Selasa, 04 April 2017

Kejutan lain setelah Raja Salman, Dr. Zakir Naik.

Bagi saya, kedatangan Dr. Zakir Naik ke Indonesia adalah berkah tersendiri bagi bangsa Indonesia khususnya bagi umat Islam setelah kedatangan Raja Salman dari Arab Saudi.  Kita tahu bersama bahwa Dr. Zakir Naik adalah ulama  internasional yang pengusaan ilmu agamanya tidak hanya mencakup tentang agama Islam saja, tetapi juga agama-agama lainnya, seperti budha, hindu dan kristen.  Terlepas apakah karena beliau dari India, yang mayoritas beragama hindu, tetapi dari uraian mengenai kehidupannya jelas bahwa beliau banyak berguru kepada ulama Ahmad Deedat yang memang terkenal dengan pengetahuan yang sama yang dikuasai oleh Dr. Zakir Naik sekarang.

Point lain, sudah umum bahwa di mana-di mana Dr. Zakir Naik berceramah beliau akan mengundang bukan hanya kaum muslimin juga tetapi juga kaum agama non muslim. Kaum agama non muslim ini akan diberi kesempatan untuk diberi kesempatan dalam sesi tanya jawab, yang efeknya dari tanya jawab itu banyak dari kaum non muslim yang otomatis masuk Islam, atau setidak membuka fikiran mereka tentang Islam yang baru dari pandangan mereka selama ini. Pasti, yang tidak berubah pandangannya pun pasti ada.  Tapi bagi saya lebih dari itu, baru pertama kali tampil di Indonesia di auditorium UPI di Bandung, permasalahan up to date yang terjadi di indonesia ini adalah adanya pandangan kaum muslimin yang terpecah kepada masalah kepemimpinan non Muslim (kasus pilgub DKI Jakarta, yang salah satu calonnya adalah Ahok yang beragama kristen) Dan ini mengemuka juga pada ceramahnya beliau di Bandung itu karena ada pertanyaan dari hadirin.

Kita umat Islam selalu diributkan dengan surat Al-Maidah ayat 51, antara yang berpandangan tidak boleh dan yang berpandangan boleh memilih pemimpin non muslim.  Yang luar biasa ini hingga menyerempet ke orang-orang yang dibilang ulama, hingga mereka berani mengatakan bahwa ayat itu sudah tidak berlaku lagi.  Tetapi Dr. Zakir Naik menjawab sungguh sangat sederhana tentang permasalahan ini, BUKAN UNTUK ANDA (NOT FOR YOU). Bukan untuk anda jika anda tidak mempercayai surat Al-Maidah ayat 51 itu. Beliau mengulas memang bahwa kata Aulia dalam ayat itu bisa ditafsirkan pemimpin, teman baik, penolong.  Di ayat lain dikatakan bahwa kita umat Islam harus berbuat baik kepada kaum non Islam, tetapi dalam masalah yang satu ini seperti yang tercantum dalam surat Al-Maidah ayat 51 jelas tidak boleh menempatkan mereka dalam posisi itu apalagi kalau memang ada pilihan dimana pilihan itu ada umat Islam nya.

Kalau kita tidak mempercayai Al-Quran sebagai sumber kebenaran, entah kita ber-KTP islam, Al-Quran itu bukan untuk kita.  Jadi apa jadinya kalau kita tidak mempercayai Al-Quran sebagai pemandu hidup di dunia ini?




Tidak ada komentar: