Kamis, 08 Januari 2015

Kembali ke zaman batu (II)

Sang mantan Pacar -dalam acara makan siang dengan menu ikan asin, tahu tepung goreng, sambel+pete+udang dan tentunya lalapan- menyampaikan bahwa di makassar ini sedang ramai-ramainya orang bergelut dengan batu cincin. Saya bilang, "bukan hanya di makassar saja, tapi dimana-mana". Sang mantan pacar, ternyata baru tahu itu (kasihan kodon!). Akhirnya beliau pun melanjutkan ceritanya, yaitu dimulai dari anak temannya yang masih SD merengek-rengek minta dibelikan batu cincin ke ibunya. Karena sayang anak, sang ibu membawa anaknya ke pasar central. Surprise bagi sang ibu, dimana sepengetahuannya tempat dimana dijual batu-batu cincin itu adalah daerah yang sepi dulunya (sepi dari pembeli, maksudnya). Sekarang, rrruuuaaarbiasa, buuuuaaanyakkk orang berkumpul di tempat itu untuk melihat-lihat dan membeli batu, yang lebih rrrruuuuaaarbiasanya lagi karena kaum ibu-ibu pun banyak nongkrok di tempat itu! (hadeuh....sudah masak bu?)

Lanjut cerita, sepulangnya dari pasar central itu, sang ibu dan anak ini tidak puas dengan hanya membeli batu cincinnya saja, karena di pete-pete (nama angkot di makassar), mereka berdua dan para penumpang pun disuguhin ceramah tentang batu cincin dari sang supir. weleh-weleh....hati-hati daeng mata harus tetap tertuju ke depan! hiks

Di pamungkas cerita, sang mantan pacar menambahkan bahwa di kantor pendidikan pun dimana beliau ada urusan di sana, juga orang-orang di sana maksudnya pegawai di sana ramai membicarakan tentang batu cincin. he-he....mudah-mudahan tidak mengganggu pekerjaan dan jangan sampai -karena dinas pendidikan- masalah batu ini masuk juga di materi di kurikulum pendidikan di sekolah. hiks.....wuenak untuk para pedagang batu don! (tapi kalau para guru setuju sih, yaaa...monggo wae! xixixi....)

e, e, e, e.......yang jadi fikiran, itu anak SD tahu darimana tentang batu cincin ya? apa bapak ibu gurunya mengajarkan tentang itu? he-he....!!!

Batuuuu, batu!!



=================



Dalam kesempatan pengajian, persoalan batu cincin ini juga ada yang menanyakan. Pak Ustadz menjawab bahwa pada zaman Rasulullah saw pun perdagangan batu cincin atau perhiasan sudah ada. Karena keindahannya batu sehingga ada nilainya. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika batu cincin itu memberi sesuatu yang berhubungan dengan manusia, seperti kekebalan, tambah percaya diri dan lain sebagainya yang sifatnya tidak benar secara akidah. Kadang ada pedagang batu yang memberikan harga untuk menjadikan batu itu sesuatu bahkan lebih mahal dari harga batu itu sendiri sebagai perhiasan. Ini yang dilarang!!!

Tidak ada komentar: