Selasa, 11 Maret 2014

Mati, menghantui kita!

Wah....judulnya serem buanget! he-he.....judul itu terinspirasi dari berita jatuhnya pesawat Malaysian Air Service (MAS) yang hingga saat ini belum diketemukan baik bangkai pesawatnya maupun fisik manusia yang ikut dalam penerbangan tersebut.
Malaysia yang dalam beberapa aspek mengungguli indonesia, mengalami duka yang mendalam karena kejadian ini ditambah beberapa negara dimana warga negaranya tercatat sebagai penumpang di pesawat tersebut.

Ratusan penumpang dari berbagai negara itu sedang melaksanakan berbagai hajat kehidupan, entah untuk melakukan bisnis, entah wisata, entah hanya sekedar jalan-jalan mengunjungi keluarga, atau pun tugas negara. Tetapi, mengalami nasib nahas yang sama dan bersamaan karena musibah tersebut yang boleh jadi membawa kematian pada mereka. (wah....walaupun belum ada kepastian tentang berita kematian penumpang, tetapi dengan kondisi seperti itu saya yakin bahwa akhir ceritanya seperti itu, seperti juga kecelakaan Adam Air di Perairan Mamuju beberapa tahun yang lalu. namun bagaimana pun sebagai sesama manusia saya tetap berharap yang terbaik bagi semuanya)

Kembali ke judul dahulu. Menghantui saya rasa terlalu vulgar, karena konotasi hantu sepertinya tidak bagus apalagi untuk anak-anak (bahkan orang dewasa sekalipun), tetapi untuk hal-hal eksotisme terutama bagi para seniman kata-kata seperti kadang dipakai untuk membombastis kejadian atau karakter sesuatu. He-he...karena saya punya rasa seni walau sedikit ya...bolehlah untuk judul itu, tetapi lebih bagusnya sih untuk diterima semua lapisan masyarakat ya...bisa diperhalus sedikit dengan kata eu...eu....mengintai barangkali! ya...bisa juga. Mengintai, karena kematian tidak hanya terjadi ditempat-tempat yang mempunyai resiko kecelakaan yang besar, tetapi juga pada tempat-tempat yang boleh dibilang resiko kecelakaannya sangat kecil, seperti di tempat tidur misalnya. Sudah banyak orang mengalami fase kematian ketika berada di tempat tidur, bahkan kadang tanpa ada gejala sebelumnya.
Kalau begitu yang paling mendasar adalah bukan masalah matinya karena dimana pun kita berada dalam keadaan bagaimana pun kita saat itu kalau sudah waktunya kematian akan menjemput kita. Masalahnya adalah dalam kondisi apa kita mati? Dalam keyakinan Islam ada yang dinamakan dengan Khusnul Khotimah (akhir yang baik) dan Su'ul khotimah (akhir yang jelek). Ketika kematian menjemput kita dan kondisi keimanan kita kepada Allah swt dalam keadaan yang baik, insya Allah kondisi kematian kita berada dalam khusnul khotimah, dan begitu pula sebaliknya. Dan kondisi ini akan berlanjut kepada kehidupan sesuai kematian itu terjadi. Untuk itu, setiap langkah kita haruslah selalu dalam kondisi di jalur yang benar, benar sesuai dengan Syariat Allah swt.
Semoga...kita mengakhiri kehidupan kita dalam keadaan khusnul khotimah! amin.

======

Imam shalat itu pun kemudian berdiri ketika dzikir dan doa sehabis shalat Ashar berjamaah selesai. Selanjutnya beliau berkata, "Hendaknya kematian menjadi pelajaran bagi kita. Tadi, sehabis shalat dhuhur berjamaah di masjid ini ada jenazah yang dishalatkan. Ternyata yang meninggal adalah seseorang yang tinggal di kompleks belakang masjid. Tadi malam, yang meninggal ini mau pergi menjemput keluarganya di bandara. Istrinya sudah bilang untuk pakai taksi saja ke bandaranya. Tetapi sang suami ini tetap berangkat dengan menggunakan motor. Di tengah perjalanan, ada anak muda yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi yang kemudian menabrak Bapak ini dari belakang. Keduanya meninggal seketika! Kematian akan menjemput kita kapan pun. Kita shalat ashar berjamaah setidaknya satu kewajiban sudah kita laksanakan!....."

Tidak ada komentar: