Rabu, 04 Januari 2017

Kasihannya Presiden ku

Tidak bisa dipungkiri bahwa presiden jokowi bisa terpilih jadi presiden indonesia yang ke tujuh karena ada peran sosial media (sosmed) di dalam prosesnya.  Bagaimana para pendukungnya gencar melakukan promosi tentang dirinya bahwa pak jokowilah yang pantas menjadi presiden bahkan kadang secara langsung juga menjelekkan lawan tandingnya yaitu prabowo.  Tentu hal ini untuk menarik massa yang masih abu-abu dalam proses pemilihan presiden pada waktu itu.  Dan ini cukup berhasil, terlepas dari adanya isu bahwa pemilihan presiden itu penuh kecurangan.

Sejalan dengan perjalanan waktu sejak dilantik jadi presiden, yang hingga saat ini sudah menginjak tahun kedua, perang di sosmed antara pendukung jokowi dan yang kontra beliau (yang sisi ini belum tentu juga sepenuhnya pendukung prabowo) masih tetap berlangsung.  Apalagi itu, perang di sosmed, digoreng oleh isu-isu hingga boleh jadi fakta, kebijakan yang muncul, menjadi semakin dahsyat. Caci maki semakin tidak ada batasnya dan terasa sangat vulgar didengarnya.  Walau itu di dunia maya namun kelihatannya sangat terasa di hati para penggiat sosmed itu. Mereka seolah tidak peduli dengan UU ITE tentang ujaran kebencian yang akan dikenakan kepada pelaku dan penyebarnya.  Hingga akhirnya pak presiden meminta kepada kepolisian untuk menangani kasus-kasus ini.  (Tuh kan, presiden pun rasanya tidak tahan dengan hal itu)

Dua tahun dari jatah lima tahun memimpin Indonesia adalah sebagai dasar legimitasi untuk mengambil hati rakyat dan membuktikan bahwa dia pantas menjadi seorang pemimpin dari Indonesia yang besar ini, baik dari sumber daya manusia, alam, plurasitas kebangsaan, budaya dan agama.  Apalagi perolehan suara yang dicapai oleh pak jokowi tidaklah terlalu jauh dengan pak prabowo.  Dari aspek politik langkah yang diambil pak jokowi sungguh luar biasa, walau seolah menggunakan cara-cara orde baru tetapi akhirnya partai-partai yang tadinya menolaknya berubah menjadi partner dalam perjalanannya. Tentu proses itu tidak sekedar basa-basi tanpa ada saling kepentingan dan keuntungan. Seharusnya langkah politiknya ini berimbas atau dilanjutkan ke sektor lainnya, terutama masalah ekonomi yang langsung dirasakan oleh masyarakat banyak.  Karena kebanyakan masyarakat berfikiran bahwa kalau mereka hidup enak, nyaman dan sejahtera, maka mereka tidak akan peduli kepada urusan politik di atas, mau bagi-bagi kekuasaan kek, mau akting di depan media ketawa-ketiwi, cipika-cipiki kek dan lain sebagainya. Orang akan tersenyum senang dengan hidup dan kehidupannya serta pasti mereka tidak akan peduli kepada sekelompok kecil orang yang masih tidak puas akan kinerja presiden atau pemerintahnya. Bahkan justru mereka akan angkat jempol tinggi-tinggi dan mendukung serta melindunginya dari pihak-pihak yang nyinyir kepadanya.

Aaahhhh.....semoga kondisi di dunia maya tidak berlanjut ke dunia nyata. Artinya perang kata-kata tidak berlanjut perang fisik di dunia nyata.  Apalagi masalah terbesar adalah seperti yang diungkap Panglima TNI di acara ILC bahwa Indonesia nampaknya menjadi incaran negara-negara besar untuk menguasainya. Sepertinya isu ini bukanlah isapan jempol semata, karena Amerika sudah siap di pangkalannya di Australia, sementara China melalui pemimpinnya mengatakan akan masuk kalau peristiwa 1998 berulang di Indonesia.

Smoga pak Presiden ku masih mempunyai rasa patriotisme yang tinggi akan ke Indonesiaannya, sehingga bisa membuat langkah-langkah stategis yang menjauhkan kondisi caci maki di dunia maya menjadi sebuah pujian dan kebanggan rakyatnya, yang otomatis akan menghindari hal-hal yang lebih buruk terjadi di Indonesia tercinta ini.  


Tidak ada komentar: