Minggu, 09 Oktober 2016

Hanya sebatas di Bibir

Anwar shared Indra Munif's post

TERNYATA KITA MEMBACA AL QUR'AN SELAMA INI HANYA SEBATAS DIBIBIR SAJA BELUM MELEWATI TENGGOROKAN APALAGI MASUK KE DALAM HATI

Kitab _At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur'an_ menerangkan Adab Qira'atil Qur`an antara lain sebagai berikut.

فينبغى أن يستحضر فى نفسه أنه يناجي الله تعالى , ويقرأ على حال من يرى الله تعالى ، فانه إن لم يكن يراه ، فإن الله تعالى يراه.

Seyogyanya saat membaca Al-Quran seorang qari` menyadari bahwa ia sedang bermunajat dengan Allah swt, sehingga sikapnya seperti orang yg melihat Allah swt. Jika belum mampu, maka ketahuilah bahwa Allah swt senantiasa melihatnya.

Alkisah, di suatu pagi, seorang santri menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi. “Wahai Tuan Guru, semalam aku mengkhatamkan Al-Quran dalam shalat malamku.”

Sang Guru tersenyum. “Bagus Nak. Nanti tolong hadirkan bayangan diriku di hadapanmu saat kau baca Al-Quran. Rasakan seolah-olah aku sedang menyimak apa yang engkau baca.”

Esok harinya, sang murid datang dan melapor pada gurunya, “Tuan Guru, semalam aku hanya sanggup menyelesaikan separuh dari Al-Quran.”

“Engkau sungguh telah berbuat baik,” ujar sang guru sembari menepuk pundaknya. “Nanti malam lakukan lagi dan kali ini hadirkan wajah para shahabat Nabi saw yang telah mendengar Al-Quran itu langsung dari Rasulullah saw. Bayangkan baik-baik bahwa mereka sedang mendengarkan dan memeriksa bacaanmu.”

Pagi-pagi buta, sang murid kembali menghadap dan mengadu, “Duh Guru, semalam bahkan hanya sepertiga Al-Quran yang dapat aku lafalkan.”

“Alhamdulillah, engkau telah berbuat baik,” kata sang guru, sambil mengelus kepala si santri. “Nanti malam bacalah Al-Quran dengan lebih baik lagi, sebab, yang akan hadir di hadapanmu untuk menyimak adalah Rasulullah saw sendiri, orang yang kepadanya Al-Quran itu diturunkan.''

Seusai shalat Shubuh, sang guru bertanya, “Bagaimana shalatmu semalam?” “Aku hanya mampu membaca satu juz, Guru, itu pun dengan susah payah.”

“Masya Allah,” kata sang guru, sambil memeluk sang santri dengan bangga. “Teruskan kebaikan itu, Nak. Dan nanti malam tolong hadirkan Allah swt di hadapanmu. Sungguh, selama ini pun sebenarnya Allah-lah yang mendengarkan bacaanmu. Allah swt yang telah menurunkan Al-Quran selalu hadir di dekatmu. Sekalipun engkau tidak melihat-Nya, Dia pasti melihatmu. Hadirkan Allah swt, karena Dia mendengar dan menjawab apa yang engkau baca.”

Keesokan harinya, santri itu jatuh sakit. Sang Guru pun datang menjenguknya. “Ada apa denganmu?” tanya Sang Guru.

Sang santri berlinang air mata. “Demi Allah, wahai Tuan Guru, semalam aku tak mampu menyelesaikan bacaanku, walaupun cuma al-Fatihah. Ketika sampai pada ayat, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” lidahku kelu. Aku merasa aku sedang berdusta. Di mulut aku ucapkan “Kepada-Mu ya Allah, aku menyembah” tapi jauh di dalam hatiku aku sering memperhatikan yang selain Dia. Aku menangis dan tetap saja tak mampu menyelesaikannya.”

“Nak...,” kata sang guru sambil berlinang air mata, “Mulai hari ini engkaulah guruku. Dan sungguh, aku ini muridmu. Ajarkan padaku apa yang telah kau peroleh. Sebab, meski aku membimbingmu di jalan itu, aku sendiri belum pernah sampai pada pemahaman yang kau peroleh hari ini

Tidak ada komentar: