Jumat, 22 Mei 2015

Nyawa yang sudah tidak ada nilainya!

Sebagai seorang yang masih waras tentu kita tidak mau menukar nyawa kita dengan berapa pun nilai nya yang sifatnya keduniawian secara tidak wajar. Hidup adalah anugrah terindah yang diberikan oleh Allah swt kepada manusia, tentu untuk berbakti kepada-Nya. Allah swt pun menyediakan segala fasilitas yang ada di dunia untuk menyempurnakan kebaktian manusia pada-Nya. Kesempurnaan kebaktian manusia pada Allah swt tidak berpatokan kepada harta, jabatan dan status sosial manusia di masyarakat. Apapun kondisi manusia kesempurnaan kebaktian manusia bisa dilakukan, justru semakin kaya seseorang, semakin tinggi jabatan seseorang dan semakin tinggi status sosialnya di masyarakat maka tanggung jawab dan tugasnya semakin besar dalam proses kebaktian itu sendiri.

Seseorang yang kaya raya di masyarakat maka dia mempunyai kewajiban dengan hartanya untuk menginfakkan sebagian hartanya yang bukan haqnya. Kemudian dia pun harus mempergunakan hartanya di jalan yang benar. Begitu pula seseorang yang mempunyai jabatan yang tinggi di Pemerintahan harus mempergunakan jabatannya sesuai amanah yang diberikan sesuai dengan aturan Sang Pemberi Aturan, bukan sebagai seorang raja kecil yang bisa berbuat seenaknya sehingga rakyat hidupnya tertekan akan segala tingkah polahnya hingga kadang untuk proses kebaktian rakyatnya pun mendapatkan hambatan. Seseorang yang mempunyai keturunan terbaik jangan pula merasa bahwa dunia ini adalah miliknya, sehingga berbuat seenaknya terhadap rakyat yang bukan dari kelas yang sama. Padahal di hadapan Allah swt status seseorang tidak menjamin sebagai makhluk yang terbaik. Namun, sebagai rakyat pada umumnya pun mengharuskan dia tidak menerima kondisi begitu saja, selalu tangan menadah dan merasa ingin dikasihani dan ingin selalu diperhatikan oleh yang di atasnya. Justru dengan kondisi duniawi yang pas-pasan sebenarnya tanggung jawab dirinya akan amanat yang diberikan oleh Allah swt tidaklah sebanyak orang yang diberikan kelebihan secara duniawi baik harta maupun jabatan. Kita bersama ketahui sendiri bahwa Rasulullah saw menyatakan bahwa orang-orang yang pertama masuk surga adalah orang-orang yang miskin kondisi duniawinya.

Tetapi walau begitu kita bisa menemukan orang-orang yang dengan sadar berani bertukar nyawa dengan perbuatan yang mereka perbuat, bahkan melawan hukum sekali pun. Baru-baru ini kita melihat dan mendengar sopir truk yang dengan berani membawa barang terlarang (narkoba) dengan iming-iming imbalan 30 juta. Boleh jadi kedengarannya luarbiasa nilai uang juta-jutaan tetapi ketika sudah tertangkap petugas dan boleh jadi dikenakan hukuman yang luar biasa, rasanya angka juta-jutaan sudah tidak luarbiasa lagi bahkan tidak ada artinya lagi. Bagaimana dengan keluarga, siapa lagi yang mau menghidupi mereka? Terus bagaimana dengan nama baik keluarga di mata masyarakat? Jika dia punya anak bagaimana dengan perkembangan kejiwaannya jika ditahu oleh masyarakat bahwa orangtuanya orang yang bermasalah dengan hukum, apalagi narkoba yang merusak bahkan membunuh generasi.

Kasus-kasus seperti banyak kita temui, entah masalahnya ada dimana. Apakah saat ini orang sudah susah mendapatkan pekerjaan. Susah mendapatkan penghasilan yang mencukupi, atau justru mereka ingin mendapatkan harta dengan cara yang singkat walau mereka sadar akan bahayanya. Tetapi kalau kita melihat pendidikan di masyarakat, pengertian tentang pentingnya menghargai nyawa kita sendiri kadang kurang dipahami. contoh sederhana seperti kasus orang yang merokok. Semua orang tahu bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan bahkan bahayanya yang terkandung di dalam rokok sangat luar biasa banyaknya. Memang sifatnya tidak langsung merusak, tetapi berjalan mengikuti waktu dan kondisi tubuh orang yang merokok itu sendiri. Kemudian di kota-kota besar kita sering temukan anak-anak remaja di kalangan masyarakat menengah ke bawah ditemukan sebagian dari mereka mengisap lem, bahkan di tempat-tempat tertentu mereka melakukannya dengan terang-terangan. Di kalangan menengah ke atas kebiasaan meminum minuman keras seolah seperti gaya hidup, bahkan di kalangan menengah ke bawah karena ketidak mampuan untuk membeli minuman keras yang mahal mereka meminum minuman oplosan yang harganya murah meriah tetapi justru lebih mematikan karena campuran yang dipergunakan adalah alkohol yang dipakai untuk industri bukan untuk minuman. Na'udzubillahi min dzalika.

Dalam agama, khususnya Islam, menghargai kehidupan atau nyawa sangat dikedepankan. Ketika ada orang yang dibunuh maka akan ada hukum qishosh yang diterapkan bagi si pembunuh. Tentu lewat pengadilan yang menerapkan hal itu. Tetapi anehnya, ketika kehidupan atau nyawa yang dihargai oleh Allah swt, justru manusia itu sendiri yang merusaknya bahkan dengan kesadaran yang penuh!

Tidak ada komentar: