Rabu, 08 Februari 2017

Beda, karena kamus baru?



Mengambil pelajaran dari Aliansi Santri Nasional yang ngunjuk rasa ke kantor PBNU. Ketika ditanya, "Nyantri atau mondok dimana?' Ternyata tidak bisa menjawab. Dan seterusnya pertanyaan yang tidak terjawab oleh pengunjuk rasa.

Saya sih tidak mau berfikiran jelek, dengan menuduh macam-macam. bayaranlaahhh (walau bener!), suruhanlaahhh (walau memang disuruh!) dan lain sebagainya, apalagi dengan casing yang menunjukkan sesuatu yang bertolak belakang dengan spanduk organisasi yang mereka usung (tahu kan, maksud saya?).

Yang saya lihat lebih men-colok dari kejadian ini adalah penggunaan kata yang sudah tidak semakna, searti, sepemahaman dengan umumnya orang. Contoh sederhana dari kejadian itu, kata "santri". Pengertian santri oleh yang bertanya, tidak bisa dijawab oleh yang berunjuk rasa dari Aliansi Santri Nasional. Santri bagi para pembaca fb tidak sama pengertian dengan pengunjuk rasa dari aliansi santri nasional hanya dilihat dari pakaiannya. Karena bagi pembaca fb, serendah-rendahnya ilmu dan pemahaman para santri (pengertian sang pembaca fb) tentu mereka berpakaian rapi berkerudung/jilbab bagi perempuan. Entah nyantrinya dimana, apakah di pesantren terkenal atau sekedar di pesantren kilat dan TPA.



Terlepas dari kata "santri" yang jadi sorotan saya, namun kalau kita lihat lebih jauh lagi, di zaman "gonjang-ganjing" di Indonesia dan bahkan di dunia sekarang ini, banyak kata-kata yang seolah-olah dibikin berlainan artinya. Entah karena ada kamus baru yang muncul yang memberikan definisi yang berbeda atau sekedar ingin pemuaskan para pengguna yang merasa punya kekuasaan?? Hiks
Yaaa....kita sudah umum dengan kata teroris, yang diartikan hanya untuk satu kelompok saja. begitu juga radikal, mungkin juga istilah kebhinekaan, toleransi dan intoleransi dan banyak lagi kalau kita telusuri. Yang parahnya adalah dari pengertian yang berbeda ini menjadikan perlakuan yang didapat pun akan berbeda terutama bagi penerima perlakuan dan pemberi perlakuan (penguasa).

Dalam sejarah Islam pun, perbedaan pemahaman ini sudah muncul bahkan ketika generasi awal setelah Nabi Muhammad saw meninggal. Kita lihat bagaimana kaum khawarij mengaku sebagai kaum muslimin yang paling benar, begitu pula kelompok lainnya yang mengagungkan salah satu sahabat secara berlebihan (syiah), atau yang mempunyai nabi baru dan lain sebagainya yang bahkan justru mengkafirkan orang yang tidak masuk kelompoknya.

Untuk itu bagi kita supaya tidak terombang-ambing dalam gelombang kesesatan, kita kembali kepada kamus yang benar (Umat Islam yaa ke Al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya). Karena bagaimana pun sesuatu yang tidak benar cepat atau lambat akan terbuka juga kebobrokannya, contoh sederhana kasus santri di atas, bahkan dengan logika sederhana ketika dikejar kata santri yang mereka usung membuat mereka diam seribu bahasa (boleh jadi tidak hapal kamus!!! Hiks)

wallahu a'lam

Tidak ada komentar: