Jumat, 01 Agustus 2014

Perang Shiffin, dalam pandangan …….

Perang Shiffin, adalah perang antara pasukan Ali bin Abi Thalib ra dari Irak dengan pasukan Muawiyah bin Abu Sufyan ra dari Syam. Shiffin sendiri dinisbatkan kepada tempat di mana perang itu terjadi. Perang ini menjadi menarik dalam sejarah Islam apalgi untuk saat ini, sehubungan status Ali bin Abi Thalib ra sebagai khalifah, menggantikan khalifah Utsman bin Affan ra yang dibunuh sekelompok orang, yang digambarkan oleh Rasulullah saw sebagai orang munafik, "Wahai Utsman, mudah-mudahan Allah akan menyandangkan untukmu sebuah pakaian (khilafah), dan jika orang-orang munafik ingin engkau menanggalkan pakaian tersebut, maka jangan engkau lepaskan, hingga engkau menemuiku (meninggal)" (beliau bersabda demikian) tiga kali" (HR Ahmad)

Saya membayangkan bagaimana perang tersebut terjadi! Dimana kejadiannya berlangsung 14 abad yang lalu, dengan senjata tradisional (kalau dibandingkan dengan persenjataan saat ini), tidak ada alat komunikasi canggih seperti sekarang (HP, telephon atau sebangsanya), tetapi mereka berperang karena keyakinan masing-masing berdasarkan ijtihadnya. Yang satu, kubu Ali bin Abi Thalib ra menuntut ketaatan kubu yang lain melalui proses baiat dan menunda mengqishash para pembunuh Ustman bin Affan ra hingga kondisi politik menjadi tenang, sementara pihak lainnya, kubu Muawiyah ra mengenyampingkan baiat sebelum proses tuntutan mereka akan qishash terhadap para pembunuh khalifah Utsman bin Affan ra yang tinggal di daerah Irak dan sekitarnya terealisasi, apalagi dari segi kekerabatan Utsman bin Affan ra adalah sepupunya Muawiyah ra (walau sebenarnya kalau kita runut ke atas sebenarnya kaum Quraisy (termasuk Ali bin Abi Thalib ra) masih ada tali kekerabatan dengan Utsman bin Affan ra). Kedua kubu adalah orang-orang Islam dari generasi awal dimana para sahabat Rasulullah saw masih ada yang hidup, namun karena suatu kejadian terbelah kepada perbedaan ijtihad yang mengakibatkan perang, yang mungkin kalau sekarang diistilahkan sebagai perang saudara.

Namun, kalau kita melihat saat ini, dimana generasi sekarang hanya membaca buku-buku sejarah, yang boleh jadi dari buku-buku sejarah tersebut ada yang menampilkan kecenderungan hati dari para pembuat buku sejarah tersebut artinya tidak berdasarkan akan fakta yang sebenarnya (walaupun agak susah dikatakan sesuai dengan fakta karena factor kondisi, tetapi orang yang hatinya bersih dari kepentingan kelompok dan pribadi, tentu akan mendapatkan hidayah dari Allah swt akan menampilkan dengan hati-hati dan akan mengambil dari sumber yang kuat untuk menggambarkan setidaknya mendekati kondisi yang sebenarnya). Celakanya hal ini pula yang meracuni para pembaca yang juga sudah ada kecenderungan hati kepada kelompok tertentu, apalagi kalau sudah kena doktrin “gelap”, akan menyimpulkan sepihak bahkan akan semakin mencap negative kepada salah satu kubu atau tokoh penting dari perang Shiffin tersebut.

Padahal, kalau kita melihat akan periode kejadian berikutnya dan bersandarkan kepada sabda Rasulullah saw nyatalah bahwa kedua kelompok ini masih dalam ikatan keimanan kepada yang satu, yaitu Allah swt. Apa yang digambarkan sebagian orang yang mencap negative terhadap salah satu kubu atau tokohnya, menjadi sesuatu yang tidak benar. Boleh jadi seseorang membuat suatu kesalahan dalam menarik kesimpulan ijtihad, dalam pandangan kita pada saat ini tapi bagaimana kondisinya pada waktu itu dimana para sahabat Rasulullah saw pun masih hidup di kedua kubu. Biarkanlah hal itu menjadi urusan Allah swt, bukankah semua kejadian di muka bumi ini masih ada dalam scenario nya, apalagi ini berhubungan dengan Islam yang memang Allah swt sendiri menjadikan aturan bagi manusia untuk hidup di dunia. Boleh jadi ada hikmah-hikmah yang bisa diambil oleh generasi berikutnya akan kejadian perang Shiffin ini. Justru yang perlu kita perhatikan adalah jangan sampai kita terjebak oleh hasutan-hasutan dari orang-orang yang memang mau menghancurkan Islam baik dari luar maupun dari dalam.

Oh iya, sabda Rasulullah saw mengenai gambaran akan kedua kelompok atau kubu itu adalah “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid (pemimpin). Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin melalui tangannya” (HR Bukhari). Kita semua tahu bahwa yang dimaksud Cucu oleh Rasulullah saw adalah al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra. Al-Hasan ra adalah anak dari Ali bin Abi Thalib ra yang dibaiat oleh kaum Muslimin pada waktu itu untuk menggantikan ayahnya, Ali bin Abi Thalib ra yang dibunuh oleh kaum khawarij. Melalui tangan Al-Hasan ra lah akhirnya terjadi perdamaian dengan Muawiyah ra. Dengan jiwa besar kepemimpinan diserahkan kepada Muawiyah ra, sehingga para ulama menyatakan bahwa tahun itu adalah Tahun Persatuan.

Jadi jelas berdasarkan hadits Rasulullah saw bahwa kedua kubu adalah kaum Muslimin yang terbagi dalam dua kelompok besar yang karenanya Allah swt persatukan kembali dalam satu kepemimpinan. Kalau masih ada orang yang mengutuk dan mencaci Muawiyah ra hingga dikatakan laknatullah hanya karena melawan kepemimpinan khalifah Ali bin Abi Thalib ra, boleh jadi kutukan dan caciannya kembali kepada orang tersebut, artinya orang tersebutlah yang dilaknat oleh Allah swt, Naudzubillah min dzalik. Adapun sebagai manusia, sahabat Rasulullah saw sekalipun kalau mempunyai kesalahan dan dosa dalam proses kehidupan bermasyarakat, kita semua serahkan kepada Allah swt.

Kembali kepada perang Shiffin sebagai perang saudara karena perbedaan ijtihad akan suatu masalah, Ash-Shalabi menggambarkan perang tersebut dengan sangat luar biasa, hingga saya membacanya berulang-ulang, yang barangkali di luar perkiraan kita akan gambaran tentang perang yang memakan banyak korban. Tentu Ash-Shalabi, dengan kapasitasnya, bukanlah orang yang ingin mencari keuntungan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Dengan pendekatan dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan, sehingga Ash-Shalabi menyentuh kejadian itu dengan kejadian yang mendekati kebenaran. Bagaimana pun dengan keterbatasan manusia, dan mengembalikan bahwa Allah lah Yang Maha Tahu akan segala urusan.

Saya kutip sedikit cuplikan tentang perang Shiffin dari Ash-Shalabi :

Perang Shiffin termasuk perang terunik dalam sejarah kaum Muslimin. Peristiwa ini mengandung banyak keunikan di mana pembaca bisa saja tidak mempercayai apa yang dibacanya dan berdiri tercengang di depan tabiat jiwa dari kedua kubu, masing-masing orang dari kedua kubu berdiri di medan perang dengan menghunus pedangnya sementara dia menyakini kebenaran sikapnya secara sempurna. Ini bukan perang yang didorong oleh sebuah komando di mana pasukan memasuki medan laga tanpa menyakininya, sebaliknya ini adalah perang tersendiri dari sisi pendorongnya, cara pelaksanaannya dan dampak-dampak yang ditinggalkannya.

Pendorongnya dalam jiwa orang-orang yang terlibat di dalamnya terungkap melalui sebagian peristiwa yang sampai kepada kita melalui buku-buku sejarah. Mereka adalah saudara, pergi bersama ke sumber air lalu mereka mengambil air bersama-sama, mereka menciduk air dengan berdesak-desakan, namun tidak seorang pun dari mereka menyakiti yang lainnya (Tarikh Ath-Thabari, 5/610, Siyar A’lam an-Nubala, 2/41 dan Marwiyat Abu Mikhnaf, hal 296), mereka adalah saudara, hidup bersama saat perang berhenti. Salah seorang yang ikut serta (dalam perang itu) menjelaskan, “Bila kami berhenti berperang, maka orang-orang Irak masuk ke markas orang-orang Syam dan orang-orang Syam masuk ke maskas orang-orang Irak……mereka saling berbincang.” (Al-Bidayah wa an-Nihayah, 7/270 dan Dirasat fi Ahdi an-Nubuwwah, hal 42)

Mereka adalah anggota satu kabilah, masing-masing dari mereka dengan ijtihadnya, sehingga masing-masing memerangi yang lainnya dengan gigih. (Tarikh ath-Thabari, dinukil dari Dirasat fi ahdi an-Nubuwwah, hal 424) Masing-masing melihat dirinya di atas kebenaran dan memiliki kesiapan untuk mati karenanya. Dua orang laki-laki dari mereka bertarung saling serang sampai keduanya kelelahan kemudian keduanya duduk beristirahat dan berbincang panjang lebar, kemudian keduanya bangkit kembali dan berperang sebagaimana sebelumnya (Al-Bidayah wa an-Nihayah, 10/272), keduanya beragama satu, di mana agama tersebut lebih dia cintai daripada dirinya sendiri, bila saat shalat telah tiba, maka mereka menghentikan perang dan menunaikannya (Tarikh ath-Thabari, dinukil dari Dirasat fi ahdi an-Nubuwwah, hal 424). Dan saat Ammar terbunuh, kedua kubu sama-sama menshalatkannya (Tarikh Dimasyq, 8/233, dinukil dari Dirasat fi ahdi an-Nubuwwah, hal 424).

Seorang saksi sejarah dalam perang ini berkata, “Kami tiba di Shiffin, kami berperang beberapa hari, korban di antara kami berjumlah banyak, sampai-sampai kuda-kuda disembelih, lalu Ali mengirim pesan ke Amr bin al-Ash bahwa korban telah berjumlah besar, maka hentikanlah peperangan sehingga kita bisa mengebumikan korban-korban perang. Maka Amr mengiyakan, lalu sebagian dari kami berbaur dengan sebagian yang lain sehingga mereka itu seperti ini –laki-laki ini memasukan jari-jarinya ke jari-jari yang lain-. Seorang prajurit Ali menyerang maskas Muawiyah sehingga dia terbunuh dan mayatnya dikeluarkan dari sana. Rekan-rekan Ali melewati seorang korban dari pihak mereka di depan Amr, manakala dia melihat, dia menangis dan berkata, “Orang ini berijtihad, dia bertindak tegas dalam perintah Allah.” (Ansab al-Asyaraf, 6/56 dengan sanad hasan)

Sekalipun kondisinya adalah perang, mereka tetap bersegera dalam beramar ma’ruf dan bernahi mungkar. Ada sekelompok orang yang dikenal dengan qurra’, mereka adalah murid-murid Abdullah bin Mas’ud, baik dari Irak maupun dari Syam, mereka tidak bergabung ke barisan Amirul Mukminin Ali dan tidak pula ke dalam barisan Muawiyah bin Abu Sufyan. Mereka berkata kepada Amirul Mukminin Ali, “Kami keluar bersama kalian namun kami tidak bermarkas bersama kalian, kami mengambil tempat tersendiri, sehingga kami bisa memperhatikan perkara kalian dan perkara orang-orang Syam. Barang siapa hendak melakukan sesuatu yang tidak halal atau terlibat melakukan tindak kezhaliman, maka kami akan memeranginya.” Ali menjawab, “Dengan senang hati, itulah sikap pemahaman dalam Agama yang benar dan ilmu tentang sunnah. Siapa yang tidak merelakannya maka dia adalah orang zhalim dan penghianat.” (Shiffin, hal 155 dan Dirasat fi Ahdi an-nubuwwah, hal 424)

Sebenarnya semua sikap tersebut berawal dari kemantapan dan ijtihad yang mereka meyakini kebenarannya dalam jiwa mereka dan mereka pun siap berperang karenanya (Dirasat fi Ahdi an-nubuwwah, hal 424).

Muhibbuddin al-Khathib memberikan komentar terhadap terhadap perang ini, “Sekalipun begitu, perang yang menjunjung nilai-nilai luhur ini merupakan perang kemanusiaan pertama dalam sejarah, di mana kedua kubu yang terlibat sama-sama berjalan di atas dasar-dasar keutamaan di mana orang-orang bijak dari barat berharap menerapkannya dalam perang-perang mereka di abad dua puluh satu, tidak sedikit kaidah-kaidah perang dalam Islam yang belum diketahui dan belum tertulis sekiranya perang ini tidak terjadi, dan Allah selalu memiliki hikmah di balik setiap kejadian (Al-Awashim min al-Qawashim, hal 167-169 dari catatan kaki Muhibbuddin al-Khathib).

Tidak ada komentar: