Selasa, 18 Maret 2014

Menjengkelkan

Saya mempunyai pengalaman yang menjengkelkan yaitu berhubungan dengan ban motor saya yang bagian belakang yang ketika itu sementara menuju ke tempat kerja ban motor saya kempes di tengah perjalanan. Biasa kalau kempes ban seperti itu mengindikasikan bahwa ban itu bocor. Syukur alhamdulillah tempat tambal ban bocor tidak jauh dari tempat dimana kejadian ban motor saya kempes. (Pernah kejadian, saya harus mendorong motor yang kempes hingga kurang lebih 3 km, maklum di daerah dan kejadiannya waktu itu menjelang maghrib). Akhirnya ban motor pun ditambal di bengkel itu. Kurang lebih 30 menit kemudian saya pun melanjutkan perjalanan untuk melaksanakan tugas.

Dua hari kemudian, sore hari sepulang dari tambak, tiba-tiba ban motor saya berbunyi sesuatu dan perasaan laju motor tidak terlalu enak. Saya pun memberhentikannya dan melihat ke arah ban belakang yang saya dengar ada bunyi aneh. Ternyata ban kembali kempes, yang lucunya kejadiannya itu tidak terlalu jauh dari tempat kejadian kemarin. Jadi saya berfikir bahwa ban bocor disebabkan tidak sempurnanya tambal ban yang kemarin. Saya pun bertanya ke teman yang kebetulan rumahnya dekat di tempat itu, tempat tambal ban yang terdekat. Wah, ternyata teman itu menunjukkan tempat tambal ban yang kemarin saya tambal yang sebenarnya saya hindari. Akhirnya saya kembali ke tempat tambal ban itu. Dengan basa-basi, saya pun menjelaskan kejadian kempersnya ban kepada tukang tambal ban.


Tetapi ternyata setelah dibuka tempat bocornya ban bukanlah tempat yang kemarin bocor dan ditambal. Wah...saya sudah merasa bersalah dengan kejadian ini. Tukang tambal ban bilang bahwa penyebabnya adalah ban lar yang sudah tidak baik. Akhirnya saya pun mengganti ban luar sekalian dengan ban dalam karena sudah banyak bekas bocor. Nah, disinilah awal kejengkelan saya. Ternyata ban dalam baru yang saya beli itu, selalu kempes. Di tambah anginnya besoknya kempes lagi, apalagi kalau sering dipakai. Kejadian ini didengar oleh teman yang rupanya pernah juga mengganti ban dalam di tempat itu, dia bilang pernah ganti ban di tempat itu, baru diganti tidak lama sampai di tempat kerjanya bannya tiba-tiba meletus di tempat parkir. Dia bilang kualitasnya tidak bagus. Akhirnya ban dalam yang saya pakai kempes secara tiba-tiba sementara motor sedang jalan, saya minta kepada tukang tambal yang ada di kota waktu itu untuk mengganti ban dalamnya. Ah.....setelah itu ban dalam saya tidak pernah lagi kempes hingga waktu yang lama, paling saya tinggal tambah angin sedikit ketika ban sudah tidak terlalu keras lagi.


Saya berfikir berapa uang yang dipakai untuk menambah angin. Saya pun tidak mau mencek kebocoran dengan alasan bahwa ini ban baru. Ah..ini juga kesalahan saya bahwa tidak semua produk dari proses produksi kualitasnya bagus, makanya ada yang dinamakan dengan Quality Qontrol, yang akan memeriksa layaknya produk sesuai standar yang ada. Boleh jadi kejengkelan saya ini juga sama ketika saya sebagai warga negara melihat apa yang terjadi di negeri ini yang selalu terjadi berulang-ulang tanpa ada solusi yang yang terbaik untuk menghentikannya. Berapa banyak orang pintar di negeri ini dan berapa banyak orang yang berkuasa di negeri ini yang bisa berbuat banyak untuk menyelesaikan masalah itu, dibandingkan dengan masalah yang saya hadapi dengan ban dalam motor saya yang saya alami.

(1) Banjir di Ibu kota Jakarta.

Setiap musim hujan, kota Jakarta selalu banjir. Biar tidak hujan di Jakarta, tapi kalau di sekitar Jakarta seperti daerah Bogor hujan, Jakarta kena imbasnya berupa banjir. Yang menjadi miris bagi saya adalah Jakarta adalah ibukota negara, pusat pemerintahan, bahkan banjir pernah melanda istana negara yang kala itu mau menerima tamu negara yaitu salah satu pemimpin negara lain. Jakarta juga pusat bisnis, dengan begitu banyak penduduk, dengan adanya banjir berapa banyak ekonomi tersendat dan terbuang hanya karena roda ekonomi tidak berjalan. Berapa banyak daya, berupa fikiran dan waktu hanya untuk memikirkan dampak dari banjir tersebut, seperti kerusakan, pengungsi dan lain sebagainya.


Saya seperti juga yang berfikir seperti itu, kenapa ibu kota negara tidak dipindahkan saja dari Jakarta. Cari tempat yang ideal untuk sebuah ibu kota negara. Alangkah tidak eloknya sebuah ibu kota negara setiap tahun dan setiap saat ketika musim hujan selalu menjadi bahan berita, yang seluruh dunia, karena kecanggihan telekomunikasi saat ini, akan tahu. Perpindahan ibukota atau membangun kota baru untuk menjadi ibu kota atau pusat pemerintahan bukanlah sesuatu yang aneh di dunia, sudah banyak negara lain melakukan hal itu, contoh terdekat adalah malaysia.


Dengan berpindahnya ibukota dari Jakarta tentu tidak akan menyelesaikan permalasahan banjir di kota jakarta tapi setidaknya greget dan gengsi bangsa akan lebih terangkat karena ibukota negaranya tidak kena musibah tahunan/kronis. Bahkan dengan berpindahnya ibukota beban kota jakarta akan berkurang, baik dari jumlah penduduk maupun kendaraan. Dan boleh jadi akan lebih memudahkan pihak berwenang di jakarta akan lebih mudah untuk menata kota.

Boleh jadi itu tidak mudah, tapi dengan kapasitas sebagai sebuah kesatuan dalam negara semua akan menjadi mudah. Memang itu memerlukan sebuah proses, tapi kalau sudah menjadi keinginan baik secar politik, sosial budaya dan ekonomi semua akan terasa ringan.

(2) Kebakaran hutan di Propinsi Riau (Sumatera pada umumnya).

Wah...persoalan ini juga sudah berlangsung beberapa tahun dan selalu berulang, bahkan tidak hanya berdampak untuk masyarakat sekitar tapi juga lintas negara, terutama negera-negara terdekat kita, Malaysia dan Singapure. Sebagai warga negara saya jengkel juga dengan kejadian seperti ini dan dibuat malu terhadap negara sebelah. APalagi kejadian itu sepertinya sengaja dilakukan oleh oknum-oknum tertentu sebagai jalan pintas untuk membersihkan lahan mereka.

Pemerintah akhir-akhir ini mulai tegas untuk mempidanakan mereka yang dengan sengaja membakar lahannya. Tapi saya rasa itu sudah sangat terlambat, kenapa tidak dari dulu. Sekarang, seperti juga sebelumnya, penyakit pernafasan menyerang masyarakat, pandangan terbatas mengundang resiko kecelakaan, begitu pula dengan transportasi udara terhenti karena jarak pandangan yang terbatas. Dengan begitu berapa banyak kerugian jika kita hitung dengan nilai uang, yang berlangsung bertahun-tahun! Hadeuh....cape deh!

Diperlukan langkah yang lebih tegas dari pemerintah sehingga hal ini tidak berulang, apalagi kalau sudah mengganggu negara tetangga! Dari aspek lingkungan dimana Indonesia sebagai paru-parunya dunia harus tetap dipertahankan sehingga keseimbangan lingkungan menjadi tidak terganggu gara-gara kebakaran hutan yang disengaja!



(3) Jalur Pantura (Pantai Utara).

Jalur Pantura adalah urat nadi ekonomi di daerah Jawa. Yang menghubungan berbagai kota baik yang ada di jawa, sumatera dan Bali bahkan ke Nusa Tenggara. Distribusi semua kebutuhan manusia di semua daerah itu berhubungan dengan jalur Pantura ini. Tetapi yang luar biasa adalah jalur ini adalah jalur yang selalu diributkan ketika menjelang hari Raya Idul Fitri, karena pada waktu itu tidak hanya sebagai jalur distribusi tetapi juga jalur pulkam (pulang kampung) bagi orang-orang yang mudik.

Apa yang diributkan? tentu saja kualitas jalan yang rusak dimana-mana yang akan memberikan ketidaknyamanan para pemudik. Bukan hanya ketidaknyamanan tetapi juga adalah adanya pemborosan ekonomi yang tidak termanfaatkan dengan benar. Dengan kondisi macet yang berkilo-kilo meter di berbagai tempat berapa banyak bahan bakar yang terbuang percuma hanya karena gara-gara itu. belum yang lainnya lagi.

Tetapi anehnya kejadian-kejadian serupa seperti kejadian-kejadian lainnya di Indoensia selalu terulang. Dan sudah menjadi kebiasaan gelontoran dana untuk proses perbaikan akan selalu keluar menjelang hari Raya Idul Fitri itu. Kok Bisa ya? ah....orang kecil seperti saya hanya bisa bergumam seperti itu. Kok Bisa ya?

(4) Persoalan DPT atau Daftar Pemilih Tetap.

Setiap lima tahun sekali ketika terjadi Pemilu baik untuk pemilihan kepala daerah tingkat kabupaten/kota, provinsi, legislatif dan presiden/wakil presiden selalu muncul masalah DPT ini. Penetapan jumlah selalu tidak sama dengan kondisi sebenarnya, entah karena pendataan yang kurang bagus atau aspek politis di dalamnya, yang jelas hal ini selalu menjadi bahan perbincangan diantara yang berkepentingan. Bagi kita sebagai masyarakat tentu masalahnya adalah kita menginginkan pemilu berlaku dengan jurdil, jujur dan adil.

Memang, masalah data kependudukan selalu berubah membutuhkan up date data yang terus menerus, apalagi untuk kebutuhan pemilu ada persyaratan khusus yang berhubungan dengan umur bagi pemilih. Hanya untuk kondisi saat ini yang dikatakan sebagai zaman modern dimana data sudah tersimpan dalam database, tentu dari hari ke hari, tahun ke tahun, dari pemilu ke pemilu berikutnya masalah DPT ini harus berkurang kualitas masalahnya. Hal ini juga untuk mengurangi kecurangan dari pihak-pihak yang mau bermain tidak jujur dan adil. Smoga!

Tidak ada komentar: