Kamis, 31 Desember 2015

Nikmat Luar Biasa Tahun 2015 (2)

3.  Perjalanan Umroh saya membuat pengalaman baru dalam riwayat kehidupan saya.  Selain dari hal-hal yang sifatnya spritual, banyak pengalaman lainnya yang  baru yang dirasakan, yang boleh jadi bagi orang lain itu bukanlah sesuatu yang hebat. (biarin he-he....)


a.  Selama ini saya terbang dengan pesawat dengan pelayanan biasa atau dalam istilah mereka ditulis dengan LCC (Low Cost Carier, bener ngak singkatannya he-he....tarif murah gitu loh).  Berbagai perusahaan dengan berbagai merek terbang pernah saya rasakan, bahkan yang sudah almarhum sekalipun seperti Buraq, Adam Air, Merpati.  Lion Air sudah sering, begitu pula Sriwijaya Air.  Bahkan yang pake baling-baling pun saya pernah merasakan, uihhh ribut sekali bikin sakit telinga. Tetapi perjalanan Umrah ini saya mendapatkan pesawat dengan pelayanan prima baik perusahaan penerbangan lokal (Garuda) maupun perusahaan penerbangan Luar (Qatar Airways). Dengan pesawat lumayan gede (kelas Boing 737-800  NG, yang tempat duduknya 3 di kiri dan 3 di kanan) hingga gede beneran (kelas Boing 777-300 ER, yang tempat duduknya 3 di kiri, 3 di tengah dan 3 di kanan). Jadi inget MH  berapa tuh pesawat Malaysia Airline yang jatuh di laut dan yang ditembak di eropa, kan jenis pesawat gede begini, B777. Hiks).  Tidak ada lagi pramugari dan pramudara yang mendemostrasikan tata cara ketika berada di pesawat, semuanya ditampilkan melalui layar yang ada di depan mata kita lewat layar televisi kecil yang nempel di belakang kursi di depan kita.



b.  Karena lamanya perjalanan (total sekali perjalanan pergi sekitar 12 jam terbang, tidak dihitung perbedaan waktu) dan daya jelajah yang sangat tinggi (pesawat yang gede beneran itu kita melawat di udara pada ketinggian hingga 40.000 feet -bayangkan berapa kilometer tuh di atas daratan, iihhhhh....ngeri- dengan jarak temput total sekitar 10.000 km) saya baru merasakan apa yang diistilahkan orang Jet Lag terutama ketika perjalanan pulang.  Kalau waktu berangkat sih, tidak terlalu peduli karena sesampainya disana langsung berhadapan dengan lapangan pahala melalui ibadah yang akan kita lakukan. Telinga berdengung dan tidak normal serta badan bawaannya mau bobo teyuuusssss....


c.  Interaksi sosial terutama ketika kita berhubungan dengan orang asing, minimal dalam berkomunikasi.  Ketika pramugari Garuda menawarkan makanan, "Bapak mau makan nasi goreng dengan ayam atau Ikan dengan pasta?"  tapi kalau pramudari Qatar Airways yang bule menawarkan makanan, "What do you want Sir, Chicken with rice or Beef with potatos?" "Coffee or Tea?" ckckck.....harus siap mental dan fikir....he-he... yaaahhhh jelek-jelek begini ngertilah dikit-dikit bahasa orang bule itu, dan itu lumayan membantu bagi temen-teman se jamaah terutama ibu-ibu tua dan bapak-bapak tua yang kadang bengong ketika di tanya.  Tapi tidak hanya yang tua loh...saya pun sempat bantu jamaah lain yang muda yang tas bawaannya tidak lolos sensor karena ada barang yang dilarang untuk itu terbang dengan pesawat di bandara Jeddah (tidak seberapa padahal hanya pistol mainan dan pisau dari plastik he-he....., yang jadi bikin heboh karena yang satu tidak bisa bahasa Inggris karena polisi/petugas Arab, sementara orang Indonesia yang tidak bisa bahasa Arab, sehingga dipanggil temannya pak petugas yang bisa bahasa inggris sementara saya bantu jamaah, walau bahasa inggrisnya pas-pasan! xixixi...........).  Begitu pula ketika transit di bandara Doha di Qatar, berhubungan dengan petugas imigrasi dan mencari terminal pesawat yang akan kita naiki sementara bandara atau terminalnya luaaasssss buanget!! Beuh.....


Dalam masalah sikap kadang saya malu dengan keberadaan orang kita.  Di luar sana mereka sudah terlatih untuk bersikap saling menghargai dengan antri menunggu giliran, sementara kita main serobot dan bergerombol he-he....hadeuh! Yang lucunya ada saja alasan yang dikemukakan ketika saya coba tegur mereka untuk antri!! kodon..... Begitu pula dengan perhargaan kepada waktu, ketika disuruh untuk berkumpul jam sekian eehhhh....jadinya kumpulnya mengikuti jam karet! glek!! kalau pesawat mah sudah ditinggalkan!!


d.  Saya baru merasakan kondisi suhu udara yang dingin di bukan daerah Tropis  (Madinah kalau subuh hari bisa mencapai 13 derajat Celcius). Dinginnya kering, sehingga bibir menjadi pecah-pecah dan kulit menjadi kering, bahkan akhirnya gatal-gatal. Temen saya banyak yang telapak kakinya yang kulitnya pecah-pecah.  Lumayan sakit.   Yaahhhh... tentu jaket selalu menjadi andalan bahkan kadang kaus tangan dan kaus kaki ikut pun berpartisipasi.  Tetapi kalau sudah masuk di ruangan Masjid, suhu udara ruangan lumayan hangat apalagi kalau kita sudah beraktifitas dengan gerakan sholat, tetapi dengan catatan jangan duduk di lantai marmernya, tetap dingin bos! Karena dingin, Flu dan batuk menjadi pemandangan yang umum. Saya sendiri beberapa hari terakhir terkena gejala, dengan sakit di leher, dan kalau menelan makanan terasa sakit.

Tidak ada komentar: