Rabu, 14 September 2016

Sedikit tentang Sepak terjang Wahhabi.

Kalau kita membaca kembali apa yang dilakukan Rasulullah shollallahu a'laihi wa salam ketika peristiwa Fathu Makkah terjadi, beliau membersihkan gambar-gambar yang ada di dalam Ka'bah, menghancurkan patung-patung yang ada di sekitar Ka'bah dan Mekkah. Intinya menghilangkan sumber-sumber kesyirikan yang ada yang terlihat waktu itu. Bahkan beliau mengutus para sahabatnya untuk menghancurkan Patung-patung besar, Al Manah, Al Lata dan Al 'Uzza yang berada di luar kota Makkah.

Terus apa yang dilakukan para tokoh yang dicap orang yang tidak senang dengan mereka sebagai Pendiri Wahabi beberapa ratus tahun setelah Rasulullah saw meninggal, yaitu Imam Su'ud dan bin Abdul Aziz dan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, ketika mereka mulai berkuasa atas Tanah Arab.

Sejarawan terkenal, Ibnu Bisyr, menceritakan sebagian upaya yang dilakukan oleh Imam Su'ud bin Abdul Aziz :

"Pada tahun 1216 H, Su'ud bersama para tentaranya menuju Karbala, maka beliau menghancurkan kubah yang berada di atas kuburan Husain." Lanjutnya :

"Pada tahun 1217 H ketika Su’ud memasuki Mekkah, beliau thawaf dan sa’i, lalu membagi para tentaranya untuk menghancurkan kubah-kubah yang dibangun di atas kubur dan petilasan-petilasan kesyirikan yang jumlahnya banyak sekali di Mekkah, d bawah, di atas, di tengah dan di rumah-rumah.”

“Su’ud tinggal di sana lebih dari dua puluh hari, kaum muslimin menghancurkan kubah-kubah setiap hari, sehingga tidak ada di Mekkah satu kubah dan petilasan pun kecuali mereka hancurkan dan ratakan menjadi tanah.”

Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab, mengatakan, “Setelah itu kami menghilangkan setiap apa yang diagung-agungkan dan diyakini dapat memberikan manfaat dan menolak mudharat berupa semua jenis bangunan di atas kubur dan selainnya, sehingga tidak ada lagi di tempat suci suatu thoghut yang disembah. Segala puji bagi Allah atas hal itu.”

“Kami menghancurkan kubah Sayyidah Khadijah Rodhiallahu ‘anha, kubah kelahiran Nabi Shollallahu ‘alaihi wassalam dan sekitarnya dari kubah-kubah yang dinisbatkan kepada para wali, semua itu dalam rangka mengikis pintu-pintu kesyirikan dan melarikan manusia dari syirik kepada Allah semampu mungkin, sebab syirik adalah dosa besar yang tidak diampuni.”

“Adapun bangunan kubah di atas kubur, maka hal itu merupakan pintu dan syi’ar kekufuran, sebab Allah mengutus Rasul-Nya Muhammad shollahu ‘alaihi wassalam untuk menghancurkan patung-patung, walaupun di atas kuburan orang sholih, karena Lata adalah orang sholih, yang tatkala dia meninggal dunia maka mereka berdiam di kuburnya dan mengagungkannya serta mendirikan bangunan di atasnya. Tatkala penduduk Tha’if masuk Islam dan meminta kepada Nabi shollallahi ‘alaihi wassalam agar membiarkan Lata selama sebulan agar supaya tidak menakutkan para wanita dan anak-anak mereka sehingga mereka masuk Islam, maka Nabi menolak permohonan mereka dan mengutus Mughirah bin Syu’bah dan Abu Sufyan bin Harb untuk menghancurkannya.”

Dari uraian di atas jelas sudah siapa yang sangat membenci dan memusuhi apa yang dilakukan dari awal oleh apa yang mereka sebut pendiri “Wahabi”. Dan itu terus berlanjut hingga kini, karena gerakan dakwah kembali kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wassalam tidak berhenti di awal gerakan mereka. Hingga Syaikh Abdul Aziz bin Baz rohimahullahu berkata :

“Orang-orang yang memusuhi Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ada dua golongan :

Pertama : Golongan yang berada di kubang kesyirikan. Mereka memusuhi Syaikh karena ingin kembali ke dalam kesyirikan mereka, sebab Syaikh menyerukan tauhid sedangkan mereka orang-orang yang gandrung dengan kesyirikan.

Kedua : Orang-orang jahil yang tertipu oleh juru dakwah kebatilan, orang-orang jahil tersebut hanya taklid buta kepada orang jahil pula atau orang yang dengki”

Yang lebih luar biasa lagi sesuai dengan perkembangan kehidupan social dan politik saat ini, terkadang Wahabi dikaitkan dengan Negara.  Negara atau kerajaan Saudi pun dikatakan sebagai Negara Wahabi apalagi dengan adanya ajaran yang sangat bertolak belakang yang juga sekarang berkuasa di daerah Timur Saudi Arabia..  Untuk masalah hal ini, Raja Abdul Aziz dalam khotbahnya di Mekkah pada bulan Dzulhijjah tahun 1347 H mengatakan :

“Mereka menjuluki kami “Wahhabiyyun” dan madzhab kami adalah “Wahhabi” sebagai madzhab tertentu, maka itu adalah kesalahan fatal akibat kabar bohong yang didesuskan oleh sebagian kalangan yang memiliki niat jahat. Kami bukanlah pemeluk madzhab yang baru atau aqidah baru, Muhammad bin Abdul Wahab rohimahullahu tidaklah membawa ajaran baru, aqidah kami adalah aqidah salaf shalih yang diajarkan dalam al-Quran dan sunnah sebagaimana pemahaman salat shalih. Kami menghormati para imam empat, tidak ada bedanya bagi kami antara Malik, Syafi’I, Ahmad dan Abu Hanifah, semuanya sangat terhormat dalam pandangan kami.

Itulah aqidah yang diemban oleh Syaikh Islam Muhammad bin Abdul Wahhab rohimahullahu, inilah aqidah kami, sebuah aqidah yang dibangun di atas tauhid yang murni dari segala noda-noda bid’ah. Aqidah tauhid inilah yang kami dakwahkan dan dapat menyelamatkan kita dari semua petaka”

Tetapi walaupun sang Raja sudah mengatakan seperti itu, orang-orang yang punya hati jahat tidak akan pernah kendur untuk merusak dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab yang berlandaskan kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa salam, Jalan dakwah mereka dan orang-orang yang mengikuti Al-Quran dan Sunnah tidak hanya terbatas kepada persoalan kuburan saja tetapi juga urusan yang berhubungan dengan Khurafat, Bid'ah dan Tahhayul. Semoga Allah memberikan Hidayah dan Taufiq-Nya kepada mereka. Amin

Nasehat berharga :

Syaikh Abdullah al-Bassam rohimahullahu mengatakan :

“Sebagian orang yang menulis tentang syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rh, baik dari barat maupun dari timur ada yang  tidak memahami secara bagus tentang hakikat dakwah beliau, sehingga mereka menulis tidak sesuai dengan fakta sebenarnya.  Hal itu disebabkan karena mereka terpengaruh oleh tulisan-tulisan musuh-musuh dakwah yang menggambarkan dakwah ini dengan kebencian dan kedengkian sehingga membuat opini kepada manusia seperti selera hawa nafsu mereka.

Pada zaman sekarang, segala sarana dan komunikasi begitu mudah,  sehingga bagi setiap pencari kebenaran dan pencinta keadilan bisa menyelidiki dari sumber aslinya.  Dengan demikian, dia akan mengetahui kebatilan tuduhan-tuduhan miring yang dilontarkan kepada dakwah ini, mengetahui kejernihan dakwah dan cahaya iman berupa dakwah Islam yang mengajak kepada kaum muslimin seluruhnya supaya kembali kepada ajaran Islam mereka yang telah Allah sempurnakan, dan menyeru mereka untuk menerapkan hukum-hukum Islam sehingga mereka meraih kejayaan Islam.”

Terakhir, Semoga kita dijadikan Allah swt hati, hati yang mau mencari kebenaran dan berlaku adil terhadap segala ilmu yang ada sehingga bisa membedakan mana yang benar dan salah. Dan tentunya Allah swt menunjukkan kepada kita yang benar itu benar dan memberikan kekuatan kepada kita untuk mengikutinya, walaupun orang-orang Musyrik, Munafik dan Kafir membencinya. Amin


(Meluruskan sejarah Wahhabi, Abu Ubaidah Yusuf bin Muchtar As Sidawi; http://rasoulallah.net/id/articles/article/3637;  )

Tidak ada komentar: