedang di las.

Setelah itu rasa sakit di kaki, ketika saya berpindah tempat sudah tidak terlalu sakit lagi.  Bengkaknya pun mulai berkurang. Hal ini bisa saya lihat dari guratan kulit jempol kaki kalau saya gerakkan ke bagian dalam terlihat guratan/kerutan yang semakin banyak.  Bengkak di betis juga sudah berkurang, terasa ketika saya pegang betis tidak terlalu keras lagi.  Air yang keluar dari lecet kulit karena bergesekan dengan bambu juga sudah berkurang bahkan menjadi kering.

Hari ke lima belas.

Kami, saya dengan istri saya, memutuskan untuk kembali ke tukang urut untuk memeriksakan perkembangan proses penyembuhan patah tulang ini.  Kami pun persiapkan semuanya, karena itu adalah perjalanan yang cukup panjang memakan waktu 4-5 jam perjalanan.

Sebenarnya setelah sampai di rumah di makassar, pada hari kedua setelah kejadian, banyak teman baik dari teman saya maupun dari istri saya yang menawarkan untuk membawa ke tukang urut tulang yang mereka tahu, bahkan dengan promosi yang luar biasa.  Hanya kami putuskan untuk tetap memakai yang pertama menangani untuk menghargai dan menghormati. Jangan sampai terjadi sesuatu terhadap kaki saya, sehingga nantinya ditakutkan saling menyalahkan.  Walau dengan keputusan itu saya harus pergi ratusan kilometer untuk memeriksakan kaki ini.

Samapi di tempat dan tukang urut juga sudah ada, maka beliau memeriksa kaki saya dengan posisi saya tertidur.  Cukup ngeri juga kalau saya lihat dari cara mengurutnya, kalau sekedar di pijit-pijit dan diurut, sepertinya ngak ada masalah, tapi dia tarik lagi dan di tekuk, diputar-putar.  Ups... beliau selalu tanya, sakit tidak? Karena tidak sakit saya bilang tidak!!! (Ada yang lucu, dengan kejadian ini, istri saya yang berada di ruangan itu dan melihat proses urut itu, protes ke saya, kenapa kalau dia (istri saya) bantu pegang kaki atau menempatkan kaki selalu saya bilang aduh sakit!! He...he... Loh...faktanya begitu toh!!). Saya pasrah saja dengan caranya mengurut karena beliau adalah ahlinya.

Akhirnya, setelah selesai beliau bilang tulangnya sudah tersambung hanya belum sempurna betul atau belum keras karena, katanya, masih terdengar benturan sedikit. Biasanya memasuki hari ke 20, sambungan sudah keras dan nanti hari ke 30 sudah bisa belajar jalan.

Karena dulu pernah mengatakan bahwa rangkaian bambu bisa dilepas setelah 2 minggu, beliau tanyakan ke saya masih mau dipasang bambunya.  Saya selama dua hari ini dan selama dalam perjalanan berfikir akan lebih baiknya bahwa rangkaian bambu itu tetap dipasang, apalagi dikatakan bahwa sambungannya belum sempurna atau belum keras. Jadi untuk amannya rangkaian itu tetap dipasang hanya bambu yang memanjang di sisi kiri dan kanan beliau potong sehingga semuanya sama panjang. Maksudnya supaya kaki bagian bawah bisa lebih bergerak bebas. Bahkan saya dianjurkan untuk melatih pergelangan kaki untuk digerak-gerakkan ke bagian atas dan bawah (ditekuk).

Hari ini adalah hari ke 19, rasa sakit sangat jauh berkurang kalau tidak dikatakan sudah tidak terasa sakit lagi. Sakit hanya terasa di otot-otot yang mana kalau posisi kaki ketika diselonjorkan  tidak pas dengan arah paha dan ujung kaki.  Rangkaian bambu memang masih menjadi hambatan, terutama untuk aliran darah, namun tukang urut  mengatakan kalau lagi diam lama ikatannya bisa dibuka dan kalau mau jalan bisa diikat lagi.

Catatan :

Saya anggap ini adalah pesantren kilat dari Allah swt untuk saya, boleh jadi ini akibat dosa-dosa saya yang lalu sehingga Allah menghukum saya seperti ini.  Saya kadang membayangkan, seperti ini saja sakitnya sudah demikian, bagaimana kalau di neraka. Astaghfirullahal'azhim. Semoga hukuman ini menjadi saya semakin baik di hadapan Allah swt.

Saya belajar banyak dari kejadian ini, untuk lebih taat kepada Allah, bersabar dan menghargai yang lain.  Walau saya berusaha mandiri dalam segala kegiatan tapi itu tidak bisa semuanya, peran istri, keluarga (anak-anak), teman-teman, sangat luar biasa membantu proses penyembuhan ini, baik bantuan langsung maupun doa yang tidak ternilai harganya.

Kejadian ini, mengjari saya -dan boleh jadi semuanya yang membaca tulisan ini untuk lebih bersiap akan kehidupan rohani kita, karena kita tidak tahu apa yang terjadi di depan kita bahkan sesaat ke depan kita, apakah kita baik-baik saja atau kita mendapatkan musibah hingga yang paling luar biasa menjemput ajal kita di dunia ini.






Musibah, yang tidak pernah diperkirakan. (episode 1)

Hari ke delapan,

sore itu saya hanya bisa menatap ke plafond yang ada di kamar tidur. Terlihat di plafond yang terbuat dari triplek dengan cat berwarna putih, ada lukisan-lukisan berwarna coklat yang terbuat karena kebocoran dari atap seng yang sudah berkarat.  Kalaulah terjadi lagi kebocoran waktu itu, saya pun tidak bisa berbuat apa-apa, seperti yang biasa saya lakukan sebelumnya.  Saya naik ke atas plaflond dan masuk di para-para, kemudian saya cari lubang-lubang bocor yang biasanya karena karatan dari persentuhan seng dengan penahan balok. Saya tempel dari bawah dengan seng kembali yang diberikan lem besi.

Adzan berkumandang pun saya hanya bisa mendengarkan suaranya tanpa bisa mendatanginya, padahal kadang saya sendiri yang adzan untuk memanggil jamaah untuk datang sholat berjamaah.  Usaha maksimal saya hanya bisa berjamaah di rumah dengan istri dan anak-anak saya, tetapi saya sebagai imam hanya duduk dan kadang kaki menggelonjor di kursi yang ditempatkan di depan tempat duduk saya.

Hitungan hari ini, saya tetapkan untuk istirahat total di kamar tidur karena kaki terasa sangat sakit sekali, terutama sisi dalam dari kaki kiri saya, ketika posisi tergantung, karena pergerakan tubuh saya ketika saya mau ke kamar mandi, atau pindah tempat ke kursi karena rasa bosan atau karena ada tamu yang menjenguk saya.

Di hari ke delapan ini, saya kadang tergambar kejadian awal dari Musibah yang saya dapat.

Hari pertama,

Setelah mengawas ujian tertulis di kelas bagi siswa yang akan mengikuti ujian kompetensi keahlian di sekolah saya, saya berniat ke kantor, dimana teman-teman berkumpul di sana.  Suasana hujan keras, area yang harus saya lewati adalah lahan kosong yang masih bertanah, sehingga untuk melewatinya saya harus melihat-lihat mana tanah yang perlu saya pijak yang tidak berair.  Lama saya lihat-lihat, jarak yang ditempuh sekitar 7-8 meter.  Setelah berketetapan hati, saya pun melangkah di bawah guyuran hujan, saya ikuti tanah yang tidak tergenang air. Hingga di ujung rute yang sudah dekat dengan kantor saya, saya lihat ada aliran air hujan di tanah yang cukup lebar, melebihi ayunan langkah terjauh saya.  Tidak ada jalan lain, saya harus melompat, tanpa ancang-ancang, saya pun melompat dengan kaki kanan yang berpijak ke tanah terlebih dahulu. Karena lebar dan tanpa ancang-ancang, sebenarnya saya sampai di seberang tanah yang tidak dialiri air, tapi keseimbangan badan tidak bisa terjaga sehingga terpeleset.  Sewaktu terpeleset inilah, kaki kiri saya mencoba untuk menahannya, tetapi sekilas saya lihat tanahnya tidak datar, ada gundukan kecil sehingga kaki kiri pun terpeleset juga dan mengakibat suara yang hanya bisa saya dengar. Saya pun berseru, "patah kaki saya!!!"

Sekilas saya lihat tonjolan di kaki bagian dalam saya dengan warna agak kehitaman. Namun ketika saya mau raba saya tidak bisa menjangkaunya.  Saya pun berusaha untuk bangkit tetapi tidak ada daya untuk itu. Akhirnya saya pun hanya bisa mengangkat tangan ke atas, minta tolong.  Rupanya peristiwa jatuhnya saya dilihat teman guru di kejauhan, yang kemudian beliau teriak-teriak untuk memberitahu kejadian saya. Tidak lama datang siswa-siswa mengangkat saya dari genangan untuk di bawa ke kantor. Ketika diangkat itu saya lihat kaki kiri saya tidak terkulai.

Saya pun ditidurkan dimatras yang ada di kantor.  Sakit kadang muncul dari kaki saya yang patah itu.  Mulut saya tidak henti berdzikir kepada-Nya, diselingi rasa sakit, kadang muncul rasa takut dan masa depan akan kaki saya, cacatlah dan tidak bisa melakukan sesuatu seperti biasanya. Disela-sela ributnya teman-teman guru akan penanganan kaki saya, ada teman yang menegaskan jangan dibawa ke dokter/puskesmasrumah sakit tapi bawa ke tukang urut tulang.  Saya hanya diam saya belum bisa memutuskan, akhirnya saya ikuti apa yang menjadi keputusan teman guru. Teman guru yang lain berusaha untuk mencari kendaraan untuk mengantar saya ke tempat tukang urut tulang.

Singkat cerita saya sudah ada di mobil menuju tempat tukang urut, yang berjarak kurang lebih 10 km. Setiap mobil melewati jalanan jelek, terasa kaki saya sakit dan tulang seperti beradu antara ujung patahan yang satu dengan yang lainnya.  Saya pun hanya bisa berdzikir menahan sakit.  Rupanya rasa sakit dan beradunya tulang dirasakan juga teman guru yang tangannya memegang kaki saya di lutut dan telapak kaki.

Alhamdulillah, tukang urut berada di tempat di rumahnya, tidak sedang bepergian. Belakangan ketahuan ternyata beliau punya rencana ke kota sejak pagi, tetapi karena hujan sehingga batal untuk pergi.  Beliau membiarkan saya tetap berada di mobil dan langsung ditanganinya.  Dimulai dengan memegang kaki saya, dan kemudian mencoba menarik tulang yang patah untuk ditempat kembali ditempatnya semula.  Beliau bertanya apakah sakit, saya jawab tidak.  Setelah selesai, beliau kembali ke rumahnya dan kemudian membawa sebatang bambu kecil dan mengukur panjangnya dengan kaki saya.  Kembali lagi ke rumahnya, entah apa yang dikerjakannya karena memakan waktu yang cukup lama.

Rupanya beliau sedang membuat semacam alat dari bambu yang terrangkai mengelilingi kaki saya sehingga kaki saya tidak bisa bergerak bebas.  Diikat kuat dan dialasi kain ditempat ikatan kaki.  Kemudian beliau meminta air aqua besar dan beliau doakan airnya, yang mana air itu dipakai untuk kompres di kain yang disediakan untuk kaki saya.  Hanya itu, rasa sakit saya tidak terlalu lagi.  Kami pun pergi ke tempat dimana saya biasa bermalam di rumah teman.




Minggu, 05 Maret 2017

Nimbrung ngomongin tentang Raja Salman, walau telat diposin

(Kedatangan Raja Salman ke Indonesia begitu spektakuler, baik dari sebelum kedatangannya, setibanya di sini, hingga kepergiannya dari Jakarta.  yang pro maupun yang kontra.  he-he....)

konon,

Raja Arab mau datang ke sini,
ke negara indonesia!!!
yang benci Arab (siapa ayooo..?),
ribut menjelek-jelekkan dari A - Z,
yang langsung maupun tidak langsung.


Raja Saudi, atau lebih jelas Wahabi,
mau datang ke sini,
ke negara ahlu sunnah, dan mungkin juga (sebagian syiah),
yang benci Saudi atau Wahabi (siapa ayooo....?)
ribut juga tidak ketinggalan menjelek-jelekan dari Z - A.

Raja di Raja mau datang ke sini,
ke negara kebhinekaan,
yang benci Raja di Raja (siapa ayoo....?)
ribut menjelek-jelekan dari sabang hingga merauke.

he...he....
padahal Sang Raja, entah lah apa namanya mau Arab, Saudi, atawa Wahabi, atau Raja di Raja,
kan boleh jadi hanya membalas kunjungan seorang teman.
padahal Sang Raja, kan boleh jadi berbagi kesenangan dengan seorang teman.
padahal Sang Raja, kan boleh jadi hanya membantu kesulitan seorang teman.

he...he....
padahal Sang Raja, entahlah apa namanya Arab, Saudi, atawa Wahabi, bahkan Raja di Raja sekalipun,
menyadari jauh dari sosok sempurna sebagai manusia, apalagi dibandingkan para pembecinya.
menyadari jauh dari sosok sempurna sebagai manusia, bahkan walau seorang teman tidak menyukainya.

Boleh jadi kedatangannya untuk menutupi atau mengurangi ketidak sempurnaannya,
walau pun sudah begitu tidak akan menutupi bau busuk mulut para pembencinya.
Rasanya tidak elok,
untuk ukuran dunia yang fana,
dengan kelebihan yang melekat padanya,
tidak dihiasi bunga-bunga dengki dari para peng hasad di taman kehidupannya.
dan itu adalah sesuatu yang lumrah dan wajar saja.

untuk itu,
Selamat Datang di Indonesia
Sang Raja Arab, Saudi, Wahabi, Raja di Raja di dunia yang fana